
Malam itu, Mia berjalan sendirian menyusuri gang kecil yang biasa ia lewati. Ia baru pulang dari kedai. Kebetulan saat itu ia pulang sendiri, karena Mr. Gio harus pulang lebih awal. Seperti biasa, kesehatan Magdalena kembali memburuk. Wanita itu bahkan kini harus dirawat di rumah sakit.
Seakan tidak memiliki rasa takut sama sekali, Mia terus melangkah di antara bangunan tinggi yang mengapit gang kecil menuju rumahnya, dengan pencahayaan lampu tempel yang temaram.
Mia selalu merasakan hal lain setiap kali melewati gang itu. Gang kecil yang menyimpan kenangan manis untuknya. Sebuah kenangan yang entah akan kembali terulang atau tidak, karena saat itu Mia melihat seorang pria bertubuh tegap yang berdiri menghadang jalannya di ujung gang tersebut.
Mia tertegun. Ia menatap pria dengan mantel hitam yang kini tengah melangkah ke arahnya. Perlahan, Mia bergerak mundur lalu terpaku. Ia sangat mengenal aroma tubuh itu. Mia tidak mampu untuk mengalihkan tatapannya dari pria yang tiada lain adalah Matteo.
“Theo? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau berada di Brescia bersama gadis-gadis-mu yang luar biasa itu?” sindir Mia dengan nada sedikit ketus. Ia kembali bergerak mundur karena Matteo terus mendekat ke arahnya.
“Aku sengaja datang kemari untuk menemuimu. Apakah tidak boleh? Oh, aku lupa jika kau akan segera menikah,” balas Matteo dengan nada kecewa yang ia tutupi lewat sikap gagahnya.
“Ya, aku akan segera menikah. Rupanya aku sangat terkenal sehingga berita itu bisa sampai ke telingamu,” sindir Mia lagi dengan senyum sinisnya. Mia tidak mengetahui dari mana Matteo mendengar berita tentang rencana pernikahannya. Lagi pula, ia tak peduli dengan hal itu.
Matteo menatap tajam ke arah gadis itu. Sementara Mia lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin melawan tatapan mata pria yang telah membuatnya terjatuh dalam sebuah perasaan cinta tanpa balas. Namun, meskipun Mia bersikap tak acuh kepada dirinya, Matteo masih belum mengalihkan pandangannya dari wajah cantik yang masih dan akan selalu menarik perhatiannya. Matteo justru bergerak semakin mendekat hingga Mia harus kembali mundur.
“Kenapa, Mia? Kenapa kau menjauh?” tanya Matteo masih dengan tatapan tajam yang terus menghujani Mia, sehingga membuat gadis itu merasa tidak nyaman. Ia tidak menjawab pertanyaan Matteo.
“Menjauhlah! Tinggalkan aku sendiri!” hardik Mia dengan tegas. Raut wajahnya menunjukkan betapa ia menahan rasa marah yang teramat besar terhadap pria itu.
Meskipun jengkel dengan sikap yang ditunjukan oleh Mia, Matteo tetap berusaha untuk menahan amarahnya. Namun, Matteo bukanlah Valentino yang penyabar. Ia tidak dapat mengendalikan rasa yang telah berkecamuk dalam beberapa hari ini, dari semenjak Coco memberitahunya bahwa Mia akan menikah dengan Valentino. Matteo segera menarik lengan Mia, hingga gadis itu mendekat. Setelah itu, Matteo menyandarkan tubuh rampingnya pada dinding salah satu bangunan di sana.
__ADS_1
Mia bermaksud untuk menghindar. Akan tetapi, dengan segera Matteo menghalangkan kedua lengannya di sisi kiri dan kanan Mia. Tatapan Matteo masih belum berubah. Helaan napas beratnya kian memburu dan menghangat di wajah Mia. Gadis itupun memilih untuk memalingkan wajahnya.
“Katakan padaku dengan jujur! Apa kau yakin dengan keputusanmu?” suara Matteo terdengar begitu berat dengan penekanan yang sangat dalam. Mia tahu jika pria itu tengah menahan amarahnya yang besar, yang mungkin tidak ingin Matteo lampiaskan kepada dirinya. “Jawab aku, Mia!” desak Matteo dengan tegas. Ia merasa jengkel karena Mia seakan bermain kucing-kucingan dengan dirinya.
“Kenapa aku harus bercerita kepadamu? Kau bukan siapa-siapaku! Kau hanyalah seorang pengecut yang tidak pantas untuk berada di dekatku!” tolak Mia dengan tegas.
Mendengar ucapan tegas dari Mia, kemarahan Matteo semakin menjadi. Namun, ia masih terus berusaha untuk menahannya. “Dengarkan aku, Mia! Pikirkan sekali lagi, jangan sampai kau menyesali keputusanmu!”
“Kenapa aku harus menyesal? Tidak ada yang salah dengan keputusanku, karena aku akan menikahi pria yang mencintaiku dengan tulus. Aku tidak membutuhkan pria yang bahkan tidak berani mengakui perasaannya sendiri hanya karena sebuah ego. Kenapa kau harus datang kemari dan menemuiku lagi? Kau pikir dengan bertemu denganmu, mendengar semua ucapanmu tadi maka aku akan mengurungkan niatku? Tidak, Theo! Kau salah besar!” Mia mendorong tubuh Matteo hingga mundur. Hal itu telah memberinya ruang untuk melarikan diri. Mia segera berlalu dari sana. Namun, dengan cepat Matteo kembali meraih tangannya. Matteo mencengkeram pergelangan tangan Mia dengan erat, bahkan hingga gadis itu meringis kesakitan. “Kau menyakitiku, Theo!” ringis Mia.
Matteo tidak memedulikan ringisan yang ditunjukkan Mia. Hatinya begitu panas, terlebih karena ia tidak dapat melampiaskan kemarahannya. Matteo hanya memerlihatkan emosinya yang tertahan lewat tatapan tajamnya.
“Katakan sekali lagi, Mia! Katakan jika saat ini kau sedang berpura-pura!” tegas Matteo dengan nada bicara yang cukup tinggi. Ia terus menatap Mia yang memilih untuk tidak membalas tatapannya. “Guardami, Bella!”( Tatap aku, Cantik!) suara Matteo kembali terdengar tenang setelah beberapa saat kemudian.
Mia hanya mampu terdiam. Ia mengalihkan tatapannya kepada Matteo meski dengan ragu. Tidak berselang lama, Mia kembali memalingkan wajahnya. Kenyataannya ia tidak berani melakukan apa yang Matteo pinta darinya. Sikap Mia membuat Matteo menjadi percaya diri. Ia tahu jika apa yang Mia katakan tidak sesuai dengan isi hatinya.
“Ti conosco, Mia,” (Aku mengenalmu, Mia) ucap Matteo dengan setengah berbisik. Namun, Mia tidak menanggapinya. “Jangan memaksakan dirimu untuk sesuatu yang tidak kau sukai, karena itu akan terasa sangat menyakitkan bagimu,” lanjut Matteo masih dengan nada bicara yang sama.
“Kau tidak tahu bagaimana sulitnya ketika harus melawan perasaanmu sendiri. Hal itu terasa jauh lebih menyakitkan, jika dibandingkan dengan saat kau mengeluarkan peluru dari lenganku tanpa obat bius,” ucap Matteo lagi. Semua kata-katanya telah membuat perasan Mia menjadi tidak menentu. Mia lagi-lagi tak dapat memahami karakter dari pria yang ada di hadapannya.
“E mi hai fatto tanto male, Theo,” (Dan kau telah sangat menyakitiku, Theo) balas Mia seraya terus memalingkan wajahnya dari Matteo. “Aku merasa sangat bodoh. Aku begitu terhina olehmu,” ucap Mia lagi. Tanpa terasa air mata menetes di sudut bibirnya.
__ADS_1
“Aku pikir, aku telah menjadi seseorang yang istimewa bagimu. Aku mengira jika aku telah berhasil menemukan sosok Mars dalam wujud manusia, karena itu meski sulit dan harus menempuh perjalanan panjang, aku tetap berusaha untuk menemukannya. Namun, ternyata aku telah keliru. Kesalahan terbesarku adalah karena aku tidak memersiapkan diriku untuk kecewa, sehingga saat aku harus menerima hal itu ... aku tidak siap. Aku terlalu terkejut dan ....” Mia menundukkan wajahnya dengan lesu.
“Entah kebohongan apalagi yang kau persembahkan untuk membalas semua ketulusanku, Theo. Aku tidak ingin memikirkan hal itu lagi,” Mia menyeka air matanya. Ia bermaksud untuk melanjutkan langkahnya. Namun, lagi-lagi Matteo berhasil mencegahnya. Pria itu kembali menghadang lajunya.
“Apakah kau mencintainya, Mia? Hanya itu yang ingin aku ketahui,” desak Matteo seraya mencekal lengan Mia dengan cukup kencang. Mia kembali meringis. Pegangan tangan Matteo teras begitu kuat dan keras di kedua lengannya.
“Lenganku sakit, Theo,” ringis Mia.
Matteo tersadar. Ia melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Mia. Mia kemudian menyilangkan tangannya di dada dan mengusap-usap kedua lengannya yang terasa sakit. Matanya pun masih berkaca-kaca.
“Sulit memaksa seorang pria untuk dapat mencintai wanita yang tidak ia kehendaki. Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang wanita. Aku bisa memaksakan diriku agar cinta itu hadir untuk Valentino, dan aku juga tidak harus menyesali keputusanku!” jelas Mia. Setelah itu, ia bergegas menuju rumahnya. Tubuh rampingnya pun menghilang di balik pintu.
Matteo masih terpaku untuk beberapa saat lamanya. Sesak dan lega bercampur menjadi satu. Sesak saat ia harus menghadapi kenyataan karena Mia sama sekali tidak berniat membatalkan rencana pernikahannya. Lega, karena Mia ternyata tidak mencintai Valentino, setidaknya untuk saat ini.
Matteo kemudian mengalihkan pandangannya pada bangunan yang ditempati Coco. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas menuju ke sana untuk menemui sahabat yang telah beberapa hari ini tidak ia jumpai.
Ada banyak hal yang ingin Matteo bicarakan dengan pria berambut ikal tersebut. Matteo juga butuh teman bicara, dan Coco merupakan seseorang yang tepat untuk dapat ia jadikan tempat berbagi. Coco adalah pria yang sangat berpengalaman, jika menyangkut masalah dengan wanita.
Matteo duduk di atas kursi kayu dekat jendela, tempat biasa Coco mengawasi Mia. Pandangan pria itu nanar tertuju pada kamar di mana ia meletakan sebuah perasaan yang tidak dapat ia ambil lagi. Perasaan yang ia pikir akan menjadi akhir dari kisahnya dengan gadis bernama Mia, tapi justru telah menjadi tali pengikat yang menariknya semakin kencang untuk kembali pada gadis itu.
"Apa yang biasa ia lakukan, Kawan?" tanya Matteo datar.
__ADS_1
Coco menyodorkan sebotol minuman kepada Matteo. Ia berdiri seraya menyenderkan lengannya pada dinding dekat jendela. Asap tipis mengepul dari sebatang rokok yang tengah ia isap. "Sebentar lagi kau juga akan tahu sendiri," jawab Coco mengikuti arah tatapan Matteo.