
Matteo menghentikan kendaraannya di depan halaman gedung penjara kelas satu, di sebuah distrik kota Venice. Bangunan itu terkesan angker, terbuat dari batu kapur putih yang memanjang di tepian kanal. Gedung tersebut, terdiri dari dua bagian yang terpisah oleh kanal dan dihubungkan dengan sebuah jembatan.
Rasa takut kembali mendera Mia, tatkala ia menginjakkan kakinya di ruang depan penjara. Dua orang sipir menghampiri Matteo dan menanyakan keperluannya, membuat Mia semakin erat mencengkeram lengan sang suami. “Bisakah kami membuat jadwal pertemuan dengan tahanan bernama Fausto dan Santos hari ini?” tanya Matteo.
“Ah, pelaku dalam penembakan pernikahan berdarah itu?” tebak sipir tadi. “Anda beruntung, jadwal mereka kosong hari ini. Sudah beberapa kali mereka kedatangan tamu wartawan dari berbagai daerah, tapi mereka tak pernah memberikan informasi apapun,” lanjutnya.
“Kami bukan wartawan. Anggap saja aku salah seorang teman lamanya,” sahut Matteo datar.
Sipir itu kemudian mengamati Matteo dari kepala hingga ujung kaki, sebelum meninggalkan Matteo begitu saja untuk menuju ke meja informasi. Pria itu tampak berbincang-bincang sebentar dengan rekannya, sambil mengambil beberapa lembar formulir. Ia lalu kembali ke tempat Matteo dan Mia berdiri.
“Isilah berkas-berkas ini terlebih dahulu. Setelah itu Anda berdua ikuti kami," ia menyodorkan kertas yang dibawanya dari meja informasi.
Matteo mengambil lembaran kertas itu dan alat tulis dari tangan sipir tersebut. Ia lalu menuliskan nama terang dan alamatnya. Setelah selesai, Matteo menyodorkan kertas dan alat tulis itu kepada Mia. Terlihat jemari Mia yang gemetar memegang pulpen. Ia berkali-kali mengela napas sebelum membubuhkan namanya di sana. Mia jiga mengusap-usap telapak tangannya yang basah.
“Tidak apa-apa, cara mia. Ada aku,” bisik Matteo lembut. Ia mencoba untuk menenangkan sang istri.
Selesai dengan segala administrasi, kedua sipir itu mengantarkan Matteo dan Mia ke sebuah ruangan yang bersekat kaca. Di kedua sisi sekat, terdapat meja kayu memanjang yang dilengkapi dengan telepon untuk alat berkomunikasi antara pengunjung dan tahanan.
Cukup lama Mia dan Matteo menunggu di sana. Mereka duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan. Hingga teralis besi yang berada di seberang mereka bergeser dan terbuka. Dua orang berwajah bengis, mengenakan seragam tahanan berwarna biru gelap, berjalan perlahan menuju kursi di hadapan mereka. Dua orang sipir tampak siaga mendampingi di sisi kiri dan kanan belakang keduanya. Mereka berdiri dengan sigap dan penuh waspada.
Dua tahanan itu lalu meraih telepon yang sudah disediakan dan menempelkannya ke telinga mereka. Demikian pula dengan Mia dan Matteo.
__ADS_1
“Matteo putra Roberto,” sapa salah seorang tahanan itu dengan wajah masam. Tertulis nama Fausto di dada sebelah kiri seragam napi yang dikenakannya. Sementara seorang lainnya menatap Mia dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Terima kasih atas dukunganmu kepada keluarga kami berdua, Tuan Matteo. Aku tidak perlu lagi repot-repot bekerja untuk menghidupi mereka secara lebih dari layak,” Fausto menyeringai sembari sesekali melirik Mia.
“Aku tidak betah di sini. Sampai kapan kami harus terpenjara?” timpal seorang lainnya.
“Kenapa tidak kau tanyakan langsung kepada istriku, Santos?” Matteo balik bertanya dengan nada dingin.
“Jadi ia adalah pengantin wanitanya?” sela Fausto. Sementara Mia hanya membisu. Bibirnya terkatup sempurna. Peluh dan air mata jatuh bersamaan. Telapak tangannya memucat dan dingin. Raut cemas dan ketakutan bercampur menjadi satu menghiasi wajah cantiknya. Mia tidak menyangka jika Matteo akan mengajaknya ke sana.
“Jangan takut, Mia! Hadapi mereka!” Matteo berbisik dengan tegas. Direngkulnya pundak Mia untuk memberikannya kekuatan.
“Kalian yang membunuh ayah dan suamiku?” tanya Mia dengan nada suara bergetar.
Seketika isakan Mia yang tertahan sedari tadi akhirnya pecah. Tangisnya sampai memancing dua sipir yang berjaga tak jauh dari mereka untuk mendekat. “Apa ada masalah?” salah satu sipir itu memicingkan matanya curiga.
“Tidak ada. Kami hanya terharu karena lama tidak berjumpa dengan saudara kami,” dalih Matteo. Semakin erat ia merengkuh bahu istrinya.
Beberapa saat kemudian, Matteo berkata kepada Fausto, ”Mungkin aku bisa membantu kalian untuk meringankan hukuman, asalkan kalian mau memberikanku informasi lebih.”
“Informasi apa? Kami tidak mempunyai informasi apapun,” Santos menggeleng sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
__ADS_1
“Kau akan melepaskan mereka, Theo?” protes Mia. Sorot ketakutan dan amarah bercampur menjadi satu di matanya yang indah.
“Percayalah padaku, Sayang. Kumohon,” balas Matteo dengan sorot mata yang teduh dan menenangkan.
“Kami tidak akan mengatakan apapun, Matteo putra Roberto! Lebih baik kami dipenjara seumur hidup daripada harus kehilangan nyawa,” tegas Fausto.
Matteo mendengus kesal dan mengepalkan tangan. “Brengsek! Setidaknya tunjukkan penyesalan kalian di hadapan Mia-ku! Seandainya tidak terhalang jeruji besi, aku pasti akan memukuli kalian sampai mati!” geramnya.
Santos sempat terdiam sejenak sebelum kembali bersuara, “Ma’afkan kami. Tak ada yang bisa kami katakan selain ....” ia menjeda ucapannya sesaat. “Aku hanya bisa mengingatkan pada kalian. Berhati-hatilah terhadap orang di sekitarmu. Seseorang yang dekat denganmu,” tutur Santos pelan.
Pria dengan gurat luka memanjang dari pelipis hingga pipi kanannya itu akhirnya berdiri dan meletakkan telepon. Diikuti oleh Fausto yang melakukan hal yang sama. Mereka memanggil sipir untuk mendekat, lalu meninggalkan ruangan itu begitu saja tanpa berpamitan kepada Matteo dan Mia.
Mia mende•sah lega, ketika mereka sudah menghilang dari pandangannya. “Jangan ajak aku kemari lagi, Theo. Aku tidak sanggup,” keluhnya sembari menundukkan kepala dalam-dalam.
“Maaf, cara mia,” Matteo memeluk istrinya dan mencium puncak kepala Mia berkali-kali. Ia pun memutuskan untuk membawa Mia kembali ke Brescia.
Selama dalam perjalana pulang, Mia tidak banyak bicara. Perasaannya bercampur aduk dan menjadi tak karuan. Akan tetapi, kini ia semakin yakin jika Matteo tidak ada sangkut pautnya dalam peristiwa berdarah tiga tahun silam. Mia harus meyakinkan dirinya dan lebih mempercayai sang suami. "Terima kasih, Theo. Dengan melihat mereka berada di sana, aku merasa jika keadilan untuk ayahku dan Valentino sudah ditegakan. Kau tidak perlu membuktikan apapun lagi padaku," ucap Mia setelah sekian lama ia hanya terdiam.
Matteo yang saat itu tengah fokus dengan kemudinya, segera menoleh. "Kau yakin tidak ingin yang lebih, Mia?" tawaran yang terdengar aneh dan sedikit menakutkan bagi Mia.
Mia menggeleng pelan. "Aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang, selayaknya manusia normal lainnya. Semoga suatu hari nanti kita bisa hidup dalam kedamaian. Aku tidak berharap akan ada lagi darah yang mengalir dari nyawa yang terbuang dengan percuma."
__ADS_1