Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Last Minutes


__ADS_3

Matteo tertegun melihat wajah-wajah yang siap memberondongnya dengan tembakan. Jumlah mereka pun cukup banyak, mungkin sekitar delapan atau bahkan sepuluh orang. Mereka terlihat ingin sekali menghabisi Matteo saat itu juga. Sementara Matteo masih terlihat tenang, tapi tetap waspada. Tajam, matanya menatap mereka dengan penuh perhitungan.


“Habisi penyusup itu!” seru salah seorang dari mereka, seiring dengan suara ledakan keras yang berasal dari luar mansion. Hal itu membuat konsentrasi mereka sedikit teralihkan dan tentu saja menjadi kesempatan bagi Matteo untuk menyerang. Ia menembakan pistolnya dan mengenai seorang dari mereka. Matteo terus menembak sambil mengendap dan mencari tempat berlindung. Para gadis yang berada di bagian lain mansion pun terkejut dan berhamburan mendengar suara ledakan dan juga tembakan yang tiada henti.


Mereka menembaki Matteo secara bersamaan. Satu-satunya yang bisa Matteo gunakan sebagai tameng hanyalah pot bunga berukuran besar yang ditumbuhi pohon palem mini.


Sesekali Matteo membalas tembakan mereka. Peluru pria rupawan itu tak pernah meleset. Tiga kali ia memuntahkan peluru dari pistolnya, tiga orang anak buah Silvio langsung roboh. Sementara itu, pohon palem yang digunakan sebagai tempat perlindungan Matteo, kini sudah penuh dengan lubang di mana-mana.


Namun, Matteo terdesak. Puluhan orang melawan seorang pria dengan satu senjata. Kemungkinannya untuk menang sangatlah kecil.


Di detik-detik antara hidup dan mati itulah, terlintas ide di benak Matteo.


Pria itu melihat lampu kristal mewah berukuran raksasa yang tergantung di langit-langit mansion. Lampu itu, tepat berada di atas puluhan pengawal Silvio berdiri. Matteo menutup sebelah matanya dan menembak ke arah rantai lampu hias itu. Dua kali tembakan, rantai lampu itu akhirnya putus dan jatuh menimpa pria-pria bersenjata yang tengah menyerang dirinya, dengan tembakan membabi-buta.


Orang-orang itu memekik kesakitan ketika serpihan kristal menghujam tubuh dan besi penyangganya menjatuhi kepala mereka. Kesempatan emas bagi Matteo untuk dapat menyelinap keluar dari ajang pembantaian itu.


Dengan segera Matteo berlari menaiki deretan anak tangga hingga tiba di lantai atas. Matteo sedikit kebingungan saat melihat ada dua lorong di sisi kiri dan kanannya. Ia ragu untuk memilih arah mana yang harus ia ambil. Beruntung Coco menghubunginya lewat earpiece. Coco menyuruh Matteo agar mengambil jalan sebelah kanan. Matteo menurut saja. Namun, ia tetap waspada dalam melangkah.


Anehnya, di sana tak terlihat seorang pun dari anak buah Silvio. Hal itu membuat Matteo sedikit curiga. Perasaannya mengatakan, pasti ada hal yang tidak beres dengan suasana yang terlalu sepi di atas sana. Anak buah Silvio yang berada di lantai bawah pun tak terlihat mengejarnya. Padahal beberapa di antara mereka ada yang hanya terluka ringan.


Matteo mengokang senjatanya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan sambil memeriksa dan membuka pintu demi pintu dari setiap kamar yang ada di sana. Namun, yang terlihat hanyalah beberapa wanita-wanita berwajah ketakutan di dalamnya.


Matteo dapat memastikan bahwa wanita-wanita itu adalah perempuan bayaran yang menjadi simpanan Silvio.


“Amico! Luruslah hingga kamar paling ujung!” perintah Coco yang memandunya kembali melalui earpiece.


Matteo mengendap-endap menuju kamar yang sudah ditunjukkan oleh Coco. Kamar itu adalah kamar yang paling luas dengan pintu yang paling megah di antara kamar lainnya. Matteo mencoba membuka pintu itu, tetapi terkunci secara otomatis. Dibutuhkan sidik jari dan nomor pin untuk membukanya.


Mateo tak kekurangan akal. Ia segera menembak bagian kunci otomatis yang terletak di bawah gagang pintu, sehingga menimbulkan percikan api.


Pintu pun terbuka dan Matteo bergegas masuk. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar mewah Silvio yang terasa begitu sunyi.

__ADS_1


“Amico! Kenapa suasananya terlalu sepi?” bisik Matteo melalui earpiece.


“Sepertinya mereka yang masih hidup, memilih untuk berkoordinasi di lantai bawah,” jawab Coco dari seberang sana.


“Tidakkah hal itu sedikit mencurigakan menurutmu?” Matteo terdengar ragu.


“Aku hanya bisa menyarankanmu untuk waspada,” sahut Coco.


Matteo mendengus kesal dan mulai mendekati ranjang. Sasarannya kini adalah benda pipih dan kecil yang merupakan kunci dari ruang rahasia. Kunci itu tergeletak begitu saja di atas nakas di sisi ranjang. Matteo segera meraihnya dan memencet tombol hitam yang berada di tengah-tengahnya. Dinding yang berhadapan dengan ranjang itu bergeser pelan-pelan dan menampakkan isi yang terdapat di dalamnya.


Sedikit tertegun, Matteo memasuki ruangan rahasia itu. Setumpuk uang tunai memenuhi rak buku raksasa yang tertempel di dinding dengan jumlahnya yang tak dapat diperkirakan.


Di samping rak buku raksasa itu, terdapat rak khusus berdinding kaca yang digunakan untuk menyimpan emas batangan. Sementara di seberang rak terdapat berbagai macam jenis senjata yang tertempel di dinding. Salah satunya adalah senjata rakitan khusus milik Matteo.


Matteo segera menghampiri benda berharganya yang telah dicuri oleh Silvio. Ia meraih dan menurunkan senjata itu dari tempatnya, tepat pada saat Silvio berdiri di pintu masuk ruang rahasia itu.


“Astaga! Selain bodoh, kau juga sangat nekat rupanya, Sahabatku,” Silvio terkekeh sembari bertepuk tangan.


Matteo yang menggenggam dua senjata di tangannya, yaitu sebuah pistol otomatis kecil di tangan kiri dan senapan rakitan di tangan kanan, segera saja mengarahkan moncong dua senjata itu ke arah Silvio berdiri.


“Sungguh? Kau yakin akan menembakku di sini? Apakah kau tidak melihat mereka yang bersedia bertaruh nyawa untukku?” Silvio menunjuk belasan orang bersetelan hitam dan bersenjata lengkap memasuki kamar dan berdiri di pintu masuk ruangan rahasia itu. Mereka kembali mengepung Matteo yang tetap berdiri gagah meskipun harus menghadapi semuanya seorang diri.


“Sekali petikan jari, kau akan menjadi mayat!” ancam Silvio dengan seringai jahatnya.


“Jika kau menembakku sekarang, kau akan kehilangan hartamu,” Matteo bergeser ke depan rak raksasa yang dipenuhi dengan uang tunai.


“Ide yang bagus. Kau butuh tempat yang leluasa untuk mati. Baiklah, akan kuturuti. Sekarang, mendekatlah kemari,” titah Silvio dengan seluruh pucuk senjata yang terarah kepada Matteo.


Sambil memutar otak, Matteo meletakkan senapan rakitannya dengan hati-hati di samping kakinya dan pistol kecil di tangan kirinya itu dia lemparkan begitu saja ke depan.


Matteo kemudian mengangkat tangannya dan berjalan penuh waspada. Matteo mengatur langkahnya dengan sedemikian rupa. Ia mendekat selangkah demi selangkah menuju anak buah Silvio yang siap mengeksekusi dirinya.

__ADS_1


“Sekarang atau tidak sama sekali!” ucap Matteo pada dirinya sendiri.


Secepat kilat, Matteo menekuk lutut dan berguling di depan Silvio. Ia kemudian meraih pistol yang dilemparkannya tadi. Matteo mengarahkan pistol itu pada kaki kanan Silvio dan menembaknya. Ia juga memuntahkan peluru ke perut beberapa orang pengawal Silvio.


Lima orang tewas dengan seketika. Kini yang tersisa tinggal sembilan orang lagi, dan mereka telah bersiaga mengarahkan senapan otomatisnya kepada Matteo. Akan tetapi, mereka kesulitan menembak pria itu, karena Matteo kini bersembunyi di balik tubuh Silvio yang terkena luka tembak.


Matteo merengkuh tubuh Silvio yang sedang berada pada kondisi lemah. Ia melingkarkan tangannya pada leher Silvio dan menjadikan mantan sahabatnya itu sebagai tameng.


“Baiklah Tuan Moriarty, adakah pesan terakhir yang ingin kau sampaikan pada pengawalmu?” ejek Matteo dengan senyum puasnya.


Silvio mengangkat telapak tangannya sebagai isyarat agar anak buahnya segera menurunkan senjata mereka. “Mundurlah, mungkin lebih baik kuhadapi pria ini seorang diri,” titah Silvio kepada para pengawalnya yang setia.


“Ya, kedengarannya itu jauh lebih bagus!” Matteo berjalan mundur dengan posisi Silvio yang menempel tepat di depannya. Dengan tertatih, Silvio memilih untuk mengikuti gerak Matteo yang berusaha keluar dari ruangan itu.


“Seharusnya kau tembak saja aku sekarang,” ujar Silvio pelan.


“Lalu aku akan kehilangan perisaiku, dan tidak dapat keluar dari sini hidup-hidup? Oh tidak, Amico! Aku tidak sebodoh itu!” tolak Matteo dengan sinisnya.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2