
“Jelaskan padaku sekarang juga, Mia!” Mr. Gio tak juga menurunkan volume suaranya terhadap Mia. Sedangkan gadis itu masih terdiam dan menunduk.
“Aku harap kau memiliki alasan yang bagus dan masuk akal untuk ketidakbenaran yang telah kau lakukan! Apa yang harus kukatakan kepada ibumu, jika nanti aku bertemu dengannya di akhirat?” kemarahan Mr. Gio telah mencapai pada puncaknya. Hal itu terjadi karena sikap Mia yang tidak berani membantahnya. Mia biasa bersikap seperti itu ketika ia berada dalam posisi yang salah.
“Jangan bicara seperti itu, Ayah!” pinta Mia dengan suaranya yang pelan. “Ini semua tidak seperti yang Ayah bayangkan!” bantah Mia seraya tetap menundukan wajahnya.
“Siapa yang tahu dengan apa yang kau dan Theo lakukan selama berduaan di dalam kedai?” sela Daniella dengan seenaknya. Ucapannya telah membuat amarah Mr. Gio semakin bertambah.
Sementara Mia dan Matteo serentak melayangkan tatapan protes kepada gadis itu. Daniella hanya menyunggingkan senyuman sinisnya.
“Apa maksudmu, Dani? Aku bukan dirimu yang begitu mudahnya berciuman dengan pria yang baru kukenal!” tegas Mia. Dengan lantang ia membantah semua tudingan yang dialamatkan Daniella kepadanya.
“Itu semua karena kau belum tahu bagaimana rasanya mencium seorang pria tampan,” cibir Daniella dengan diiringi tawa pelan.
“Dani!” sergah Magdalena. Matanya melotot sempurna kepada putri sulungnya. “Kata-katamu sungguh tidak sopan!” lanjutnya dengan tegas. Daniella tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya tanpa mengubah posisi berdirinya.
Sementara itu, Mia kembali melayangkan tatapannya kepada Mr. Gio yang saat itu masih terlihat dipenuhi amarah. Wajah tua-nya yang putih terlihat memerah karena kemarahan yang belum terlampiaskan sepenuhnya. Namun, Mia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tahu jika emosi yang berlebihan, akan berdampak tidak baik untuk kesehatan sang ayah.
Dengan segenap kelembutan yang ada di dalam diri gadis itu, Mia mencoba untuk menenangkan ayahnya. “Ayah, aku tidak akan pernah melupakan semua nasihat Ayah. Aku berani bersumpah atas nama mendiang ibuku. Aku tidak melakukan hal yang macam-macam dengannya! Aku hanya memberinya tempat untuk berteduh dan beristirahat, tidak lebih dari itu!” jelas Mia dengan bersungguh-sungguh.
Namun, Mr. Gio seakan tidak langsung percaya dengan penjelasan Mia. Ia masih melayangkan tatapan tajam penuh curiga terhadap anak gadisnya.
__ADS_1
Mia dapat merasakan keraguan sang ayah dengan begitu jelas. Selama ini, Mr. Gio tidak pernah menatapnya dengan penuh kemarahan seperti itu. Berbeda dengan kali ini. Pria itu terlihat sangat menakutkan. Mia tidak berani melawan tatapan tajam itu. Ia lebih memilih untuk menyembunyikan wajah cantiknya dan berharap agar sang ayah segera menyudahi kemarahannya.
Melihat Mia merasa tersudut dalam amarah Mr. Gio, Matteo akhirnya ikut buka suara. Ia merasa perlu untuk memberikan penjelasan yang sebenarnya, kepada pria yang masih dikuasai oleh amarahnya.
“Tuan, semua yang dikatakan Mia memang benar. Mia tidak membawaku dengan sengaja ke dalam kedai milikmu, melainkan akulah yang mendatanginya. Mia sudah banyak membantuku selama ini, dan aku tidak ingin ia mendapatkan masalah karena diriku,” jelas Matteo dengan tenangnya.
Mr. Gio mengalihkan tatapan tajamnya kepada pria berambut gondrong itu. Akan tetapi, ia tidak bicara sedikitpun.
“Anda beruntung memiliki putri seperti Mia,” ucap Matteo lagi seraya menatap Mia yang saat itu masih menundukan wajahnya. “Ia gadis yang baik dan sangat sopan, dan aku tidak akan pernah berani berbuat macam-macam terhadapnya. Anda tidak perlu khawatir, karena aku akan segera kembali ke Brescia ... malam ini juga,” Matteo mengakhiri kata-katanya. Namun, ucapan terakhir Matteo telah berhasil membuat Mia mengangkat wajahnya dengan raut penuh kecemasan.
“Tidak, Theo! Lukamu masih belum pulih benar. Tunggulah hingga satu atau dua hari lagi!” cegah Mia dengan cemas. Entah sadar atau tidak, lagi-lagi Mia menunjukkan perhatiannya kepada Matteo.
Kenapa harus Mia? Kenapa harus gadis manis dan lugu seperti dirinya yang mampu menghadirkan rasa hangat itu? Belum genap satu minggu Matteo mengenal gadis itu, tetapi rasanya ia telah begitu mengenal sosok indah dengan paras cantik dan senyuman lembut yang mampu menggetarkan hati seorang Matteo de Luca.
Berangsur-angsur kemarahan Mr. Gio mulai mereda. Tatap matanya yang tajam mulai melunak. Raut mukanya pun tidak semenakutkan sebelumnya. Ditatapnya wajah lugu putri kesayangannya yang saat itu masih menatap Matteo dengan lekat.
Mr. Gio kemudian melirik ke arah Matteo yang juga tengah menatap Mia dengan cara yang sama. Ia tiba-tiba teringat pada masa mudanya dulu, saat-saat di mana dirinya tengah dilanda kasmaran terhadap Rosane, ibu kandung Mia yang telah lama tiada.
Apakah Mia dan Matteo juga tengah dilanda kasmaran? Akan tetapi, kenapa justru Daniella yang mengaku sebagai kekasih Matteo? Mr. Gio tidak dapat memahami permainan apa yang tengah dilakukan ketiga muda-mudi itu. Namun, satu hal yang pasti, kini hatinya merasa lega karena Mia masih dapat menjaga dirinya dengan sangat baik.
“Baiklah,” Mr. Gio mulai memecah kebisuan di antara mereka semua. “Siapa namamu, Giovanotto?” tanya Mr. Gio kepada Matteo sehingga membuat pria itu tersadar dan segera menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan Mia. Gadis itu kembali menundukan wajahnya. Ia tidak menyangka dapat bertatapan dalam waktu yang cukup lama dengan Matteo.
__ADS_1
“Matteo ... Bellucci. Namaku Matteo Bellucci, Tuan,” tegas Matteo.
Mr. Gio manggut-manggut. Ia kemudian melanjutkan ucapannya. “Jadi, kau berasal dari Brescia?” tanya Mr. Gio lagi. Ia mulai menginterogasi Matteo dengan pertanyaan-pertanyaan ringan.
“Bagaimana kau bisa sampai terluka?” selidik pria paruh baya itu kemudian. Ia melanjutkan interogasinya dengan pertanyaan yang jauh lebih serius.
Matteo masih terlihat tenang, Baru saja ia akan menjawab pertanyaan yang diajukan Mr. Gio, Mia telah terlebih dulu menjawabnya. “Theo dirampok, Ayah. Karena itu ia terluka. Ayah tidak tahu jika akulah yang telah mengeluarkan peluru dari lengannya. Itu sangat luar biasa!” Mia tampak begitu antusias menjelaskan kepada sang ayah, bagaimana awal mulanya Matteo datang ke kedai.
Namun, Mia tidak dapat menjelaskan alasannya dengan pasti, mengapa ia sampai membantu pria itu untuk bersembunyi, karena ia sendiri tidak memahami mengapa Matteo tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.
Hal itu telah membuat Mr. Gio semakin tidak dapat memercayai pria itu dengan begitu saja, terlebih kemunculan Matteo saat itu bersamaan dengan ditemukannya mayat di Kanal Utara.
“Kau yakin jika dia bukanlah seorang penjahat yang dimaksud Kepala Polisi Leonardo, Mia?” tanya Mr. Gio membuat Mia seketika tertegun. Mia seperti kehilangan senyum manis dan antusiasmenya. Gadis itu tidak dapat memastikan dengan pasti, karena sebenarnya ia juga merasakan kecurigaan yang sama dengan yang dirasakan oleh Mr. Gio saat itu.
Mia kembali melayangkan tatapannya kepada Matteo yang saat itu masih berdiri dengan ekspresi wajahnya yang datar. Pria itu seakan tidak terpengaruh sama sekali oleh kata-kata Mr. Gio yang seakan menyudutkannya.
__ADS_1