
Setelah insiden mengejutkan beberapa saat yang lalu, akhirnya mereka bertiga tiba di restoran "La Florecita". Saat itu, restoran sudah dalam keadaan tutup.
Coco segera memarkirkan kendaraan mewah itu dengan luwesnya. Sementara Daniella sudah berdiri di depan halaman parkir, demi menyambut kedatangan dari ketiga orang tersebut.
“Mia! Kau tak akan percaya atas apa yang terjadi!” serunya beberapa saat setelah adik tirinya itu turun dari kendaraan. Daniella segera menarik pergelangan tangan Mia dan mengajaknya masuk ke restoran. Tak dihiraukannya Coco dan Matteo yang berdiri terbengong-bengong di depan bangunan restoran.
Pada akhirnya, kedua pria rupawan itu memilih untukq duduk di teras dan bersantai untuk sejenak di sana. Coco lalu merogoh sesuatu dari kantong celananya dan menawarkan pada Matteo. Di tangannya ada sekotak rokok merek kesukaan kedua sahabat itu.
Matteo mengambil sebatang dan menyelipkan di bibirnya. Demikian pula Coco. Mereka lalu menyalakan pemantik dan membakar ujung rokok. Matteo menghisapnya kuat-kuat dan mengembuskan asap putih perlahan. Coco pun mengikuti apa yang sahabatnya itu lakukan.
Akan tetapi, Coco segera menghentikan kegiatannya saat seorang gadis bertubuh semampai yang tengah berjalan ke arahnya. “Francy?” gumam Coco dengan mata berbinar.
Sementara itu, di dalam restoran Daniella tampak was-was dan mondar-mandir sambil sesekali menyentuh rambut panjangnya. “Besok akan ada serombongan orang yang memesan tempat ini untuk acara pesta ulang tahun,” jelas Daniella dengan raut cemas.
“Bukankah itu bagus?” ujar Mia seraya mengernyitkan keningnya.
“Iya, tapi masalahnya aku juga menerima reservasi dari orang lain di hari dan jam yang sama, Mia. Aku teledor! Aku telah menerima reservasi dari dua orang yang berbeda pada tanggal yang sama. Aku salah memasukkan datanya. Bagaimana ini?” resah Daniella. Dia terlihat begitu panik dan sesekali menjambak rambutnya.
“Apakah kau sudah menghubungi orang-orang yang memesan itu?” Mia mengangkat salah satu alisnya sembari bersedekap. Sementara Daniella menggeleng lemah, membuat Mia mendengus kesal. “Seharusnya kau segera menelepon mereka dan menawarkan perubahan tanggal atau jam. Siapa tahu mereka bersedia dengan tawaran itu,” saran Mia.
“Bagaimana jika mereka menolak?” Daniella makin panik.
“Dani! Kau bahkan belum mencobanya sama sekali,” tegur Mia.
“Jadi bagaimana?” Daniella mendekatkan dirinya pada Mia dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Sebaiknya kau segera hubungi masing-masing pelanggan kita yang memesan tempat di hari dan jam yang sama, lalu kau tawarkan pada mereka penyelesaiannya. Entah mereka mau mengganti jam atau tanggalnya,” tutur Mia.
“Baiklah, akan kucoba. Kau tunggu di sini!” titah Daniella sebelum berlari memasuki ruangan kantor yang dulunya menjadi tempat Mia.
Tak berapa lama, pintu restoran terbuka. Francesca dan Coco masuk bersamaan dengan Matteo. Masih dengan sebatang rokok yang terapit di jemarinya, Matteo memilih duduk tepat di samping Mia. Sedangkan Coco duduk berseberangan dengan pasangan suami istri itu. Francesca lebih dulu memeluk sang kakak sebelum akhirnya duduk di sebelah Coco.
“Apa kabarmu, Mia? Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Kau terlihat semakin cantik,” sanjung Francesca dengan nada dan wajah yang terlihat sangat ceria.
“Tentu saja kakakmu terlihat semakin cantik. Itu semua karena Theo selalu menghujaninya dengan ciuman mesra. Pagi, siang, malam, setiap saat mereka selalu berciuman,” celoteh Coco panjang lebar. Matteo yang tidak terima, segera menendang tulang kering sahabatnya itu diam-diam.
“Apa kau iri, Ricci? Tidak masalah jika kau ingin melampiaskannya pada Francy. Adikku sepertinya tidak akan keberatan. Aku rasa ia justru akan sangat bahagia,” goda Mia tergelak. Lesung pipitnya pun muncul dan menambah aura kecantikannya. Untuk sesaat, lagi-lagi Matteo terpesona. Tak akan pernah habis kekagumannya pada sosok Mia. Diraihnya jemari lentik sang istri dan dikecupnya punggung tangan itu dengan mesra.
“Kau lihat, Francy? Begitulah mereka setiap harinya. Bulan dan bintang pun merasa iri saat melihat mereka bersama, ” keluh Coco dengan sedikit menyindir.
“Jika kau iri, segeralah cari seseorang untuk kau peristri,” celoteh Francesca yang sontak membuat Coco seakan tersedak. Ia melotot ke arah Francesca dengan sorot bertanya-tanya.
“Tidak! Aku masih kuliah dan juga ingin mengejar karierku!” potong Francesca sebelum Coco sempat menyelesaikan kalimatnya, membuat raut wajah Coco seketika berubah. Suasana canggung pun mulai terasa, setelah Francesca mengatakan hal demikian. Coco memilih menunduk, meski sesekali tetap mencuri pandang ke arah gadis itu.
Beruntung, Daniella datang dan memecah suasana. Wajahnya kini tampak berseri, berbeda dengan beberapa menit lalu. “Kau benar, Mia! Ternyata mudah sekali solusinya. Aku hanya perlu mengganti jadwal dan mereka setuju,” ujar Daniella gembira. Akan tetapi, tidak demikian dengan Mia. Wanita cantik itu terlihat cemberut seraya mendengus kesal. “Kau memintaku jauh-jauh datang kemari hanya karena masalah sepele ini, Dani? Kau tahu bukan, suamiku belum pulih benar?” omelnya.
“Sudahlah, tidak apa-apa, Cara mia. Dani masih belum terbiasa mengurus restoran. Itu hal wajar,” bujuk Matteo lembut.
“Ah, Matteo. Hentikan sikap manismu itu, atau aku akan jatuh cinta dan tergila-gila padamu seperti Camilla,” sindir Daniella. Ia meringis dan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Tak pelak, semua mata melotot ke arahnya, membuat Daniella beringsut mundur dan menjauh dari mereka. “A-aku akan memeriksa persiapan di belakang. Kalian nikmatilah waktu di sini,” Daniella membalikkan badan dan segera melarikan diri.
__ADS_1
“Tuan sejuta pesona,” cibir Mia seraya memalingkan mukanya dari Matteo.
“Apa salahku?” Matteo yang kebingungan, lalu menatap Coco untuk mencari jawaban.
“Jangan tanya padaku, Amico. Minta maaf saja meskipun kau tak salah,” sahut Coco seraya memundurkan kursi. “Ayo, Francy. Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kau tak ada acara kan, hari ini?” perhatian Coco kini beralih pada Francesca. Ia mengulurkan tangannya pada gadis bertubuh semampai itu.
“Tidak ada. Aku tidak ada jadwal kuliah dan pemotretan,” Francesca berdiri dan menyambut uluran tangan Coco, kemudian berjalan berdampingan keluar dari restoran. Mereka terlihat amat serasi.
Dari jendela, Mia dan Matteo mengamati Coco dan Francesca yang bergandengan tangan menuju mobil Matteo yang terparkir dengan gagahnya.
Suami istri itu terus mengamati dua sejoli tersebut. Mereka melihat Coco yang mulai menyalakan mobil, lalu mundur perlahan dan meninggalkan restoran.
Keheningan menghiasi sesaat, sebelum dering ponsel Matteo berbunyi nyaring. Mia melirik dan melihat nama Adriano tertera di layar.
Matteo menjawab panggilan telepon itu dan memindahkannya menjadi mode loud speaker, agar Mia juga dapat ikut mendengarkan. “Halo,” suara Matteo terdengar dingin dan berat.
“Apa kabar, Tuan de Luca?” sapa Adriano dari seberang sana.
“Sudah cukup basa-basinya, Tuan D’Angelo. Ada perlu apa?” sahut Matteo ketus.
Adriano tertawa pelan, kemudian menjawab, “Aku minta maaf atas keteledoran anak buahku. Mereka masih terbilang baru, sehingga belum mengenali wajahmu.” jelasnya.
“Tidak masalah. Aku memang tidak terlalu suka mengenalkan wajahku pada setiap orang,” sahut Matteo, masih dengan nada datar dan dingin.
“Sebagai tanda permintaan maaf, aku ingin mengundang anda ke acara pembukaan club malamku yang baru akan kuresmikan nanti malam. Bagaimana?” tawarnya.
__ADS_1
Matteo tak segera menjawab. Ia melirik ke arah Mia terlebih dahulu dan meminta sarannya. Tanpa berpikir, Mia segera mengangguk. Pria rupawan itu tersenyum samar dan menerima ajakan Adriano. “Sampai jumpa nanti malam,” tutup Matteo.