Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
A Threat


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Coco kembali ke apartemen Francesca, terjadi perbincangan panas antara gadis itu bersama sang kekasih, Fillipo. Dengan kasar, pria bertubuh jangkung itu mengempaskan tubuh Francesca ke sofa. Pria itu terlihat sangat marah. Raut mukanya tak bersahabat dengan mata melotot sempurna. Ia seperti bola api yang siap menggelinding ke mana saja, dan membakar apapun yang dilewatinya.


“Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, Francy! Kenapa kau masih tetap membangkang?” bentaknya. “Sudah kukatakan jika aku tak akan tinggal diam, selama kau masih menjalin kedekatan dengan pria itu!” bentaknya lagi. Sementara Francesca hanya menunduk sambil terisak pelan.


“Jangan menangis di hadapanku! Kau pikir aku akan merasa terenyuh karena air matamu? Dasar gadis murahan!” Fillipo tak henti-hentinya membentak Francesca yang saat itu tak berani melawan sama sekali.


“Dengarkan aku, Sayang! Kariermu ada di tanganku. Semua yang telah kau raih selama ini, bisa kuhempaskan dengan sangat mudah! Aku bisa saja membocorkan skandal perselingkuhan yang kau lakukan ini! Jika orang tuaku sampai mengetahui kelakuan busukmu, maka dengan mudah aku akan meminta mereka memberikan tanda hitam untukmu! Kariermu akan hancur seketika, terlebih karena aku juga masih menyimpan rekaman video pada pesta malam itu. Jadi, sekali lagi aku peringatkan padamu, jangan berani macam-macam denganku!” ancam Fillipo dengan tegas. “Sejujurnya, kau terlalu manis untuk kusakiti. Jadi, aku tak ingin melakukan hal itu. Namun, aku tekankan padamu, pikirkanlah baik-baik semua risiko yang akan kau terima!” setelah itu Fillipo kemudian beranjak ke pintu.


"Bagaimana kau bisa mengetahui jika aku tengah bersamanya?" tanya Francesca pelan di sela isakannya.


Fillipo tertawa puas. Ia kembali mendekat kepada Francesca yang masih terduduk di sofa. "Aku mungkin tidak mengawasimu setiap waktu, tapi mataku ada di mana-mana! Beruntung karena aku sangat tergila-gila padamu. Karena itu, aku hanya akan memberikan hukuman yang ringan. Lagi pula, aku yakin jika teman-temanku pasti sudah menghabisi selingkuhanmu bodohmu itu,” ujar Fillipo lagi dengan entengnya. Tak terlihat ada rasa bersalah sama sekali pada raut wajahnya. Ia justru tampak begitu puas. Sementara Francesca menatap pria itu dengan tajam dengan matanya yang basah. Ia tak peduli meskipun maskara yang dipakainya saat itu luntur dan meleleh.


Francesca sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Fillipo setiap kali pria itu marah kepadanya. Ia akan dikunci selama beberapa hari di dalam apartemen, dan tak boleh keluar sama sekali. Namun, untuk kali ini rasanya Francesca tak bisa tinggal diam. Lagi pula, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Coco.


Setelah memastikan bahwa Fillipo sudah benar-benar pergi dari sana, Francesca segera merogoh ponsel dari tasnya. Ia mencoba untuk menghubungi Coco. Akan tetapi, meskipun sudah dicoba berkali-kali, tetap saja panggilannya tak tersambung. Keresahan pun semakin melanda hatinya. Francesca berdiri dan mulai mondar-mandir dengan gelisah, sambil terus menggenggam ponselnya. Ia mencoba untuk berpikir dan bersikap tenang. Ia harus mencari cara agar dapat segera keluar dari apartemennya.


Sementara itu, Coco telah tiba di apartemen Mia dengan wajah yang babak belur. Setelah masuk, ia mengempaskan tubuhnya di sofa. Duduk bersandar dengan kepala mendongak ke langit-langit ruang apartemen itu. Coco tidak mempedulikan rasa sakit di wajahnya. Saat itu, ia seakan malas untuk memikirkan apapun. Kembali ke Brescia dengan segera, mungkin akan jauh lebih baik baginya.


Sesaat kemudian, Daniella muncul dari dapur dengan membawa secangkir kopi. Ia begitu terkejut karena mendapati Coco yang tiba-tiba berada di sana. “Astaga! Kau membuatku terkejut!” pekiknya pelan. Hampir saja ia melemparkan cangkir berisi kopi yang sedang dipegangnya kepada Coco. Namun, rasa terkejutnya kini makin bertambah. Ia semakin terbelalak ketika melihat kondisi Coco yang sangat kacau.


“Ya, Tuhan! Apa yang terjadi padamu?” Daniella segera menghampiri Coco dan duduk di dekatnya. Ia mengamati wajah lebam pria berambut cokelat itu dari jarak yang sangat dekat. “Siapa yang telah membuatmu babak belur seperti ini, Ricci?” tanya gadis itu lagi.


“Siapa lagi jika bukan kekasih adikmu,” sahut Coco dengan malas.


“Fillipo?” Daniella mengernyitkan keningnya. “Bagaimana bisa Fillipo membuatmu babak belur seperti ini?” ujarnya tak percaya.

__ADS_1


“Kekasih adikmu menyuruh teman-teman berandalannya untuk memukuliku. Sialan!” gerutu Coco dengan nada begitu jengkel.


“Ya, Tuhan. Sebentar, akan kuambilkan obat luka,” Daniella kemudian beranjak dari duduknya. Ia menuju ke tempat di mana terdapat kotak P3K tersimpan. Selain itu, ia juga membawa baskom berisi air hangat untuk membersihkan darah di wajah Coco yang sudah mulai mengering.


“Kemarilah, kubantu kau mengobati lukamu,” Daniella membalikkan tubuh Coco sehingga menghadap padanya. Sementara Coco pasrah saja. Ia sedang malas bicara atau melakukan apapun.


Sementara di tempat lain, Matteo dan Mia masih duduk menikmati suasana club yang makin malam semakin ramai. Adriano pun kini telah kembali ke ruangan VIP itu dan duduk di antara mereka berdua. “Maaf menunggu lama,” ucapnya dengan sikap yang terlihat begitu tenang. Seperti biasa, ia duduk sambil meletakan kaki kanan di atas paha sebelah kirinya. Sementara tatapannya sesekali tertuju kepada Mia yang saat itu masih merasa aneh karena tidak terbiasa dengan suasana hingar-bingar club malam seperti itu.


“Apa Anda menyukai suasana di sini, Nyonya de Luca?” tiba-tiba Adriano mengajukan pertanyaan yang dikhususkan kepada Mia, membuat wanita cantik berbaju hitam itu segera menoleh dan tersenyum.


“Sejujurnya jika ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi club malam. Aku tidak tahu jika ternyata suasananya sangat berisik seperti ini,” ujar Mia. Ia seperti tengah mentertawakan kepolosannya sendiri.


Adriano tersenyum kalem tanpa melepaskan tatapan penuh kekagumannya dari sosok Mia, terlebih ketika ia mengetahui jika Mia ternyata bukanlah seorang wanita yang akrab dengan dunia malam. Kekaguman itu semakin bertambah dalam dirinya. “Luar biasa sekali. Lalu, bagaimana Anda bisa bertemu dengan Tuan de Luca?” tanya Adriano lagi. Ia terus mencoba untuk mengakrabkan dirinya. Sementara Matteo sudah semakin kepanasan karena sikap manis Adriano terhadap Mia.


“Apakah kami diundang kemari hanya untuk diwawancarai tentang masalah pribadi seperti ini?” sela Matteo dingin, membuat Mia hanya dapat mengusap keningnya beberapa kali.


“Ya, setidaknya aku tidak merasa menyesal karena telah membuang beberapa menitku yang berharga dengan hanya duduk di tempat ini,” ujar Matteo masih dengan nada bicaranya yang sangat dingin. Matteo tak ingin banyak berbasa-basi dengan pria yang menurutnya sangat menyebalkan tersebut.


Adriano tertawa pelan. “Tentu saja, Tuan de Luca. Aku tahu kau orang yang sibuk. Jadi, mari langsung saja pada pembahasan rencana kerja sama yang akan kita lakukan,” ucap Adriano. Ia melirik Mia untuk sesaat, setelah itu kembali mengarahkan tatapannya kepada Matteo.


“Aku sudah membuka beberapa club di Italia. Salah satunya adalah di sini, di Milan, dan juga beberapa kota besar lainnya. Aku sudah mendengar tentang kualitas anggur yang diproduksi oleh keluarga de Luca. Du Fontaine, sangat terkenal, dan aku rasa minuman sekelas itu harus ada di club milikku,” Adriano mulai menuturkan niatnya.


“Baiklah. Lalu?” Matteo menanggapi penuturan Adriano dengan begitu dingin dan seakan tak tertarik sama sekali. Mia dapat merasakan hal itu dengan jelas. Disentuhnya paha Matteo dengan lembut hingga pria itu menoleh kepadanya. Mia pun tersenyum manis. Itu merupakan sebuah isyarat agar Matteo dapat mengendalikan dirinya, dari segala kemarahan yang ia rasakan akibat dikuasai rasa cemburu yang berlebihan terhadap Adriano. Mia hanya ingin menunjukkan kepada sang suami, bahwa dirinya masih duduk manis dan setia di dekat pria tersebut.


Matteo mengembuskan napasnya dengan kasar. Jika sudah begitu, ia tak akan bisa menolak keinginan istrinya. “Kami bisa menyuplai anggur sebanyak yang Anda inginkan. Produksi kami selalu berlebih setiap bulannya,” nada bicara Matteo mulai melunak. “Anda kirimkan saja proposalnya ke email Damiano. Dari situ, kami bisa mempelajari keinginan dan kebutuhan Anda,” sambungnya kemudian.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu. Aku akan segera menyusun proposal kerja sama kita. Aku sungguh bersemangat dan tak sabar untuk memulai proyek ini,” tutur Adriano. Mata biru lautnya terlihat berbinar. “Aku juga memiliki apartemen di Milan. Itu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Aku bisa melihat ke perkebunan dan pabrik pembuatan anggur Anda, kapanpun aku mau,” lanjutnya.


“Melihat anggur atau Mia?” sindir Matteo tajam dan terlontar begitu saja.


Spontan, Mia mendaratkan cubitannya di paha suaminya itu, membuat Matteo sedikit meringis kesakitan. “Maafkan suamiku, Tuan ....”


“Ah, jangan panggil aku Tuan. Cukup Adriano saja,” potong pria rupawan itu sebelum Mia menyelesaikan kalimatnya.


“Maafkan suamiku, Adriano. Theo hanya terlalu lelah setelah melakukan perjalanan jauh, terlebih karena kondisinya masih belum pulih benar,” jelas Mia seraya tersenyum dan memamerkan lesung pipinya kepada Adriano.


“Tenang saja, Nyonya de Luca. Aku sepenuhnya dapat mengerti akan hal itu. Pasti rasanya membosankan ketika pergerakan kita menjadi terbatasi," ujar Adriano seraya melirik Matteo yang saat itu menatapnya dengan tajam.


"Tidak masalah untukku, karena sedikit banyak aku dapat mengetahui karakter Tuan de Luca secara langsung, bukan hanya dari beberapa kenalanku saja,” sambil berkata demikian, Adriano tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari wajah cantik Mia. Ia bahkan terlihat menarik napas panjang berkali-kali.


“Sekarang kau merasakan jantungmu berdebar, hah? Setelah itu apa? Kau akan mengucapkan kata cinta pada istriku, karena itu juga yang kurasakan dulu ketika pertama kalinya bertemu dengan Mia,” sela Matteo yang lagi-lagi tidak dapat mengendalikan emosinya. Sebagai seorang pria, ia paham benar arti tarikan napas Adriano tersebut.


“Theo!” sentak Mia dengan muka merah padam. Dalam semalam, entah sudah berapa kali sikap Matteo yang membuatnya gerah. Sedangkan Matteo cukup terkejut dengan nada suara tinggi yang dilontarkan oleh Mia untuknya. Napas Matteo makin memburu, tanda ia tak mampu meredam gejolak di dalam dadanya.


“Kita lanjutkan pembicaraan ini via telepon saja, Tuan D’Angelo. Sekarang sudah terlalu malam, sudah waktunya istriku dan aku untuk beristirahat,” Matteo berdiri dan menarik paksa Mia dengan tangan kirinya. Tak lupa, ia memaksa Mia untuk memakai mantelnya kembali, kemudian berjalan tergesa-gesa meninggalkan ruangan VIP dan juga Adriano yang saat itu hanya mampu memandang dengan penuh keheranan. Sesaat kemudian, tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya.


🍒


🍒


🍒

__ADS_1


Hai, semua. Ceuceu coming, bawa novel seru untuk menemani reader sambil menunggu Matteo up lagi. Jangan lupa untuk mampir ya🤗



__ADS_2