
Beberapa saat telah berlalu. Matteo duduk bersandar pada kepala ranjangnya dengan selimut sebatas perut. Ia tersenyum simpul sambil memperhatikan Mia yang baru turun dari tempat tidur, dengan tubuh polosnya yang indah. Tanpa rasa canggung, Mia melenggang begitu saja ke dalam kamar mandi. Tak ada lagi sosok Mia yang lugu saat ini, tetapi Matteo justru sangat menyukai perubahan itu. Tentu saja, hanya ketika di hadapannya.
Sesaat kemudian, Matteo meraih ponsel yang ia letakkan di meja sebelah tempat tidur. Ia lalu menghubungi seseorang selagi Mia masih berada di dalam kamar mandi. Matteo hendak menelepon seorang anak buah kepercayaannya, yang ia beri tugas untuk mengawasi Damiano.
Setelah beberapa kali nada panggil berdengung, terdengar suara bariton seorang pria dari seberang sana yang segera menyapa Matteo. “Bos,” sapa pria itu.
“Bagaimana perkembangan Damiano? Sejak kapan kau mendampinginya?” tanya Matteo tanpa basa-basi. Ia juga berbicara dengan suara pelan.
“Sejak beberapa saat setelah Anda menghubungi saya, Bos. Saya langsung menghubungi Tuan Damiano dan mendatanginya,” terang pria yang bernama Zucca itu.
“Apa kau sempat lengah sehingga Damiano lolos dari pengamatanmu?” selidik Matteo datar.
“Tidak sedetik pun, Bos! Tuan Damiano langsung tidur tengah malam tadi. Sementara saya terus berjaga di sampingnya. Tuan Damiano hanya berdiam di kamarnya sampai sekarang. Ia juga tidak terlihat menghubungi siapa pun. Ponselnya dalam keadaan mati,” papar pria itu panjang lebar.
“Kerja bagus, Zucca! Tetap awasi Damiano sampai nanti kuberi intruksi lagi!” titah Matteo dengan nada dingin dan dalam. Ia sempat tercenung untuk beberapa saat. Matteo sadar, Damiano bukanlah sosok yang patut dicurigai saat ini. Damiano mempunyai alibi yang kuat bahwa bukan dialah pembunuh pelayan dan juga perusak kamera CCTV nya. Terlebih, Matteo sempat memeriksa keadaan mayat yang jelas terlihat bahwa jasad itu belum lama mati. Perkiraan Matteo, pelayan malang itu meninggal kurang dari dua jam sejak ia ditemukan olehnya.
Selang beberapa saat, Mia keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia juga menggulung rambutnya yang basah dengan sebuah handuk. Melihat Mia sudah selesai membersihkan dirinya. Matteo yang sejak tadi duduk di tepian ranjang, segera berdiri dan menghampiri sang istri.
Matteo memeluk tubuh istri tercintanya yang masih terasa lembab dari belakang. Ia kemudian mengecup lembut pundak Mia. “Terima kasih. Kau akan selalu menjadi nyawa kedua bagiku, Mia,” bisiknya membuat wanita muda itu tersenyum manis.
“Apakah urusanmu pagi tadi sudah selesai, Theo?” tanya Mia yang masih merasa penasaran dengan sikap aneh Matteo tadi, sebelum mereka melakukan ritual rutin suami-istri.
Matteo menatap wajah Mia dari pantulan cermin rias di hadapan mereka. Pria bermata abu-abu itu tersenyum kecil. Ia tidak ingin membahas masalah tadi dengan Mia. Namun, ia juga tak ingin membuat sang istri terus bertanya-tanya. “Iya, hanya sedikit masalah dengan para pengawal. Ada beberapa kamera pengawas yang tidak beroperasi, tapi aku sudah bicara dengan Coco. Ia akan memeriksanya siang ini,” jelas Matteo mencoba terlihat setenang mungkin.
“Aku pikir ada masalah yang serius. Kau tadi terlihat sangat kacau,” ujar Mia seraya memainkan bola matanya yang indah.
“Semua masalah akan terasa berat dan serius, ketika aku tidak dapat berhenti memikirkanmu,” goda Matteo membuat Mia mendelik ke arahnya. Matteo hanya tersenyum. Ia memilih untuk berlalu ke kamar mandi. Matteo juga ingin segera membersihkan dirinya. Sementara Mia segera berpakaian. Ia ingin melakukan aktivitas lain di sana, selain berdiam diri di dalam kamar. Kondisinya juga saat ini sudah semakin tenang.
Setelah selesai berpakaian dan memoleskan riasan tipis, Mia memutuskan untuk keluar kamar. Di sana ia berpapasan dengan Marco. Pria itu menatapnya dengan sorot mata yang terlihat sangat aneh. “Hai, Mia. Bagaimana kabarmu hari ini?” sapa Marco dengan senyumnya yang terlihat sangat menakutkan bagi seseorang seperti Mia.
Mia memaksakan dirinya untuk tersenyum, meskipun ia merasa sangat tidak nyaman. “Sudah jauh lebih baik. Terima kasih, Marco,” jawabnya mencoba untuk tetap bersikap ramah.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Kau juga terlihat sangat segar hari ini,” Marco mendekatkan wajahnya pada pundak Mia. “Hmm ... aroma bunga,” ucapnya dengan mimik nakal, membuat Mia segera berlalu dari hadapannya. Mia tidak menyukai sikap Marco yang dinilainya sangat kurang ajar. Hatinya terasa begitu jengkel, tapi Mia bukan tipe orang yang akan langsung meledak dan melampiaskan semua kekesalannya. Ia akan lebih memilih untuk menghindar.
“Hai, Mia!” seru Francesca yang tiba-tiba muncul dari arah lain. Ia kemudian berjalan mensejajari sang kakak. “Kau terlihat sangat segar,” lirik Francesca nakal. Gadis itupun tertawa pelan. Sementara Mia hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Mereka terus melangkah menuju dapur.
“Di mana Daniella?” tanya Mia ketika mereka sudah tiba di dapur dengan suasananya yang sangat nyaman. Dapur dengan lawang berbentuk melengkung dan berbagai ornamen khas Tuscany yang begitu kental.
__ADS_1
“Aku rasa Dani sedang berjalan-jalan di luar, atau mungkin di kolam renang, entahlah ....” ucapan Francesca terhenti ketika ia melihat Coco melintas. Namun, pria itu tidak menoleh ke arahnya. Raut wajah Coco pun tampak sangat serius. Tidak berselang lama, Matteo juga melintas di sana. Pria itu sama saja.
“Ada apa dengan mereka?” gumam Francesca seperti pada dirinya sendiri.
“Kenapa, Francy?” tanya Mia yang mulai menyibukkan dirinya dengan urusan dapur.
“Tidak apa-apa,” jawab Francesca dengan tak acuh. “Aku senang berada di sini. Setidaknya aku bisa terbebas dari gangguan Filippo selama beberapa hari,” ujarnya. Ia membantu Mia menyiapkan bahan-bahan untuk menu makan siang.
“Jika kau merasa tidak nyaman, kenapa kau tidak mengakhiri hubungan kalian? Jangan memaksakan dirimu, Francy,” saran Mia tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Kau tahu apa yang menjadi alasanku, Mia,” bantah Francesca seraya mengeluh pelan.
“Aku lihat Ricci sangat mengharapkanmu,” ucap Mia membuat Francesca tertegun untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa berkata apa-apa. Mereka berdua pun sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan saling membisu untuk beberapa saat, sampai Sorella masuk ke dapur itu.
“Nyonya, sebaiknya Anda istirahat saja. Lagi pula sudah ada koki yang bertugas untuk menyiapkan makanan di sini,” ucap Sorella dengan sopan kepada Mia.
Mia menoleh dan tersenyum. “Tidak apa-apa, Sorella. Aku merasa bosan jika hanya berdiam diri. Lagi pula Theo juga tidak melarangku,” sahut Mia. “Bagaimana keadaan anakmu, Sorella?” tanya Mia seraya kembali menoleh kepada wanita tiga puluh tahun itu.
Sorella terlihat sedikit murung. Seperti biasa, ia selalu menundukan wajahnya. “Sudah membaik, Nyonya,” jawabnya lesu dan terdengar pilu, membuat Mia merasakan jika ada sesuatu yang sangat serius dengan wanita itu.
“Baik, Nyonya,” Sorella mengangguk sopan. Ia juga ikut membantu di sana.
Sesaat kemudian, Mia melanjutkan pekerjaannya. Namun, tidak berselang lama, ia kembali melirik ke arah Francesca. “Francy, apa kau jadi pulang besok?” tanya Mia. Sedangkan Francesca saat itu terlihat sangat serius dengan apa yang sedang dikerjakannya. Seketika gadis dengan bola mata berwarna hazel tersebut kemudian tersentak. Rupanya ia tengah beraktivitas sambil melamun.
“Ah, iya ... Mia. Aku ... entahlah, mungkin jadi,” Francesca berkata dengan ucapan yang terputus-putus.
“Kenapa kau tidak di sini dulu untuk beberapa hari? Lagi pula, besok aku dan Theo akan pergi ke Venice,” ucap Mia membuat Francesca segera menoleh.
“Kau akan ke Venice?”
Mia mengangguk pelan. “Theo mengajakku ke sana. Ia mengatakan jika dirinya ingin menemui ayah dan Valentino,” ucapnya seraya tersenyum getir. Mia pun memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, raut wajah Francesca juga mendadak berubah. “Mia, aku ....”
“Setelah dari Venice, aku akan menjemputmu dan Dani. Kita akan berangkat ke Pulau Elba bersama-sama,” potong Mia sebelum Francesca sempat menyelesaikan kalimatnya. Sementara Sorella hanya bergeming di sana, mendengarkan percakapan mereka dengan mimik penuh arti.
“Untuk apa kita pergi ke Pulau Elba?” tanya Francesca seraya mengernyitkan keningnya. Namun, sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi sangat antusias.
__ADS_1
“Menurut yang dikatakan Theo semalam, ia sudah mempersiapkan upacara penyambutan untukku,” Mia tersipu malu sembari menundukkan wajahnya.
Seketika Francesca terbelalak tak percaya. “Upacara penyambutan seperti apa? Apakah semacam acara kenegaraan?” tanyanya semakin bersemangat.
“Entahlah. Aku juga baru pertama kali ini. Ah, aku sangat gugup, Francy,” ujar Mia. Telapak tangannya mulai berkeringat, sehingga ia menyerahkan pekerjaannya kepada Sorella.
Sedangkan Mia memilih untuk menata meja dan mempersiapkan segala perlengkapan makan.
Tak berselang lama, Coco dan Matteo berjalan beriringan ke arah meja makan. Kebetulan seluruh hidangan dan segala sesuatunya juga sudah siap. Francesca terlihat kikuk, ketika Coco semakin mendekat. Berkali-kali ia memalingkan muka, hingga berdiri di belakang Mia. Sementara Coco terus menatapnya dengan ekspresi yang sangat menggoda, membuat Francesca semakin salah tingkah.
Tanpa banyak bicara, Matteo segera menarik kursi dan duduk begitu saja. Raut wajahnya begitu serius dengan mata menerawang. Sepertinya, ada banyak hal yang sedang pria itu pikirkan.
Mia yang melihat keanehan tersebut, segera mengambil posisi duduk di samping suaminya. “Ada apa lagi, Theo?” tanyanya pelan seraya mengusap lembut bahu Matteo.
Matteo menoleh dan memaksakan senyumnya. Ia juga balas membelai punggung tangan Mia yang masih bertengger di bahunya.
“Persiapkan dirimu, Sayang. Kita akan berangkat ke Venice sebentar lagi,” jawabnya dingin.
"Hari ini? Aku pikir kita akan berangkat besok," protes Mia, dengan sikapnya yang masih terlihat tenang.
"Setelah kupikir-pikir, aku rasa sebaiknya kita pergi hari ini saja. Lagi pula, ada banyak hal yang harus kita persiapkan untuk berangkat ke Pulau Elba," jawab Matteo seraya tersenyum simpul. Ia menyentuh pipi Mia, kemudian membalikan piring yang masih tertelungkup.
Mia menatap sang suami dengan lekat. Ia tahu jika Matteo tengah menyembunyikan sesuatu yang serius dari dirinya.
🍒 Hai, apakah di sini ada yang belum mampir ke novel ketiga ceuceu othor? Kalo belum, aduh ... sayang sekali, pasti belum kenalan sama Elang yang luar biasa nganunya. Ditunggu ya kehadirannya 😘
__ADS_1