
Matteo mendengarkan khotbah dengan seksama sebelum peti mati itu diturunkan. Ia berada pada posisi paling dekat dengan liang lahat. Sedangkan Antonio dan Marco memilih berdiri di dekat Damiano, pada barisan tengah para pelayat.
Khotbah dari Pastor itu menjelaskan tentang kehidupan dan kematian dalam sudut pandang agama. Sejujurnya, selama ini ia tidak memedulikan masalah agama, karena apa yang ia lakukan selama hidup sangat jauh dari apa yang pastur itu jelaskan.
Lagi-lagi, angannya berputar kembali pada Mia. Beberapa hari yang lalu, Mia memiliki raut kesedihan yang sama dengan dirinya saat ini. Matteo tersenyum pilu, ternyata begini rasanya ketika peti mati itu mulai tertutupi oleh tanah. Setitik air mata menetes, mengenai janggut tipisnya yang selama beberapa minggu terakhir ini tak sempat ia rapikan, begitu juga rambut gelapnya yang semakin memanjang. Perlahan ia menyugar rambut, lalu menyisirnya ke belakang.
Apapun ia lakukan untuk mengalihkan kesedihan.
“Aku turut berduka,” bisik seorang gadis yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Matteo. Gadis itu tersenyum manis seraya menyentuh lembut bahu Matteo.
Matteo menoleh untuk sesaat, sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada peti mati yang mulai tak terlihat. “Grazie, Camilla,” jawabnya singkat dan dingin.
“Mereka adalah orang-orang yang baik,” ucap gadis itu, mengikuti arah pandangan Matteo.
“Ya, aku tahu,” Matteo yang terlihat tidak nyaman. Ia juga merasa sedikit terganggu. Matteo memajukan langkahnya sehingga bisa melihat dengan jelas sebagian kecil peti mati yang masih terlihat.
“Bersabarlah, Tuan Muda. Jalan yang harus Anda tempuh masih panjang. Jangan terlalu larut dalam kesedihan. Tuhan akan selalu bersama Anda,” pastor yang menyampaikan khotbah dan memimpin doa tadi sudah berdiri di hadapan Matteo. Matteo menoleh dan mengangguk pelan. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.
Damiano yang sedari tadi terisak di antara pelayat, kemudian maju mensejajari Matteo dan memberikan kepadanya beberapa benda peninggalan milik Gabriela. Sebuah scarf bermotif dari rumah mode ternama, bros mawar dengan batu permata dan setangkai mawar merah, bunga kesukaan ibunya. Semuanya memiliki kenangan tersendiri bagi Matteo.
Matteo ingat, jika dirinya dulu sering bermain dengan scarf hijau kesayangan ibunya. Saat itu ia masih anak-anak dan menggunakan scraft itu sebagai ikat kepala. Bros itu juga pernah ia sembunyikan di bawah bantal. Setengah mati Gabriella mencari, hingga Matteo tak tega dan menunjukkan di mana ia menyembunyikan benda tersebut. Matteo pun masih ingat dengan perkataan ibunya kala itu, “Jangan sembunyikan benda ini, Theo! Jika kau menyukainya, aku akan memberikannya padamu saat kau dewasa nanti. Aku juga berharap kau akan memberikannya pada gadis yang kau cintai.” suara lembut Gabriella kembali terngiang di telinganya.
Sungguh kebersamaan yang terlalu singkat antara Matteo dan kedua orang tuanya. Sesak dan nyeri di dada makin tak mampu ia tahan. Segala sesuatunya terasa sangat berharga, ketika hal itu sudah tak lagi ada. Dalam keadaan seperti ini, barulah Matteo menyadari betapa ia sangat mencintai ayah dan ibunya.
__ADS_1
Segera Matteo menyentuh sudut matanya dan mendekati liang lahat. Ia melemparkan scarf hijau dan setangkai mawar ke atas tanah. Akan tetapi, bros itu ia genggam dan ia masukkan ke dalam saku. "Bawalah itu bersamamu, Ibu," gumam Matteo pelan, di sela-sela rasa duka dalam hatinya.
“Kenapa tidak kau lemparkan bros itu, Nak?” tanya Damiano.
Matteo menggeleng dan tersenyum kelu. “Aku akan memberikannya pada seseorang, jika suatu saat nanti takdir kembali mempertemukan kami,” jawabnya sambil berlalu meninggalkan Damiano yang tercenung sendirian.
Di ujung jalan setapak pemakaman, tampak Camilla gadis yang tadi sempat menyapanya, sedang berbicara serius dengan Coco. Matteo pun berjalan tenang ke arah mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kukira kau masih di Venice,” ujarnya pada pria bermata coklat terang itu.
“Mia sudah aman, Amico. Tak terlihat sedikitpun hal yang mencurigakan sebelum aku datang kemari,” terang Coco.
Sementara Camilla mulai merasa tidak nyaman dengan topik pembicaraan dua pria tampan itu. “Mia? Siapa dia? Apa yang sudah aku lewatkan selama beberapa bulan terakhir ini?” tanyanya penasaran.
Matteo tak memedulikan pertanyaan Camilla. Ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Damiano. “Apa kalian mau pulang bersamaku?” tawar Matteo.
Camilla tertawa kecil mendengarnya. Ia lalu menggeser duduknya hingga lengannya dan lengan Matteo saling bersentuhan. “Ke mana saja kau, Theo? Kenapa kau tidak pernah menemuiku lagi?” tanya Camilla. Gadis dengan wajah khas Italia itu mulai berbasa-basi.
“Aku sangat sibuk,” jawab Matteo. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela seraya menopang dagu. Terlihat jelas gelang paracord yang pernah ia berikan untuk Mia di malam itu. Gelang itu kembali melingkar di pergelangannya.
Camilla nyaris kehilangan kata-kata. Ia tak tahu lagi harus melontarkan kalimat apa jika Matteo sudah bersikap seperti itu. Bagaimanapun juga, Camilla adalah gadis yang cukup mengenal Matteo, mengingat kebersamaan mereka yang cukup intens dulu, jauh sebelum Matteo bertemu dengan Mia.
Coco lagi-lagi harus menahan tawa saat melihat adegan di hadapannya itu. Secara fisik, Camilla Rosetti sangat jauh di atas rata-rata. Paras gadis itu sungguh cantik dan menawan. Bentuk tubuhnya bagaikan gitar spanyol yang membuat mata pria manapun tak akan berkedip. Namun, lihatlah nasibnya kini. Ia diabaikan oleh seorang Matteo.
“Kau tahu makna dari nama Mia? Mia adalah bintang di lautan. Ia bagaikan batu permata murni yang belum dipoles. Namun, ketika ia sudah berada di tangan yang tepat, sinarnya akan mengalahkan semua keindahan,” sindir Coco yang segera mendapat tendangan di tulang kering oleh Matteo. Sementara Coco, lagi-lagi pria rupawan itu hanya tergelak. Entah mengapa karena Coco senang sekali menggoda sahabatnya itu.
__ADS_1
“Nama itu lagi? Aku jadi penasaran. Apakah ia salah satu gadismu yang baru, Theo?” selidik Camilla yang lagi-lagi tak mendapat respon dari Matteo. Camilla menatap Matteo dengan penuh harap. Rasa penasaran mulai menggelitik hatinya.
“Jangan lupa, besok akan ada rapat penting anggota organisasi. Aku harap kau tidak untuk terlambat hadir. Kau harus menemaniku,” ujar Matteo kepada Coco. Ia segera mengalihkan arah pembicaraan. Matteo tak ingin terus mengingat nama Mia, karena beberapa minggu lagi gadis itu akan menjadi milik pria lain. Ia harus belajar untuk menerima kenyataan dari keputusan yang telah diambilnya. “Acaranya akan dilanjutkan dengan pelantikan pada malam harinya,” imbuh Matteo.
“Siapa yang akan dilantik?” Camilla tak putus asa untuk ikut masuk dalam pembicaraan kedua pria itu. Ia sepertinya sangat berharap agar Matteo memberikan sedikit perhatian dan dapat kembali dekat dengannya seperti dulu.
“Tentu saja Matteo," jawab Coco dengan bangga. "Ia akan menjadi penerus Klan de Luca yang baru,” lanjut pria itu seraya mengalihkan pandangannya pada Matteo yang lebih memilih untuk kembali menatap ke luar jendela.
Mata biru Camilla seketika berbinar. Senyuman manis pun terlukis dari bibir indah nan penuh miliknya. “Aku turut bahagia untukmu, Theo. Semoga kau bisa membawa nama besar de Luca dengan baik,” ucapnya seraya menyentuh tangan kiri Matteo yang saat itu ia letakan di atas pahanya.
Matteo menoleh sesaat. Akan tetapi, ia hanya menanggapi ucapan selamat dari Camilla dengan sebuah angggukan. Matteo tampak sangat tidak bersemangat. Ia hanya ingin segera tiba di Casa de Luca dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Setelah itu, ia akan tidur hingga pagi menjelang.
Setelah sebelumnya mengantarkan Camilla pulang, akhirnya mereka tiba di Casa de Luca. Matteo segera melakukan apa yang sudah menjadi niatnya sejak tadi. Ia segera memasuki kamar tanpa memedulikan lagi sekelilingnya. Tanpa diminta, Coco mengikuti Matteo. Namun, ia memilih memasuki kamarnya yang terletak di samping kamar Matteo.
Matteo segera melepas mantel hitam yang ia kenakan dan melemparnya ke atas kursi yang terletak di sudut ruangan. Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tatapan mata abu-abunya terlihat menyimpan banyak beban yang sudah harus ia pikul, bahkan sebelum dirinya naik tahta. Namun, tekad Matteo sudah bulat. Ia akan melakukan semua hal yang menjadi tanggung jawabnya.
Hi, para pecinta Matteo. Nih, ceuceu othor kasih rekomendasi novel keren, jangan lupa untuk mampir dan berikan dukungannya ya. Grazie😘😘
__ADS_1