Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Una Richiesta


__ADS_3

Mia sudah berganti pakaian. Mulai sekarang, ia harus membiasakan dirinya dengan turban yang menutupi kepalanya. “Aku akan membelikanmu sebanyak mungkin, Mia,” ucap Matteo seraya berlutut di hadapan Mia dan merapikan turban yang dikenakan sang istri. Mia menanggapi ucapan Matteo dengan sebuah senyuman getir.


Sesaat kemudian, Coco masuk diiringi Daniella dan Francesca. Kedua gadis itu ingin menemui Mia, sebelum ia kembali ke Brescia. “Baik-baiklah di sana, Mia. Matteo pasti akan merawatmu dengan baik,” ucap Francesca seraya memeluk sang kakak.


“Ya, Mia. Turuti ucapan suamimu. Jangan keras kepala,” timpal Daniella. Kini, gilirannya yang memeluk Mia dengan erat. Sementara itu, Matteo menyerahkan kunci mobilnya kepada Coco. Ia yang akan membawa mobil jeep Matteo kembali ke Brescia. Setelah melakukan salam perpisahan, Matteo kemudian mendorong kursi roda yang diduduki Mia menuju lift. Mereka pun menuju ke lantai tertinggi rumah sakit, di mana telah menunggu sebuah helikopter bertuliskan De Luca.


Matteo segera membopong tubuh Mia dan menaikannya dengan hati-hati. Ia kemudian masuk dan duduk di sebelah wanita muda itu. Setelah semua persiapan selesai, helikopter tersebut akhirnya lepas landas dan meninggalkan puncak tertinggi gedung rumah sakit itu.


Selama di dalam perjalanan, Mia tidak banyak bicara. Tubuhnya masih terasa agak lemah. Ia juga harus membiasakan diri dengan segala hal baru pasca kecelakaan dan operasi berat yang telah dijalaninya. Selama berminggu-minggu pula Mia meninggalkan Casa de Luca. Kerinduannya akan tempat yang kini telah menjadi rumahnya tersebut, sangatlah dalam. Mia juga begitu merindukan kamarnya, dan tentu saja Maximus yang mulai akrab dan selalu mengajak Mia bermain.


Tak butuh waktu lama di perjalanan, akhirnya helikopter itu mendarat di landasan Casa de Luca. Matteo pun bergegas turun. Damiano segera menyambut kedatangan mereka. Ia membantu menyiapkan kursi roda bagi Mia. Namun, ternyata Matteo lebih memilih untuk membopong Mia dan membawanya masuk. “Aku bisa menggunakan kursi roda, Theo,” protes Mia pelan pada sikap Matteo yang dirasa terlalu berlebihan.


“Aku masih kuat untuk menggendongmu, Mia,” ujar Matteo dengan tenangnya. Tubuh ramping Mia tak akan pernah menjadi sebuah beban yang terlalu berat, bagi pria seperti Matteo. Ia terus membawa Mia hingga menuju kamar mereka. Sedangkan Damiano hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Ia mengikuti sepasang suami istri itu dari belakang.


“Aku senang akhirnya kau sudah kembali, Mia,” ucap Damiano ketika Matteo baru menurunkan Mia di atas tempat tidur. Damiano kemudian mendekat dan mencium kening wanita bermata cokelat itu dengan penuh kasih.


“Terima kasih, Paman,” balas Mia. Ia mencoba untuk tersenyum manis kepada pria paruh baya tersebut. Sesaat kemudian, Mia melirik Matteo. “Aku haus, Theo,” ucapnya.


“Akan kuambilkan. Sebentar,” Matteo berlalu keluar kamar dan menuju dapur. Ia meninggalkan Mia dan Damiano berdua di dalam kamarnya.


“Tetaplah di sini, Mia. Matteo sangat membutuhkanmu. Aku harap, mulai saat ini kalian bisa belajar untuk lebih saling memahami,” ujar Damiano dengan lembut. Ia duduk di tepian tempat tidur seraya menggenggam jemari lentik Mia. Sementara Mia masih terdiam mendengarkan semua petuah dari Damiano.


“Aku sudah merawat Matteo sejak ia masih kecil. Theo pasti sudah bercerita banyak padamu tentang masa kanak-kanaknya,” ujar Damiano lagi. Mia menaggapi ucapan Damiano dengan mengangguk pelan.


“Sejujurnya, aku melihat ada banyak hal yang berbeda dari diri Matteo, meskipun ia terus menyangkal. Matteo selalu mengatakan bahwa ia tidak pernah berubah. Ya, Matteoku memang tidak berubah. Ia masih menjadi pria yang kuat dan akan selalu seperti itu. Namun, jika dulu ia benar-benar tangguh dan tak terkalahkan, maka tidak saat ini, Mia,” tutur Damiano membuat Mia mengernyitkan keningnya.


“Apa maksud Paman?” tanya Mia tak mengerti.

__ADS_1


Damiano tersenyum lembut. Ia lalu mencium jemari lentik Mia. “Kau adalah kekuatan besar bagi Matteo. Akan tetapi, ia menjadi begitu lemah karena dirimu juga, Mia,” terang Damiano. “Kau tidak tahu betapa Theo sangat kacau ketika kau pergi meninggalkannya. Tolong jangan lakukan hal seperti itu lagi. Sebagai ayah asuh Matteo, aku merasa sedih saat melihat kalian harus berada dalam situasi seperti ini. Sekarang kau adalah putriku. Kalian berdua adalah anakku. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan nasihat ini untuk kalian berdua,” Damiano berkata dengan begitu lirih kepada Mia.


“Maafkan aku, Paman. Aku juga mungkin terlalu egois dan tidak melihat dari sisi Matteo. Aku selalu meminta agar Theo bisa memahami perasaanku,” sesal Mia.


“Dengar, Anakku,” ucap Damiano lagi. “Matteo adalah seorang ketua dari Klan de Luca. Ia memiliki sebuah tanggung jawab yang besar untuk tetap menjaga kelangsungan organisasi. Ada puluhan ribu anggota yang berada dalam naungannya dan harus ia kendalikan dengan baik. Selain itu, bisnis turun-temurun dari keluarga de Luca juga harus tetap berjalan. Perkebunan anggur itu sudah ada dari semenjak puluhan tahun yang lalu. Semuanya berkembang pesat di bawah tangan dingin Roberto de Luca, ayah mertuamu. Sudah menjadi tanggung jawab Matteo untuk tetap menjaga bisnis yang telah dibangun itu agar tetap berada pada puncak kejayaannya,” tutur Damiano dengan panjang lebar.


“Berikan kepercayaanmu padanya, Nak. Aku yakin jika Matteo tidak akan pernah mengabaikanmu. Kau tahu kenapa? Karena ia jadi menyukai arancini setelah mengenalmu,” Damiano tersenyum lembut seraya menyentuh wajah Mia yang polos tanpa riasan apapun.


Mia tersenyum getir. Ia mengangguk pelan dan mencoba untuk mendatangkan kembali semua kebijaksanaan dan kelembutan dalam dirinya yang sempat hilang. Tanpa terasa air matanya mulai menetes. Seandainya pertengkaran itu tak pernah terjadi, maka ia tak akan pergi ke Roma. Mia pun tak akan kehilangan rambutnya yang indah. Namun, harus selalu ada sebuah kejadian yang akan menjadi teguran, bagi setiap orang yang merasa benar akan apa dilakukannya.


“Apa yang kau lakukan, Damiano?” Matteo terpaku menatap Mia yang tengah terisak. Ia lalu meletakkan air minum yang dibawanya. “Kenapa kau membuat Mia menangis?” protes Matteo seraya menoleh kepada Damiano yang saat itu memilih untuk berdiri.


Damiano tersenyum lembut. Pria itu mengela napas pelan. “Tidak apa-apa, Theo. Aku hanya sedikit berbincang dengan Mia. Istrimu sedang sensitif, jadi ia mudah terbawa perasaan,” ujar Damiano. Ia kembali mendekat kepada Mia dan mencium kening wanita muda itu. “Beristirahatlah, Nak. Aku ingin kau segera sembuh, karena Theo sudah mulai berkuda lagi,” lanjutnya.


Damiano kemudian melirik kepada Matteo. “Kapan-kapan, ajari Mia berkuda. Sehingga saat aku sudah tiada nanti, maka masih akan ada yang menemanimu berkeliling perkebunan,” pria itu mengakhiri kata-katanya sambil menepuk pundak Matteo. Setelah itu, ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan membiarkan Matteo berdua dengan Mia.


“Sesuatu yang menyadarkanku,” jawab Mia seraya menghapus air matanya.


“Tentang apa?” tanya Matteo lagi.


“Tentang kita,” jawab Mia seraya merangkul Matteo dengan erat. Air matanya kembali menetes, membasahi kemeja hitam Matteo.


“Dengarkan aku, Cara mia. Mulai detik ini, apapun yang kau inginkan, akan kuturuti. Sekalipun aku harus membatalkan kerja sama dengan Camilla, maka akan kulakukan,” ucap Matteo dengan begitu yakin. “Maafkan aku yang tidak mempedulikan perasaanmu, Sayangku. Aku sungguh-sungguh menyesal,” imbuhnya.


“Tidak, Theo. Akulah yang saat ini harus belajar untuk mengerti, meskipun terasa begitu berat,” ucap Mia lirih.


“Cara mia,” de•sah Matteo. Ia mengurai pelukan Mia, lalu mencium bibir istrinya lembut. “Kau tidak perlu mencoba mengerti aku. Biar aku saja yang terus berusaha untuk selalu mengerti dirimu dan membuatmu nyaman,” ujarnya yakin. “Aku hanya meminta satu hal darimu, Sayang. Tolong jangan berpikiran macam-macam tentangku,” lanjut Matteo lagi. Tatap matanya begitu teduh.

__ADS_1


“Bolehkah aku menjelaskan sesuatu yang belum sempat kujelaskan padamu?” tawarnya kemudian.


“Apa itu?” bola mata indah milik Mia terlihat bergerak-gerak, mengamati mimik muka sang suami.


“Apa yang kau lihat di siang itu, sungguh tak sesuai dengan apa yang kau pikirkan. Aku tidak bertemu berdua saja dengan Camilla, melainkan ada seorang lain yang turut hadir di restoran itu. Sayangnya ia datang terlambat. Jadi, seolah-olah kami hanya berduaan saja, padahal tidak,” terang Matteo.


Tangan Mia yang awalnya melingkar di pinggang suaminya, segera ia lepaskan. Rautnya pun berubah murung. “Aku melihat gadis itu menyentuh tanganmu dan kau diam saja,” Mia bersikukuh.


“Itu karena ia sedang meminta maaf atas sikapnya. Ketika itu, Camilla berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya, yaitu aku. Ia juga memutuskan untuk menerima lamaran dari salah seorang kolega ayahnya,” papar Matteo. Kembali Matteo mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Mia. “Camilla akan segera menikah, Sayangku. Jadi, tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan saat ini. Akan tetapi jika kau masih merasa tak puas juga, maka aku akan tetap menghentikan kerja samaku dengan Camilla,” sambungnya.


“Mungkin keputusanku ini sudah sangat terlambat. Aku terlanjur membuatmu pergi dari rumah dan terjadilah kecelakaan ini,” sesal Matteo kemudian. “Seandainya saat itu .…” ia tak melanjutkan kata-katanya dan malah merekatkan keningnya pada kening Mia. “Maafkan kebodohanku,” bisiknya.


Mia terdiam beberapa saat. Ia sedang mencerna semua yang telah diutarakan oleh Matteo. Petuah Damiano juga turut serta mempengaruhi pikirannya kini. “Aku percaya padamu, Theo. Aku tak ingin menjadi penghalang bagi perkembangan organisasi dan juga bisnismu. Aku ingin selalu menjadi pendukung utama dalam setiap langkahmu Jadi, kau tidak perlu menghentikan kerja sama kalian,” putus Mia pada akhirnya.


“Aku tak ingin membuatmu terluka lagi,” Matteo menggelengkan kepala pelan.


“Aku tidak merasa sakit ataupun terluka, Theo. Aku sepenuhnya baik-baik saja,” Mia tertawa pelan seraya mengecup pipi Matteo. “Aku baik-baik saja selama ada kau di sisiku,” jemarinya menyusuri rahang tegas Matteo dan bermain-main di dagunya.


“Aku akan selalu berada di sisimu, Cara mia,” Matteo meraih jemari itu dan mengecupnya. “Apakah ada lagi yang kau inginkan?” tanya Matteo. Sepasang mata abu-abunya menatap lekat wajah Mia. Tatapan yang akan selalu menjadi sebuah obat rindu bagi Mia.


“Sebenarnya, aku ingin .…” Mia tak melanjutkan kata-katanya. Wajah polos wanita itu tampak ragu.


“Tidak apa-apa, Mia. Katakan saja apapun yang ada dalam pikiranmu,” desak Matteo.


“Seandainya memungkinkan, aku ingin agar kau berhenti dari dunia hitam dan menjalani kehidupan rumah tangga kita layaknya pasangan normal,” jawab Mia diiringi sebuah de•sah napas pelan. Ia ragu apakah Matteo akan menerima permintaannya atau tidak.


Matteo terus menatap Mia, ia kemudian tersenyum. "Akan ada waktunya, Mia," jawabnya pasti.

__ADS_1


__ADS_2