
Adriano ikut terbelalak. Sekarang ia ingat siapa wanita itu. Imelda Jones merupakan seorang model profesional untuk sebuah majalah dewasa di Amerika. Wajahnya memang sudah tak asing lagi bagi Adriano. “Oh, ya. Aku ingat sekarang. Namanya terdengar sangat familiar,” gumam pria itu pelan membuat Matteo menahan senyumnya.
“Anda mengenalnya juga, Tuan D’Angelo?” pancing Matteo menahan geli.
“Um, ya. Maksudku ... aku pernah melihatnya sesekali di majalah ... ya, hanya itu ....” Adriano tampak salah tingkah. Ia mungkin malu jika harus mengakui bahwa dirinya kerap membuka majalah dewasa.
“Tak apa, Tuan D'Angelo. Itu normal. Aku rasa Theo ataupun Coco juga seperti itu,” ucap Marco dengan tenang. Ia memberikan pembelaan untuk Adriano secara tak langsung. Namun, hal itu justru semakin membuat Adriano semakin merasa tak enak. Ia seperti kehilangan semua wibawanya. Sedangkan Matteo membalas ucapan sepupunya itu dengan mendelik tajam ke arahnya.
Sementara itu, Coco mulai berbasa-basi dengan wanita bernama Imelda tersebut. “Aku membutuhkan sedikit bantuan darimu, sayang,” ucap Coco tanpa beban sama sekali.
“Oh, iya tentu. Apa yang bisa kubantu, Ricci?” terdengar jawaban lembut dari Imelda.
Sebelum memberikan penjelasan kepada wanita itu, Coco sempat melirik Matteo untuk sesaat. Ia seakan tengah meminta izin kepada sahabat dekatnya tersebut. Matteo mengangguk yakin, dan berbalas sebuah anggukan pula dari Coco. Perhatiannya kini ia kembalikan pada sosok cantik dan seksi di dalam layar ponsel. Ia lalu menjelaskan semua yang telah mereka rundingkan tadi kepada wanita itu dengan sangat terperinci.
Imelda awalnya tak bisa memahami maksud dari semua yang Coco ucapkan. Namun, Coco kembali memberinya sebuah penjelasan hingga wanita itu bisa memahaminya dengan baik. “Kau tenang saja, karena ini tidak gratis. Kami akan memberikan sejumlah uang padamu, berapapun yang kau minta asalkan jumlahnya masih masuk akal,” Coco tergelak menanggapi ucapannya sendiri.
Sedangkan Imelda pun ikut tertawa. Ia sudah mengenal karakter Coco yang memang sangat supel dan ramah. “Ah, tampan. Kau memang selalu membuatku terhibur. Itu bisa kita atur nanti. Kau tahu bukan jika aku adalah partner yang baik dan tak akan mengecewakan,” sahut Imelda dengan gaya bicaranya yang terdengar begitu menggoda.
“Ya, tentu saja. Kau memang sangat profesional dan tak ada yang bisa meragukanmu,” sanjung Coco yang kemudian berbalas sebuah tendangan pelan di kakinya dari Matteo. “Ah, intinya aku ingin kau melakukan apa yang kuminta dengan segera. Aku akan sangat berterima kasih seandainya kau bisa melakukan pekerjaan ini kurang dari seminggu,” ujar Coco lagi.
“Kau tenang saja, Ricci. Aku memiliki kenalan seorang dokter di salah satu rumah sakit yang berada di Boston. Aku akan segera menghubunginya. Namun, jangan lupa dengan bayaranku. Aku tak mau melakukan ini dengan gratis. Lagi pula, aku harus menyewa sebuah kamar VVIP, kan?”
“Jangan pikirkan masalah itu. Semuanya sudah dipersiapkan untukmu. Segera hubungi aku jika kau sudah siap. Ingat, aku ingin dalam seminggu ini kau sudah melaksanakan pekerjaanmu, berhubung kami tak memiliki banyak waktu,” pesan Coco dengan nada cukup serius.
“Ya, aku mengerti. Aku harap kita bisa bertemu lagi secara langsung. Kau terlihat semakin tampan saja. Rasanya aku ingin menggigitmu dengan keras,” goda wanita itu nakal membuat Coco menjadi salah tingkah. Pria berambut ikal tersebut hanya senyum-senyum dan sesekali menggaruk keningnya. Ia lalu menoleh kepada Matteo. Sementara, Matteo hanya menyeringai sembari mengangkat ponselnya. Terlihat di layar ponselnya, bahwa Matteo sedang mengaktifkan aplikasi perekam video.
__ADS_1
“Ah, sialan! Jangan kirimkan pada Francy!” seru Coco panik. Buru-buru ia hendak merebut ponsel milik Matteo. Akan tetapi, gerak Matteo jauh lebih gesit. Pria itu berkelit menghindar dan berdiri, sehingga Coco yang sudah terlanjur mencondongkan badan pada Matteo, hampir terjungkal dan terjatuh.
“Apakah mereka berdua selalu bersikap kekanak-kanakan seperti itu?” tanya Adriano dengan wajah penuh keheranan.
“Begitulah. Sikap Theo selalu berbeda saat bersama Coco atau Mia. Aku sendiri juga tak mengerti,” jawab Marco sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku tak menyangka bahwa karakter Tuan de Luca bisa sedemikian unik,” tatapan mata birunya tak lepas dari Matteo yang kini tengah menerima panggilan telepon dari seseorang.
“Tunggu saja, Detektif. Besok kita akan melakukan panggilan video dengan pamanku,” tutur Matteo dengan raut tegang. Seketika ketegangan itu menular pada semua orang. Matteo kemudian melanjutkan sedikit perbincangannya dengan Detektif Ranieri hingga beberapa saat. Setelah itu, ia menutup sambungan teleponnya.
“Coco, aku tak akan mengirimkan rekaman video ini kepada Francy, jika kau bisa memaksa Imelda menyiapkan semuanya dalam waktu dua puluh empat jam!” gertak Matteo.
“Kau gila, Amico! Bagaimana caranya hal serumit itu bisa disiapkan dalam waktu dua puluh empat jam?” protes Coco.
“Aku tidak mau tahu. Bagaimanapun caranya, harus sudah siap dalam waktu dua puluh empat jam, atau Detektif Ranieri akan curiga,” tegasnya. Sosoknya yang tadi terlihat lepas dan penuh tawa, kini hilang seketika dan berganti dengan wajah garang serta dingin, khas Matteo de Luca.
“Baiklah, kita akhiri pertemuan hari ini. Besok kita bertemu lagi,” tutup Matteo. “Saat ini kepalaku terlalu pusing. Aku tak bisa berpikir dengan baik,” imbuhnya sambil mengamati Coco yang sedang bercakap-cakap dengan Imelda di telepon.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan mengunjungi Valerie sebentar. Apa ia berada di kamarnya?” tanya Adriano.
“Kamar tamu nomor tiga lantai bawah,” sahut Marco seraya berdiri dan meninggalkan ruangan terlebih dulu. Beberapa menit kemudian, diikuti oleh Adriano.
“Kabari aku bagaimana hasilnya, Tampan,” bisik Matteo yang segera disambut dengan acungan jari tengah oleh Coco. Matteo menepuk lengan Coco sebelum ia keluar dari ruangan itu. Ia bergegas menuju kamarnya. Pikirannya sejak tadi tertuju kepada Mia yang selalu berhasil menenangkan dirinya, dan meredam semua amarah serta kegundahan yang sedang ia rasakan.
Dibukanya pintu kamar dengan perlahan. Tampaklah Mia yang sedang duduk tenang di atas kursi roda. Ia menghadap ke jendela sambil memandang hamparan kebun anggur yang begitu luas. Wajah cantik itu terlihat begitu ceria dan berseri-seri.
“Apakah kau sedang bahagia, Cara mia?” Matteo menghampiri sang istri dan segera menghadapkan Mia ke padanya.
Mia mengangguk antusias. “Rambutku mulai tumbuh memanjang, Theo. Mungkin kira-kira lima senti,” jawabnya seraya terkikik geli.
__ADS_1
“Itu bagus sekali, Sayang. Apakah warnanya masih cokelat?” Matteo semakin mendekatkan wajahnya kepada Mia, sehingga membuat pipi mulus istrinya terlihat merah merona.
“Sepertinya begitu,” Mia kembali tertawa geli. Terlebih saat bibir Matteo menyentuh bibirnya. Akan tetapi, belum sempat mereka berciuman, pintu kamar dibuka lebar-lebar oleh seseorang.
“Amico! Imelda menyanggupinya! Aku sudah memberikan foto Antonio. Imelda mengatakan jika dia mengenal seseorang yang memiliki postur mirip dengan pamanmu. Ia juga akan menghubungi seorang dokter, perawat dan menyewa satu kamar VVIP! Imelda meminta kita bersiap pukul sepuluh bagi, besok!” seru Coco tanpa rasa bersalah dan tanpa jeda. Setelah itu ia mengempaskan napasnya yang sedikit terengah-engah.
Matteo mendengus pelan. Akan tetapi, ia tak bisa protes, karena apa yang disampaikan oleh Coco memanglah penting. “Katakan pada Imelda bahwa ia sudah bekerja dengan baik. Sampaikan terima kasihku serta imbalan yang sesuai tentunya,” ucap Matteo.
“Siapa Imelda?” tanya Mia penasaran.
Belum sempat Matteo menjawab, Coco segera menyambarnya. “Imelda adalah salah satu gadis yang pernah dekat dengan Theo, Mia. Wanita itu sungguh tergila-gila kepada suamimu. Mereka juga sempat berlibur ke Las Vegas, meskipun pada akhirnya suamimu mencampakkannya. Akulah yang menghibur Imelda dan membuat gadis itu jatuh cinta kepadaku,” terang Coco berapi-api. Ia tersenyum puas.
“Benarkah?” Mia terbelalak tak percaya.
"Ya. Kau pasti tidak tahu jika Imelda gemar sekali memakai bikini dan berjemur, sehingga ia memiliki kulit yang sangat eksotis," lanjut Coco lagi hingga membuat Matteo semakin gemas padanya. “Akan tetapi, wanita itu hanya masa lalu. Saat aku masih tersesat,” kelakar Coco kemudian.
“Bisakah kita menghentikan pembahasan tentang Imelda?” protes Matteo.
“Ceritakan lagi tentang wanita itu, Ricci!” pinta Mia yang berseberangan dengan keinginan suaminya.
“Well, hanya itu yang bisa kuceritakan. Satu hal yang pasti, koneksi Imelda sangatlah banyak. Jaringannya luas, bahkan para pejabat di negara bagian dan politisi sering menggunakan jasanya, untuk ... kau tahu kan, maksudku? Jadi, bukan hal yang sulit jika ia harus mencari satu atau dua orang dokter dan perawat untuk bersandiwara,” seringai Coco yang belum juga Mia pahami.
__ADS_1