Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Nuovo Letto


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Matteo telah terbangun dari tidurnya. Begitu juga dengan Mia. Wanita muda itu baru keluar dari kamar mandi. Ia tertegun melihat Matteo yang sudah bersiap dengan kaos dan celana olahraganya. "Ganti bajumu dan ikutlah denganku," ajak Matteo sambil mengikat tali sepatunya.


"Ke mana?" tanya Mia seraya mengernyitkan kening. Ia meraih sisir dan mulai merapikan rambutnya di depan cermin rias yang cukup besar. Mia bahkan tidak peduli ketika Matteo mendekat dan berdiri di belakangnya. Pria itu kemudian memegangi kedua lengan Mia dan mengusap-usapnya perlahan.


"Kita akan berkeliling perkebunan sambil lari pagi. Aku yakin kau akan menyukainya," jawab Matteo seraya menatap sang istri dari pantulan cermin tersebut. Sementara Mia segera menghentikan aktivitasnya. Ia memegang sisir dengan tangan kanannya, kemudian ditepuk-tepukannya sisir tersebut pada telapak tangan sebelah kiri. Mia pun tampak berpikir.


Tanpa diduga, Maatteo merebut sisir itu. Ia lalu menyisir rambut panjang Mia hingga benar-benar rapi. "Rambutmu sangat indah. Aku suka wanita berambut panjang, mengingatkanku pada mendiang ibuku," ucapnya pelan. Ia menggenggam sebagian kecil rambut Mia dan menghirupnya dalam-dalam. Sementara Mia menatapnya tajam. "Apa kau juga selalu melakukan hal seperti itu kepada Camilla?" selidiknya.


Matteo mengela napas pelan. Ia lalu melepaskan rambut Mia dari genggamannya. Matteo kini memeluk wanita yang sedang dilanda cemburu terhadapnya. "Ada banyak hal yang kuberikan padamu, tapi tidak kuberikan pada Camilla. Salah satunya dan menjadi sesuatu yang sangat utama ialah hatiku. Entah kau akan percaya atau tidak, tapi kau merupakan wanita pertama yang terlihat begitu menarik bagiku. Tentunya bukan hanya menarik secara fisik. Lihatlah, kau telah memberikan banyak perubahan padaku, Mia. Setelah menikah denganmu, aku menjadi banyak bicara," tutur Matteo seraya tersenyum kalem.


"Oleh karena itu, aku memberikan bros peninggalan ibuku padamu," lanjut sang ketua Klan de Luca dengan begitu yakin.


"Aku menyukai ibumu, meskipun hanya melihatnya lewat foto. Ia sangat cantik dan terlihat begitu anggun. Menurutku, sepertinya ibumu wanita yang lembut. Akan tetapi, kenapa kau mengatakan jika ia cerewet?"


Matteo tersenyum simpul. "Ibuku memang sangat cerewet. Ia akan berbicara hal yang sama sebanyak lebih dari tiga kali, dalam selang beberapa waktu saja," jelas Matteo. Pria itu kemudian melepaskan pelukannya dari Mia. Ia lalu menyandarkan sebagian tubuhnya pada pinggiran meja rias dan menatap Mia yang sedang mengikat rambutnya. "Apa tubuhmu tidak pegal-pegal karena semalaman tidur di sofa?" pertanyaan yang terdengar begitu ringan dari Matteo.


Mia sudah selesai mengikat rambutnya. Ia lalu menoleh kepada sang suami. Akan tetapi, Mia tampaknya tidak berminat menjawab pertanyaan dari pria bermata abu-abu tersebut. Sedangkan Matteo pun tak ingin berdebat dengan Mia. Ia lebih memilih untuk memasang earphone dan beranjak dari kamar tersebut. Apa yang Matteo lakukan, tentu saja membuat Mia mengeluh kesal. Mia hendak melemparkan sisir yang yang kembali ia pakai untuk merapikan ujung rambutnya, andai saja Matteo tidak kembali muncul dari balik pintu.


"Aku tunggu lima menit lagi untuk berganti pakaian. Jangan sampai kita dikalahkan oleh cahaya matahari," ucap Matteo. Ia kembali menghilang di balik pintu kayu berwarna coklat tersebut.


Mia segera membuka lemari pakaian yang disiapkan khusus untuknya. Di sana dirinya menemukan beberapa pakaian yang bisa ia gunakan untuk berolahraga. Pandangan Mia kemudian beralih pada lemari kaca dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari lemari pakaiannya. Di dalam lemari kaca tersebut, terdapat beberapa pasang sepatu yang telah Matteo belikan untuknya. Rata-rata adalah sepatu dengan hak yang cukup tinggi dan kecil, dengan model yang sangat bagus. Namun, di antara sepatu-sepatu cantik tersebut, Mia melihat ada sekitar tiga pasang sepatu flat, salah satunya adalah sepatu untuk berolahraga.


Tanpa banyak berpikir, Mia segera meraih sepatu itu dan memakainya. Ia juga telah berganti kostum dengan pakaian khusus olahraga. Setelah dirasa siap, barulah ia keluar dari kamar. Di sana, Mia mendapati Matteo yang baru selesai menghubungi seseorang. Pria itu segera mengakhiri perbincangannya, ketika melihat kedatangan Mia yang sudah bersiap dengan pakaian olahraganya.

__ADS_1


Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Matteo. Tanpa banyak bicara, pria itu segera menuntun Mia menuruni anak tangga. Mereka kemudian melewati sebuah lorong yang cukup lebar dan panjang. Lorong itu berakhir di depan perkebunan anggur yang sangat luas. Di antara pohon-pohon anggur yang sedang berbuah itu, terdapat jalan yang memang disediakan untuk mobil-mobil pengangkut hasil panen. Matteo mengajak Mia untuk memulai acara lari pagi pertama mereka dari sana.


Ini merupakan pengalaman pertama bagi Mia. Ia memang senang berjalan kaki menuju kampusnya, tetapi ia tidak pernah menyengajakan dirinya untuk berolahraga seperti saat itu. Ia terlalu sibuk dengan urusan rumah, kampus, dan kedai. Jadwalnya setiap hari memang selalu padat.


Mia terus berlari di samping Matteo. Sesekali wanita berkuncir kuda tersebut melirik sang suami. Wajah pria itu tampak begitu datar dan dingin. Ia juga terlihat sangat fokus dan serius.


Baru beberapa menit berlari, Mia sudah kewalahan. Ia berhenti dengan napas terengah-engah. Mia kemudian memegangi kedua lututnya. Sementara tatapannya masih tertuju kepada Matteo yang berlari sudah cukup jauh darinya.


Pria itu terlalu fokus, sehingga ia tidak menyadari jika Mia tertinggal jauh di belakangnya. Setelah beberapa saat, barulah ia tersadar. Matteo kemudian tertegun. Ia lalu menoleh. Dari kejauhan, tampak Mia yang sedang berdiri dan sesekali membungkuk. Matteo kemudian mengempaskan napas pelan. Dengan terpaksa, ia harus kembali ke tempat Mia berada.


Tak membutuhkan waktu yang lama bagi Matteo untuk menempuh jarak sekitar kurang lebih seratus lima puluh meter. Tiba-tiba, ia sudah berdiri di depan Mia. "Schifoso (payah)!" ledek Matteo dengan senyum mengejek. Mia segera mendelik ke arahnya. Sepasang bola matanya yang berwarna coklat, terlihat kesal. Mia segera membalikan badan dengan sikap merajuk. Entah apa yang mempengaruhi wanita muda itu.


"Apa kau ada masalah, Mia?" tanya Matteo. Sementara Mia hanya membisu. Namun, Matteo tak ingin tinggal diam. Ia menyentuh pundak sang istri dan membuatnya berbalik. "Katakan padaku ada masalah apa?" tanya Matteo lagi. "Apa ini masih berhubungan dengan Camilla?" desaknya. Sedangkan Mia tetap terdiam.


"Siapa yang kau hubungi tadi selama menungguku di luar kamar?" selidik Mia. Pertanyaannya lebih terdengar seperti sebuah tuduhan. Sementara Matteo hanya mengernyitkan keningnya. "Kau segera menutup sambungan telepon saat aku keluar!" Mia berkata sambil memalingkan wajahnya. Sedangkan Matteo justru malah tertawa pelan melihat sikap sang istri. Ia semakin mendekat kepada wanita cantik pujaan hatinya.


Matteo sedikit menunduk demi melihat wajah Mia yang tersembunyi di balik sikap merajuknya. "Jadi, seperti inikah Mia ketika dilanda cemburu?" goda Matteo dengan tenangnya. Ia menyentuh dagu Mia dan mengangkatnya perlahan. Sebelum Mia kembali memalingkan wajahnya, Matteo segera menangkup wajah cantik itu dengan lembut. "Apa yang membuatmu begitu cemburu? Apa kau begitu takut kehilangan diriku?" suara Matteo terdengar begitu dalam, sedangkan helaan napasnya kian menghangat di wajah Mia.


"Apa kau bisa dipercaya, Matteo de Luca?" tanya Mia. Ia akhirnya melawan tatapan mata abu-abu itu dengan berani.


"Apa aku terlihat seperti seorang penipu?" Matteo balik bertanya. "Kau harus mengetahui satu hal, Mia. Aku adalah seseorang yang sangat selektif. Tidak setiap orang dapat masuk ke dalam hidupku dengan mudah, apalagi diberi keberuntungan karena telah menjadi yang paling istimewa bagiku. Seharusnya kau tidak perlu mencemaskan apa-apa, karena untuk saat ini dan sampai kapanpun kau akan tetap menjadi yang paling istimewa bagiku," Matteo menatap lekat wajah cantik Mia.


"Aku tidak pernah banyak bicara selain terhadap ibuku. Namun, lihatlah saat ini. Aku bahkan sudah terlalu banyak bicara kepadamu, Mia. Aku bahkan mengungkapkan semua perasaanku, kesedihanku, semuanya, hanya denganmu."

__ADS_1


Mia tersenyum lembut. Kata-kata yang diucapkan Matteo untuknya, terdengar begitu meyakinkan. Tatap mata pria itupun menyiratkan sebuah keseriusan yang tidak dibuat-buat. Tak ada alasan lagi bagi Mia untuk meragukannya, karena itulah Mia tidak menolak ketika Matteo mendaratkan sebuah ciuman mesra di bibirnya untuk beberapa saat. Matteo baru berhenti, ketika ia menyadari bahwa ada sekelompok pekerja perkebunan yang sedang mengarah kepadanya dan Mia.


"Ada apa, Theo?" tanya Mia heran karena melihat sikap Matteo yang dirasa aneh, terlebih saat itu Matteo melihat ke segala arah. Ia seperti tengah mencurigai sesuatu.


"Tidak ada apa-apa," jawab Matteo berusaha untuk bersikap tenang dan biasa saja. "Aku rasa para pegawai perkebunan sudah memulai aktivitas mereka. Semoga tidak ada yang mengintip kita sedang pacaran di sini," celoteh Matteo seraya menuntun Mia kembali menuju ke dalam rumah. Sudah terlalu siang untuk melanjutkan aktivitas lari pagi. Suasana di perkebunan sebentar lagi akan semakin ramai.


Mereka kembali berjalan melewati lorong dan naik ke ruang utama. Saat itu, Mia tertegun karena melihat ada beberapa orang pria yang sibuk keluar masuk kamarnya dan Matteo. "Apa yang mereka lakukan di kamar kita, Theo?" tanya Mia dengan wajah cemas. Mia mempercepat langkahnya menuju kamar. Ia bahkan setengah menyeret Matteo saat itu.


Wajah cemas yang diiringi langkah terburu-buru Mia, tiba-tiba memudar ketika ia melihat sesuatu di dalam kamarnya. Mia lalu melirik Matteo dengan ekspresi tidak percaya.


"Kau menyukainya, Sayang?" bisik Matteo.


Mia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lebar seraya menatap tempat tidur baru yang telah Matteo siapkan untuknya.


πŸ’


πŸ’


πŸ’


Mia lagi bahagia karena dibelikan tempat tidur baru oleh Matteo. Mari kita bahagiakan diri kita dengan membaca novel keren iniπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_1


__ADS_2