Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Shattered


__ADS_3

Valentino menutup pintu mobilnya dengan kesal. Setelah itu, ia membukakan pintu untuk Mia dan menunggu gadis itu keluar. “Terima kasih, Vale. Aku ingin segera beristirahat,” ucap Mia dengan wajah lesu. Akan tetapi, sebelum ia sempat berlalu dari hadapan Valentino, dengan segera pemuda itu meraih pergelangan tangan Mia dan menahannya untuk masuk. Mia segera membalikan badannya. Ia menatap pemuda yang tidak lama lagi akan menjadi suami, dan mungkin akan menghabiskan sisa hidup dengannya. Mia merasa aneh, karena Valentino tidak pernah bersikap seperti itu terhadap dirinya.


“Ada apa, Vale?” tanya Mia tanpa mengalihkan tatapannya dari mata coklat Valentino. Pemuda itu terlihat sangat marah. Wajah ramah tidak terlihat sama sekali saat itu. Kulitnya yang putih dan bersih, tampak memerah karena menahan amarah yang sangat besar.


“Aku melihatnya, Mia!” tegas Valentino dengan tatapan tajam kepada Mia. “Aku melihat pria itu memelukmu, dan kau hanya diam! Kau membiarkannya menyentuhmu! Apa-apaan itu, Mia?” nada bicara Valentino tiba-tiba meninggi dan membuat Mia tersentak. Dua orang wanita tua yang tengah melintas tidak jauh dari mereka pun sempat menoleh, dan menatap ke arah dua sejoli itu dengan heran. Akan tetapi, mereka segera bersikap tidak peduli, dan seakan tidak pernah melihat adegan yang membuat kurang nyaman tersebut.


“Apa yang terjadi padamu? Tidak biasanya kau bersikap sekasar ini padaku,” protes Mia seraya mengernyitkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan sikap yang ditunjukan oleh Valentino.


“Aku memang mencintaimu! Aku tergila-gila padamu! Aku mohon jangan jadikan hal itu sebagai tameng untuk melakukan apapun sesuka hatimu, Mia!” Valentino masih berbicara dengan nada tinggi terhadap Mia. “Kau pikir karena perasanku yang terlalu besar padamu, lantas itu akan membuatku selalu dapat menahan rasa sakit? Tidak, Mia! Kau salah besar! Kau telah keliru!” amuk pemuda yang tengah dilanda rasa cemburu yang luar biasa itu. Ia tidak dapat mengendalikan semua kekesalannya, karena Mia telah membiarkan Matteo memeluknya.


Mia tidak menjawab. Rasa sedihnya akibat kepergian Magdalena baru saja melewati tenggorokan, lalu sekarang ia harus menerima kemarahan Valentino yang cemburu kepada dirinya. Mia memilih untuk tidak menanggapi kemarahan pemuda itu. Ia hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan, Valentino masih terus menatapnya dengan tajam. Amarah pemuda itu belum juga sirna dari dirinya.


Valentino memegangi kedua lengan Mia, dan membuat gadis itu mengalihkan tatapannya. Pandangan mereka pun saling beradu. Makin lama, sorot mata Valentino jadi semakin melunak. Pemuda itu kembali menunjukkan sisi lembutnya. “Mia, aku ingin kau berkata jujur padaku,” pinta Valentino. Nada bicaranya sudah kembali lembut seperti biasanya.


“Apa itu, Vale?” tanya Mia pelan.


Valentino menatap lekat ke arah Mia. “Apakah kau sudah yakin ketika memutuskan untuk menikah denganku?” tanya Valentino dengan wajahnya yang dipenuhi rasa ragu. “Jika memang kau tidak menginginkannya, maka aku tidak akan memohon lagi padamu. Aku tidak akan menjadikan diriku sebagai pelarianmu lagi,” lanjut Valentino dengan nada penuh sesal.


“Mengapa kau bertanya seperti itu, Vale?” Mia terlihat resah saat mendengar pertanyaan dari Valentino. Ia merasa tidak nyaman karenanya. Namun, Mia sudah mengambil keputusan, dan ia tidak akan mundur. Terlebih, Matteo pun telah menolaknya.


“Kita akan menikah, Vale. Aku akan menjadi istrimu dalam waktu dua bulan lagi,” jawab Mia dengan lembut, tapi terdengar meyakinkan. “Kau tidak perlu khawatir, karena jika aku telah mengambil keputusan ... maka aku akan melakukannya. Jangan meragukanku,” lanjut Mia menahan rasa perih di hatinya.


Berat dan sungguh menyakitkan ketika ia harus melawan kata hatinya sendiri. Sebenarnya, Mia juga tidak bermaksud untuk membohongi Valentino. Akan tetapi, keadaanlah yang telah memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani yang terus ia lawan.


Senyuman lembut berangsur muncul di wajah tampan Valentino. Dengan segera, pemuda itu menangkup wajah cantik Mia. Jawaban dari gadis itu, telah membuat amarah di dalam dirinya seketika menguap begitu saja, sirna dengan seketika bahkan hingga tak meninggalkan sisa. Kemarahan dan rasa cemburu itu langsung berganti dengan cinta yang memang terlalu besar untuk ia singkirkan dengan mudah.

__ADS_1


Valentino kemudian mendekatkan wajahnya kepada Mia. Pemuda itu bermaksud untuk mencium gadis di hadapannya. Lagi pula, Mia adalah calon istrinya. Ia merasa berhak mendapatkan hal itu dari Mia. Akan tetapi, ketika wajah Valentino sudah sangat dekat dengan wajah Mia, seketika gadis itu menyodorkan pipinya. Akhirnya, ciuman Valentino hanya berhasil mendarat di pipi sebelah kiri Mia.


Matteo yang sejak tadi menyaksikan adegan di bawah sana, hanya menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya. Lucu rasanya ketika ia melihat Mia menghindari ciuman dari calon suaminya sendiri. Untuk sesaat, ia kembali teringat pada ucapan Mr. Gio saat di tempat pemakaman tadi. Akan tetapi, Matteo tidak ingin mengambil risiko.


Dering ponsel telah membawa Matteo untuk tersadar dari lamunannya. Nama Damiano tertera di layar. Tanpa berlama-lama, Matteo segera menjawab panggilan itu. “Damiano?” sapanya.


“Ya, anakku. Bisakah kau pulang sebentar, nak?” terdengar suara pria setengah abad lebih itu.


“Pihak kepolisian kembali menghubungiku. Mereka mengatakan jika proses autopsi Tuan dan Nyonya de Luca telah selesai. Kita bisa segera mengambil jenazah keduanya untuk segera dimakamkan. Namun, tentunya kau yang jauh lebih berhak melakukan serah terima itu,” tutur Damiano.


“Kau tenang saja, Damiano. Aku akan pulang hari ini. Aku akan kembali ke Brescia, ke Casa de Luca, pada Klan de Luca peninggalan mendiang ayahku,” jawab Matteo dengan tatapan menerawang yang lurus tertuju ke kamar Mia. Tampak gadis itu duduk di ujung tempat tidurnya dengan kepala tertunduk.


“Baguslah. Makin cepat kau kembali, maka akan semakin cepat kita memberikan penghormatan terakhir untuk kedua orang tuamu,” ucap Damiano lega. Terdengar helaan napas berat dari pria paruh baya itu. “Sudah waktunya Tuan dan Nyonya de Luca menuju tempat peristirahatan mereka yang abadi. Aku akan mengurus acara pemakamannya,” lanjut Damiano.


“Urus saja semuanya. Aku akan berangkat nanti malam,” tutup Matteo. Ia mengakhiri perbincangannya dengan pengasuh setianya itu. Matteo kemudian mengalihkan tatapannya kepada Coco yang saat itu tengah asyik bermain ponsel. Ia sepertinya sedang berbalas pesan dengan seseorang, karena selang beberapa saat ia kembali mengetik sesuatu pada layar ponselnya.


“Baiklah. Aku pulang dengan sepeda motor,” sahut Coco tanpa menoleh.


“Kau tidak perlu kembali ke Brescia sekarang-sekarang. Tinggalah di sini untuk beberapa hari lagi,” balas Matteo datar, tetapi membuat Coco segera mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang sejak tadi ia pegang. Matteo membalas tatapan Coco. Pria itu mengangguk yakin.


“Aku takut penguntit itu kembali lagi. Aku belum mengetahui alasan pasti mereka menguntit Mia,” Matteo terdiam untuk sejenak. Setelah itu, ia kemudian beranjak dan mengenakan mantelnya. “Hubungi aku jika kau menemukan sesuatu yang mencurigakan!” pinta Matteo seraya merapikan kerah mantel yang belum sempat dicuci itu. Ia lalu memeriksa setiap saku dari mantel yang dikenakannya, untuk mencari kunci mobil, sampai akhirnya ia menemukan benda tersebut. Sementara Coco kembali asyik dengan ponselnya.


"Apa kau punya kekasih baru di sini?" selidik Matteo yang terlihat heran dengan sikap Coco.


Coco tampak gelagapan. Ia segera meletakan ponselnya begitu saja, dan menghampiri Matteo yang sudah bersiap untuk pergi. Sesaat kemudian, pria itu lalu merapikan kerah mantel yang Matteo kenakan.

__ADS_1


"Hey!" Matteo segera menepiskan tangan Coco dengan jengkel. Sementara Coco hanya tergelak karena ulah isengnya.


"Bukankah kau butuh perhatianku, Amico?" celoteh Coco. Lagi-lagi, pria itu tertawa geli.


"Tutup mulutmu! Dasar brengsek!" umpat Matteo. Ia benar-benar jengkel dengan sikap Coco. "Sudahlah, aku berangkat dulu," pungkasnya. Ia tidak ingin lagi melayani keisengan sahabatnya itu.


Coco mengantar Matteo hingga menuju pintu. Pria itu berdiri di sana untuk sejenak. "Theo, bisakah kau mampir dan melihat keadaan bengkel sebentar?"


Matteo yang saat itu sudah hendak menuruni anak tangga, segera tertegun dan menoleh. Ia pun mengangguk setuju. "Baiklah," jawabnya. Dengan sigap, ia menangkap kunci yang dilemparkan Coco ke arahnya.


"Gerakan refleks-mu masih bagus, Amico," puji Coco dengan senyuman khasnya. Sementara Matteo lebih memilih untuk tidak menanggapinya. Ia segera melangkah keluar dan menuju ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya.


Singkat cerita, Matteo sudah berada di perjalanan. Sebentar lagi, ia akan tiba di Brescia. Ia ingat jika dirinya harus mampir terlebih dahulu ke bengkel milik Coco. Matteo kemudian memutar arah menuju ke tempat tersebut. Tak ada yang berubah dari lingkungan tempat Coco tinggal. Dulu, Matteo sering kali menginap di bengkel sahabatnya itu.


Mobil Matteo tiba di halaman depan bangunan yang beberapa lama tak ditempati. Dengan cekatan, ia mematikan mesin kendaraan dan bergegas keluar menuju teras. Matteo berjongkok dan membalik keset yang terletak di depan pintu masuk bengkel. Sedikit terkejut karena dia tak menemukan kunci rumah yang biasa disembunyikan Coco di sana.


Matteo kembali berdiri dan mencoba membuka pintu di depannya. Ternyata, pintu itu tak terkunci. Merupakan suatu keanehan karena Coco adalah seorang yang amat teliti. Ia tak mungkin melupakan hal penting seperti itu.


Namun, keanehan tak berhenti sampai di situ. Ketika Matteo mulai melangkah masuk, ia terkejut saat melihat bengkel sekaligus tempat tinggal sahabatnya. Barang-barang berserakan tidak pada tempatnya. Laci-laci dan lemari pun terbuka. Seluruh isinya terburai di lantai. Sofa kuning cerah kesayangan Coco, sudah sobek di segala sisi. Lampu gantung di atas langit-langit ruangan pecah berhamburan.


“Sialan! Siapa yang melakukan ini?” umpat Matteo seraya berjalan mengelilingi setiap sudut ruangan. Dilema mulai menyerang Matteo, antara meminta Coco pulang ke Brescia, ataukah menjaga Mia yang mungkin masih berada dalam bahaya.


Ini, ceuceu kasih rekomendasi novel yang aduhai dan keren syekalee, karya teman ceuceu. Jangan lupa, intip dan baca yang khusyuk😉.


__ADS_1


 


__ADS_2