
Sepulang dari pesta, Matteo tampak begitu kelelahan dan sangat kacau. Ia segera melepas segala atribut yang melekat di tubuhnya dan bermaksud untuk langsung naik ke tempat tidur. Sedangkan Mia saat itu tengah membersihkan riasan. “Bersihkan dulu dirimu, Theo!” cegahnya. “Kalaupun kau tak ingin mandi, maka setidaknya bersihkan wajahmu,” lanjut istri dari sang ketua klan tersebut.
Matteo mengempaskan napas pelan dan menoleh. Ia kembali melepaskan bed cover yang baru akan disibakkannya. “Aku sedang malas menyentuh air, Cara mia, tolak Matteo dengan nada yang terdengar lesu.
“Ya, Tuhan! Sejak kapan Matteo de Luca menjadi pemalas dan jorok seperti ini!” sergah Mia gemas. Ia lalu meraih botol pembersih wajahnya dan mengambil selembar kapas. Setelah itu, Mia kemudian menghampiri sang suami dan duduk di atas tempat tidur. Tanpa diperintahkan, Matteo segera naik dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Mia.
“Apa yang akan kau lakukan padaku, Sayang?” tanya Matteo dengan tatapan penuh cinta kepada sang istri.
“Jika kau tak ingin ke kamar mandi dan membasuh wajahmu, maka biarkan pembersih wajahku yang menggantikannya,” jawab Mia seraya menuangkan pembersih wajah itu ke atas permukaan kapas.
“Ah, tidak! Jangan lakukan itu, Cara mia! Aku tidak memakai kosmetik perempuan,” tolak Matteo. Ia berusaha untuk menolak, tetapi Mia tak membiarkan Matteo menghindar. Sekuat tenaga ia menahan kepala pria itu agar tetap berada di atas pangkuannya.
“Diamlah, Theo!” Mia berkata dengan cukup tegas dan seketika membuat Matteo mau tak mau harus menurut padanya. Ia menatap ke atas, pada wajah Mia yang tengah fokus membersihkan setiap sudut paras rupawan sang suami. Setelah selesai, Mia kemudian membelai lembut rambut Matteo yang masih tersisir rapi ke belakang.
Dikecupnya kening pria yang sangat ia cintai itu dengan hangat. Tentu saja, hal itu menjadi kesempatan bagi Matteo untuk dapat berbuat nakal. Ia menarik tubuh Mia hingga semakin membungkuk dan menyentuh bibir polos tanpa polesan lipstik. Namun, Mia segera menyudahinya. Ia menurunkan kepala Matteo ke atas bantal. Mia pun naik dan duduk di atas tubuh atletis itu seraya membuka tali kimono yang dikenakannya.
Malam kian larut. Matteo telah tertidur pulas setelah menyudahi satu jam permainan panasnya bersama Mia. Saat itu, Mia merasa sangat haus. Ia terbangun dan segera meraih lingerie serta kimononya. Mia lalu melangkah ke arah meja kecil di mana tersedia sebuah poci kristal yang dilengkapi dua buah gelas yang juga terbuat dari bahan yang sama. Namun, wanita itu harus mengeluh kecewa, karena pocinya ternyata kosong. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar.
Mia melangkah pelan dan sangat hati-hati. Suasana di dalam mansion megah itu telah sepi, berhubung waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua dini hari. “Seharusnya kutahan haus saja, bukannya malah keluar kamar,” keluhnya pelan. Ia juga baru menyadari jika dirinya keluar dengan menggunakan lingerie pendek di atas lutut, sehingga menampakkan paha dan kaki jenjangnya yang mulus.
__ADS_1
Untuk sejenak, wanita itu tertegun ketika ia baru keluar dari dalam lift. Mia tak tahu ke mana arah dapur dari bangunan megah tersebut, sehingga ia berjalan semaunya sendiri dan mengikuti instingnya. Langkah kecil itu, akhirnya membawa Mia pada sebuah lorong yang ternyata memiliki tangga ke lantai bawah. Penasaran, ia lalu menuruni deretan anak tangga yang tidak terlalu tinggi. Seketika, Mia kembali dibuat takjub dengan keadaan yang ada di lantai bawah tersebut.
Di sana terdapat sebuah aula mewah dengan lantai marmer yang sangat mengkilap. Pada bagian tengah atap aula itu, tergantung sebuah lampu hias yang berukuran besar dan bersusun dengan berbagai ornamen kristal yang menghiasinya. Pada langit-langit itu pun, kembali terdapat lukisan langit malam dengan taburan bintang-bintang. Ya, sepertinya aula tersebut memang sengaja dibuat dengan nuansa temaram.
Akan tetapi, bukan hal itu yang kini menjadi perhatian Mia. Sepasang mata cokelat terangnya, tertuju pada sebuah lorong di bagian lain aula. Entah kenapa, rasa penasarannya begitu besar saat itu. Mia pun kembali melangkahkan kakinya dan menyusuri lorong dengan hiasan lampu tempel di dinding, yang sudah diatur jaraknya hingga sedemikian rupa.
Langkah kecil Mia kemudian berhenti di depan sebuah pintu yang terlihat begitu aneh dan tak biasa. Ia mengamati pintu tersebut untuk sesaat, hingga akhirnya wanita itu tersentak dan mundur beberapa langkah karena tiba-tiba pintunya terbuka. Mia membelalakkan kedua matanya, saat ia melihat wajah tampan Adriano muncul dari balik pintu geser otomatis tersebut. “Tuan D’Angelo ....” Mia menyebut nama itu dengan suara tertahan.
Adriano menatap wanita cantik di hadapannya dengan begitu lekat. Ini pertama kalinya ia melihat Mia dalam pakaian yang cukup terbuka seperti itu, mengingat Mia yang selalu mengenakan midi dress di bawah lutut. “Nyonya de Luca,” suara berat Adriano memecah suasana hening di sana. “Apa yang Anda lakukan di sini?” tanyanya.
“Um ... aku ... mansionmu terlalu luas, Tuan D’Angelo. Sepertinya aku tersesat. Tadinya aku ingin ke dapur untuk mengambil minum,” jelas Mia pelan. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada ruangan di balik pintu geser otomatis itu.
“Jika Anda masih merasa haus, masuk saja. Di dalam ada banyak persediaan,” ucap pria itu seraya menyodorkan gelas berisi air putih kepada Mia, yang saat itu menanggapi ucapan Adriano dengan sebuah senyuman.
“Terima kasih, Tuan D’Angelo. Dengan begini, aku tak harus mencari dapur lagi,” balas Mia. Ia bermaksud untuk kembali ke lantai atas, ke kamar yang ditempatinya. Namun, baru saja Mia membalikan badan, ia harus kembali tertegun dan menoleh ketika mendengar Adriano menyebut namanya.
“Aku memiliki banyak koleksi buku yang bagus. Kudengar Anda menyukai cerita tentang mitologi romawi kuno. Kebetulan, aku punya beberapa di dalam lemari buku itu,” ucapnya dengan tatapan mata yang terlihat sayu, entah karena ia mengantuk atau karena sesuatu yang Mia pun tak tahu dengan pasti. Akan tetapi, mata biru Adriano malam itu tampak sangat lain dari biasanya.
Mia menggumam pelan dan tersenyum. “Bolehkah jika besok aku kemari lagi bersama Francy? Ia juga suka membaca.”
__ADS_1
Adriano tak segera menjawab. Ia hanya menatap lekat ke arah Mia untuk beberapa saat lamanya, membuat Mia merasa tak nyaman. “Aku tak memberikan akses masuk pada siapa pun ke dalam ruang kerjaku. Untukmu aku memberikan sebuah pengecualian. Itu juga jika Anda mau,” jelasnya pelan.
“Ini sudah terlalu malam untuk membaca,” tolak Mia halus.
“Anda boleh membawanya ke kamar, atau bahkan ke Casa de Luca sekalipun,” ucap Adriano lagi. Sebuah tawaran yang sangat menarik bagi Mia. Tanpa pikir panjang, wanita itu mengangguk setuju dan mengikuti Adriano masuk. Seketika terciumlah wangi aroma kopi yang menyeruak dari pengharum ruangan di dalam sana. Suasananya pun lebih dari nyaman dengan tata letak semua barang yang sudah disesuaikan dan diatur serapi mungkin.
Mia meletakkan gelas berisi air putih yang ia pegang di atas meja. Pandangannya pun mulai menyapu setiap sudut ruangan itu dengan detail, dan semuanya terlihat sangat mengagumkan. Tatapan Mia kemudian terkunci pada sebuah foto di atas meja kerja. Ia berjalan ke sana dan meraihnya. Di dalam bingkai itu, terlihat foto seorang anak laki-laki yang tengah duduk di atas pangkuan seorang pria paruh baya yang terlihat tampan, meskipun telah berumur.
“Apakah ini ayahmu, Tuan D’Angelo?” tanya Mia menoleh kepada Adriano yang tengah memilihkan beberapa buku untuknya. Adriano megambil sekitar tiga buah buku dan menutup kembali lemari kaca itu. Ia lalu melangkah ke arah Mia.
“Ia adalah paman sekaligus ayah angkatku. Pahlawan sejati yang tak akan pernah terlupakan. Ia pria yang paling baik dan berhati dermawan,” tutur Adriano seraya mengambil bingkai foto itu dan meletakkannya kembali. “Ini buku yang pasti Anda sukai. Aku sudah membacanya berulang-ulang, jadi aku tak akan menyesal untuk memberikan buku-buku ini padamu,” Adriano menyodorkan buku-buku itu kepada Mia.
Dengan senang hati, Mia menerimanya. Senyuman indah terlukis di wajah yang masih terlihat cantik meskipun tanpa polesan make up. Sementara Adriano menatapnya lekat. Berkali-kali, ia menelan ludahnya dalam-dalam, terlebih ketika dirinya melihat leher dan bagian depan kimono Mia yang sedikit terbuka.
“Mia!” tanpa banyak basa-basi, Adriano segera meraih tubuh Mia ke dalam dekapannya. Ia menahannya dengan menyandarkan sebagian tubuh ramping itu pada tepian meja kerja. Sementara Mia berusaha untuk berontak. Akan tetapi, tangannya telah terlebih dahulu dipegang dengan kuat oleh Adriano, dan tenaga pria itu terlalu kuat untuk Mia lawan.
Adriano memegangi kedua tangan Mia dan meletakkannya di balik punggung wanita itu. Sementara pahanya menahan paha Mia agar tak bergerak, atau melakukan perlawanan khas para wanita yang tengah berontak dari cengkeraman pria yang sudah dikuasai hawa nafsu yang besar.
“Menjauh dariku!” sergah Mia lantang. Namun, suaranya mengendap dalam ruangan itu, karena kebetulan ruang kerja Adriano dilapisi dengan peredam suara. Sementara Adriano tak menggubris penolakan Mia. Ia juga tak menghiraukan Mia yang terus berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan lengan kekarnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, yang Mia cium kini bukan lagi aroma kopi, melainkan bau minuman keras yang membuatnya begitu terganggu. Ia berusaha menghindar dari wajah rupawan pria bermata biru tersebut. Namun, semuanya sia-sia, ketika pada akhirnya Mia merasakan hangatnya bibir Adriano yang telah menempel sempurna pada permukaan bibirnya dan memaksa untuk bermain bersama.