Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Adriano's Luxury


__ADS_3

Adriano mengajak para tamu istimewanya untuk masuk. Ia berjalan berdampingan dengan Matteo. Semua orang pasti setuju, bahwa mereka berdua merupakan makhluk yang begitu sempurna untuk kategori seorang pria. Di belakang kedua pria itu, mengikuti Marco beserta Coco yang kini telah ikut bergabung bersama yang lainnya. Sementara para wanita berada di barisan ketiga, tepat di depan para pengawal berseragam hitam yang terlihat garang.


 


“Apa menurutmu pria-pria berwajah mengerikan itu tidak memperhatikan bo•kong kita?” bisik Daniella kepada Mia yang saat itu seketika menghentikan langkahnya. Ia kemudian menoleh kepada para pengawal Adriano. Setelah itu, Mia lalu mengalihkan tatapan pada Daniella. Gadis tersebut saat itu tengah mengedarkan pandangannya pada setiap hal yang mereka lewati. Harus diakui jika mansion milik Adriano begitu mewah. Mereka seperti sedang berada di dalam sebuah istana kerajaan.


 


“Mansion milikmu benar-benar luar biasa, Tuan D’Angelo,” sanjung Coco ketika mereka sudah tiba di sebuah ruangan luas dengan meja beserta kursi berukiran indah dan juga berlapis emas. Coco mendongak ke atas. Ia menatap langit-lagit ruangan itu yang berbentuk kubah, dan berhiaskan lukisan indah serta ornamen-ornamen khas Eropa kuno.


 


“Aku sangat menyukai lampu kristal itu, Tuan D’Angelo,” ucap Mia dengan senyuman lembutnya, seraya memperhatikan lampu gantung berukuran besar yang terbuat dari kristal dan terlihat begitu mewah.


 


“Aku membeli itu ketika berkunjung ke Perancis. Jika Anda menyukainya, bisa kupesankan secara khusus,” ujar Adriano menanggapi ucapan Mia. Tatapannya terlihat begitu berbeda, ketika ia layangkan kepada wanita bermata cokelat tersebut.


 


Sementara, Matteo hanya menggaruk keningnya perlahan. Ia tak harus menanggapi ucapan Adriano terhadap Mia saat itu. Lagi pula, posisinya di sana sebagai tamu. Matteo harus tetap menjaga sikapnya dengan baik. “Jadi, kapan Anda akan mempertemukanku dengan Tuan Redomir?” tanyanya. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatian Adriano dari Mia. Benar saja, karena Adriano dengan segera mengalihkan pendangannya dari wanita cantik tersebut.


 


“Besok malam Tuan Redomir akan mengadakan pesta di kediamannya. Kita semua bisa berangkat bersama-sama,” jawab Adriano. “Aku sudah mengatakan kepada Tuan Redomir, bahwa Tuan de Luca akan datang ke Monaco dengan membawa serta saudara-saudaranya. Beliau memberikan akses masuk khusus untuk anda sekalian,”  jelas pria bermata biru itu lagi seraya mengedarkan pandangannya pada wajah-wajah yang ada di ruangan itu.


 


“Ah, tapi kau tak mengatakan jika kita akan menghadiri pesta. Karena itu aku tidak membawa satu pun gaun malam milikku,” protes Daniella kepada Mia. “Aku yakin jika Francy pun pasti pasti tidak membawanya,” gadis bermata hazel tersebut mengalihkan tatapan kepada sang adik, yang saat itu mengangguk sebagai tanda setuju dengan ucapan Daniella. “Ya, Dani benar,” timpal Francesca.


 


“Maafkan aku, Dani. Aku sama tak tahunya jika kita akan menghadiri pesta. Aku juga tak membawa gaun apapun,” Mia menoleh kepada Matteo. Ia melayangkan tatapan protes kepada sang suami.


 


“Semoga kau tak lupa membawa lingeriemu, Cara mia,” balas Matteo dengan senyum penuh canda, tetapi membuat raut wajah Adriano seketika berubah. Pria itu menjadi agak salah tingkah. Tak ubahnya dengan Mia yang langsung menoleh dan membelalakan matanya. “Kau ingin aku menjadi pusat perhatian semua orang, Theo?” protesnya.


 


“Nyonya de Luca pasti akan selalu menjadi pusat perhatian,” sela Adriano tak mau kalah. “Para gadis tak perlu khawatir tentang masalah gaun. Aku bisa menyuruh seseorang untuk datang kemari dan membawakan semua yang kalian butuhkan. Segalanya bisa dipermudah pada zaman modern seperti saat ini,” imbuh pria itu lagi.


 


Sebelum sempat melanjutkan percakapan, seorang pelayan wanita muncul seraya membungkuk hormat. “Permisi, Tuan. Makan siang sudah siap,” lapornya dengan sopan. Adriano membalasnya dengan sebuah anggukan. Ia lalu memberikan isyarat agar pelayan itu kembali.

__ADS_1


 


“Mari semuanya, kita lanjutkan perbincangan di meja makan,” ajak Adriano. Ia beranjak dari duduknya dan mempersilakan Matteo untuk berjalan berdampingan dengannya menuju ke ruang makan.


 


Ruang makan itu tak kalah mewah dengan ruang tamu tadi. Di sana terdapat meja makan panjang dengan beberapa kursi yang berukir indah dan lagi-lagi berlapis emas. Adriano biasa menjamu para tamu istimewanya di sana. Sementara itu, di atas meja makan pun telah tersedia beberapa menu khas Monaco yang sangat menggugah selera. Ada sebagian menu yang juga terdapat di Italia dan merupakan perpaduannya. Namun, tentu saja makanan itu dibuat dengan ciri khas Monaco.


 


“Negara ini memang tak seluas Italia, tapi ada banyak hal yang sangat menarik di sini, salah satunya adalah menu makanan kami,” ucap Adriano seraya meraih serbet. “Apa Anda pernah mencicipi Bouillabaisse, Nyonya de Luca?” lagi-lagi Adriano menunjukan perhatian lebihnya kepada Mia.


 


“Aku hanya mendengar namanya, tapi belum pernah mencicipi makanan itu,” sahut Mia lembut diiringi senyuman khasnya yang manis.


 


“Itu salah satu menu terkenal dari Perancis, Sayangku. Makanan khas kota Marseille, tepatnya,” sela Matteo. “Lain kali aku akan mengajakmu keliling dunia,” ucap pria bermata abu-abu itu.


 


“Aku akan sangat bahagia, Theo,” sahut Mia.


 


 


“Apakah tawaran itu untuk kami semua, atau hanya untuk Mia?” celetuk Daniella bernada sindiran halus. Sejak tadi gadis itu dapat menangkap bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh sang penguasa mansion mewah tersebut.


 


Adriano tertawa renyah seraya mengalihkan tatapannya kepada gadis berambut pirang tersebut. “Tentu saja untuk semuanya. Aku tak ingin bermain-main dengan Tuan de Luca. Aku sama sekali tak memiliki keberanian lebih,” candanya. Ia mengalihkan pandangannya kepada Matteo, yang saat itu tampak menyunggingkan sebuah senyuman kecil.


 


“Aku tak yakin dengan hal itu,” sanggah Matteo dengan entengnya. “Anda membawahi sebuah organisasi yang besar, Tuan D’Angelo. Aku tahu seberapa luas kekuasaan Tigre Nero, dan Rusia bukanlah negara kecil. Kenapa Anda harus terus merendah dan berpura-pura lemah?,” tatapan Matteo terlihat serius ia tujukan kepada pria berkemeja hitam itu.


 


Adriano menghentikan suapannya. Sambil terus mengunyah makanan di dalam mulut, ia membalas tatapan Matteo. “Tak ada satu hal pun yang aku sembunyikan dari Anda, Tuan de  Luca. Organisasi yang kupimpin memang sudah bisa menguasai sebagian negara Rusia, tapi aku belum dapat mengembangkannya menjadi lebih luas lagi. Rasa puasku tentu saja belum terpenuhi sepenuhnya. Aku ingin dapat menguasai seluruh daratan Eropa,” Adriano tersenyum kecil. “Namun, rasanya itu terlalu berlebihan,” lanjutnya.


 


“Tak ada yang berlebihan, Tuan D’Angelo. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk merasa tak pernah puas dengan apa yang telah diraihnya. Aku rasa itu hal yang wajar,” Coco yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kedua pria itu, kini ikut berkomentar.

__ADS_1


“Anda benar, Tuan Ricci. Kita akan selalu merasa kurang, sampai-sampai apa yang sudah kita miliki terasa tak berharga lagi,” balas Adriano. Kalimatnya penuh makna, membuat Matteo sedikit mengernyitkan dahi.


“Seperti halnya dendam. Di saat Anda telah berhasil membalaskannya, alih-alih merasa puas tapi justru Anda akan selalu merasa haus sehingga harus melampiaskannya lagi dan lagi,” lanjut Adriano .


Seketika Matteo meletakkan sendoknya dan menatap garang pada pria bermata biru laut itu. “Apa maksudmu, Tuan D’Angelo?” tanyanya.


“Ah, ini hanya sekadar contoh, Tuan de Luca. Jangan salah paham. Ini bukan tentang Anda yang membabat habis Tuan Vincenzo Moriarty, padahal Anda sudah membantai Silvio Moriarty beserta seluruh anak buahnya,” Adriano terkekeh pelan. Rautnya masih terlihat ramah dan hangat meskipun ia telah melemparkan kalimat sarkas kepada Matteo.


Mia yang melihat emosi suaminya mulai memuncak, mulai mengalihkan perhatian. Digenggamnya tangan Matteo yang terkepal erat sehingga terlihat otot-ototnya muncul ke permukaan kulit. “Theo, aku pusing,” ucap Mia seraya menyandarkan kepala di bahu lebar suaminya.


“Cara mia?” Matteo melupakan amarahnya begitu saja. Api yang membara di dalam dadanya segera padam mendengar keluhan Mia.


“Apa Anda ingin beristirahat lebih dulu, Nyonya de Luca? Aku bisa mengantarkan Anda ke kamar,” tawar Adriano yang juga tampak khawatir.


“Itu ide yang sangat bagus,” sindir Matteo jengkel. “Biarkan pelayan Anda yang menunjukkan letak kamarnya,” kalimatnya bernada penekanan yang dalam.


Mau tak mau, Adriano menyanggupinya. Di ruang itu, masih banyak tamu lain selain Mia dan Matteo. Tentu ia ingin menghormati mereka pula. Adriano pun menghela napas panjang dan mengangguk. Diangkatnya sebelah tangan kepada salah seorang pengawal yang selalu siaga di belakangnya. “Antar Tuan dan Nyonya de Luca ke kamar yang sudah kupersiapkan,” titah Adriano pelan, tapi penuh wibawa.


Pengawal itu setengah menunduk sebagai tanda hormat, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Matteo. “Mari saya antar, Tuan,” ajaknya.


“Kalian nikmatilah makan siang di sini. Terutama kau Marco, wakili aku beramah tamah dengan tuan rumah,” tunjuk Matteo. Setelah itu, ia menggandeng Mia dan berjalan mengikuti langkah pengawal tadi.


Setelah pasangan suami istri itu berlalu dari sana, suasana ruang makan sempat terasa sepi. Akan tetapi, dengan mudahnya Coco mencairkan suasana. Cerita-cerita lucu mulai mengalir dari bibirnya. Gelak tawa pun sempat terdengar di telinga Mia dan menghilang ketika dirinya memasuki lift khusus. “Astaga, tempat ini memiliki lift,” gumamnya.


“Jika kau mau, aku akan membuatkannya untukmu di Casa de Luca, Sayang,” Matteo seakan tak mau kalah.


“Tidak usah, Theo. Naik turun tangga saja sudah cukup,” Mia terkikik geli atas sikap Matteo yang kembali dilanda cemburu. Tak berselang lama, sampailah mereka pada lantai kamar yang dituju. Pengawal itu keluar lebih dulu segera setelah pintu lift terbuka. Ia menunjukkan satu pintu berlapis emas dengan banyak ornamen dan ukiran yang terlihat begitu luar biasa untuk sebuah pintu kamar.


“Selamat beristirahat, Tuan dan Nyonya,” pengawal itu membuka pintunya lebar-lebar. Tampaklah bagian dalam kamar yang seluruh interiornya bergaya Victoria. Setelah Matteo dan Mia memasuki kamar mewah itu, pengawal tersebut membungkuk penuh hormat untuk kemudian berlalu dari sana.


Berkali-kali Mia berdecak kagum atas apa yang dilihatnya saat itu. “Aku tidak akan bisa tidur di ruangan ini. Aku akan menghabiskan waktuku mengagumi setiap detail interiornya,” puji Mia.


“Sudahlah, Cara mia, beristirahatlah. Tadi kau mengatakan sedang pusing,” ucap Matteo sembari menarik tubuh Mia dan mendudukkannya di tepian ranjang.


“Ah, aku hanya berbohong padamu, Sayang,” ujar Mia dengan wajah polos tanpa dosa.


“Berbohong?” ulang Matteo sambil menampakkan raut tidak suka.


“Ya, aku takut kau terpancing emosi. Sepertinya Tuan D’Angelo sengaja memantik kemarahanmu,” jelas Mia.


Sejenak, Matteo tertegun mendengarnya. Entah kenapa, hal itu sama sekali tak terpikirkan oleh dirinya, hingga Mia membuatnya tersadar. “Ya, kau benar sekali. Apakah menurutmu, aku harus berhati-hati padanya?” tanya Matteo serius.


“Tentu saja, Sayang. Kau harus berhati-hati pada setiap hal, terkecuali pada orang-orang yang sudah kau kenal sejak lama,” tutur Mia lembut seraya mengecup mesra bibir Matteo.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2