
Mia terus melayangkan tatapannya kepada Matteo. Di satu sisi ia merasa takut. Akan tetapi, di sisi lain ia merasa iba dengan keadaan pria itu, terlebih dialah yang telah membantu mengeluarkan peluru dari lengannya.
“Mia! Apa kau masih di situ, Nak?” terdengar kembali suara Mr. Gio di ujung telepon dengan suara yang masih terdengar cemas.
Mia tersadar. Ia kembali mengalihkan pandangannya dari Matteo yang saat itu masih duduk bersandar pada dinding seraya memejamkan kedua matanya. “I-iya, ayah. Aku akan pulang sebentar lagi. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaannku. Ayah tidak usah khawatir! Aku akan baik-baik saja,” ujar Mia mencoba menenangkan sang ayah. Ia juga tengah berusaha untuk menenangkan dirinya.
“Ya, sudah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu agar bisa cepat pulang. Sampai nanti, Yah,” Mia menutup sambungan teleponnya.
Untuk sesaat, gadis itu terpaku dan mulai berpikir. Ia kembali menoleh ke arah Matteo. Ada perasaan lain yang tiba-tiba menggerakan Mia dengan begitu saja. Ia pergi ke dapur dan mulai memasak sesuatu. Hingga beberapa saat ia menghabiskan waktunya di dalam dapur yang tidak terlalu luas itu. Setelah itu, Mia kembali dengan sepiring spaghetti. Ia pun duduk di dekat Matteo.
“Tuan, bangunlah! Makanlah dulu!” terdengar suara Mia begitu lembut di telinga Matteo. Pria dengan rambut gondrong yang sedikit acak-acakan itu, akhirnya membuka matanya. Ia menatap Mia dengan sepasang warna abu-abunya yang bersinar dan begitu menggetarkan hati Mia.
Matteo kemudian mengalihkan pandangannya pada makanan yang dihidangkan oleh Mia.
“Hanya ini yang paling praktis dan tidak memakan banyak waktu. Kau pasti sudah sangat lapar, kan?” Mia memberanikan diri untuk menatap Matteo yang saat itu kembali menatapnya. Namun, Mia tidak mampu terlalu lama melakukan hal itu. Akhirnya, ia kembali menyembunyikan wajah cantiknya.
“Apa kau sudah makan, Mia?” tanya Matteo dengan suara beratnya.
Mia tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. “Aku membuatkan ini untukmu,” ucap gadis itu lagi. Matteo kemudian meraih piring tersebut. Dengan segera ia menyantap makanan itu. Sementara Mia masih tertunduk di dekatnya.
“Apa yang tadi adalah ayahmu?” tanya Matteo. Ia mencoba untuk berbasa-basi, terlebih karena dilihatnya Mia begitu tegang.
__ADS_1
Gadis berkuncir kuda itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan. Sementara Matteo kembali menyantap makanannya. Ia terlihat sangat kelaparan.
“Boleh aku tahu kenapa kau bisa tertembak, Tuan?” tanya Mia dengan tiba-tiba, membuat Matteo seketika tersedak. Pria itu batuk-batuk. Mia segera menyodorkan sebotol air mineral untuknya.
Mia memerhatikan pria yang tengah meneguk air dari dalam botol itu hingga hampir habis. Ia patut merasa curiga, berhubung ciri-ciri yang ayahya katakan sama persis dengan pria yang ada di hadapannya.
Matteo menutup kembali botol air mineral itu. Ia lalu terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan gadis itu. “Aku seorang wisatawan yang berasal dari Brescia. Ini adalah hari tersial dalam hidupku. Aku dirampok dan hampir mati terbunuh. Aku merasa beruntung karena langkah kakiku ternyata membawaku kemari. Kepadamu, Mia,” tutur Matteo dengan kata-katanya yang terdengar sangat meyakinkan.
Mia masih terus memberanikan dirinya untuk menatap Matteo. Kenapa ia begitu tertarik dan merasa jika dirinya telah mengenal dekat pria itu? Perlahan rasa takut dan segala kecemasan yang sejak tadi menyelimuti dirinya mulai memudar. Mia kini merasa jauh lebih rileks, meski masih ada rasa tidak nyaman di dalam hatinya. Semua itu terjadi karena cara Matteo menatapnya yang membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Tatap mata pria itu memang tidak terlihat nakal ataupun mesum. Sorot mata yang ditujukan Matteo justru begitu tajam dan membuat Mia merasa sedikit terintimidasi. “Apa yang dikatakan oleh ayahmu tadi?” tanya Matteo. Entah ia merasa ingin tahu atau hanya sekadar basa-basi saja.
“Tidak ada. Seharusnya saat ini aku sudah berada di rumah. Ia hanya menanyakan keberadaanku,” jawab Mia. Ia tidak sepenuhnya berkata jujur kepada Matteo.
“Jadi, kedai ini milik ayahmu?” tanya Matteo.
Mia mengangguk pelan. Namun, ia tetap tidak memerlihatkan wajahnya. Gadis itu tak kuasa jika harus terus beradu pandang dengan Matteo.
“Apa kau menjaga kedai ini seorang diri?” tanya Matteo lagi.
Kali ini, Mia menggelengkan kepalanya. “Aku biasa menjaga kedai ini berdua dengan ayahku, tapi ia harus pulang lebih awal karena ibu tiriku sedang sakit. Jadi, aku terpaksa di sini sendirian,”jelas Mia.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan besok? Apa ayahmu akan datang kemari?” tanya Matteo lagi dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
“Entahlah. Mungkin ia akan melihat kondisi ibu tiriku terlebih dahulu. Memangnya kenapa, Tuan?” Mia balik bertanya.
Matteo tidak segera menjawab. Ia hanya terdiam dan berpikir. Tentu saja, tidak boleh ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya di sana, selain Mia. Namun, Matteo merasa bingung bagaimana cara menjelaskan hal itu terhadap gadis yang telah sangat membantunya.
“Aku tidak ingin jika ayahmu sampai mengetahui keberadaanku di sini. Tolonglah Mia, bantu aku untuk kali ini! Aku berjanji akan membalas semua kebaikanmu padaku,” pinta Matteo dengan penuh harap. Akan tetapi, ia tidak memerlihatkan ekspresi yang terlalu berlebihan. Garis mukanya masih tampak datar dan tegas, menunjukkan seberapa serius dirinya.
“Kenapa kau harus takut dengan ayahku?” tanya Mia dengan tidak mengerti. “Ayahku adalah pria yang sangat baik. Ia pasti bersedia membantumu mencarikan tempat yang nyaman untukmu,” Mia seakan membantah apa yang ada di dalam pikiran Matteo saat itu, meskipun pria itu belum berkata apa-apa. Namun, Mia sepertinya telah dapat menebak apa yang tengah Matteo pikirkan.
Matteo menggelengkan kepalanya. Ia tidak setuju dengan ucapan Mia. Bagaimanapun juga, tidak boleh ada yang mengetahui pelariannya. “Tidak, Mia!” sanggahnya dengan nada bicara yang sedikit tegas, membuat Mia mengernyitkan keningnya. “Sebelum lukaku benar-benar pulih, maka aku tidak ingin ada siapapun yang menemukan keberadaanku di sini!” lanjut Matteo seraya menyentuh punggung tangan Mia.
Mia menelan ludahnya sendiri ketika ia merasakan hangatnya telapak tangan Matteo di atas tangannya. Rasa hangat yang kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya dan menyatu dengan aliran darahnya, sehingga darahnya terasa berdesir dengan jauh lebih kencang. Mia juga merasakan jantungnya berdegub dengan dua kali lebih cepat dari detakan normalnya. Gadis itu tidak mengetahui pertanda apakah itu sebenarnya? Mia belum pernah merasakan hal seperti itu sebelumnya.
“Kalau begitu, kau harus pindah dari sini, Tuan! Ayahku pasti akan menemukan keberadaanmu jika kau berada di ruangan ini,” ujar Mia. Ia lalu berpikir kira-kira di mana dirinya akan menyembunyikan Matteo.
Pada akhirnya, Mia teringat akan sebuah tempat dari kedai itu yang jarang di datangi sang ayah, yaitu gudang tempat penyimpanan bahan makanan. Ya, tempat itu yang dirasa paling aman untuk Matteo.
“Aku tahu ke mana akan memindahkanmu, Tuan. Namun, kau harus memaksakan dirimu untuk berjalan sendiri, karena aku tidak akan mungkin sanggup memindahkan tubuhmu yang besar itu,” ucap Mia dengan polosnya dan membuat Matteo kembali tertawa pelan.
“Tenang saja, Mia!Lenganku yang terluka, bukan kakiku,” ucap Matteo dengan senyum simpulnya.
__ADS_1