
Siang itu beberapa tetua organisasi Klan de Luca, telah berkumpul di sebuah ruangan khusus dengan gaya arsitektur Tuscany yang begitu kental. Semuanya terlihat dari berbagai ornamen yang ada di sana, dengan warna terracotta yang sangat mendominasi. Mereka yang berjumlah sekitar sepuluh orang, merupakan orang-orang pilihan yang telah mengabdi sejak lama meskipun kini sudah tidak terlalu aktif dalam segala kegiatan ke-organisasian. Akan tetapi, suara dan pendapat mereka masih sangat dibutuhkan dalam momen-momen tertentu, contohnya seperti saat ini.
Perbincangan kecil di antara pria-pria bermantel hitam itu seketika terhenti, ketika mereka mendengar suara derap sepatu dari langkah kaki seseorang yang terdengar begitu jelas di atas ubin dengan motif seni mozaik yang indah. Pandangan para tetua itu kini tertuju pada seorang pria muda yang telah berdiri dengan gagahnya. Pria dengan sorot mata tajam dan terlihat sangat datar. Ia menatap kesepuluh tetua bermantel hitam itu secara bergantian.
Matteo, telah siap untuk mengikuti pertemuan yang akan dilanjutkan pada acara pengangkatan dirinya sebagai ketua baru. Di samping kirinya, berdiri Antonio dengan janggut tebal yang menjadi ciri khas pria itu. Sedangkan, di samping kanan ada Damiano yang terlihat begitu berseri. Raut mukanya tampak lebih ramah, jika dibandingkan dengan kedua pria di dekatnya.
“Sambut mereka, Anakku,” bisik Damiano. Ia memberi arahan kepada Matteo yang saat itu masih berdiri mematung dan seakan tengah memikirkan sesuatu.
Matteo menggerakkan kepalanya perlahan tanda mengerti. Sesaat kemudian, ia mengubah posisi berdirinya. Matteo tengah membuat dirinya setenang mungkin. Ia mengela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Dengan posisi tangan yang berada di depan, pria dengan pakaian serba hitam itu berdiri tegak dan tatapan lurus ke depan. “Buongiorno (selamat siang),” terdengar suara berat Matteo menggema di ruangan yang cukup luas itu. Semua tetua yang hadir membalasnya dengan setengah membungkukkan badan. Mereka juga menempelkan tangan dengan posisi menyilang di dada, dari bawah ke dekat pundak. Seperti itulah salam khas ala Klan de Luca, ketika menyambut orang penting dalam organisasi mereka.
“Terima kasih atas kesediaan Anda semua untuk hadir di sini,” Matteo mulai membuka sambutannya. “Seperti yang telah kita ketahui, kemarin kita semua telah memberikan penghormatan terakhir untuk Tuan dan Nyonya de Luca. Aku sebagai putra tunggal dari mereka berdua, mengucapkan terima kasih untuk semua dedikasi yang telah Anda sekalian berikan selama ini demi membangun organisasi de Luca. Mendiang ayahku pasti sangat bangga karena dikelilingi orang-orang hebat seperti Anda semua,” ucap Matteo dengan nada bicaranya yang terdengar sangat lugas.
“Akan tetapi, dengan kepergian ayahku ... maka kursi kepemimpinan Klan de Luca otomatis menjadi kosong. Dengan itu, aku sebagai putra mahkota dari Klan de Luca, telah memutuskan bahwa aku bersedia untuk menggantikan posisi mendiang Roberto de Luca dan akan memimpin organisasi ini dengan sebaik-baiknya. Jika ada di antara Anda sekalian yang tidak setuju dengan keputusan tersebut, maka silakan kemukakan alasan dan pendapat Anda sekarang juga pada forum ini. Aku membutuhkan dukungan dari orang-orang dengan loyalitas tinggi, dan aku tidak akan pernah berkompromi dengan seorang pengkhianat,” Matteo berbicara dengan penuh penekanan pada akhir kalimatnya. Hal itu sengaja ia lakukan, untuk menyindir siapapun yang ia rasa telah menjadi dalang dari kekacauan yang terjadi selama beberapa waktu ini.
Tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun saat itu. Dengan melihat bahasa tubuh dan gaya bicara Matteo saja, para tetua itu sudah merasa yakin jika Matteo memang layak untuk meneruskan posisi yang telah ditinggalkan oleh Roberto de Luca. Untuk sesaat, kesepuluh pria itu saling pandang. Salah satu dari mereka mengacungkan tangan sebagai tanda bahwa ia akan melakukan interupsi. Matteo memberikan isyarat kepada pria paruh baya itu. Ia memersilakannya dengan sopan.
"Maaf Tuan Muda, izinkan kami untuk melakukan perundingan secara pribadi sebentar saja," ucap pria itu.
"Silakan," jawab Matteo datar.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari Matteo, kesepuluh pria bermantel hitam itu kemudian bergerak menjauh dari posisi Matteo berdiri. Mereka membentuk sebuah lingkaran baru dan tampak membahas sesuatu. Matteo hanya memerhatikan mereka dengan tatapan tajamnya yang penuh telisik. Ia seperti sebuah mesin pendeteksi kebohongan, yang dapat melihat segala sesuatu yang tersembunyi di balik detak jantung seseorang. Matteo harus terus mengasah instingnya agar menjadi semakin tajam.
Beberapa saat kemudian, kesepuluh pria bermantel hitam itu kembali pada tempat mereka tadi. Mereka kembali berdiri dengan berderet rapi di hadapan Matteo, yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari tempat para pria tersebut berada.
"Tuan Muda, kami selaku orang-orang yang dianggap tetua oleh mendiang Tuan Roberto de Luca, telah mengambil kesepkatan bersama," pria yang tadi melakukan interupsi mulai mengemukakan hasil dari perundingan singkat yang telah mereka lakukan tadi.
"Kami sama sekali tidak keberatan dengan pengangkatan Anda sebagai ketua baru dalam organisasi ini. Akan tetapi, berhubung Anda sendiri masih berusia terbilang sangat muda, sementara usia muda begitu rentan dan terkadang labil. Maka dari itu, kami memutuskan untuk memberikan Anda waktu selama satu tahun. Dalam tenggat waktu tersebut, Anda bisa membuktikan bahwa diri Anda memang layak untuk dijadikan sebagai pengganti dari Tuan Roberto de Luca. Kami harap Anda dapat memahami maksud kami semua. Bagaimanapun juga, kami sangat mencintai organisasi ini dan tentu saja tidak akan membiarkannya menjadi kacau," papar pria itu lagi.
Matteo masih terdiam. Ia tetap dalam posisi berdiri tegak dengan tatapan lurus dan tajam, yang langsung tertuju pada pria tersebut. Sesaat kemudian, Matteo melirik kepada Damiano. Ia sangat memercayai pria paruh baya itu. Matteo akan melakukan apapun saran darinya.
Damiano sudah paham dengan hanya melihat bahasa tubuh yang ditunjukkan Matteo. Pria bermata hijau itu kemudian mendekat kepada putra yang sudah ia asuh sejak kecil. Damiano pun berbisik kepadanya. "Terima saja, Nak. Syarat yang mereka ajukan tidaklah terlalu berat. Aku yakin kau pasti mampu melakukan yang terbaik untuk organisasi ini," Damiano menyentuh pundak Matteo dengan penuh kasih.
"Baiklah, aku setuju. Aku berjanji dan akan membuktikan kepada Anda semua, bahwa aku layak untuk menggantikan posisi ayahku. Aku bersumpah untuk membawa dan memertahankan kejayaan dari Klan de Luca. Aku akan melakukan semua yang terbaik dan tetap menjalankan tradisi yang telah diturunkan oleh ayahku, Roberto de Luca," ucap Matteo dengan lantang dan penuh percaya diri.
Damiano tersenyum bangga. Sementara Antonio masih terlihat dengan ekspresi wajahnya yang serius. Pria itu tampak menyimpan banyak beban yang tidak ia ungkapkan. Namun, dengan segera kakak kandung dari Roberto de Luca tersebut merengkuh pundak Matteo. Sebuah senyuman pun tersungging di bibirnya yang hampir tak terlihat, karena tertutut janggut tebal.
Selang beberapa saat, masuklah Coco dan juga Marco yang diiringi oleh seorang pria. Dengan segera, Damiano menurunkan mantel yang menutupi tubuh Matteo. Setelah itu, Matteo membuka kancing kemeja hitam yang ia kenakan satu per satu dan melepasnya. Tampaklah tubuh atletis dengan ukiran tato yang terdapat di beberapa bagian.
Matteo kemudian menyodorkan kemeja yang telah ia lepas kepada Damiano. Ia lalu maju dan duduk di tengah-tengah ruangan itu, pada sebuah kursi kayu yang telah disediakan oleh Coco dengan posisi terbalik. Matteo kemudian meletakan tangannya pada sandaran kursi kayu tersebut, ketika pria yang baru masuk bersama Coco dan Marco tadi menghampirinya. Rupanya pria itu adalah seorang pembuat tato khusus untuk Klan de Luca. Kali ini ia akan membuat tato istimewa yang jarang terjadi. Ia akan menggambar tato di punggung Matteo untuk menjadi tanda pengangkatannya sebagai ketua baru dari Klan de Luca.
__ADS_1
Pria itu mulai memersiapkan segala peralatan yang akan ia gunakan. Sementara Matteo memersiapkan dirinya untuk menahan rasa sakit akibat proses pembuatan tato tersebut. Ketika proses itu berlangsung, Matteo hanya memejamkan mata. Seketika, wajah manis Mia muncul dalam bayangannya. Gadis itu berdiri di hadapan Matteo, menatapnya dan tersenyum.
Tanpa sadar, Matteo ikut tersenyum. Ia seakan lupa dan tidak merasakan sakit akibat proses pembuatan tato tersebut. Matteo justru terlihat menikmati hal itu, karena ia tidak juga berhenti tersenyum.
Coco memerhatikan ekspresi yang ditunjukan Matteo seraya melipat kedua tangannya di dada. Pria itu menyunggingkan sedikit senyuman di sudut bibirnya. Coco tidak tahu apa yang tengah Matteo pikirkan saat itu.
Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk menyelesaikan tato di punggung Matteo. Proses itu akhirnya selesai juga. Matteo lalu membuka matanya dengan perlahan. Di punggungnya kini telah terukir gambar istimewa yang tidak semua orang di Casa de Luca miliki.
Pada punggung tegap itu, kini tergambar sebuah mahkota indah dengan tulisan “de Luca” pada bagian atasnya. Dengan selesainya pembuatan tato tersebut, maka itu artinya Matteo telah resmi menjadi pemimpin baru dari Klan de Luca.
Seniman tato itu segera pamit setelah tugasnya usai, bersamaan dengan Matteo yang segera berdiri dari duduknya. Pria dua puluh enam tahun tersebut tampak begitu gagah dengan sikap berdirinya yang tegap, meskipun terlihat sedikit arogan. Matteo kemudian menatap kesepuluh tetua yang sejak tadi terdiam dan memerhatikan proses pembuatan tato itu.
Sesaat kemudian, pria yang merupakan perwakilan dari para tetua tadi kembali berbicara. “Proses penobatan telah selesai. Kami berharap Tuan Muda dapat melaksanakan semua yang menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai ketua dari organisasi ini. Namun, jika dalam waktu satu tahun Tuan Muda dianggap telah gagal, maka Tuan Muda harus bersedia untuk menghapus tato tersebut secara permanen,” ucapnya dengan nada bicara yang tegas, tapi masih terdengar sopan dan penuh hormat kepada Matteo.
“Aku setuju,” jawab Matteo dengan datar. Ia lalu melirik Coco yang saat itu tampak mengacungkan ibu jarinya meskipun dengan sembunyi-sembunyi. Matteo tersenyum tipis dan kembali mengalihkan tatapannya ke depan, menembus jendela kaca yang membuat pandangannya seakan tak terbatas. Tugas berat kini berada di pundaknya.
“Terima kasih atas kepercayaan kalian. Aku akan memulai tugas pertamaku dengan memeriksa dan mengatur ulang seluruh pembukuan organisasi. Aku juga akan mendata anggota klan satu per satu, mulai dari strata terbawah hingga teratas berikut keluarganya. Aku tak akan pandang bulu, bahkan kepada Damiano maupun paman Antonio,” tegas Matteo membuat seisi ruangan menjadi gaduh.
Rekomendasi berikutnya nih dari ceuceu othor. Jangan lupa mampir ya🤗
__ADS_1