
Pagi-pagi sekali, Matteo sudah terbangun. Ia mendapati Mia yang tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Matteo kemudian menggeser tubuh dan meletakan kepalanya di atas pangkuan Mia. "Selamat pagi, Sayang," sapanya hangat. "Jam berapa kau bangun?" tanyanya.
Mia tersenyum manis. Ia mengelus lembut rambut Matteo yang terlihat acak-acakan. Mia merapikan rambut itu dengan menggunakan jemari lentiknya. "Satu hal yang pasti, aku bangun sebelum dirimu," jawab wanita cantik itu dengan suaranya yang terdengar begitu merdu di telinga Matteo. "Kau harus merapikan rambutmu. Meskipun kau tetap terlihat tampan dengan rambut gondrong, tetapi aku jauh lebih suka melihatmu dengan rambut pendek seperti ini," ucap Mia lagi tanpa menghentikan gerakan tangannya.
"Baiklah. Aku akan menuruti apapun yang diperintahkan oleh Nyonya de Luca," sahut Matteo dengan bernada candaan. Ia melingkarkan tangannya di sekitar pinggul Mia, kemudian memejamkan mata. Sesaat kemudian, terdengar ponsel milik Matteo bergetar beberapa kali. Akan tetapi, Matteo tak memedulikannya. Ia masih asyik membenamkan wajahnya di atas pangkuan Mia.
Lagi, ponsel itu bergetar dengan cukup lama. Namun, Matteo tetap tak memedulikannya. Ia begitu malas untuk memeriksa ponsel tersebut, hingga akhirnya Mia mengingatkannya. "Theo, ponselmu bergetar sejak tadi. Kenapa tidak kau angkat?"
"Ini masih terlalu pagi untuk membalas pesan ataupun menjawab panggilan masuk, Sayang," tolak Matteo pelan. Ia masih bersikap tak peduli meskipun ponselnya berkali-kali bergetar.
"Bagaimana jika itu merupakan hal yang penting, Theo? Kau tidak boleh seperti itu. Seorang pemimpin harus selalu siap dan semangat, entah itu pagi, siang, ataupun malam. Bukankah kau yang mengatakan jika itu adalah tanggung jawabmu?"
"Oh, astaga," keluh Matteo seraya mengangkat tubuhnya. "Kau jauh lebih cocok untuk menjadi pemimpin di Klan de Luca," celeoteh pria itu lagi seraya meraih ponsel yang tergeletak di atas laci sebelah tempat tidur. Matteo kemudian memeriksa ponselnya. Pada layar ponsel tersebut tertera nama D'Angelo.
"Kenapa orang ini suka sekali menggangguku di pagi hari?" gumam Matteo sedikit jengkel. Ia lalu menjawab panggilan itu meski dengan malas-malasan. "Tuan D'Angelo?" sapa Matteo datar.
“Selamat pagi, Tuan de Luca. Maaf jika aku telah mengganggu istirahat Anda sepagi ini,” terdengar suara berat Adriano dari seberang sana.
“Ya, sudah biasa,” jawab Matteo seenaknya, yang segera berbalas sebuah cubitan dari Mia. Matteo meringis pelan. Ia dapat menahan pukulan dan hujaman senjata, tapi tak kuat melawan cubitan kecil dari sang istri. Diliriknya Mia yang melotot terhadapnya. “Um, maksudku aku sudah biasa bangun pada jam seperti ini,” ralat Matteo seraya menyentuh pangkal hidungnya.
“Begini, Tuan de Luca,” nada bicara Adriano terdengar cukup serius. “Aku sudah memperlihatkan prototipe senjata buatan anda kepada kolegaku di Monaco. Respon yang diberikannya sunguh luar biasa. Ia menyukai senjata hasil rakitan anda, dan langsung memesan. Bagaimana, Tuan?”
Matteo tak langsung menjawab. Ia melirik Mia untuk sesaat. Wanita itu tersenyum padanya. “Bukankah itu yang anda inginkan, Tuan D’Angelo?” Matteo balik bertanya. “Memangnya berapa banyak yang ia pesan?”
“Lima ratus pucuk senjata untuk pertengahan bulan depan. Itu sebagai pesanan awal, karena rencananya ia akan memesan lagi dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Aku harus memberitahu anda dari sekarang, agar anda bisa melakukan persiapan dengan matang,” terang Adriano.
__ADS_1
“Begitu ya? Namun, aku harus menyelesaikan masalahku dulu dengan Detektif Ranieri. Aku juga akan ke Pulau Elba,” ujar Matteo terdengar agak ragu, karena Mia mendengarkan perbincangannya bersama Adriano.
“Untuk apa Anda ke sana, Tuan?” tanya Adriano penasaran. Akan tetapi, Matteo tak segera menjawab. Ia tak ingin Mia mendengar rencana gila yang telah disusunnya. Matteo pun mencari alasan kepada Adriano.
“Bagaimana jika kita lanjutkan saja perbincangan ini nanti. Aku harus mengantar istriku ke kamar mandi,” ucap Matteo seraya kembali melirik Mia yang saat itu hanya mengernyitkan keningnya.
"Oh, ya tentu," sahut Adriano. "Kebetulan aku akan ke Italia siang ini. Aku juga akan mampir ke Casa de Luca, jika anda mengizinkan tentunya," ucap pria bermata biru itu lagi.
"Kenapa tidak? Pintu Casa de Luca akan selalu terbuka untuk anda, Tuan D'Angelo. Baiklah, sampai nanti," Matteo segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Adriano. Ia meletakan kembali ponselnya dan menoleh kepada Mia yang saat itu masih duduk bersandar dan menatapnya. "Kau ingin ke kamar mandi, Sayang?" tawarnya seraya mendekat, sementara Mia hanya tertawa pelan menanggapi tawaran dari sang suami.
"Kau kenapa, Theo?" tanya Mia heran bercampur geli. Sebelum Matteo menjawab, ia kembali bertanya, "Untuk apa kau pergi ke Pulau Elba? Apa ada sesuatu yang penting?"
Matteo tidak segera menjawab. Ia turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah Mia. Disibakkannya selimut yang menutupi bagian bawah sang istri. "Tidak ada yang penting, Cara mia. Aku dan Marco ke sana untuk sedikit urusan mengenai organisasi. Sudahlahlah, mari kuantar kau ke kamar mandi," Matteo membungkukan badannya dan meraih tubuh Mia. Ia lalu membopong tubuh ramping sang istri.
Empat gelas minuman, menemani perbincangan keempat pria bertubuh tegap di dalam ruang kerja Matteo. Kebetulan, hari itu Coco juga datang ke Casa de Luca. Sudah beberapa hari setelah kepulangan Mia dari rumah sakit, pria berambut ikal tersebut belum lagi menampakkan batang hidungnya. Ia baru muncul kembali pada hari itu.
"Ke mana saja kau ?" tanya Matteo seraya duduk di antara ketiga pria itu. Lama tak bertemu sahabatnya, ternyata membuat ia sangat merindukan pria yang kerap bertingkah konyol tersebut.
"Aku banyak pekerjaan, Amico. Rasanya sangat melelahkan," sahut Coco dengan senyuman khasnya yang menawan.
"Kapan-kapan aku ingin membawa mobilku ke bengkelmu, mungkin kau bisa memberikan sedikit sentuhan agar jauh lebih bertenaga," Marco ikut bicara.
"Kau masih suka balapan rupanya," balas Coco.
"Hey, bagaimana kau bisa mengetahuinya? Ayahku saja bahkan tak pernah tahu tentang hal itu," tanya Marco heran.
__ADS_1
"Aku punya seorang teman di arena balapan liar yang sering kau datangi. Ia bercerita padaku, bahkan saat dulu kau membawa seorang gadis ke sana," tersungging sebuah senyuman di paras rupawan Coco. Namun, lain halnya dengan Marco, ia terlihat salah tingkah.
"Aku rasa itu jauh lebih baik daripada kau membawa seorang pria," ujar Matteo dengan entengnya membuat Adriano yang sejak tadi hanya menyimak ikut tertawa. Pria bermata biru tersebut terlihat jauh lebih menikamati keberadaannya di sana, meskipun ia tidak terlalu mengenal Coco dan Marco.
"Bagaimana dengan perbincangan kita pagi tadi, Tuan de Luca?" Adriano memulai untuk perbincangan yang lebih serius.
Matteo terdiam sejenak. Ia lalu menatap Adriano untuk sesaat. "Tentang pesanan senjata itu?" tanyanya.
Adriano menggeleng pelan. "Bukan. Tadi Anda mengatakan akan ke Pulau Elba," bantah Adriano membuat Marco mengeluh pelan. Ia seakan sudah mengetahui arah dari perbincangan itu.
Matteo menoleh kepada Marco. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan tatapannya pada sosok maskulin Adriano. Pria berkemeja hitam tersebut masih terlihat tenang. "Ya. Ini berkaitan dengan kedatangan Detektif Ranieri kemarin ...."
"Untuk apa detektif itu menemuimu lagi? Aku pikir urusan kalian sudah selesai," sela Coco penasaran.
"Untuk membuktikan keberadaan Antonio di Amerika," jawab Matteo dengan senyum samar dan berbalas sebuah helaan napas berat Coco. "Karena itulah aku akan ke Pulau Elba untuk menggali lagi makamnya, dan membawa apapun yang tersisa di dalam peti mati pamanku itu," jelas Matteo kemudian.
"Lalu, setelah itu?" tanya Adriano.
"Matteo memiliki rencana yang sangat gila! Ia bermaksud untuk meledakan pesawat, dan membuat seakan-akan ayahku tewas karena kecelakaan itu," Marco menyerobot pertanyaan Adriano yang ditujukan kepada Matteo. Sementara Adriano terlihat cukup terkejut dengan ide dari rekan bisnisnya tersebut.
"Apa itu tidak akan semakin memperpanjang penyelidikan?" Coco ikut menanggapi.
"Ya, aku rasa Tuan Ricci benar. Anda mungkin bisa membuktikan kematian Tuan Antonio de Luca lewat bantuan tim forensik. Akan tetapi, tim maskapai yang memproduksi pesawat Anda pun pasti akan turun tangan untuk menyelidiki sabotase yang Anda lakukan," timpal Adriano membuat Matteo kembali terdiam dan berpikir.
"Jika Anda bersedia menerima bantuan dariku, maka aku memiliki rencana yang jauh lebih aman dan tidak akan berbuntut panjang," tawar Adriano dengan penuh keyakinan.
__ADS_1