Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Il Rivale


__ADS_3

Mia baru selesai menata meja makan, ketika ia mendengar langkah kaki dari hak sepatu seorang wanita yang menuju ke arahnya. Dari suara langkahnya saja, Mia telah mengetahui siapa orang tersebut. Malas rasanya untuk menoleh ke arah datangnya suara itu. Akan tetapi, sebagai tuan rumah yang baik, mau tak mau Mia harus menghormati tamunya.


"Selamat siang, Nyonya de Luca," sapa wanita yang tiada lain adalah Camilla Rosetti. Ia berdiri dengan anggunnya di dekat meja makan yang terhalang sekitar dua kursi dari tempat Mia berdiri. Sudah lama sejak kepulangan Mia dan Matteo dari Pulau Elba, Camilla tak pernah terlihat lagi datang ke Casa de Luca.


"Selamat siang, Nona Rosetti. Ada yang bisa kubantu?" sahut Mia. Ia balas menyapa gadis berambut panjang itu.


Camilla tersenyum manis. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Mia yang kembali pada pekerjaannya. "Aku ingin bertemu dengan Tuan de Luca. Apa Theo ada di tempat?" tanyanya.


Mendengar hal itu, seketika Mia menghentikan pekerjaannya. Ia menatap tajam ke arah Camilla. "Ada keperluan apa kau mencari suamiku?" tanyanya dengan nada bicara yang cukup tegas. Sementara Camilla masih terlihat tenang.


"Tenang saja, Nyonya de Luca. Aku kemari bukan untuk menggoda apalagi merebut suamimu. Aku hanya ingin membahas masalah bisnis dengannya," jelas Camilla dengan gaya bicaranya yang khas. "Kebetulan ayahku akan membuka bisnisnya di Italia. Aku pikir, kami bisa menawarkan kerja sama dengan Matteo," jelas Camilla. Gaya bicaranya terdengar sangat meyakinkan.


Mia terdiam untuk sejenak. Ia kemudian meletakan mangkuk yang sedang dipegangnya. "Theo ada di ruang kerjanya, tapi aku rasa ia sedang sibuk saat ini," sahut Mia pelan, tanpa menoleh kepada Camilla.


"Oh, tak apa. Biasanya Theo selalu meluangkan waktunya setiap kali aku datang kemari. Apa ia pernah bercerita seberapa sering aku datang ke Casa de Luca?" bisik Camilla membuat Mia kembali tertegun dan menoleh.


"Theo tidak pernah membahas sesuatu yang tidak penting denganku," jawab Mia dengan dingin. Ia sudah tak tahan melanjutkan perbincangan itu. Mia ingin segera mengusir Camilla dari hadapannya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke dapur. "Maaf, Nona Rosetti. Aku masih banyak pekerjaan," pungkas Mia seraya berlalu meninggalkan Camilla yang saat itu hanya tersenyum kecil. Tidak berselang lama, Camilla memutuskan untuk menuju ke ruang kerja Matteo.


Sepeninggal gadis itu, Mia sempat kembali mengintip dari dinding pembatas dapur yang berbentuk melengkung. Perasaannya mulai tidak enak. Betapa bodohnya jika ia membiarkan Camilla menemui Matteo dengan begitu leluasa. Mia segera mencuci tangannya dan bergegas menuju kamar. Di sana ia mulai merapikan dirinya.


Dilepasnya ikatan rambut kecil yang ia kenakan. Mia pun menyisir rapi rambut panjangnya. Untuk sejenak, ia menatap dirinya di cermin. Mia lalu menurunkan sedikit resleting dari blouse yang ia kenakan, sehingga menampilkan sedikit belahan dadanya. Wanita muda itu, kemudian mondar-mandir untuk beberapa saat. Ia terlihat gelisah. Akan tetapi, pada akhirnya Mia memutuskan keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerja Matteo.


Berdiri di depan pintu berwarna coklat tua itu, Mia merasa ragu untuk mengetuknya. Namun, suara tawa manja yang terdengar dari dalam, telah membuatnya mengesampingkan semua perasaan ragu tersebut. Mia akhirnya mengetuk pintu itu dua kali. Tanpa harus menunggu jawaban dari dalam, ia segera masuk.

__ADS_1


Tampaklah Camilla yang sedang duduk dengan menyilangkan kaki di depan Matteo. Ia memamerkan sebagian besar paha mulusnya. Hal itu membuat Mia semakin merasa terganggu.


"Ada apa, Mia?" tanya Matteo seraya menatap sang istri dengan heran, karena melihat Mia bersikap sedikit aneh. Mia tak segera menjawab, sebab ia pun tak tahu untuk apa dirinya masuk ke ruang kerja Matteo.


"Um ... makan siang sudah siap, mungkin kau ingin makan sekarang. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu," jawab Mia. Ia mencoba untuk menguasai dirinya agar tak terlihat semakin bodoh.


"Tentu, tapi aku belum selesai bicara dengan Camilla," sahut Matteo. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada gadis yang masih duduk dengan sikap anggunnya. "Bagaimana jika kita lanjutkan di meja makan?" tawar Matteo kepada Camilla, membuat gadis itu segera berdiri dan membetulkan pakaian minimnya. Sementara Mia memperhatikannya dengan tatapan dingin.


"Aku ingin sekali makan siang di sini. Rasanya seperti mengenang beberapa tahun yang lalu," ujar Camilla dengan diiringi tawa pelan. "Namun, aku harus pulang. Lagi pula, aku lihat tadi Nyonya de Luca tidak memasak terlalu banyak. Aku tidak ingin merepotkannya," lanjut gadis itu dengan sikap manisnya.


"Aku pikir kau tidak makan dalam porsi banyak, Nona Rosetti," sahut Mia. "Kenapa kau harus mencemaskan seberapa banyak masakan yang kusiapkan. Lagi pula aku dan suamiku bukan orang yang rakus. Aku tahu seberapa banyak porsi makan Theo," ucap Mia seraya melirik ke arah Matteo. Entah apa maksud dari kata-kata yang ia tujukan untuk Camilla. Sementara gadis itu hanya tertawa pelan. Ia seakan tidak peduli dengan ucapan Mia. Bersamaan dengan itu, ponsel milik Matteo berdering. Pria tersebut keluar sebentar untuk menjawab telepon masuk tersebut.


Sepeninggal Matteo, Camilla kemudian mendekat kepada Mia. Wangi aroma parfumenya tercium dengan begitu jelas. Entah seberapa banyak ia menyemprotkan parfume tersebut ke tubuhnya. "Kau jangan sombong, Mia. Aku juga sangat mengetahui seberapa banyak porsi makan Matteo dalam sehari, karena aku jauh lebih lama mengenalnya jika dibandingkan dengan dirimu," ujar Camilla dengan penuh percaya diri. Ia lalu merapikan rambut panjangnya yang indah, dan mengumpulkan mereka di atas pundak sebelah kiri. Sementara Mia masih menatapnya dengan sinis.


"Aku sangat menyukai ekspresi wajah Matteo, ketika ia berada di puncak kenikmatan saat kami selesai bercinta. Ia begitu seksi dan menggairahkan. Aku juga menyukai tatonya yang berada di perut sebelah kiri. Ia memintaku untuk menemaninya saat membuat tato itu," lanjut Camilla membuat Mia semakin jengkel dibuatnya.


"Dengarkan aku, Mia. Entah sudah berapa malam yang kulalui di dalam kamar Matteo. Aku selalu terlelap di atas ranjangnya yang nyaman dan hangat. Jadi, jangan merasa jika hanya dirimu yang pernah memiliki pria tampan itu, karena aku juga pernah merasakan seperti apa kegagahannya di atas tempat tidur. Oh, tentu saja itu sesuatu yang sangat sulit untuk diungkapkan. Aku selalu kehabisan kata-kata jika sudah teringat akan hal itu," ucapan Camilla. Kata-katanya terdengar semakin memprovokasi Mia. Akan tetapi, Mia mencoba untuk tidak terpengaruh, meskipun tentu saja ia sudah tidak tahan mendengar semua itu. Hatinya merasa begitu marah dan cemburu. Namun, sebisa mungkin Mia menutupi hal itu dengan sikap tenangnya.


Mia menyunggingkan senyuman sinisnya kepada Camilla. Ia melipat kedua tangannya di dada. Sesaat kemudian, Mia mengusap-usap keningnya dengan perlahan. "Baiklah. Terima kasih karena sudah memberitahuku tentang semua itu. Akan tetapi, lihat saja kenyataannya saat ini. Siapakah di antara kita berdua, yang menyandang nama Nyonya de Luca," ucap Mia denyan senyuman puas. Ia lalu membalikan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.


Kebetulan saat itu bersamaan dengan Matteo yang hendak masuk kembali ke ruang kerja tersebut. Sambil terus melangkah, Mia meraih tangan sang suami dan membawanya kembali keluar. "Nona Rosetti tidak jadi makan siang di sini. Ia akan segera pulang," ujar Mia sambil terus menggandeng Matteo keluar dengan mesra, membuat pria bermata abu-abu tersebut tersenyum simpul seraya mengempaskan napas pelan.


................

__ADS_1


Siang telah berlalu. Mia sudah bersiap dengan peignoir satin merah hati kesukaan Matteo. Saat itu ia baru selesai menyisir rambut, ketika Matteo datang menghampiri dan langsung menciumi pundak serta leher jenjangnya. Untuk sesaat, Mia membiarkan Matteo melakukan apapun yang ia inginkan. Namun, ketika Matteo bermaksud untuk melepas peignoir yang ia kenakan, wanita bermata coklat itu menolak dan segera menghindarinya. Apa yang Mia lakukan telah membuat Matteo menjadi heran.


"Ada apa, Sayang?" tanya Matteo. Ia memperhatikan sang istri yang bersikap aneh. Terlebih ketika Mia mengambil bantal miliknya dan juga selimut. Ia menata bantal itu di atas sofa. Matteo dapat memastikan jika Mia akan tidur di sana. "Kenapa kau ingin tidur di sofa?" tanya pria itu lagi.


Mia menoleh dengan sorot matanya yang terlihat kesal. Sesaat kemudian, ia lalu memalingkan wajahnya. "Karena aku tidak ingin tidur di ranjang itu!" jawab Mia dengan jengkel.


Matteo kemudian mendekat. Ia yakin pasti Camilla mengatakan sesuatu yang telah membuat Mia menjadi kesal terhadap dirinya. "Apa yang Camilla katakan padamu?" tanyanya penasaran.


Mia yang saat itu tengah merapikan selimut, seger menoleh. "Bagaimana kau bisa tahu jika aku marah karena kekasihmu yang cantik itu?" sindir Mia.


Matteo tertawa pelan. "Ayolah, Mia! Sudah kukatakan jika aku tidak pernah menjalin hubungan yang serius dengannya, kami hanya ...."


"Bercinta?" sela Mia sehingga membuat Matteo terdiam. "Di sana? Di ranjang itu?" tunjuk Mia dengan kesal. "Aku tidak akan pernah mau tidur di ranjang itu lagi. Lebih baik aku tidur di sofa saja!" gerutu Mia seraya naik ke sofa dan berbaring dengan posisi menghadap pada sandaran sofa tersebut. "Jangan lupa matikan lampunya!" suruhnya terhadap Matteo yang saat itu hanya berdiri terpaku menatap Mia yang sedang dilanda cemburu.


Tanpa banyak bicara, Matteo melepas T Shirt round neck yang ia kenakan. Setelah itu Matteo kemudian mematikan lampu kamar tersebut sehingga suasana di dalam sana kini menjadi temaram. Namun, tiba-tiba Mia terkejut karena Matteo memeluknya dari belakang. Pria itu ikut berbaring di sofa, dalam satu selimut dengannya. "Kalau begitu, aku juga akan menemanimu tidur di sini," bisik Matteo seraya mempererat pelukannya dan seketika membuat Mia tersenyum lebar.


🍒


🍒


🍒


Aduh, lebih baik kita tenangkan diri sejenak dengan membaca novel keren di bawah ini. Jangan lupa segera cek dan ramaikan.

__ADS_1



__ADS_2