Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Depression


__ADS_3

Matteo memandang garis merah yang mulai muncul di kaki langit dengan hati yang terasa begitu sesak. Bayangan Mia yang sedang mengiris pergelangan tangannya sendiri, membuat Matteo tak bisa tidur semalam suntuk. Ia akhirnya memilih untuk keluar dari kamar Coco dan menuju kamarnya sendiri untuk berganti pakaian. Tanpa Matteo sadari, Coco juga hanya berpura-pura tidur saat itu. Ia kembali membuka matanya ketika Matteo sudah keluar dari kamar.


Matteo telah bersiap dengan setelan olahraganya. Pria bermata abu-abu itu memutuskan untuk melakukan aktivitas rutinnya setiap pagi, yaitu lari di sekitar perkebunan. Ia melakukan hal itu selain karena ingin menenangkan pikiran dengan menghirup udara segar di antara warna hijau tanaman anggur, Matteo juga harus memantau kondisi perkebunan.


Kembali terngiang semua ucapan Antonio dalam perbincangan mereka semalam. Matteo merasa jika itu bukanlah sebuah ide gila yang biasa saja. Terlebih kemarahannya atas semua tragedi berdarah yang memilukan, telah membuat Matteo tak mampu lagi mengendalikan akal sehatnya. Ia hanya ingin menumpas siapa pun yang telah berani melakukan kebiadaban itu, terhadap orang-orang yang sangat ia kasihi.


Perisiwa berdarah kemarin di pesta pernikahan Mia, menjadi puncak dari segala amarah yang selama ini masih berusaha untuk ia kendalikan. Matteo tak terima ketika Mia menuduhnya sebagai dalang dari penyerangan yang telah menewaskan ayah serta suami dari gadis yang sangat ia cintai tersebut. Bagaimanapun caranya, Matteo harus membersihkan nama dan reputasinya di mata Mia.


Sekitar pukul setengah delapan pagi, Matteo baru kembali ke rumah. Ia langsung menuju dapur untuk mengambil sebotol air putih. Kebetulan, saat itu Damiano melintas di sana. Pria yang selalu tampil dengan peaky blinders newboys cap itu, sepertinya akan pergi ke perkebunan. Selama ini, Damiano memang bertanggung jawab penuh atas semua hal yang berhubungan dengan perkebunan dan juga Du Fontaine.


Damiano tertegun dan memperhatikan pria muda yang tengah meneguk habis air putih di dalam botol. “Theo,” sapanya, membuat Matteo sedikit terkejut. Pria berambut gondrong itupun menoleh.


“Kau sudah selesai lari pagi, Nak?” tanyanya.


Matteo meletakan botol kosong itu dengan begitu saja di atas meja. Ia lalu menghampiri Damiano. “Kau akan ke perkebunan?” tanyanya. Damiano mengangguk. “Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap Matteo dengan wajah yang terlihat sangat serius.


Damiano menatap putra asuhnya untuk sesaat. Ia mencoba menerka apa yang akan dibahas Matteo dengannya. Dari raut yang ditunjukan pria muda itu, Damiano dapat mengetahui jika itu pasti sebuah topik yang sangat serius. “Bagaimana jika kita bicara setelah aku kembali dari perkebuan? Aku hanya akan melihat keadaan di sana sebentar. Beberapa hari lagi kita akan memanen anggur-anggur itu,” wajah Damiano tampak berseri.


Matteo mengangguk setuju. Ia juga ingin mandi dan berganti pakaian. Hari ini ia akan merasa kesepian, karena Coco berniat untuk kembali ke bengkelnya. Pria itu harus membereskan segala kekacauan yang telah menghampiri tempat usahanya tersebut.


Namun, Matteo tidak tahu jika Coco justru kembali ke kota Venice dengan diam-diam. Coco merasa harus memberikan sebuah penjelasan kepada Francesca. Gadis itu berpikiran sama dengan Mia. Coco harus meyakinkan Francesca agar dapat memahami keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


Hari belumlah terlalu siang, ketika Coco tiba di Venice. Duduk tenang di atas motor sport-nya, Coco menunggu Francesca di suatu tempat yang telah mereka sepakati. Sebelumnya, Coco terus membujuk gadis belia itu agar bersedia untuk bertemu dengannya.


Pada awalnya Francecsa tidak memedulikan bahkan mengabaikan semua pesan dan panggilan dari Coco. Akan tetapi, bukan Coco namanya jika ia tidak dapat menaklukan seorang gadis dengan rayuan mautnya. Akhirnya, Francesca menyetujui untuk bertemu.


Coco tersenyum seraya melepas kacamata hitam yang ia kenakan saat melihat kedatangan Francesca. Gadis itu masih dengan pakaian serba hitamnya. Ia masih dalam suasana berkabung. Francesca sendiri sudah dapat menebak apa yang akan Coco bicarakan dengannya. Sebenarnya ia merasa malas. Namun, perasaan istimewa yang ia rasakan terhadap pria yang berusia cukup jauh di atasnya itu, membuatnya tak dapat menolak ajakan tersebut.


Pesona dan daya tarik seorang Coco memang terlalu kuat untuk gadis labil seusianya. Coco segera menyambut gadis itu dan berdiri di hadapannya. Senyuman menawan yang selalu menjadi ciri khas pria bermata coklat terang tersebut, cukup membuat Francesca merasa terhipnotis. Gadis belia itu menatap lekat ke arah Coco. “Apa kabar, Francy?” sapa Coco dengan sikap kalemnya.


“Kau pasti sudah tahu seperti apa kabarku,” jawab Francesca datar dan dingin. Ia terus menepiskan semua kekaguman dalam hatinya. “Jenazah ayahku dan Valentino sudah dikuburkan kemarin. Saat ini, kami tidak memiliki siapa-siapa lagi ....” Francesca menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan seraya menangis pelan.


Melihat hal itu, dengan segera Coco mendekat dan langsung mendekapnya dengan erat, sementara Francesca hanya mematung. “Aku bisa memahami kesedihanmu dan juga kedua saudarimu, Francy. Aku sangat menyesalkan kejadian itu,” ujar Coco. Ia terus menenangkan Francesca dengan sentuhan-sentuhan lembutnya yang penuh kasih.


“Kau harus tahu, Francy. Aku ataupun Matteo tidak mengetahui jika akan terjadi penyerangan ke pesta pernikahan Mia. Kami tidak memperkirakan itu sama sekali,” jelas Coco. Ia mencoba untuk meyakinkan Francesca agar percaya pada ucapannya. Namun, Francesca justru malah melepaskan dirinya dari dalam dekapan Coco.


“Sejujurnya, aku memang sahabat Matteo. Aku datang ke kota Venice, karena Matteo ingin agar aku bisa menjaga Mia. Aku mengabaikan semua pekerjaanku di Brescia dan menghabiskan waktu beberapa hari dengan sesuatu yang sangat membosankan. Aku mengamati dan mengikuti kakakmu hanya untuk memastikan agar ia baik-baik saja. Kau harus tahu, betapa Matteo sangat mencemaskan Mia. Ia begitu jatuh cinta terhadap kakakmu,” tegas Coco.


“Kau sahabatnya! Pantas jika kau akan membelanya dengan mati-matian! Sementara Mia adalah kakakku, maka akupun akan membelanya dengan cara yang sama! Lalu pria itu ... pria itu adalah ayahku juga, dan Valentino merupakan kakak iparku! Aku kehilangan dua pria baik itu dalam waktu yang bersamaan dan dengan cara yang sangat mengenaskan! Kau pikir kami akan baik-baik saja dan memaafkan semua kekejian itu dengan mudah?” nada bicara Francesca mulai meninggi. Kemarahan yang ia pendam untuk Coco, akhirnya dapat dilampiaskannya saat itu.


“Aku sangat memahami itu, Francy. Akan tetapi, tolong percayalah jika Matteo tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian berdarah itu! Aku bisa membuktikannya padamu, tapi ini butuh waktu! Aku mohon, tolong yakinkan agar Mia menyingkirkan semua pikiran jeleknya tentang sahabatku!” pinta Coco dengan penuh harap. Ia meraih tangan Francesca dan menggengamnya dengan erat. Tatapan matanya begitu lembut ia layangkan kepada gadis manis itu. Sementara Francesca hanya terpaku menatapnya.


“Ikut aku!” ajak Francesca tiba-tiba. Tanpa menunggu aba-aba dari Coco, gadis itu langsung melompat ke atas jok motor sport milik Coco yang terparkir beberapa langkah dari mereka.

__ADS_1


Coco tersenyum samar. Namun, ia segera menuruti permintaan Francesca. “Kau akan mengajakku ke mana?” tanyanya.


“Ke rumah sakit. Satu kilometer dari sini, beloklah ke arah kanan,” ujar Francesca.


Coco melajukan motor sesuai arah yang ditunjukkan oleh Francesca. Sesampainya di sana, gadis belia itu mengarahkan motor Coco ke arah basement. Setelah memarkirkan motor dan melepas helm, Francesca buru-buru menyeret lengan Coco untuk memasuki lift dan memencet tombol angka empat belas. Ketika pintu lift terbuka, tampak lah papan berwarna perak dan mengkilap yang bertuliskan “Ruang Psikiatri’.


“Kenapa kau mengajakku ke sini, Francy?” tanya Coco keheranan.


“Lihatlah siapa yang ada di sana,” Francesca mengarahkan telunjuknya ke sebuah ruangan yang terletak agak jauh di depan mereka berdiri. Sebuah ruangan biasa yang dinding luarnya terbuat dari kaca sehingga siapa pun dapat melihat dengan jelas keadaan di dalam ruangan tersebut.


Tampak Mia sedang duduk termenung di sebuah sofa bersama dengan seorang dokter yang memakai jas putih. Dokter itu duduk di sampingnya.


Tatapan Mia terlihat kosong. Arah atanya hanya melihat ke lantai dan sama sekali tak menghiraukan dokter wanita yang berusaha bicara kepadanya. Mia seakan tidak sedang berada di sana saat itu. Pikirannya entah berada di mana. Sementara itu, air mata sesekali menetes di sudut bibirnya.


“Apa yang terjadi dengan Mia?” tanya Coco penasaran sambil mengeluarkan ponselnya. Ia lalu merekam gambar Mia saat itu. Sesaat kemudian, Coco mengirimkan hasil rekaman itu kepada Matteo.


“Mia berubah seperti itu dari semenjak ia menyayat nadinya. Ia tidak mau makan, minum, bahkan berbicara. Mia telah mengalami depresi, Ricci,” Francesca mulai terisak dan kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Ya, Tuhan ...." desah Coco pelan. Ia tidak menyangka jika keadaannya akan separah itu. Ini benar-benar bukan berita baik. Coco menjadi serba salah. Ia merasa yakin jika keadaan Mia saat ini, pasti akan sangat berpengaruh terhadap Matteo.


 

__ADS_1


 


__ADS_2