Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Broken Hearted Man


__ADS_3

Kedua sejoli itu menghentikan adegan panas yang hampir saja akan berlanjut pada sesuatu yang jauh lebih dari itu. Akan tetapi, berhubung suara ketukan di kaca jendela mobil tak juga berhenti dan bahkan terdengar semakin keras, maka mau tak mau mereka harus menyudahi semuanya. Dengan terpaksa Coco menurunkan kaca jendela tersebut.


Tampaklah seorang pria berwajah sangar di balik jendela kaca yang saat itu langsung menyeringai kepadanya. “Keluar!” hardiknya tanpa basa-basi terlebih dahulu. Sementara Coco tak langsung menjawab. Ia menoleh kepada Francesca yang kemudian segera menggeleng dengan tegas. Francesca tak ingin terjadi keributan di sana. Ia juga mengkhawatirkan Coco, meskipun gadis itu tahu jika Coco pasti mampu menghadapi pria tersebut dengan mudah.


Coco hendak membuka pintu mobil, tetapi Francesca lagi-lagi tak mengizinkannya. Gadis itu memegangi lengan Coco seraya kembali menggeleng dengan tegas. Wajahnya pun terlihat begitu cemas.


“Tak apa. Jangan khawatir,” ucap Coco pelan. Ia mencoba terlihat tenang di hadapan Francesca. Sebelum benar-benar keluar, Coco sempat mencium gadis itu untuk sesaat. “Tetaplah di dalam,” pesannya. Setelah itu, Coco lalu membuka pintu dan keluar.


Baru saja ia menutup pintu mobil, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memukul pundak bagian belakangnya dengan sebuah tongkat base ball. Coco sempat terhuyung ke depan. Ia hampir jatuh terperosok, tetapi untung saja karena ia dengan cepat dapat menguasai tubuhnya.


Coco segera menoleh ketika tongkat base ball itu kembali dilayangkan ke arahnya. Namun, dengan sigap ia menangkap tongkat itu seraya mengarahkan tendangannya lurus ke dada pria yang entah dari mana datangnya. Pria itu mundur sembari memegangi dadanya. Ia tampak begitu kesakitan. Sementara tongkat baseball yang dipegangnya terlepas dan kini berada di tangan Coco.


Tanpa diduga, seorang pria lain menyerangnya, lagi-lagi dari arah belakang. Pria itu bermaksud untuk menghujamkan belati kepada Coco, tapi tentu saja Coco mampu menghindar dengan gesit. Ia menangkis pisau yang diarahkan kepadanya menggunakan tongkat baseball tadi, sehingga pisau itu pun terlepas dan jatuh di atas paving block. Coco kemudian membalas serangan tersebut dengan menyarangkan tendangannya, dan tepat mengenai dagu bagian bawah dari pria itu sehingga membuatnya terjungkal.


Sesaat kemudian, Coco membalikkan badannya ketika dilihatnya seorang pria yang tiada lain adalah Fillipo, memaksa Francesca untuk keluar dari mobil. Sedangkan Francesca tampak tak melawan sama sekali, dan hal itu membuat Coco sedikit lengah. Tak pelak, sebuah hantaman kembali mengenai tubuh bagian belakangnya. Pria berambut cokelat itu terhuyung ke depan dan hampir saja menabrak mobil yang terpakir. Begitu ia menoleh, sebuah pukulan keras mendarat tepat di hidungnya, membuat Coco merasa pusing dan kelimpungan, sehingga tongkat baseball yang menjadi senjatanya terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Setelah itu, seorang pria yang lain segera memegangi kedua tangannya dari belakang, dan seorang lagi secara bertubi-tubi terus menghujani wajah Coco dengan pukulan keras. Darah segar mulai menetes dari hidung dan sudut bibir pria itu. Wajah rupawannya kini mulai dihiasi luka lebam.


Ketika hal itu sedang berlangsung, terdengar seruan dari seorang security yang tengah berlari ke arah mereka. Hal itu menjadi kesempatan bagi Coco untuk melawan. Ia kembali mengarahkan lututnya dengan keras tepat pada selang•kangan pria yang ada di hadapannya. Pria itu memekik kencang dan memegangi bagian bawah perutnya yang terasa ngilu.


Setelah itu, Coco menggerakan sikunya ke belakang dan tepat mengenai ulu hati pria yang tengah memegangi tangannya, hingga pria itu melepaskannya. Saat itulah Coco menarik rambut pria tersebut dari arah depan dan menyeretnya. Ia lalu membenturkan kepala pria tadi ke bagian depan mobil hingga beberapa kali. Coco masih juga mencengkeram rambut pria itu dengan begitu kencang.


Pria tersebut meringis dan berusaha untuk melawan. Tangannya meronta dan terus mencoba menggapai Coco, tapi dengan cepat Coco meraih tangan itu dan memelintirnya. Ia menahan leher si pria dengan lengannya hingga tak dapat bergerak. Bersamaan dengan itu, security telah tiba di dekatnya dan meringkus satu pria lain yang terkapar tak berdaya.

__ADS_1


Dengan kasar, pria berseragam tersebut menarik tubuh pria asing yang sudah dalam keadaan babak belur, bahkan salah satu lengan kemejanya sobek dan memperlihatkan sebuah tato yang menarik perhatian Coco. Segera Coco ikut menyingkap lengan kemeja pria yang sekarang berada dalam kekuasaannya saat itu. Matanya terbelalak ketika mengetahui bahwa pria yang berada dalam cengkeramannya juga memiliki tato yang sama, sebuah ukiran bergambar kepala macan hitam. Coco tak tahu dari kelompok mana kedua pria itu berasal. Namun, ia segera menyerahkannya kepada security tadi untuk diringkus bersama kawannya.


"Anda tak apa-apa, Tuan?" tanya security itu.


Coco mengangguk. "Bawa saja berandalan-berandalan ini. Mereka hanya pembuat keonaran," ucap Coco dengan kesal. Ia lalu mengarahkan tatapannya pada bangunan tinggi menjulang di mana salah satu ruangannya menjadi tempat tinggal Francesca. Ingin rasanya Coco melangkah ke sana dan memastikan apa yang terjadi pada gadis itu, tapi entah kenapa karena kakinya terasa begitu berat untuk digerakkan. Coco akhirnya memutuskan untuk masuk ke mobil dan memilih pulang ke apartemen Mia. Lagi pula, saat itu sudah terlalu malam.


Selama di dalam perjalanan, Coco mengemudi sambil terus berpikir. Ia tidak tahu hubungan seperti apa yang tengah dijalaninya saat ini. Francesca begitu mementingkan kelangsungan karier, jika dibandingkan dengan hubungan percintaan bersama dirinya. Coco pun merasa heran, karena Francesca begitu berat untuk melepaskan pria yang selama ini disebut-sebut sebagai penopang dari kelangsungan karier yang tengah gadis pujaannya itu jalani.


Malam kian larut. Namun, jalanan di kota Roma seolah tak merasakan kantuk atau lelah sama sekali, meskipun tidak seramai ketika siang hari. Coco memacu kendaraannya dengan semakin kencang. Ia ingin segera tiba di tempat tujuannya, yaitu apartemen yang dulu Mia tempati. Coco ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. Namun, ia pun tak tahu apakah Matteo dan Mia dan telah kembali atau belum dari club milik Adriano.


Tanpa sadar, Coco mengusap janggutnya yang terluka. Rasa perih mulai menjalar di sekujur tubuh. Akan tetapi, rasa sakit itu tak sebanding dengan luka hatinya yang muncul tiap kali mengingat perkataan Francesca. Saat itu, perasaannya akan selalu terasa ngilu. “Aku masih kuliah dan ingin mengejar karirku,” begitu kalimat Francesca yang terus terngiang di telinganya.


“Ah, brengsek!” umpat Coco seraya memukul kemudi. Tanpa pikir panjang, ia memutar balik kendaraannya dan kembali menyusuri jalan menuju apartemen Francesca. Coco bertekad untuk membujuk gadis itu sekali lagi. Ia akan mencoba dengan berbagai cara agar dirinya dapat mempengaruhi pemikiran Francesca.


“Saat ini Francy sedang tidak ingin ditemui oleh siapa pun, terlebih olehmu,” ujar Filippo dengan santainya.


“Omong kosong! Kau hanya tidak ingin aku bertemu dengannya,” sanggah Coco.


“Hei, kau lihat apa ini, Amico?” Filippo memperlihatkan kunci itu tepat di depan mata Coco. “Francy menitipkannya padaku, karena ia ingin agar besok pagi-pagi aku yang membukakan pintu apartemennya. Lalu mengantarkannya ke manapun ia mau,” ucapnya dengan pongah.


“Kau pikir aku percaya dengan semua bualanmu?” balas Coco dengan jengkel.


“Aku tidak peduli apakah kau mau percaya atau tidak. Lihat ini, resletingku masih belum tertutup dengan benar. Seperti biasa, Francy akan selalu menyerahkan dirinya kepadaku dengan sukarela, setiap kali ia merasa bersalah,” celotehnya sambil tertawa. Namun, tawa itu tak berlangsung lama karena Coco segala membungkam mulutnya dengan pukulan telak yang menghantam rahang kanan Filippo. Serta merta, pria jangkung itu jatuh tersungkur di depan kaki Coco.

__ADS_1


Dengan satu tangan, Coco membalik tubuh kurusnya hingga telentang. Dengan segera ia duduk di atas tubuh Filippo. Tangan kirinya mencengkeram kerah kemeja pria itu, sementara tangan kanannya tak henti memukuli wajah mulus Filippo, sampai dua gigi depan pria tersebut tanggal. Darah mulai mengucur dari sudut bibir Filippo, membasahi kemeja putihnya.


Coco sama sekali tak memiliki keinginan untuk berhenti sampai Filippo berteriak lantang, “Jangan egois, Teman! Apa yang sanggup kau berikan untuk Francy?” tangan Coco yang sudah terkepal, langsung membeku di depan hidung Filippo. “Memangnya kau bisa mewujudkan semua mimpinya? Francy ingin terkenal. Ia ingin wajahnya terpampang di semua majalah mode dan tabloid ternama. Ia ingin kehidupan yang mapan dan nyaman. Apa kau mampu mengabulkannya? Apa yang kau punya untuk membahagiakannya?”


rentetan pertanyaan Filippo itu telak menohok ulu hati Coco. Rasa nyeri makin menjadi, tak hanya di tubuhnya, tetapi juga jiwanya.


Perlahan, Coco melepas cengkeraman tangannya dan beringsut dari atas tubuh Filippo. Dengan langkah lunglai, pria bermata cokelat itu bangkit dan bergerak menjauh dari pria kurus yang masih terkapar di lantai basemen. Coco pun meninggalkannya begitu saja. Tak ada yang Coco pikirkan saat itu, selain pulang ke Brescia dan menjauh dari semuanya.


Sekarang ia telah menyadari semuanya. Mungkin karena itulah alasannya Francesca merasa berat untuk melepaskan Fillipo dan lebih sering mengabaikan dirinya. Jika sudah seperti itu, apa mau dikata. Takdir hidup memang tak berpihak kepadanya, dalam hal kemewahan materi yang berlimpah.


🍒


🍒


🍒


Hai, semua. Ceuceu datang lagi bawa rekomendasi novel keren untuk semua pembaca setia Matteo. Jangan lupa untuk segera dicek ya🤗


 


 


__ADS_1


 


__ADS_2