Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Migliore Amico


__ADS_3

"Ceritakan sesuatu padaku," pinta Mia seraya mengalihkan jemarinya ke dagu Matteo. Ia memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sana. Matteo kemudian melirik Mia untuk sesaat. Pria itu lalu mengecup kening sang istri dengan penuh cinta. "Apa yang harus kuceritakan padamu?" tanya Matteo pelan.


"Apakah dulu kau memiliki banyak kekasih, Theo?" tanya Mia dengan wajah yang terlihat sangat penasaran. Namun, Matteo seakan tidak terlalu menyukai pertanyaan tersebut.


"Kau bertanya seperti anak remaja yang baru pacaran," ujar Matteo seraya kembali mengecup kening Mia.


"Aku hanya ingin tahu seperti apa seorang Matteo de Luca sebelum mengenalku," kilah Mia. Gerakannya terus merayu sang suami agar bersedia untuk membagi sedikit cerita hidupnya.


Matteo tersenyum simpul. Ia kembali melirik Mia untuk sesaat, lalu mengarahkan pandangannya ke depan. "Aku bukan tipikal orang yang bisa berbaur dengan siapa saja, Mia. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalam lingkunganku. Saat itu, Tuan Roberto de Luca memasukanku ke sekolah yang paling bergengsi di Palermo, tapi sayangnya aku tidak nyaman berada di sana. Tak berselang lama, beliau memindahkanku ke sekolah lain. Akan tetapi, hasilnya sama saja," tutur Matteo ringan. Tak terlihat ada beban sama sekali dalam nada bicaranya.


"Lalu?" Mia merasa penasaran.


"Akhirnya, ayah memutuskan untuk mendatangkan seorang guru privat. Aku rasa itu cukup efektif, karena rasanya memang jauh lebih nyaman. Setelah itu, aku mengenal Damiano. Ia sangat hebat dalam menunggang kuda. Entah bagaimana awalnya, tapi saat itu aku langsung memintanya untuk mengajariku. Makin lama, kami semakin dekat. Ayah memutuskan untuk menjadikan Damiano sebagai pengasuhku," tutur Matteo lagi.


"Damiano pria yang sangat baik dan juga bijaksana. Saat bersamanya, aku merasa seperti tengah bersama ayahku," ujar Mia yang kini asyik memainkan telunjuknya di dada berlapis kemeja hitam Matteo.


"Ya, kau benar. Damiano adalah sosok pria yang bisa dijadikan panutan. Namun, tetap saja karena terkadang aku membangkang padanya," Matteo menyunggingkan senyuman kecil. Terkadang ia merasa lucu dengan kehidupannya sendiri. Jika dulu Matteo merupakan orang yang sangat pendiam dan tertutup, tapi kini ia dapat bercerita banyak hal kepada Mia. Itu sesuatu yang memang terasa melegakan baginya.


"Lalu, sudah berapa lama kau mengenal Ricci?" tanya Mia lagi.


"Sangat lama. Saat itu usia kami masih sama-sama remaja. Aku masih ingat betul dengan pertemuan pertama kami berdua," Matteo mulai menerawang pada masa silam, ketika usianya saat itu baru beranjak tiga belas tahun.


Pada suatu sore yang cerah, Matteo diajak oleh sang kakek, yaitu Corradeo de Luca untuk menemaninya pergi ke taman. Seperti biasa, ia tak akan bisa membantah keinginan pria tua itu, karena Matteo begitu dekat dengannya.


Matteo remaja, duduk di atas bangku kayu yang berada di bawah sebuah pohon rindang. Setiap kali menemani sang kakek ke sana, tidak ada banyak hal yang ia lakukan selain menikmati suasana sore sambil mengamati orang-orang yang juga ingin menghabiskan sore mereka di taman. Terkadang, Matteo mendengarkan cerita sang kakek tentang banyak hal yang membuatnya selalu merasa tertarik.


Namun, tidak dengan sore itu. Tatapan tajam dari sepasang mata abu-abu Matteo, tanpa sengaja menangkap sebuah pemandangan yang ia rasa jauh lebih menarik dari cerita sang kakek. Matteo lalu meminta izin kepada kakeknya untuk pergi sebentar dan menghampiri hal yang telah menarik perhatiannya itu.


Adalah seorang anak remaja berambut ikal dengan warna cokelat, yang tengah asyik bermain skateboard. Ia terlihat begitu lihai dalam mengendalikan papan beroda itu. Kelincahannya dalam bergerak dengan gaya-gaya menantang, telah membuat Matteo menjadi penasaran. Ia yang pendiam dan tertutup, kali ini mengikuti kata hatinya. Kakinya melangkah ke arah anak remaja tersebut.

__ADS_1


Menyadari jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian dari seseorang, anak remaja itu pun menghentikan permainannya dan menoleh kepada Matteo. Ia kemudian tersenyum ramah. Senyuman yang terasa begitu hangat dan bersahabat. "Hai, Amico. Mari ikut bermain," ajaknya dengan begitu akrab, seakan ia telah mengenal Matteo dengan cukup lama. Matteo hanya menggeleng pelan pada awalnya. Namun, ia tetap memperhatikan anak remaja itu bermain dari pinggir arena.


Makin lama, rasa penasaran dalam diri Matteo semakin besar. Ia memberanikan diri untuk menghampiri remaja berambut cokelat tersebut. "Seberapa sulit bermain itu?" tanya Matteo membuat remaja tadi kembali menghentikan permainannya. Ia menatap Matteo untuk sesaat.


"Sangat mudah, Amico. Kau hanya perlu menjaga keseimbangan tubuhmu," jawabnya. "Apa kau tidak pernah bermain skateboard?" ia bertanya balik.


Matteo menggeleng pelan. "Aku memiliki hobi yang lain," jawab Matteo datar.


"Pasti hobimu juga sangat menarik. Kau terlihat pintar," celoteh remaja itu. Ia lalu mengulurkan tangannya dan mengajak Matteo bersalaman. "Namaku Coco," ia menyebutkan namanya, meskipun untuk sesaat, Matteo tampak ragu dalam menanggapinya. Akan tetapi, tak berselang lama ia pun membalas jabat tangan remaja yang ternyata bernama Coco tersebut.


"Theo," Matteo menyebutkan namanya.


Itulah sepenggal cerita awal mula perkenalan antara Matteo dan Coco. Sejak saat itu, Matteo kerap datang ke taman pada sore hari, meskipun tanpa sang sang kakek, karena Corradeo de Luca telah kembali ke Pulau Elba. Namun, Matteo sudah mendapatkan teman untuk menghabiskan sorenya. Coco terus mengajarinya meluncur di atas papan skateboard, hingga Matteo cukup menguasai permainan tersebut meskipun ia harus terjatuh berkali-kali.


"Aku tidak akan pernah lupa dengan kenangan itu, Mia," Matteo masih dengan tatapan yang menerawang. "Aku merasa heran, karena kami bisa berteman baik dalam waktu yang cukup singkat. Aku merasakan ada sebuah ikatan yang sangat istimewa dengannya," lanjutnya.


"Untung saja, Coco pernah memberitahukan alamatnya padaku. Entahlah Mia, tapi aku merasa begitu cemas. Instingku biasanya tak pernah meleset," Matteo kembali menghentikan ceritanya untuk sesaat. Ia lalu memalingkan wajahnya dari Mia.


"Ada apa, Theo?" tanya Mia resah. Ia lalu menegakkan posisi duduknya dan menatap lekat sang suami yang masih memalingkan wajah darinya.


"Aku melihatnya duduk sendiri dan termenung. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Coco bahkan tak menyadari kehadiranku di sana. Aku bertanya, dan ia hanya menunduk. Saat itu, aku melihat jika ia tengah memandangi foto kedua orang tuanya. Petang itu, orang tuanya baru selesai dimakamkan, Mia," lirih dan agak bergetar, Matteo mengatakan kalimat terakhirnya kepada Mia.


"Ya, Tuhan," desis Mia tak percaya.


"Aku mengajaknya untuk ikut bersamaku ke Casa de Luca, tapi ia menolak. Ia memilih untuk tetap tinggal di rumah dan menjaga kenangan dari kedua orang tuanya, meskipun saat itu ia hanya sendirian di sana. Hingga saat ini, Coco memang lebih suka tinggal sendiri di bengkel. Namun, aku kerap mengunjuginya," Matteo kembali mengela napas berat dan dalam. Ia melirik Mia untuk sesaat.


"Coco bahkan menjadi orang pertama yang kutemui setelah aku kembali dari Venice, setelah kau menyembuhkan lukaku, Mia. Aku tidak langsung pulang ke Casa de Luca. Aku minta maaf karena telah berbohong padamu. Kau masih mengingat alasanku waktu itu, kan? Aku mengatakan padamu bahwa masih ada urusan yang belum kuselesaikan," Matteo kemudian menyandarkan kepala dan menatap langit-langit mobil mewahnya. Ia terdiam untuk beberapa saat. Matteo seolah tengah memikirkan cerita apa lagi yang akan ia tuturkan kepada Mia.


Sementara Mia, masih terus menatap Matteo dengan lekat. Saat itu, ia seakan tengah melihat sisi lain dari pria yang selama ini selalu terlihat dingin dan menakutkan, bagai mesin pembunuh untuk sebagian orang. Semua sisi gelap yang pernah ia saksikan ketika di Pulau Elba, seperti hilang dan tak berbekas ketika Matteo sedang berada dalam suasana tenang seperti saat itu.

__ADS_1


"Ketahuilah satu hal, Mia," Matteo kembali bersuara. "Coco adalah pria mandiri dan pekerja keras. Adikmu salah besar jika ia menganggap bahwa Coco tak dapat diandalkan. Aku yakin, Francy akan sangat menyesali hal itu, seandainya ia mengabaikan sahabatku," ucap Matteo. Ia kembali merengkuh pundak Mia, dan mulai memejamkan mata. "Kemarilah, sebaiknya kita tidur," ajaknya.


Mia menurut. Ia kembali bergelayut dalam dekapan hangat Matteo. Namun, Mia tak dapat memejamkan matanya. Ia justru malah menatap sang suami yang saat itu mencoba untuk tidur. "Apa kau tak berniat untuk melakukan sesuatu, Theo?" tanya Mia dengan setengah berbisik.


Matteo menggumam pelan. Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibirnya, meskipun saat itu kedua matanya masih dalam keadaan terpejam.


"Coco bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," jawabnya singkat.


“Aku juga merasa senang melihat Francy dan Coco bersama. Mereka terlihat sangat serasi,” gumam Mia dengan mata setengah terpejam. Rasa kantuk mulai menderanya saat itu.


“Seperti kita,” sahut Matteo pelan.


“Apakah menurutmu kita adalah pasangan yang serasi, Theo? Apakah kita bisa seperti ini selamanya?” suara Mia terdengar semakin lirih, sesekali ia menguap di sela-sela kalimatnya.


“Aku harap begitu. Mungkin kau bukanlah gadis pertama yang hadir dalam hidupku, Mia. Namun, bisa kupastikan, kaulah yang terakhir. Aku akan terus menjeratmu meskipun suatu saat nanti kau bosan dan ingin lari dariku,” tegas Matteo.


“Sudah kukatakan, itu tidak mungkin. Aku tidak akan lari atau bosan padamu,” Mia makin membenamkan kepalanya ke dada Matteo. “Aku tidak yakin jika kau masih akan tergila-gila padaku ketika aku sudah tua dan keriput,” celetuknya kemudian.


“Jika kau sudah tua, maka aku jauh lebih tua darimu. Jangan bicara yang aneh-aneh, Mia,” Matteo mengakhiri obrolan malam itu, dengan ciuman lembut dan dalam untuk istrinya. Sementara Coco masih terjaga, duduk termenung di atas tempat tidur. Sama halnya dengan Francesca.


🍒


🍒


🍒


Hai, ada yang suka cilok atau mungkin berminat untuk menikah dengan CEO cilok? Pantengin deh, novel karya sohib kesayangan ceuceu 👇👇👇


__ADS_1


__ADS_2