
Setelah perbincangan di ruang kerja selesai, Marco bergegas menemui Daniella yang saat itu sudah berada di dalam kamarnya. Ia harus membicarakan apa yang sudah diputuskan dalam perundingannya tadi bersama Matteo dan Damiano kepada Daniella sebagai calon istrinya. Marco mengatakan semuanya dengan begitu terperinci.
“Bagaimana menurutmu, Dani?” Marco meminta pendapat dari gadis berambut pirang itu.
“Kenapa kau harus bertanya padaku? Selama dirimu merasa sanggup, tidak ada salahnya untuk menerima tanggung jawab itu. Lagi pula, kau juga memiliki darah de Luca dan aku rasa Matteo tak akan mengambil keputusan yang gegabah apalagi untuk hal sebesar ini,” ujar Daniella tenang. Ia yang saat itu baru selesai berganti pakaian, segera duduk di dekat Marco.
“Apa kau juga sudah berbicara kepada Theo bahwa kita akan segera menikah?” tanya gadis itu.
“Ya, tentu saja. Aku sudah mengatakannya,” jawab Marco yakin.
“Bagaimana respon Matteo?” tanya Daniella lagi.
“Theo dan Damiano setuju. Aku rasa kita akan bisa secepatnya melangsungkan pernikahan, karena Theo ingin agar aku segera mengikuti pelantikan,” terang Marco. “Sejujurnya bahwa aku sangat gugup, Dani,” Marco mengepalkan tangannya di atas paha. Ia juga berkali-kali mengempaskan napas panjang. Hal tersebut biasa ia lakukan ketika sedang dilanda rasa gelisah.
“Hey, tenanglah. Kenapa kau harus gelisah seperti ini?” Daniella menyentuh pundak Marco. Ia kemudian mencium pipi pria itu dengan mesra. “Kau pasti bisa. Dengarkan aku, Marc. Aku tidak menyukai seorang penakut. Kau begitu berani menginjak pedal gas dengan kuat saat berada di jalanan, padahal kau sudah tahu seperti apa risikonya. Aku rasa, saat ini pun tidak ada bedanya dengan ketika kau tengah mengikuti balapan liar,” ucap Daniella mencoba memberikan semangat kepada Marco.
“Begitukah menurutmu, Dani?” Marco menatap Daniella dengan tatapan ragu.
“Santai saja, Marco. Kau tidak sendirian. Ada Matteo yang akan selalu membantu dan mendukungmu. Ada Ricci, Mia, Francy, dan tentu saja ada aku yang akan selalu di sisimu dalam suka maupun duka,” Daniella tersenyum lembut. Ia lalu duduk bersimpuh di hadapan Marco. Digenggamnya kedua tangan calon suaminya itu, lalu ia kecup pelan. “Apa yang kau takutkan sebenarnya?” tanya Daniella. Sorot matanya lembut menyapu wajah Marco.
“Aku takut mengecewakan semuanya. Aku ini bodoh, Dani. Aku tidak seperti Theo yang selalu bisa diandalkan,” Marco menundukkan wajahnya dalam-dalam.
“Aku tidak melihat seorang yang bodoh di depanku saat ini. Aku hanya melihat seorang yang kehilangan rasa percaya dirinya,” tutur Daniella lembut.
“Bantu aku melalui ini semua, Dani,” pinta Marco.
“Tentu saja!” Daniella bangkit dan memeluk erat Marco. Wajahnya yang cantik semakin bersinar karena bahagia.
__ADS_1
“Jadi, kau siap jika kita akan menikah dalam waktu dekat?” Marco mengurai pelukannya dan memandang serius pada Daniella.
Sementara Daniella mengela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Marco.
“Tidak ada alasan bagiku untuk menunda pernikahan. Seumur hidup, aku sudah cukup bersenang-senang. Kini saatnya melangkah ke arah yang lebih baik, bersamamu tentunya,” ujarnya sembari duduk di samping Marco.
“Grazie, Dani. Grazie,” Marco kembali memeluk erat tubuh molek Daniella. Untuk beberapa saat lamanya, mereka begitu larut dalam keharuan.
......................
Keesokan harinya, sebuah mobil sport mewah menderu dan berhenti tepat di halaman depan Casa de Luca. Adriano turun dari mobil dengan gagah. Ia tamoak begitu tampan dengan kacamata hitam yang di kenakannya. Adriano datang dengan menenteng beberapa tas belanja berlabel logo terkenal. Langkahnya terhenti di depan pintu masuk saat seorang pelayan menyambutnya.
"Buongiorno, Tuan D’Angelo. Apakah ada yang bisa kubantu?” tanya pelayan pria itu sopan.
“Aku ingin menjenguk Nyonya de Luca dan membawakannya hadiah,” jawab Adriano dengan senyumnya yang menawan.
“Baiklah,” Adriano mengangguk dan duduk di sana sambil menyilangkan kaki. Tas-tas belanjaan itu ia letakkan begitu saja di sampingnya. Tak berapa lama, Matteo keluar dari bagian dalam rumah. Ia menatap Adriano dengan wajah datar.
“Ada apa kemari, Tuan D’Angelo? Kukira urusan kita sudah selesai. Sergei Redomir juga sudah bertekuk lutut di hadapanku,” ujar Matteo tersenyum puas.
“Ya, ya. Aku juga sudah mendengarnya,” Adriano berdiri dan menyalami Matteo. “Tujuanku kemari hanya untuk menjenguk Nyonya de Luca. Aku membawakan beberapa hadiah kecil untuk mengucapkan selamat atas kehamilannya,” ucap Adriano lagi seraya memasukan kacamata ke dalam saku kemejanya.
Matteo yang masih dalam posisi bersalaman dengan Adriano, seakan enggan untuk melepaskan tangan pria yang menjadi koleganya itu. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia tengah berpikir. “Kuantar kau ke kamar,” ujar Matteo kemudian.
“A-apa? Ka-kamar siapa?” Adriano terbata.
“Tentu saja kamar kami berdua. Mia sedang dalam masa ngidam. Ia tidak mau keluar kamar sama sekali,” jawab Matteo sambil menggerakkan tangan sebagai isyarat agar Adriano mengikutinya. Adriano pun menurut dan mulai berjalan di belakang Matteo meskipun dengan raut wajah yang sedikit aneh. Langkah Matteo kemudian berhenti di sebuah pintu kayu besar berwarna tosca. Ia membuka pintu itu perlahan dan mempersilakan Adriano untuk masuk.
__ADS_1
“Terima kasih, Tuan de Luca,” Adriano mengangguk dan mulai memasuki kamar dengan detail interior yang bergaya Tuscany. Pria rupawan bermata biru itu tertegun beberapa saat ketika melihat penampakan di depan matanya. Tampak Mia dengan rambut acak-acakan dan t-shirt berwarna putih berukuran terlalu besar untuk tubuh rampingnya. Wanita itu sedang bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel.
“Cara mia, lihatlah siapa yang datang,” ujar Matteo sembari menahan tawa.
Mia yang sedari tadi fokus menunduk, kini mendongak dan amat terkejut saat melihat Adriano berdiri di depan ranjangnya. Buru-buru ia melempar ponsel, lalu menarik selimut hingga ke dagu. “Theo! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawanya kemari?” pekiknya panik dan setengah malu.
“Tuan D’Angelo ingin menjenguk dan mengucapkan selamat atas kehamilanmu, Sayang. Tak pantas rasanya untuk menolak. Berhubung kau sedang tak ingin keluar kamar, maka aku ajak saja dia ke sini karena aku yakin kau akan menolak menemuinya. Bukan begitu, Sayangku?” sahut Matteo kalem, lalu melirik ke arah Adriano yang jelas terlihat salah tingkah.
Untuk Adriano, melihat Mia dalam kondisi seperti itu adalah sebuah pengalaman yang pertama. Rasa antusias, berdebar dan terpana menjadi satu. Namun, segala perasaan indah itu harus luruh ketika Matteo berjalan ke sisi ranjang, lalu duduk tepat di sebelah Mia. Pria itu mencium kening sang istri dengan begitu lembut dan penuh perasaan.
“Beberapa hari terakhir ini Mia alergi dengan air. Kusarankan agar Anda tidak berada di dekatnya,” kelakar Matteo yang segera dihadiahi cubitan di pinggang oleh Mia.
“Ah, tak apa. Lagi pula, aku juga tidak bisa berlama-lama, Tuan de Luca. Aku hanya ingin mengantarkan hadiah-hadiah kecil ini untuk istri Anda sebelum aku kembali ke Monaco malam ini,” sahut Adriano seraya menyodorkan tas-tas belanja yan terlihat sangat mahal itu kepada Matteo.
“Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan dan kesehatan untuk kalian berdua dan juga calon bayi Anda,” ucap Adriano tulus.
Mia menanggapi ucapan pria itu hanya dengan senyuman tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sementara Matteo kembali berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Adriano. “Terima kasih banyak, Tuan D’Angelo. Izinkan aku mengantar Anda ke luar," ucap Matteo yang segera ditolak oleh Adriano.
“Tidak perlu, Tuan de Luca. Sepertinya Nyonya de Luca jauh lebih membutuhkan Anda daripada aku. Lagi pula, aku tahu jalan keluar dari kamar ini, ” ujar Adriano sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.
Dengan langkah tergesa, ia berjalan menuju halaman depan Casa de Luca sambil membayangkan sosok Mia yang tetap terlihat menawan meskipun dalam kondisi acak-acakan. Angan-angannya berhenti tatkala dirinya berpapasan dengan Coco bersama pria asing yang berniat untuk masuk.
“Apa yang kau lakukan di sini? Apa yang sedang kau rencanakan?” selidik Coco yang menatapnya dengan pandangan sinis. Akan tetapi, Adriano tak menghiraukan pria berambut ikal itu. Ia melenggang begitu saja dan membuka pintu mobilnya.
“Asalkan kau tahu, Adriano D’Angelo! Apapun siasatmu, maka aku akan selalu selangkah lebih maju. Kujamin itu!” seru Coco sambil memicingkan matanya.
Sedangkan Adriano yang saat itu sudah berada di belakang kemudi, menoleh sekilas kepada Coco. “Aku hanya menjenguk Mia dan mendoakan untuk kesehatannya,” jawab pria itu santai. Adriano kemudian menginjak gas dan melajukan mobil mewahnya dengan kencang meninggalkan tempat itu.
__ADS_1