Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
After War


__ADS_3

Matteo meninggalkan mayat Silvio dengan tali rantai yang masih menjerat lehernya. Pria tampan itu harus meregang nyawa dengan cara yang sangat mengenaskan.


 


Perhatian Matteo kini beralih pada Coco yang tergeletak tak berdaya dengan luka tembak di perut sebelah kirinya. Matteo mencoba untuk membuat pria itu agar tetap sadar.


 


"Coco, apa kau bisa mendengarku?" Matteo mendekatkan wajahnya ke telinga Coco. Perlahan Coco menggerakkan kepalanya. Ia juga membuka mata meskipun kondisinya terlihat tidak baik-baik saja.


 


"Tunggulah sebentar. Aku harus mengambil sesuatu dari dalam," ucap Matteo. Ia kembali berdiri dan meninggalkan Coco yang saat itu hanya mengangguk pelan.


 


Matteo kembali ke dalam kamar Silvio. Ia mengambil senjata miliknya dari sana. Setelah itu, ia kembali lagi ke halaman dan menghampiri Coco yang masih tak berdaya. Matteo membantunya untuk bangun. Ia memegangi senjata yang sempat dicuri oleh Silvio dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memapah tubuh Coco yang saat itu berjalan dengan sedikit terseok-seok. Darah pun terus mengucur dari lukanya. Coco meringis kesakitan. Namun, pria itu mencoba untuk tetap bertahan dan terlihat kuat.


 


Sesampainya di dekat mobil van, Matteo segera memasukan senjatanya. Sementara Coco berdiri sambil bersandar pada mobil berwarna putih itu. Wajahnya terlihat semakin pucat, terlebih karena ia sudah kehilangan banyak darah.


 


“Tenanglah, Sobat! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit,” ucap Matteo seraya membantu Coco masuk dan duduk. Sementara ia yang mengambil alih kemudi. Matteo segera menjalankan mobil dan mencari rumah sakit terdekat. Ia tidak peduli meskipun saat itu penampilannya terlihat lusuh. Matteo hanya membersihkan noda darah yang ada di wajahnya. Ia juga melepas jaketnya yang sudah mengalami robek di beberapa bagian.


 


Setelah beberapa saat, Matteo akhirnya menemukan sebuah rumah sakit. Ia segera memarkirkan mobil van yang dikendarainya di halaman parkir rumah sakit itu. Matteo bergegas membantu Coco untuk keluar dari dalam mobil. Ia juga memapah tubuh sahabatnya hingga tiba di lobi rumah sakit.


 


Begitu tiba di dalam, seorang petugas meghampiri mereka dan membantu Coco. Ia segera membawa Coco ke ruang tindakan untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sementara Matteo menunggu di luar sambil terus mondar-mandir tak jelas. Tidak berselang lama, seorang wanita berpakaian dokter datang menghampirinya. Ia mengatakan jika Coco harus segera dioperasi, karena luka tembaknya cukup parah.


 


Dengan yakin, Matteo menyetujui hal itu. Ia yang akan bertanggung jawab untuk segala urusan yang berkaitan dengan Coco. Matteo pun dipersilakan untuk mengurus segala prosedur yang harus ia penuhi sebagai penanggung jawab. Tidak ada apapun yang Matteo pikirkan saat itu, selain keselamatan dari sahabatnya. Ia akan melakukan apa saja asalkan Coco dapat segera melewati masa kritisnya.


 


Setelah mengurus segala hal yang berkaitan dengan urusan administrasi, Matteo kembali ke ruang tunggu dan duduk sendiri di sana. Cemas, ia menunggu tim dokter yang tengah melakukan tindakan operasi terhadap Coco. Ia duduk seraya membungkukan setengah badannya. Matteo merekatkan kedua telapak tangan di depan wajahnya yang sedikit menunduk. Ia berharap semoga Coco baik-baik saja.


 

__ADS_1


Matteo terus menunggu dengan sabar. Ia bahkan sempat tertidur sejenak, sampai seorang dokter yang bertanggung jawab untuk menangani tindakan operasi terhadap Coco, datang menghampirinya. Matteo segera menyambutnya dengan sebuah harapan yang besar.


 


“Bagaimana, Dokter?” tanya Matteo khawatir. Namun, meskipun ia sangat cemas, tetapi Matteo tidak menunjukkan ekspresi yang terlalu berlebihan di hadapan dokter itu.


 


“Operasinya berjalan dengan lancar. Kondisi tubuh sahabat Anda juga bagus. Namun, kami harus tetap mengobservasinya pasca operasi sebelum dipindahkan ke ruang perawatan,” jawab sang dokter dengan sikap ramahnya. “Baiklah, saya permisi dulu,” dokter itupun berlalu dari hadapan Matteo.


 


Lega rasanya perasaan Matteo kini. Ia sangat bersyukur karena Coco telah melewati masa-masa kritisnya. Matteo tidak ingin lagi menyeret orang-orang terdekatnya dalam bahaya. Hal seperti ini akan menjadi sebuah peringatan bagi dirinya.


 


Namun, Matteo kembali tersadar. Masalah yang terbesar justru baru akan ia hadapi setelah ini. Ia telah berhasil membalaskan dendamnya dengan melenyapkan Silvio. Matteo yakin jika tidak lama lagi Vincenzo Moriarty pasti akan datang untuk membuat perhitungan dengan dirinya.


 


Matteo harus segera membawa Coco kembali ke Brescia sebelum Vincenzo datang. Ia tidak bisa mengabaikan kondisi sahabatnya yang sedang terluka. Namun, Matteo juga harus memperingatkan Klan de Luca agar memperketat penjagaan di sekitar Casa de Luca.


 


Keesokan harinya, Coco sudah berada di ruang rawat inap. Kondisinya masih sangat lemah. Pria yang memiliki selera humor jauh lebih baik dari Matteo itu hanya terbaring tak berdaya dengan perut yang dibalut perban.


 


 


Matteo tersenyum simpul. Ia kemudian duduk di dekat tempat tidur Coco dan memerhatikan wajah sahabat yang telah berkorban banyak untuknya. Matteo akan selalu bersyukur karena memiliki sahabat seperti dirinya, meskipun Coco tak jarang bersikap sangat menyebalkan.


 


“Maafkan aku, Coco,” ucap Matteo pelan.


 


“Maaf untuk apa?” tanya Coco.


 


“Untuk hal buruk yang telah terjadi padamu. Aku sudah melibatkanmu terlalu jauh ke dalam urusanku, dan kau juga harus kehilangan gadismu. Aku sangat menyesalkan hal itu,” ucap Matteo datar. Matteo tampak kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya. Pria itu terlalu kaku. Ia bukanlah tipikal orang yang pandai menunjukkan apa yang sedang ia rasakan secara gamblang terhadap siapa pun.

__ADS_1


 


Coco memaksakan dirinya untuk tersenyum meski sesekali ia tampak meringis, karena efek obat bius yang telah hilang. Kini ia merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Namun, Coco tetaplah Coco. Ia masih menjadi pria yang lucu dan ramah, meskipun dalam keadaan yang sedang tidak baik sekalipun.


 


“Jangan berlebihan! Kau pikir aku akan tersentuh mendengar kata-katamu? Mintalah Giulio Berruti untuk mewakilimu dalam berakting,” celoteh Coco.


 


Matteo mengela napas dalam-dalam dan mengempaskannya perlahan. Ia kemudian beranjak dari duduknya. “Aku ingin mencari makanan terlebih dahulu. Sejak tadi aku menunggumu di luar ruang operasi. Kau ingin memesan sesuatu?”


 


Coco menatap sahabatnya. Ia menggeleng pelan.


 


“Apa dokter melarangmu makan sesuatu?”tanya Matteo lagi. Ia bersikap sangat perhatian terhadap Coco.


 


“Ya,” jawab Coco, “aku dilarang memakan capit kepiting,” ujarnya dengan begitu enteng. Jika sudah seperti itu, Matteo lebih memilih untuk tidak menanggapinya. Sambil mengeluh kesal, Matteo berlalu dari dalam kamar itu dan meninggalkan Coco sendirian.


 


Coco tesenyum kecil. Senyuman itu perlahan memudar ketika ia teringat pada sosok Lenatta. Ia tidak percaya jika wanita itu harus mati di tangannya.


 


Kedekatannya dengan wanita berkaki jenjang itu memang terbilang cukup intens. Coco pasti akan merasa sangat kehilangannya, terlebih pada kenyataannya ia memang menyimpan perasaan yang istimewa untuk wanita itu.


 


Namun, Lenatta ternyata lebih menjatuhkan pilihannya pada pria seperti Silvio. Ya, pada akhirnya mereka berdua tewas di tempat dan waktu yang sama. Mungkin saja, mereka akan melanjutkan kisah cinta keduanya di alam lain. Coco kembali tersenyum samar seraya menggelengkan kepalanya perlahan. Ia bersyukur, karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup.


 


Saat ini, Coco hanya ingin kembali ke Brescia dan melanjutkan hidupnya dengan normal. Setelah itu, ia juga berencana mengajak Matteo untuk meninggalkan dunia hitam. Sebagai sahabat dekat Matteo, Coco juga sangat mengkhawatirkan keselamatan pria itu. Ia hanya berharap, semoga Vincenzo Moriarty tidak melakukan hal yang mengerikan untuk membalaskan kematian adiknya.


 


Sementara itu di tempat lain.

__ADS_1


Kabar kematian Silvio langsung terdengar ke telinga Vincenzo yang saat itu tinggal di Florida, Amerika Serikat. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu tampak begitu terpukul dengan berita yang baru ia dengar.


Segera ia menyuruh anak buahnya untuk menyiapkan keberangkatannya menuju Italia. Vincenzo harus menghadiri acara pemakaman sang adik. Ia juga harus membuat perhitungan dengan siapa pun yang telah berani merenggut nyawa adik kandungnya. Vincenzo berjanji, ia tidak akan membiarkan orang itu hidup lebih lama.


__ADS_2