
Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi dari club itu dengan menggunakan mobil milik Coco. Mereka menuju ke bengkel milik pria berambut cepak itu. Di sanalah mereka akan melakukan perbincangan yang jauh lebih serius.
Setibanya di bengkel, Coco segera mengajak Lenatta untuk ke masuk ke ruangan tempat biasa ia menerima tamu. Matteo mengikuti kedua sejoli itu dari belakang, hingga mereka bertiga duduk di kursi yang telah tersedia di sana.
“Apa kau ingin sesuatu, Cantik?” tawar Coco dengan kerlingan nakalnya terhadap Lenatta.
“Tentu, Sayang! Aku lupa membawa rokok,” jawab Lenatta seraya menyilangkan kaki jenjangnya. Pakaian yang dikenakannya semakin terangkat dan memerlihatkan paha mulusnya yang berkulit eksotis. Matteo sempat meliriknya untuk sesaat. Namun, dengan segera ia mengalihkan pandangannya. Semenjak mengenal sosok Mia, Matteo seakan tidak tertarik untuk bermain-main dengan wanita seperti Lenatta.
Tidak berselang lama, Coco kembali dengan membawa kotak rokok dan juga sebotol minuman yang segera ia sajikan di atas meja. Ia kemudian duduk di sebelah Lenatta. Disodorkannya kotak rokok yang ia bawa ke hadapan wanita berambut panjang itu. Coco bahkan membantunya menyalakan korek api.
Asap tipis mengepul dari bibir sensual dengan lipstik burgundy yang membuat Lenatta terlihat semakin sensual. Wanita bertubuh sintal itu tampak begitu menggairahkan.
“Jadi, penawaran apa yang kalian maksudkan?” tanya Lenatta seraya melirik kedua pria tampan itu. “Asal kalian tahu, aku tidak melayani dua pria dalam waktu yang bersamaan,” lanjutnya seraya mengisap rokoknya.
Coco yang saat itu duduk di sebelah Lenatta hanya menyunggingkan senyuman nakalnya. Ia lalu menoleh ke arah Matteo yang masih terlihat dingin dan datar. “Sayang, aku yakin Theo tidak ingin melihatku telanjang. Karena itu kami tidak ada rencana untuk bermain bersama. Namun, aku punya penawaran yang jauh lebih menantang untukmu. Sebuah permainan yang jauh lebih mendebarkan tentunya,” jelas Coco dengan senyum menawannya.
Lenatta mengalihkan pandangannya kepada pria bermata coklat itu. Ia tampaknya mulai penasaran. “Apakah itu, Ricci? BDSM?” celetuknya membuat Matteo dan Coco seketika saling pandang.
“Kenapa kekasihmu ini selalu berpikiran tentang aktivitas ranjang?” protes Matteo dengan heran.
“Hey, Tampan! Aku bukan kekasih Ricci atau pria manapun. Aku gadis yang bebas melakukan apapun yang kumau, terlebih jika itu dapat menghasilkan uang bagiku,” bantah Lenatta seraya kembali mengisap rokok yang ia apit dengan jemari lentiknya, “tapi ... aku sangat menykaimu, Ricci. Kau adalah pria yang paling lucu dan selalu membuatku tertawa,” lanjutnya.
Matteo tidak memedulikan semua ucapan Lenatta. Ia memberi isyarat kepada Coco agar segera mengutarakan maksud yang sebenarnya, dan berhenti untuk berbasa-basi. Coco memahami isyarat dari sahabatnya.
“Lena, aku punya pekerjaan untukmu. Theo akan membayarmu dengan sangat mahal dalam pekerjaan ini, tentunya jika kau sanggup,” Coco mulai masuk dalam pembahasan yang serius.
__ADS_1
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Lenatta. Ia mematikan rokoknya di dalam asbak. Lenatta pun menyandarkan tubuhnya. Ia menatap pria yang duduk di sebelahnya.
Coco menoleh kepada Matteo yang saat itu tampak mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya. Selembar foto yang kemudian ia letakan di atas meja. “Dekati pria itu dan berikan informasi penting padaku!” jawab Matteo dengan nada bicaranya yang terdengar sangat lugas.
Lenatta meraih foto itu. Foto dengan wajah seorang pria yang tiada lain adalah Silvio Moriarty. Lenatta memerhatikan foto itu dengan saksama. “Tampan juga, tapi tentu saja tidak setampan kalian,” ujarnya. “Siapa pria ini? Sepertinya aku pernah melihat pria ini di suatu club di Palermo, tapi ... entahlah karena bisa saja mereka hanya mirip,” ujar Lenatta lagi.
“Bisa jadi memang orang yang sama,” timpal Matteo, membuat Lenatta terdiam. Wanita itu tampak berpikir.
“Ia pria yang menakutkan. Aku melihatnya datang ke club dengan diiringi beberapa pengawal bertubuh tinggi besar. Mereka masuk ke sebuah ruangan khusus di club itu. Aku rasa ia bukan pria sembarangan. Iya, kan?” Lenatta menatap ke arah Matteo dan meminta jawaban yang sesungguhnya.
Matteo menatap tajam wanita bermata hazel itu. “Ya,” jawab Matteo datar. “Akan kuberitahu siapa dirinya jika kau sanggup untuk melakukan pekerjaan ini,” ucap Matteo masih dengan nada bicaranya yang datar.
Lenatta melirik kepada Coco. Pria itu mengedipkan sebelah matanya. Sesaat kemudian, ia kembali menatap Matteo “Berapa banyak yang akan kau tawarkan padaku, Tampan?” tanyanya.
Lenatta tertawa renyah. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Jelas saja ia tidak mau dibayar dengan harga sekecil itu. “Kau pikir ini pekerjaan mudah dan tidak berisiko?” protes Lenatta dengan tegas. “Aku minta dua kali lipat, berikut bonusnya,” pinta Lenatta dengan seenaknya.
Matteo tersenyum simpul. Ia melirik sahabatnya. Coco memberikan isyarat agar Matteo menyetujui penawaran Lenatta.
“Aku akan memberimu lima ribu di muka. Setelah pekerjaanmu selesai baru kuberikan sisanya, berikut bonus yang kau inginkan. Bagaimana?” tawar Matteo lagi.
Lenatta berpikir untuk sejenak. Setelah itu, ia pun mengangguk setuju. “Baiklah, aku setuju. Sekarang tolong jelaskan padaku, apa yang harus kulakukan?”
“Tuan Ricci yang akan menjelaskannya padamu. Aku sangat lelah dan ingin tidur. Silakan kalian lanjutkan!” Matteo kemudian beranjak dari duduknya. Ia berlalu menuju ruangan lain dari bengkel itu dan meninggalkan Coco bersama Lenatta.
Sepeninggal Matteo, Coco segera menjalankan tugasnya. Ia memberikan sebuah map berwarna hitam untuk Lenatta pelajari. “Aku akan memberimu sedikit penjelasan. Selebihnya kau lakukan sesuai dengan instingmu, Sayang. Kau juga bisa membaca file yang kuberikan,” ucapnya dengan senyuman yang sangat khas.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mendengarkannya,” sahut Lenatta.
“Pria ini bernama Silvio Moriarty. Ia merupakan wakil dari sebuah organisasi mafia yang dikenal dengan nama Klan Moriarty. Kau pernah mendengar nama itu? Itu adalah nama Klan yang sangat berpengaruh di Italia. Napoli, Roma, bahkan hingga daerah yang terpencil pun berada dalam jaringan kekuasaan mereka. Namun, tentu saja kau tidak akan diberi tugas untuk mengurusi organisasi mereka, karena tugasmu hanya akan difokuskan kepada Silvio,” jelas Coco.
“Ada apa dengan Silvio?” tanya Lenatta.
“Itu bukan urusanmu, Sayang. Kau hanya perlu masuk ke tempatnya, memantau setiap kegiatannya. Semua hal-hal kecil, kemudian berikan informasi yang berkaitan dengannya. Aku rasa kau dapat memahami apa yang kumaksud,” jelas Coco lagi.
Lenatta manggut-manggut. Ia sudah dapat memahami arah dari penjelasan Coco.
“Aku akan mengurus semua akomodasi untuk keberangkatan kita ke Palermo. Bersiaplah! Kita akan berangkat lusa!”
Lenatta tidak langsung menjawab. Ia terlihat sedikit bimbang. Hal itu terlihat jelas dari sorot matanya. Sementara Coco seakan langsung memahami hal itu.
“Ada yang mengganggumu, Sayang?” tanyanya.
“Bagaimana aku bisa masuk ke tempatnya?” tanya Lenatta.
“Kau tidak perlu khawatir. Semuanya sudah kuurus. Kau hanya tinggal melakukan tugasmu dengan baik. Selebihnya biar aku dan sahabatku yang menyelesaikan,” jelas Coco lagi. “Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”
Lenatta menoleh dan tersenyum manis. Ia pun menggeleng pelan.
“Kau tidak perlu khawatir, karena aku akan terus memantaumu. Jadi, kau tidak harus merasa takut karena aku tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya,” ucap pria itu lagi sehingga membuat Lenatta merasa tersanjung.
Tanpa segan, Lenatta segera melayangkan ciuman hangat dan mesra untuk Coco. Ciuman yang bersambut dengan sebuah rangkulan erat dari pria itu.
__ADS_1