
Mia menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu tersebut. Hatinya terasa begitu sakit dengan kedatangan Matteo ke sana. Gadis itu tak kuasa menahan air matanya. Seandainya saja Matteo datang beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum ia menerima lamaran dari Valentino, maka dirinya tidak akan merasakan kagalauan seperti saat ini.
“Mia, ada apa?” tanya Francesca yang baru keluar dari kamarnya. Gadis itu tampak begitu khawatir. Ia segera menghampiri Mia, tetapi dengan segera Mia menghapus air matanya dan tersenyum lembut. “Kau baik-baik saja, Mia?” tanya Francesca lagi. Mia mengangguk dengan yakin.
“Aku hanya merindukan ibu. Aku sangat khawatir dengan keadaannya,” Mia mencari alasan. “Kau sudah makan, Francy?” tanyanya. Ia mencoba untuk mengalihkan tema pembicaran.
Francesca tersenyum kecil seraya mengangguk. “Kau tahu bukan jika aku tidak pandai memasak. Aku hanya membuat panzanella. Kebetulan di lemari es ada beberapa bahan, jadi kupakai saja,” terang Francesca. Gadis itu kemudian mengela napas pelan. Francesca sepertinya tengah memikirkan sesuatu.
“Apakah kau masih lapar?” tanya Mia. Ia berusaha untuk bersikap wajar di hadapan sang adik.
“Tidak Mia. Sepertinya aku akan langsung tidur saja. Besok aku harus sekolah," jawab Francesca.
"Sebentar lagi aku akan lulus dan melanjutkan kuliah. Rasanya aku ingin segera menjadi gadis dewasa sepertimu, Mia,” ucap Francesca lagi seraya tersenyum. Senyum yang tampak berbeda dari biasanya.
Mia menghampiri gadis itu. Ia kemudian menyentuh pundak Francesca dengan lembut. “Kau akan segera dewasa, itu pasti. Aku harap makin kau dewasa nanti, kau bisa bersikap semakin bijaksana. Selamat malam, Francy,” Mia mengecup kening adiknya dengan penuh kasih sayang, seakan tidak ada batasan di antara mereka berdua. Mia sudah menganggap Francesca seperti adik kandungnya sendiri, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah secara langsung, dan memang sudah seharusnya seperti itu. Ia sangat menyayangkan hubungannya yang buruk dengan Daniella. Namun, itulah kenyataannya. Ia tidak dapat memaksakan Daniella untuk dapat bersikap seperti Francesca.
Setelah menyudahi tegur sapanya dengan Francesca, Mia kemudian memasuki kamarnya. Dinyalakannya lampu kamar itu hingga suasana di sana menjadi terang. Mia lalu duduk di ujung tempat tidur dengan kepala tertunduk. Tak berselang lama, ia kemudian menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Mia melanjutkan tangisnya yang sempat tertunda. Ia tidak ingin orang lain melihatnya bersedih dan meneteskan air mata. Semuanya selalu ia simpan sendiri.
Matteo yang sejak tadi mengawasi gadis itu, segera beranjak dari duduknya. Ia berdiri di dekat jendela dengan tatapan lurus tertuju pada kamar di seberang bangunan tempatnya berada. Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu untuk sekadar menghapus air matanya. Namun, semuanya terlalu sulit untuk ia lakukan.
“Apakah Mia selalu seperti itu?” tanya Matteo dengan setengah bergumam.
“Ya. Hampir setiap malam aku melihatnya termenung sendirian di atas balkon. Ia biasa berdiri cukup lama di sana,” tutur Coco. “Terus terang saja, aku kasihan melihatnya. Aku juga tidak tahu akan seperti apa rencana yang telah kita susun, Amico,” lanjut Coco seraya kembali meneguk minumannya.
Matteo melakukan hal yang sama dan tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang masih menangis sendiri di dalam kamarnya. Ia merasa bingung. Perasaannya kian berkecamuk. Matteo mengetahui dengan jelas jika Mia pun tidak menginginkan pernikahannya. Haruskah ia kembali menghampiri gadis itu dan membawanya pergi? Matteo tak ingin Mia jatuh ke dalam pelukan pria lain.
“Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu, Kawan,” ucap Coco dengan nada bicara yang terdengar serius, sehingga membuat Matteo mengalihkan perhatiannya dari Mia. Pria bermata abu-abu itu menatap Coco dengan tajam dan penuh selidik. “Apa itu?” tanya Matteo datar.
__ADS_1
Coco melangkah ke dekat meja di sisi tempat tidur. Ia mematikan rokoknya di dalam asbak yang ada di sana. Coco juga meletakan botol minumannya yang telah kosong. Sesaat kemudian, pria dengan mata coklat terang tersebut menyodorkan sebuah kartu akses yang ia temukan di dalam kamar yang ia periksa siang tadi. Matteo melihat kartu itu seraya mengernyitkan keningnya. “Kartu milik siapa yang kau curi?” tanyanya.
Coco duduk di tepian tempat tidur dengan setengah membungkukan badan. Tatapannya tertuju kepada Matteo yang masih berdiri di dekat jendela. “Aku menemukan kartu itu di dalam salah satu kamar yang berada di bangunan ini,” terangnya.
“Lalu, apa masalahnya?” tanya Matteo dengan tidak mengerti.
“Tidak ada masalah dengan kartu itu, yang menjadi masalah adalah si pemilik kartunya,” jelas Coco. Pria itu kemudian berdiri dan menghampiri Matteo. Ia menyenderkan lengannya pada dinding dekat jendela, sambil menghadap pada sahabatnya yang masih menunjukkan raut tidak mengerti.
“Seorang pria telah menyewa salah satu kamar di sini. Aku sangat terkejut, karena ternyata pria itu memata-matai gadis-mu, Kawan,” terang Coco lagi hingga membuat Matteo tercengang mendengarnya. Kedua matanya menatap tajam kepada pria dengan senyum menawan itu.
“Bagaimna ciri-ciri pria itu?” selidik Matteo. Ia menjadi sangat tertarik dan penasaran dengan berita yang telah Coco sampaikan kepadanya.
Coco terdiam dan mengingat-ingat. Ia membayangkan pria itu dan mencoba untuk menggambarkannya dengan sangat detail. Coco kemudian menceritakan kejadian pada hari kemarin saat ia mengikuti Mia yang tengah diuntit oleh pria asing tersebut. Sementara, Matteo mendengarkannya dengan saksama. Ia mencoba menerka kira-kira siapa pria itu dan apa tujuannya memata-matai Mia.
“Sekilas, aku mendengar pria itu berbicara dalam bahasa Spanyol. Namun, aku rasa ia bukan orang Spanyol. Wajahnya seperti berasal dari Amerika Latin. Kau ingat Rodrigo? Kurang lebih seperti itu,” tutur Coco.
“Apa kau melihat ada ciri-ciri khusus lainya dari pria itu?” selidik Matteo lagi.
“Aku rasa tidak ada yang menonjol selain posturnya yang tinggi besar. Ia mengingatkanku pada pegulat favoritku semasa sekolah dulu,” sahut Coco dengan tenangnya. Pria itu kemudian mengalihkan tatapannya ke luar jendela.
“Menyingkirlah dari jendela!” suruh Coco seraya menarik lengan Matteo. Ia membawa pria itu ke dekatnya agar lebih terlindung. Matteo kemudian melongo sedikit ke luar jendela. Ia melihat Mia tengah berdiri di balkon kamarnya dan menatap ke arah bangunan tempatnya berada. “Jangan sampai Mia melihatmu ada di sini,” ujar Coco. Ia bergegas mematikan lampu kamarnya.
“Oh, Tuhan. Aku ingin sekali menculiknya!” Matteo geram pada dirinya sendiri yang telah bersikap seperti seorang pengecut. Ia berani menantang maut demi merebut kembali senjata yang telah dicuri oleh Silvio, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa ketika gadis yang ia cintai akan berpindah ke pelukan pria lain.
“Jangan bertindak bodoh, Amico! Pikirkan rencana B. Seorang Matteo de Luca tidak akan pernah kehabisan akal untuk dapat meraih semua yang ia inginkan. Bukankah begitu?” saran Coco. Ia tidak ingin Matteo hilang kendali karena terlalu terbawa perasaan.
“Entahlah, Coco. Saat ini aku tidak bisa berpikir dengan tenang!” keluh Matteo dengan jengkel. Berkali-kali ia mendengus kesal. Matteo akhirnya memutuskan untuk duduk di tepian tempat tidur kecil itu. “Kau tahu apa yang telah paman Antonio lakukan beberapa hari kemarin?”
__ADS_1
“Apa?” tanya Coco penasaran.
“Ia ingin agar aku melakukan investigasi sendiri atas kematian orang tuaku,” terang Matteo.
“Bukankah polisi sudah mengurus semuanya?” tanya Coco dengan heran.
“Tidak lagi, Sobat. Polisi telah resmi menghentikan penyelidikan, karena mereka telah menemukan pelakunya,” tutur Matteo dengan lesu.
“Secepat itukah?” tanya Coco dengan semakin heran.
Matteo setengah membungkukan badannya. Ia merapatkan kedua telapak tangan, kemudian menempelkannya di depan wajah. Pria itu tampak menyesalkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, pria yang tidak lama lagi akan dinobatkan sebagai ketua baru dalam organisasi de Luca, menceritakan semua hasil dari pertemuan yang ia lakukan dengan sang paman, yaitu Antonio. Matteo juga bercerita tentang seorang dari anak buah klan de Luca, yang dijadikan tumbal agar polisi segera menghentikan penyelidikan mereka.
“Aku tidak percaya kau diam saja dan menyetujui kegilaan tuan Antonio!” protes Coco. Ia mendekat kepada Matteo dan memegangi kedua lengan sahabatnya. “Apa yang terjadi padamu, Theo?” Coco tidak habis pikir dengan sikap sahabatnya.
Matteo tidak segera menjawab. Ia terlihat kebingungan saat itu. “Entahlah, Sobat. Saat itu aku benar-benar kalut. Aku tidak dapat berpikir dengan baik dan juga tidak bisa fokus. Aku benar-benar kacau,” kilah Matteo seraya mengacak-acak rambutnya.
“Keterlaluan!” dengus Coco. Ia tidak terima dan tentu saja tidak menyukai semua yang dilakukan Antonio.
“Berita baiknya adalah tim forensik telah berhasil mengidentifikasi jenazah orang tuaku, sehingga aku bisa segera memberikan penghormatan terakhir untuk mereka. Setelah itu, barulah aku akan bertindak. Aku bersumpah akan menghukum siapa pun yang menjadi otak dari tragedi yang telah menimpa kedua orang tuaku,” ucap Matteo dengan keyakinan penuh.
“Apa menurutmu Vincenzo Moriarty ada di balik semua ini?” Coco menatap Matteo yang saat itu tampak kembali berpikir.
“Bisa jadi. Namun, aku juga harus mencari tahu bagaimana anak buah Vincenzo dapat menyusup ke Casa de Luca, bahkan hingga dapat memasang bom dengan begitu leluasa di mobilku. Sedangkan aku tahu bahwa keamanan di Casa de Luca sangatlah ketat. Tidak akan mudah bagi seorang penyusup untuk dapat menembusnya,” papar Matteo. Wajahnya diliputi rasa heran yang teramat besar. Ia masih belum mengerti dengan hal itu, tetapi Matteo pun tak ingin hanya menerka-nerka.
“Cari tahu juga dari mana mereka mengetahui jika yang mereka pasangi bom itu benar-benar mobil milikmu!” ucap Coco membuat Matteo semakin heran dan harus berpikir keras.
Matteo menatap kepada Coco dengan sorot aneh. Pria itu mengernyitkan keningnya. "Apa kau berpikir ada pengkhianat di Casa de Luca?" tanya Matteo.
__ADS_1
"Semua kemungkinan bisa saja terjadi, Theo. Aku rasa, mulai saat ini sebaiknya agar kau lebih waspada dan jangan bertindak terburu-buru."