
Semenjak hari itu, Matteo merawat Mia selama berada di rumah sakit. Ia bahkan membuat Damiano begitu bangga. Sedangkan Coco kerap kali mengernyitkan keningnya, melihat sikap yang ditunjukkan Matteo terhadap Mia. Pria itu terlihat sangat berbeda.
"Kau sudah banyak berubah, Theo. Sejujurnya aku tidak mengerti bagaimana seorang wanita seperti Mia bisa membalikan karaktermu dengan sangat mudah," ucap Coco seraya menyodorkan sekaleng soft drink kepada Matteo yang saat itu tengah duduk di sofa kamar rawat Mia.
"Mia tidak pernah mengubah karakterku. Ia hanya menggali sesuatu yang lama terpendam. Aku bahkan tak tahu, jika diriku masih memiliki perasaan itu. Ada banyak hal yang membuat hatiku tersentuh. Ini adalah pertama kalinya aku begitu takut saat melihat darah. Aku dapat mencium bau amis dengan sangat tajam dan begitu menyengat. Entah bagaimana dulu aku dapat menikmati hidup dengan aroma seperti itu?" Matteo meneguk minumannya.
"Kau memang benar dengan memilih Mia dalam hidupmu. Sekali lagi Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya. Siapa sangka jika seorang Matteo de Luca dapat ...." Coco tidak melanjutkan kata-katanya, karena saat itu terdengar suara ketukan di pintu. Matteo segera beranjak dari duduknya. Ia lalu membuka pintu itu. Seketika Matteo tertegun melihat sosok pria yang berdiri di luar kamar rawat Mia.
Adriano D'Angelo berdiri di sana dengan sebuah bucket bunga yang sangat cantik. Raut wajah pria bermata biru itu terlihat begitu segar dan berseri. "Apa kabar, Tuan de Luca," sapanya hangat dengan nada bicara yang terdengar sangat bersahabat. "Aku ingin melihat keadaan Nyonya de Luca," lanjutnya.
"Baik," sahut Matteo pelan. Tak ada alasan baginya untuk menolak kedatangan Adriano di sana. Matteo pun mempersilakan pria itu untuk masuk. Sesaat kemudian, Adriano mengalihkan pandangannya kepada Coco yang tengah duduk sambil menikmati sekaleng soft drink. Coco mengangkat kaleng minumannya seraya tersenyum ramah. Adriano membalasnya dengan sebuah anggukan pelan.
"Bagaimana keadaan Nyonya de Luca saat ini?" tanya Adriano ketika Matteo sudah berada di sebelah ranjang Mia. Ia seakan tengah menjaga ranjang itu agar Adriano tak mendekat ke sana.
"Keadaan Mia sudah mulai stabil. Dokter telah mengizinkannya untuk pulang," jawab Matteo seraya memperhatikan Mia yang saat itu tampak tertidur pulas. Ia kemudian menerima bucket bunga yang disodorkan Adriano padanya. "Aku pikir Anda masih berada di Monaco," ujar Matteo. Tak biasanya ia berbasa-basi kepada Adriano.
"Aku sudah berada di Roma sejak dua hari yang lalu, tapi baru sempat mampir hari ini. Ada banyak sekali hal yang harus kuurus. Begitulah saat kita pertama kali merintis usaha di tempat yang berbeda," terang Adriano masih dengan pembawaannya yang hangat.
"Ya. Semoga bisnismu berjalan lancar, Tuan D'Angelo," balas Matteo datar. "Silakan duduk. Anda sudah berkenalan dengan sahabatku, kan?" Matteo mempersilakan Adriano untuk menuju sofa, di mana Coco tangah bersantai dengan minuman kaleng. Pria bermata cokelat itu segera berdiri, ketika Adriano berjalan ke arahnya. Dengan ramah, Coco mengulurkan tangan dan mengajak pria rupawan itu untuk bersalaman.
"Apa kabar, Tuan D'Angelo?" sapa Coco yang memang selalu bersikap ramah dan akrab terhadap siapa saja, bahkan orang yang baru ia temui sekalipun.
"Baik, Tuan ...." Adriano tak melanjutkan kata-katanya. Ia pernah bertemu Coco, tapi tak tahu nama belakang pria tersebut.
__ADS_1
"Ricci," sahut Coco dengan senyumnya.
"Oh, Tuan Ricci. Kita memang belum sempat berkenalan," ujar Adriano seraya duduk.
"Ya. Kita bertemu dalam situasi yang tidak tepat," balas Coco. Ia menoleh kepada Matteo yang baru bergabung dengan mereka.
"Sahabatku adalah pemilik bengkel reparasi mobil. Ia memiliki bakat yang luar biasa dalam hal itu," sanjung Matteo seraya melirik sahabat kentalnya yang saat itu merasa begitu tersanjung. Jarang sekali Coco mendapat sebuah pujian dari seorang Matteo.
"Aku memiliki banyak bakat, Amico," timpal Coco dengan nada bercanda.
"Ah, tidak! Semenjak kau mengenal Francesca, kau telah kehilangan bakatmu dalam hal memikat wanita," bantah Matteo dengan senyum kecilnya.
"Sama saja denganmu, Amico. Kau bahkan jauh lebih parah dariku. Lihatlah, Mia sudah berhasil membuatmu terlihat begitu kacau," balas Coco yang tak mau kalah. Sementara Adriano memperhatikan kedua sahabat itu dengan tatapan aneh. Namun, tak berselang lama pria itu pun tersenyum.
"Aku rasa, semua pria memang memiliki bakat seperti itu. Aku juga pernah mengalaminya, ketika ada seorang wanita yang membuat hidupku terasa begitu kacau, tapi itu sudah berlalu," ujar Adriano membuat sorot mata abu-abu Matteo mengarah cukup tajam padanya.
"Jujur saja, aku memang menyukainya. Namun, tidak pernah ada yang istimewa, mungkin belum. Aku yakin jika suatu saat nanti, aku akan dapat mengikuti jejak Tuan de Luca. Aku akan menemukan seorang wanita yang benar-benar bisa mengguncangkan duniaku dengan seketika," Adriano mengarahkan tatapannya kepada Matteo yang saat itu tengah menatapnya juga.
Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Matteo. "Ya, tentu saja. Satu hal yang penting, carilah wanita lajang," ucap Matteo dingin dan bernada sindiran untuk pria itu. Sementara Coco segera menggaruk keningnya saat mendengar ucapan Matteo barusan.
Sesaat kemudian, perhatian ketiga pria itu serentak tertuju kepada Mia yang mulai terbangun. Ia menyebut nama Matteo dengan lemah dan agak parau. Segera Matteo beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri. "Mia, Sayang. Kau butuh sesuatu?" lembut, Matteo menyentuh wajah pucat Mia yang belum sepenuhnya sadar. Perlahan Mia membuka matanya dengan sempurna.
"Aku haus, Theo," ucap Mia pelan.
__ADS_1
Tanpa diminta dua kali, Matteo segera mengambil air minum dan mengarahkan sedotannya pada bibir Mia. Ia terus memegangi gelas itu hingga Mia berhenti meneguk isinya. Sesaat kemudian, Mia melirik bucket bunga yang Matteo letakan di atas kabinet dengan laci empat susun. "Bunga yang cantik," ucap Mia pelan seraya tersenyum kepada Matteo.
"Tuan D'Angelo yang membawakannya. Ia datang untuk menjengukmu," Matteo menanggapi ucapan Mia dengan rona sedikit masam.
"Nyonya de Luca," tiba-tiba Adriano sudah berada di sebelah Matteo. Ia berdiri tepat di dekat ranjang Mia. Pria itu menatap wanita yang masih terbaring lemah dengan kepala berbalut perban. "Bagaimana keadaan Anda sekarang?" sapa Adriano. Kedua bola matanya yang berwarna biru, tampak berbinar saat melihat Mia yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Jauh lebih baik," jawab Mia. "Terima kasih bunganya," lanjut wanita bermata cokelat itu pelan.
"Semoga itu bisa sedikit menghibur Anda, Nyonya," sahut Adriano dengan senyumannya yang terlihat begitu tulus. Senyuman yang membuat Matteo merasa begitu terganggu. Instingnya mengatakan jika Adriano masih memiliki ketertarikan lebih terhadap Mia.
......................
Keesokan harinya, dokter yang menangani perawatan Mia selama di rumah sakit, datang berkunjung untuk melakukan pemeriksaan terakhir sebelum Mia pulang. Ia memastikan bahwa kondisi Mia sudah benar-benar stabil.
Matteo begitu setia menemani Mia selama lebih dari dua minggu dalam masa perawatan itu. Setiap hari, ia selalu memberikan semangat terhadap sang istri. Tak ubahnya dengan hari itu, di mana dokter akan melepas perban yang membebat kepala Mia.
Mia sudah mengetahui jika ia telah kehilangan rambut cokelatnya yang indah. Namun, ia tetap tak kuasa menahan air mata, ketika harus melihat sendiri keadaan dirinya melalui cermin kecil milik Daniella. Mia merasa dirinya terlihat begitu aneh tanpa rambut yang selama ini telah mempercantik ragawinya. Wanita muda itu pun terisak, begitu juga dengan Daniella dan Francesca yang kebetulan ada di sana. Sementara Coco dan Damiano menunggu di luar. Mereka tengah mempersiapkan rencana kepulangan Mia hari itu.
"Tak apa, Sayang," Matteo merengkuh pundak Mia seraya mencium keningnya. "Rambutmu bisa tumbuh lagi nanti seiring berjalannya waktu. Aku lebih menginginkan kesembuhan jika dibandingkan penampilan cantikmu," ucap Matteo. Ia mencoba untuk menenangkan Mia yang saat itu tampak sangat terguncang.
"Iya, Mia. Theo benar. Lagi pula, zaman sekarang semuanya sudah serba mudah. Kau dapat melakukan banyak perawatan atau sesuatu yang lain yang dapat mempercepat penumbuhan rambutmu. Kau juga bisa memakai wig untuk sementara," timpal Daniella. Namun, hal itu tak membuat Mia menghentikan tangisnya.
Sebagai seorang wanita, rambut adalah sesuatu yang sangat berharga. Itu seperti sebuah harga diri yang harus selalu dijaga dan dirawat dengan sebaik mungkin. Tak salah jika banyak yang mengatakan bahwa rambut adalah mahkota, dan merupakan sebuah perhiasan yang tak ternilai.
__ADS_1
Matteo terus berusaha untuk menenangkan Mia, hingga Francesca menghampirinya. "Mia, aku punya sesuatu untukmu," ucap gadis bermata hazel tersebut. Matteo kemudian melepaskan rangkulannya dari Mia ketika Francesca semakin mendekat. Gadis itu lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Adalah sebuah turban cantik berwarna hitam. Francesca lalu memasangkan turban tersebut hingga menutupi kepala Mia dan merapikannya. Setelah itu, ia kembali menyodorkan cermin kecil tadi. "Kau tetap terlihat cantik, Mia. Kau tahu kenapa? Karena kecantikanmu bukan hanya dari fisik semata, tapi kau memiliki kebaikan dan kelembutan hati yang membuatmu akan selalu terlihat cantik, meskipun tanpa rambut sekalipun. Itulah yang membuatmu jauh lebih berharga jika dibandingkan dengan rambut paling indah manapun. Tetaplah tersenyum dan buat dirimu bahagia," Francesca memeluk Mia dengan erat.