Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Mysterious Man


__ADS_3

“Pemuda itu kelihatannya dapat diandalkan. Aku rasa ia bisa menjaga gadis-mu dengan baik. Sebaiknya kau selesaikan urusanmu dengan segera, barulah kau datangi si manis itu dan utarakan perasaanmu yang sebenarnya. Sebagai sahabat, aku merasa sedih melihatmu merana karena cinta,” ujar Coco. Seperti biasanya, ia selalu menyelipkan sebuah celotehan tidak penting dalam setiap perbincangannya dengan Matteo.


 


Matteo mengeluh pelan. “Aku belum ingin melakukan apapun, kawan. Kepergian orang tuaku begitu tiba-tiba, terlebih setelah aku tahu jika nyawaku yang menjadi incaran mereka,” sesal Matteo.


 


“Sudahlah, kawan. Jangan menyesali semua yang sudah terjadi. Setiap hal yang menimpa kita, sudah merupakan jalan hidup yang memang harus kita terima. Aku ingin melihatmu hidup damai, kawan. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya,” ujar Coco. Ia bermaksud untuk menyulut rokoknya, ketika ada seorang pria yang tiba-tiba menuruni tangga dengan terburu-buru.


 


Pria itu tanpa sengaja menyenggol lengan Coco, hingga ia menjatuhkan korek api yang sedang dipegangnya. Coco sempat menoleh kepada pria berpostur tinggi besar itu. Sedangkan pria tersebut hanya mengangkat tangan kanannya sebatas dada, sebagai tanda permintaan maaf. Coco menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan.


 


Pria tadi menaiki motor yang terparkir tidak jauh dari motor Coco. Ia sempat melihat pria tersebut keluar dengan sepeda motornya. Coco bahkan melihat plat nomor dari sepeda motor yang dipakainya meskipun hanya sekilas.


 


Bagian bawah bangunan itu memang dikhususkan untuk area parkir untuk para penghuni di sana. Sementara di lantai dua terdapat beberapa kamar yang biasa disewakan perbulan. Rencananya, Coco akan pulang ke Brescia besok. Ia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Mia. Lagi pula, Coco tidak nyaman karena harus menjadi penguntit seorang gadis.


 


“Aku akan pulang besok siang. Namun, aku akan mampir sebentar ke bengkel. Ada sesuatu yang harus kuambil dari sana,” ujar Coco seraya masuk ke kamar kontrakannya.


 


“Jika kau merasa tidak ada masalah di sana, pulang saja. Lagi pula, aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu yang tidak mungkin kubicarakan lewat telepon,” sahut Matteo.


 


“Ada apa? Jangan katakan jika kau merindukanku,” celoteh Coco dengan diiringi gelak tawa yang tidak terlalu nyaring. Seperti biasa, ia berdiri di dekat jendela sambil menikmati sebatang rokok.


 


Saat itu, Coco melihat Mia yang sepertinya hendak pergi. Mia berdiri di depan pintu rumahnya dan tampak mengedarkan pandangan ke segala arah. Sepertinya ia tengah menunggu seseorang. Benar saja, tidak berselang lama Valentino datang dengan skuter matic-nya.


 


Pemuda itu tampak sangat berseri, ketika Mia menyambutnya dengan sebuah senyuman. Valentino pun turun dari skuter matic yang ia tumpangi. Ia berdiri di hadapan Mia, kemudian memasangkan helm untuk gadis itu. Mia tidak menolaknya sama sekali. Gadis itu tersenyum manis, bahkan ketika Valentino mencubit kedua pipinya dengan gemas.


 


“Uh, Theo. Kau tidak akan menyukai ini. Gadis-mu terlihat bahagia,” ujar Coco dengan tatapan nanar yang ia tujukan kepada Mia. Sepertinya, insting Coco sebagai pria yang telah mengenal wanita dengan berbagai karakter, tengah bekerja saat itu. Coco mengamati ekspresi yang diperlihatkan Mia di hadapan Valentino.

__ADS_1


 


“Apa Mia dengan pemuda itu?” terdengar suara Matteo yang seketika membuyarkan lamunan Coco.


 


“Ya. Mereka terlihat mesra dan sepertinya akan pergi,” jawab Coco dengan entengnya. Sementara Matteo lebih memilih untuk tidak menanggapi ucapan sahabatnya.


 


Coco melihat Mia berboncengan dengan Valentino. Namun, seketika perhatian Coco teralihkan pada pria dengan sepeda motor yang dengan segera mengikuti sepasang muda-mudi itu saat mereka pergi. Coco merasa ada yang janggal dengan pria tersebut. Tanpa berkata apa-apa,  Coco segera menutup sambungan teleponnya. Ia berlari keluar dan menuruni deretan anak tangga menuju tempat parkir. Coco pun menyalakan motor sport-nya dan segera meluncur membelah jalanan kota Venice.


 


Dengan kecepatan penuh, Coco mencoba untuk mengejar motor yang ia curigai tengah mengikuti Mia dan Valentino. Untunglah kondisi jalanan saat itu tidak ramai, sehingga Coco dapat memacu kuda besi-nya dengan maksimal.


 


Selang beberapa saat, akhirnya ia melihat sepeda motor itu berada beberapa meter di depannya. Perkiraan Coco tidak meleset. Pria itu memang sengaja mengikuti Mia dan Valentino. Ia ikut berhenti saat kedua sejoli itu juga berhenti di tempat tujuan mereka yaitu Piazza San Marco.


 


Valentino sengaja membawa Mia ke sana. Ia ingin mengajak gadis itu untuk melihat acara pembukaan Venice Carnaval. Itu merupakan sebuah acara pesta topeng paling bergengsi di dunia, yang biasanya diadakan empat puluh hari sebelum Paskah.


Venice Carnaval akan diselenggarakan selama sepuluh hari atau bahkan hingga berminggu-minggu. Para peserta biasanya menggunakan kostum yang disebut venetian dresses abad ke-17 dan tentu saja dengan dilengkapi topeng-topeng unik. Ada dua jenis topeng yang digunakan, yaitu Bauta dan Volto atau Larva.


 


 


Untuk sejenak, pria misterius itu memerhatikan Mia dan Valentino. Entah apa maksudnya melakukan hal itu. Coco harus segera mencari tahu siapa pria tersebut. Tidak akan menjadi hal yang sulit bagi Coco, berhubung pria misterius itu juga tinggal di bangunan yang sama dengan dirinya.


 


Cukup lama mereka berada di tempat itu. Pada akhirnya, Mia dan Valentino mengunjungi sebuah cafè yang letaknya tidak jauh dari Piazza San Marco. Cafè dengan nuansa vintage yang sangat nyaman.


 


Coco memilih meja yang berdekatan dengan meja yang dipilih Mia dan Valentino. Ia bahkan duduk tepat di belakang kursi yang duduki gadis itu. Sedangkan pria misterius tadi, duduk di belakang Valentino.


 


“Kau suka Mia? Kita tidak pernah melewatkan acara ini setiap kali diselenggarakan. Aku senang itu. Aku harap, kita bisa selalu dapat melihatnya bersama-sama,” ucap Valentino dengan wajah berseri. Senyum bahagia tak jua lepas dan terus menghiasi bibirnya. Sedangkan Mia, hanya tersenyum menanggapinya.


 

__ADS_1


“Mia, aku senang karena akhirnya kau mau menjadi Mia yang dulu,” lanjut Valentino.


 


“Aku hanya mencoba berdamai dengan keadaan,” sahut Mia pelan seraya menunduk. Akan tetapi, Coco masih dapat mendengar dengan jelas suara lembut itu.


 


“Baguslah, Mia. Aku yakin seiring dengan berjalannya waktu, luka itu akan menghilang,” ujar Vale.


 


Mia mende•sah dan sedikit mendongak supaya air mata yang mulai menetes, kembali masuk ke dalam pelupuk matanya.


 


“Sejauh apa hubungan kalian?” tanya Vale begitu saja.


 


Mia kembali menatap lurus ke depan. Sorotnya menerawang dan tampak kosong. Seutas senyuman samar terbit dari bibirnya. Tak ada jawaban yang keluar dari sana. Gadis itu malah kembali membayangkan malam terakhir yang ia lewati bersama Matteo. Ia mengingat setiap detil kejadian pada saat itu.


 


Mia bahkan masih dapat mengingat dengan jelas aroma tubuh pria itu. Setiap peluh yang menetes dan menempel di kulit halusnya, setiap kecupan yang didaratkan untuknya, Mia masih dapat merasakannya, seakan hal itu baru saja terjadi. Makin lama, Mia semakin larut dalam lamunannya tentang Matteo.


 


“Mia?” Valentino mengernyitkan keningnya melihat tingkah Mia yang sedikit aneh.


 


Sementara Mia sedikit tersentak karena panggilan Valentino yang seketika membuyarkan semua lamunan indahnya. “Ah ... maaf, Vale! Aku hanya terbawa suasana,” kilahnya.


Valentino tidak memedulikan apa yang Mia pikirkan saat itu, karena ia tidak menanyakannya kepada gadis itu. “Menikahlah denganku!” ujar Valentino dengan tiba-tiba. Ia menggenggam tangan Mia yang berada di atas meja.


 


“Apa?” tenggorokan Mia serasa tercekat mendengarnya. Gadis itu terkejut bukan main. Mia pun menjadi kelabakan.


 


“Dua bulan lagi kita akan diwisuda. Setelah itu, aku ingin menikahimu. Aku benar-benar ingin membahagiakanmu, Mia. Berikan aku kesempatan,” pinta Valentino dengan bersungguh-sungguh.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2