Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Un Avvertimento


__ADS_3

Sesaat setelah semua orang pulang menuju Brescia, Daniella mulai membereskan apartemennya dan bersiap berangkat menuju restoran. Hari itu, akan menjadi hari yang sangat sibuk baginya, karena jadwal reservasi begitu padat. Dengan langkah percaya diri dan penuh semangat, Daniella setengah berlari melintasi trotoar. Ia tak ingin para pegawai datang lebih awal darinya, karena dirinyalah yang memegang kendali atas segalanya. Sebuah perubahan besar yang telah terjadi pada diri Daniella saat ini.


Daniella terlalu bersemangat saat itu. Ia bahkan sampai tak menyadari jika ada seseorang yang sejak tadi mengikuti dengan gerak-gerik yang cukup mencurigakan. Hingga akhirnya, ia tiba di depan halaman parkir restoran. Orang yang sejak tadi mengikutinya tersebut, mencegat dan mencekal lengannya dengan kencang.


Daniella sempat menjerit, ketika sosok itu berusaha membungkam mulutnya. Sekuat tenaga, gadis tersebut memukul orang itu menggunakan tas tangan miliknya. “Kau gila, Filippo! Apa sebenarnya yang kau inginkan?” umpat Daniella kesal.


“Hentikan, Dani. Aku minta maaf. Aku hanya ingin memastikan bahwa Francy baik-baik saja,” jelas Filippo dengan kedua tangannya yang berada di depan dada, untuk sekadar berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Daniella berusaha memukulnya lagi.


“Astaga! Wajahmu?” Daniella terbelalak melihat betapa kacaunya wajah Filippo yang jauh lebih babak belur dibandingkan Coco. Kedua matanya lebam dan bengkak hingga berwarna keunguan. Sementara bibir pemuda itu sobek di beberapa bagian. “Siapa yang menghajarmu sampai seperti ini?” tanya Daniella penasaran.


“Siapa lagi kalau bukan kekasih gelap Francy! Ia mematahkan dua gigi depanku!” ujar Filippo dengan yakin.


Raut tegang yang ditampakkan Daniella sejak tadi, berubah menjadi sorot penuh iba. Pemuda yang terlihat makin kurus dari hari ke hari itu tampak begitu mengenaskan. “Sejujurnya aku merasa lega jika ada yang memukulimu, mengingat perlakuanmu kepada adikku,” Daniella mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya tepat ke dahi Filippo. “Namun, aku masih punya nurani. Masuklah, akan kubuatkan secangkir espresso,” ajaknya.


Filippo sama sekali tak menolak. Sambil menundukan wajahnya, ia mengikuti langkah kaki Daniella. Di dalam restoran, Filippo memilih meja yang terletak di sudut, jauh dari jendela. Ia yang saat itu memakai topi baseball, seakan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan cara membenamkan dalam-dalam topi itu ke kepalanya. Selang beberapa menit, seorang pelayan yang sudah Daniella tunjuk untuk membuatkan espresso, membawa minuman itu ke hadapan Filippo. “Grazie,” ucap pria jangkung tersebut, sebelum kembali fokus pada Daniella yang duduk di depannya.


“Aku ke apartemen Francy pagi ini, dan ia sudah tidak ada di sana. Pintu apartemen juga hancur. Entah siapa yang menendangnya dengan kekuatan luar biasa, sampai-sampai engselnya lepas dan patah menjadi dua,” tutur Filippo.


“Hmm,” gumam Daniella. Otaknya sudsh bisa membayangkan dengan jelas siapa sosok yang patut dipersalahkan itu.


“Aku ingin bertemu Francy, Dani. Aku ingin bicara padanya,” pinta Filippo. Pemuda angkuh dan arogan itu sekarang tengah memohon kepada Daniella.


“Aku tidak akan memberitahumu di mana adikku berada, karena kau adalah pria brengsek! Kau telah menyakiti adikku!” hardik Daniella.


“Aku tahu itu, dan aku minta maaf. Aku memang seringkali tak mampu mengendalikan emosi. Jika kau tak mau memberitahu posisi Francy, maka setidaknya izinkanlah aku meneleponnya. Aku harus menjelaskan sesuatu yang teramat penting padanya,” Filippo tak jua putus asa memohon kepada Daniella.


“Hubungi saja jika kau mau, tapi jangan harap kau bisa kembali mendapatkan Francy!” tegas Daniella dengan mata yang sedikit melotot.


Filippo menelan ludahnya sekali, kemudian meraih cangkir espresso dan meneguknya hingga tersisa separuh. “Semoga Francy tidak kembali ke Roma dalam waktu dekat. Demikian juga denganmu, Dani. Kau harus berhati-hati,” ujarnya.


“Kenapa memangnya?” sahut Daniella.


Filippo tak segera menjawab. Ia malah menghabiskan seluruh minumannya seraya melirik kepada Daniella, dan mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas permukaan meja.


“Aku akan pergi ke Perancis,” gumam Filippo lirih.

__ADS_1


“Aku tidak peduli meski kau ke kutub utara sekalipun!” balas Daniella.


“Aku hanya ingin kau bisa menjaga dirimu sendiri dan Francy, karena ....” Filippo tak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba ia melihat ke arah luar restoran. Seketika wajahnya berubah menjadi penuh ketakutan.


“Kenapa kau ini sebenarnya?” sungut Daniella.


“Aku harus pergi sekarang. Jika ada yang bertanya tentang Francy, jangan menjawab apapun,” setelah berkata demikian, Filippo bangkit dari kursinya, lalu berlari masuk ke dalam dapur restoran.


“Hei!” seru beberapa orang koki yang ada di sana. Banyak di antara mereka yang emosi melihat Filippo memasuki dapur dengan seenaknya, lalu berjalan lurus menuju pintu belakang. Filippo sendiri tampaknya tidak begitu peduli. Ia malah meraih ponsel yang sedari tadi tersembunyi di dalam saku jaketnya. Setelah beberapa kali nada panggil, barulah seorang gadis di seberang sana menjawab panggilannya. “Halo, Francy,” sapa Filippo.


Hening, gadis di seberang sana yang tak lain adalah Francesca, seolah tak memiliki keinginan untuk membalas sapaan Filippo. Akan tetapi, ia tak ingin menyerah. “Bagaimana caramu keluar dari apartemen, Francy?” tanya Filippo penuh semangat, mencoba membuka pembicaraan yang hangat dengan Francesca.


“Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada yang menyakitimu, kan?” desak Filippo. “Maafkan aku, Manis. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyiksa hidupmu, tapi aku tak kuasa menolak keinginan dari dalam diriku yang menggebu-gebu,” pemuda kurus itu mulai terisak.


Tangisan itu berubah menjadi senyuman samar saat Francesca mengucapkan bahwa ia memaafkan Filippo. “Terima kasih banyak, Francy. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik dan usahakan jangan bertemu dengan orang asing, siapapun itu,” saran Filippo. Ia pun mengakhiri panggilannya, lalu menyelinap keluar dari restoran melewati pintu belakang.


Daniella yang masih terpaku di tempatnya, memilih untuk tidak peduli dan kembali melanjutkan pekerjaan. Saking sibuknya, Daniella sampai-sampai tak sadar jika hari mulai beranjak petang. Semua kegiatan di restoran berakhir dengan menyenangkan. Termasuk beberapa kelompok orang yang menyewa restoran dan mengadakan pesta di sana. Mereka mengaku puas pada pelayanan Daniella. Hatinya seketika berbunga-bunga dan bahagia. Gadis itu pun pulang dengan langkah ringan. Sepertinya Daniella akan menutup hari melelahkan itu dengan berendam di dalam bathup.


Sesampainya di apartemen, Daniella segera menyiapkan bak mandi dan air hangat. Namun, semuanya harus terhenti, ketika terdengar ketukan keras dari luar. Dengab malas, ia membuka pintunya dan terbelalak. Daniella terperanjat hingga seakan-akan jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat. “Kau? Sedang apa kau di sini?” geram Daniella.


“Memangnya tidak boleh jika aku merindukanmu?” balas pria itu. Tanpa permisi, ia segera memasuki ruang apartemen itu bersama dengan ketiga orang teman lainnya. “Tempat yang benar-benar nyaman,” puji si pria.


“Sayangnya, kali ini aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin menanyakan keberadaan adikmu,” papar pria yang ternyata adalah Alex, mantan kekasih Daniella.


“Untuk apa?” sahut gadis itu.


“Aku menawarkan kerja sama padamu,” jawab Alex. Tiga orang yang bersama Alex tadi, mengerubungi Daniella dan semakin mendekat.


“Apa-apaan ini?” Daniella menggeleng kuat-kuat. Sedikit banyak ia mengerti karakter mantan kekasihnya yang cenderung kasar itu, sehingga ia bisa mengantisipasi langkah selanjutnya.


“Apa kau tahu keberadaan Filippo sekarang?” Alex maju beberapa langkah dan mengangkat dagu gadis itu.


“Tidak! Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!” jawab Daniella lugas.


“Hm, sayang sekali. Kalau kau tak mau menjawab, maka akan kupaksa adikmu untuk menjawab,” ujar Alex seraya menyeringai.

__ADS_1


“Adikku sudah pergi keluar kota! Jauh dari hiruk pikuk Roma! Percuma saja, kau tidak akan pernah bisa menemukannya!” tegas Daniella.


“Besar juga nyalimu, Sayangku,” seringaian Alex makin membesar. Ia juga mengeluarkan pistol berwarna hitam dari sisi pinggangnya. “Ikat dia!” perintahnya pada ketiga orang tadi.


“Tidak, jangan! Apa yang kau mau?” Daniella mulai histeris, sehingga salah seorang dari pria itu terpaksa membungkam mulutnya, lalu mengeluarkan tamparan. Ia juga mengikat tubuh gadis itu pada sebuah kursi makan.


“Dengar, Dani. Aku tidak ingin melukaimu. Aku hanya ingin bertemu dengan Filippo. Ia pria pengecut yang tak bisa diandalkan,” keluh Alex dengan nada yang melunak. Daniella menggeleng lemah. Ia memang tak tahu kemana pemuda itu pergi.


“Dengar, ya! Pemuda brengsek bernama Filippo itu sudah berbuat seenaknya. Ia harus mempertanggungjawabkan semuanya!” ucap Alex lagi dengan menggebu-gebu. “Gara-gara pria itu, dua orang anggota gengku harus meringkuk di penjara. Ini sangat berbahaya! Jika polisi sampai mencari tahu sedetail-detailnya, maka terbongkarlah sindikat Tigre Nero yang selama ini kami sembunyikan,” sambung Alex.


“Aku tak ada hubungannya dengan semua itu!” seru Daniella.


“Secara tidak langsung kau berhubungan. Filippo yang menyewa dua anggota Tigre Nero. Ia membayar mereka untuk menjadi tukang pukulnya. Namun, mereka harus babak belur dan bahkan diseret ke kantor polisi. Bukannya memberi penjelasan, Filippo malah lari! Jadi, jalan satu-satunya untuk berbicara pada Filippo adalah dengan mengancam kekasihnya, yaitu Francesca,” urai Alex. “Sayangnya, Francesca juga menghilang entah ke mana, yang ada hanya dirimu,” Alex menempelkan moncong senjatanya ke pelipis mantan kekasihnya tersebut.


“Rekam kejadian ini dan kirim ke nomor Francesca!” perintah Alex pada anak buahnya dengan senyuman jumawa.


🍒


🍒


🍒


Hai, ceuceu datang kembali. Seperti biasa, setiap hari akan selalu ada rekomendasi novel seru untuk mengisi waktu, selagi menunggu Matteo.



 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2