
Malam yang melelahkan telah berlalu. Silvio mulai membuka mata. Ia melirik Lenatta yang masih terlelap di sampingnya. Silvio tersenyum sinis. Sesaat kemudian, ia pun turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Sepeninggal Silvio, Lenatta segera membuka matanya. Dengan segera ia meraih pakaian dalam yang berserakan dengan begitu saja di atas lantai. Lenatta kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam bra miliknya. Benda yang tiada lain merupakan sebuah kamera pengintai dengan ukuran yang sangat kecil.
Lenatta segera menempelkan kamera kecil itu pada bingkai lukisan yang berada di atas tempat tidur Silvio. Ia memastikan kamera itu terpasang dengan sempurna dan aman agar tidak diketahui oleh Silvio.
Setelah terpasang, kamera itu terhubung pada layar yang kini tengah dipantau oleh Coco. Pria itu sendiri berada di dalam mobil yang ia sewa. Coco sengaja memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mansion milik Silvio.
Bagaimanapun juga, ia harus terus memastikan keamanan dan keselamatan Lenatta. Coco juga masih menunggu jadwal keluarnya para gadis dari mansion mewah itu. Tak lupa, pria itu terus memberi kabar kepada Matteo.
Siang yang cukup terik. Dari kejauhan, Coco melihat beberapa orang gadis keluar dari mansion. Mereka memasuki lima buah mobil yang berbeda. Coco tidak tahu Lenatta berada di mobil yang mana, tapi ia segera bersiap untuk mengikuti iring-iringan mobil mewah itu.
Coco terus mengikuti meskipun harus menjaga jaraknya. Ia baru berhenti ketika iring-iringan itu memasuki halaman parkir sebuah mall. Gadis-gadis itupun keluar dan mereka terlihat begitu riang. Saat itulah, Coco melihat Lenatta yang berjalan di antara para gadis dan beberapa bodyguard bersetelan hitam.
Diam-diam ia mengikuti mereka. Coco menunggu momen yang tepat untuk mendekati dan berbincang dengan Lenatta. Kesempatan itu datang saat Lenatta meminta izin kepada para bodyguard untuk pergi ke toilet.
Dengan berbekal kacamata hitam dan topi baseball, Coco setengah berlari menuju ke arah yang sama dengan Lenatta. Supaya tidak terlihat mencurigakan, Coco berpura-pura melihat pernak-pernik aksesoris di salah satu stand yang terletak di depan area kamar kecil. Dirasa tak ada orang yang mengawasinya, Coco segera memasuki toilet wanita itu dan membuka topi serta kacamatanya.
Di sana ia melihat beberapa orang pengunjung mall yang sedang bercengkerama di depan cermin wastafel. Salah satu dari mereka mengoleskan lipstik dan menata rambutnya. Mereka belum menyadari kehadiran seorang pria di sana hingga Coco mendehem pelan. Wanita-wanita itu menoleh kepadanya dengan raut keheranan.
“Maaf mengganggu waktu Anda semua. Saya telah menerima laporan bahwa ada tikus yang berkeliaran di toilet wanita ini,” ujarnya dengan tenang.
Sontak para wanita itu menjerit ketakutan. Mereka bergerombol dan saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1
“Jangan khawatir, le signore! Saya petugas cleaning service yang akan membereskan masalah ini. Harap Anda semua keluar dari sini. Biarkan saya bekerja,” ucap Coco.
Sambil berjinjit, para wanita itu berbondong-bondong keluar dari sana, sehingga Coco dapat leluasa untuk segera mengunci pintu toilet dari dalam.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi flush dan gerakan buru-buru dari seseorang yang membuka bilik kloset. Seseorang itu tidak lain adalah Lenatta. “Apakah benar ada tikus di sini?” tanyanya dengan wajah memucat.
“Tentu saja tidak, Sayangku. Itu hanyalah alasanku supaya aku bisa berbincang secara aman dan nyaman denganmu,” Coco terkekeh dan merengkuh tubuh indah itu.
“Kau selalu saja usil,” sungut Lenatta seraya memukul pelan dada bidang Coco hingga pria itu sedikit menjauh.
“Jadi, bagaimana hari pertamamu?” tanya Coco tanpa basa-basi.
“Menyenangkan!” seru Lenatta penuh semangat. “Silvio Moriarty jauh lebih tampan dari fotonya. Ia juga begitu hebat di ranjang. Sepertinya, aku mulai menyukainya,” celotehnya.
“Tenanglah, Sayang. Aku hanya bercanda,” Lenatta mendorong pelan tubuh tegap Coco dan membelai rahang tegasnya, dengan harapan agar emosi pria itu dapat luluh.
“Aku sempat memeriksa tiap sudut kamar, tapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Mungkin kamera mini itu nanti bisa mengungkapkan sesuatu,” Lenatta mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Semoga saja,” Coco kembali mendekat pada Lenatta sembari menyeringai. “Tunjukkan pesonamu, la mia bella ragazza! Carilah sebanyak mungkin informasi tentang Silvio! Apa saja kegiatan, kelemahan, dan kapan ia terlepas dari para pengawalnya,” lanjut Coco seraya mencuri ciuman dari bibir sensual itu.
“Serahkan semuanya padaku, bello,” Lenatta mencolek ujung hidung mancung Coco dan berusaha lolos dari dekapan Coco. Gadis itu melangkah dengan gemulai ke arah pintu keluar toilet. “Kau mulai sedikit posesif. Seperti bukan dirimu,” protesnya dengan nada pelan.
“Sekarang buka pintunya!” pinta Lenatta sambil mengarahkan dagunya pada pegangan pintu.
__ADS_1
Coco tersenyum samar dan menuruti permintaan Lenatta. Wanita itu keluar lebih dulu dan bersikap biasa saja agar tidak tampak mencurigakan.
Sementara Coco menunggu beberapa saat di dalam toilet, sebelum akhirnya ia buru-buru keluar menuju basement mall di mana ia memarkir mobil vannya.
Mobil van itu penuh dengan alat pengintaian. Beberapa layar monitor berukuran kecil, mikrofon dan kamera video yang tersambung dengan drone yang juga sudah siap di sampingnya. Salah satu layar monitor itu terhubung dengan kamera pengawas mini yang sudah Lenatta letakkan di lukisan yang terpajang di kamar Silvio.
Coco mengaktifkan monitor itu dan melihat suasana terkini di dalam kamar mewah Silvio. Namun, tak terlihat ada aktivitas apapun di sana, selain beberapa orang pelayan yang tampak sedang membersihkan kamar.
Kamera mini milik Coco adalah kamera pengintai jenis terbaru yang berhasil dimodifikasi oleh Matteo, sehingga lensanya bisa digerakkan 180 derajat. Coco cukup menekan tombol panah di remote kamera yang sekarang berada di tangan kirinya.
Dengan sabar, Coco mengamati setiap sudut ruangan itu hingga satu jam telah berlalu. Kegigihannya pun membuahkan hasil. Silvio terlihat memasuki kamar mewahnya bersama beberapa orang berpakaian rapi. Ia tampak berbincang-bincang untuk beberapa saat.
Setelah itu, Silvio merogoh sesuatu dari dalam saku celananya, seperti sebuah remote. Ia menekan tombolnya, kemudian dinding yang berada di depan ranjang Silvio mulai bergeser ke samping.
Sebuah ruangan rahasia tampak dari sana. Silvio masuk ke dalamnya beserta beberapa orang temannya dan dinding itu kembali tertutup.
Entah apa yang pria itu lakukan di dalam sana.
Coco pun tertawa lebar. Ia begitu bangga dengan hasil penemuannya hari ini. Ia tinggal menghubungi Lenatta dan menyuruhnya untuk mencuri alat itu. Dengan begitu, Matteo nantinya akan dapat masuk ke sana.
Pria itu bergegas keluar dari dalam van dan kembali memasuki area mall. Dalam hati, ia berharap semoga Lenatta masih belum pergi dari sana. Tuhan berbaik hati kepadanya saat itu. Coco tak perlu bersusah payah mencari Lenatta. Gadis dengan penampilan mencoloknya yang menarik perhatian banyak pasang mata itu, masih asyik menikmati minumannya di salah satu café yang terletak tak jauh dari basement.
Coco sudah hendak mendekatinya, ketika tiba-tiba beberapa bodyguard datang dan menyeret Lenatta dan beberapa teman barunya secara paksa.
__ADS_1