
Setelah semua prosesi pemakaman Antonio selesai, Matteo akhirnya dapat bernapas lega. Janjinya kepada Marco pun telah ia tepati. Matteo juga tak merasa terlalu berdosa, karena ia masih bersedia memberikan sedikit rasa hormatnya terhadap Antonio yang merupakan kakak kandung dari ayahnya sendiri.
Malam itu, Mia baru selesai mengemas barang-barang yang akan mereka bawa ke Monaco. Dua koper berukuran sedang berisi perlengkapan miliknya dan juga milik Matteo, telah siap untuk menemani mereka yang rencananya akan berada di Monaco sekitar tiga hari saja.
"Aku tidak membawa pakaian terlalu banyak, begitu juga dengan pakaianmu, Theo. Kupilihkan hanya pakaian yang penting-penting saja," ujar Mia sambil membersihkan riasannya di depan cermin. Sementara Matteo memeluknya dari belakang.
"Apa kau membawa lingerie juga?" goda Matteo seraya mencium pundak Mia. Sedangkan Mia hanya membalas godaan itu dengan sebuah cubitan gemas di pipi sang suami.
"Kau yakin kita akan menginap di mansion milik Tuan D'Angelo?" tanya Mia ragu dan berbalas sebuah keluhan pendek dari bibir Matteo. Pria itu melepaskan dekapannya dari Mia dan naik ke tempat tidur. Matteo duduk bersandar di sana setelah melepas T Shirt yang ia kenakan. Pria itu memang sudah terbiasa tidur dengan bertelanjang dada.
"Apa kau ada masalah dengan hal itu, Sayang?" Matteo balik bertanya. "Jika kau merasa keberatan, maka kita bisa menginap di hotel. Lagi pula, kita hanya akan di sana sebentar saja," ujarnya dengan tatapan yang terus tertuju kepada Mia. Wanita muda itu melangkah ke arah tempat tidur dan duduk di sebelah Matteo dengan posisi menyamping.
"Tak masalah bagiku selama tetap denganmu. Aku justru takut jika kau yang merasa terpaksa dan tak nyaman. Sedikit banyak itu pasti mempengaruhi konsentrasimu, terlebih di sana kau akan bertemu dengan konsumen penting. Kau harus memperlihatkan siapa dirimu dengan sebaik mungkin, Theo," ucap Mia dengan senyum lembutnya.
Matteo meraih jemari lentik Mia. Digenggam dan dikecupnya dengan hangat tangan berkulit kuning langsat itu. "Jangan khawatirkan hal itu, Cara mia. Aku tak akan terpengaruh oleh hal-hal kecil yang tidak penting. Kita punya waktu tiga hari di sana untuk bersenang-senang. Aku akan membawamu berkeliling Monaco," Matteo meraih tubuh Mia ke dalam dekapannya. Wanita itu pun kini bergelayut manja dalam pelukan hangat sang suami.
......................
Keesokan harinya, helikopter yang akan membawa mereka ke Monaco telah siap. Semua telah masuk dan bersiap untuk pergi, hanya Damiano yang tidak ikut. Pria itu masih merasa lelah, karena baru kembali dari kota Turin. Seperti biasa, Matteo lah yang mengendarai helikopternya hari itu.
“Setiap kali aku menaiki helikopter, aku selalu teringat saat membawamu dari pulau Elba dengan kondisi bersimbah darah,” ujar Mia sambil menggunakan headsetnya.
“Aku teringat saat membawamu terbang pertama kali,” Matteo terkekeh. “Cara mia, belajarlah untuk mengingat segala sesuatu dari sisi indahnya. Itu akan membuatmu merasa jauh lebih bahagia dengan pikiran yang positif,” tuturnya kemudian.
“Baiklah, akan kucoba,” sahut Mia pelan sebelum memalingkan wajahnya menghadap jendela. Ini adalah perjalanan pertama baginya keluar dari Italia. Liburan paling jauh yang pernah dilakukan oleh Mia hanyalah ke Venice, di mana pada akhirnya ia malah menetap di sana bersama sang ayah, yang tadinya ingin menenangkan pikiran setelah ibunya tiada.
Selama ini, Mia melihat Monaco hanya dari layar televisi dan dari artikel-artikel yang ia baca di tabloid. Namun, kali ini seperti mimpi. Mia terbang ke negara itu. Helikopter yang Matteo terbangkan dari Casa de Luca pun telah membawanya berada di atas atap bangunan mansion milik Adriano, tepat di jantung kota Monte Carlo.
__ADS_1
“Aku sudah menerima tawaran dari Adriano untuk menginap di mansionnya selama tiga hari ke depan. Minta izinlah padanya untuk menginap lebih lama, jika kau kerasan di sini, Sayangku. Adriano jelas tak akan bisa menolakmu,” ujar Matteo sesaat setelah mendaratkan helikopternya dengan mulus di atas landasan.
“Mintalah jadi enam hari, Mia. Aku juga butuh liburan bersama Francy,” celetuk Coco yang segera ditanggapi dengan cibiran oleh Marco.
“Setidaknya keluarkan sedikit saja isi dompetmu, Coco,” komentarnya dengan enteng.
“Di dompetku hanya ada nota, Marco,” sanggah Coco dan membuat semua orang tertawa karenanya, tak terkecuali Francesca. “Akan tetapi, kau tak perlu khawatir karena aku berjanji padamu bawha aku akan berjuang untuk menjadi mapan. Dengan begitu, aku bisa menghidupimu secara layak, Francy” tutur Coco yakin seraya menunjukkan senyuman menawannya kepada Francesca.
“Ah, itu manis sekali, Sayangku. Grazie,” Francesca membalas ucapan manis Coco dengan memberikan pelukan mesra untuk sang kekasih.
“Kau tak perlu mengkhawatir hal itu, Ricci. Aku bisa menghidupi diriku, dan bahkan dirimu dari penghasilanku sebagai seorang model,” ujarnya.
“Lalu harus kutaruh di mana harga diriku sebagai seorang pria sejati, Sayang? Aku tak akan mau menerima uang darimu, karena akulah yang harus memberi,” tolak Coco dengan penuh percaya diri.
“Kalian berisik sekali! Menikah saja belum sudah banyak bicara tentang masalah nafkah. Itulah kenapa aku tidak suka ikatan percintaan,” protes Daniella ketus.
“Apakah kalian akan terus berdebat di sini?” lerai Matteo yang sudah turun dari helikopter dan saat itu sedang membantu Mia untuk turun. Di ujung landasan, Adriano beserta beberapa pengawal bersetelan hitam sudah berdiri gagah menyambut kedatangan mereka.
Pria berwajah kelimis itu menyunggingkan sedikit senyuman demi menanggapi ucapan Daniella tadi.
Matteo yang kini sudah berada jauh di depan, makin tak terjangkau olehnya. Sepupunya itu bahkan telah berada di hadapan Adriano dan sedang bersalaman dengan si pemilik mansion mewah tersebut.
Adriano tampak ceria menyambut kedatangan Matteo dan rombongan, terlebih saat ia melihat Mia yang terlihat sangat cantik dan segar dengan wig rambut pendeknya. “Nyonya de Luca, Anda terlihat luar biasa hari ini,” pujinya sembari meraih dan mengecup punggung Mia dengan sopan. Sikap yang biasa ditunjukkan oleh pria-pria kelas atas, untuk memberikan penghormatan kepada seorang wanita.
“Ada banyak wanita di sini. Kenapa kau hanya memuji istriku saja,” keluh Matteo pelan seraya memalingkan muka.
“Ah, tentu saja semua yang hadir di sini terlihat sangat memesona,” kilah Adriano. Ia lalu tersenyum kepada Daniella yang hanya bisa terkikik geli melihat dua pria yang bersikap konyol di depannya.
__ADS_1
Sementara itu, Francesca tak segera mengikuti yang lainnya. Ia memilih turun paling akhir dari helikopter. Francesca seakan memanfaatkan waktu yang ada untuk berduaan dengan Coco. Tak bosan-bosannya ia menggandeng lengan sang kekasih.
“Apa kau begitu merindukanku, Francy?” gurau Coco.
“Ya!” jawab Francesca singkat sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Coci. Tanpa ragu, Francesca mencium bibir Coco dengan mata terpejam. Dapat ia rasakan hangat dan lembutnya gerakan Coco yang membalas ciumannya. Pria berambut ikal tersebut mahir menyapu bibir Francesca hingga lidahnya menerobos masuk dan bermain-main di dalam mulut gadis cantik itu.
“Aku ingin mengajakmu pulang ke bengkel,” bisik Coco setelah menghentikan ciumannya.
“Tunggulah hingga liburan semesterku tiba,” balas Francesca. Ia mengecup bibir Coco sekali lagi lalu mengajaknya turun.
“Bagaimana jika kita menikah sekarang?” ajak Coco tiba-tiba.
“Sudah kukatakan bahwa aku harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu,” Francesca berusaha menarik tangan Coco, tetapi pria itu tetap bergeming di tempatnya.
“Kau bisa melanjutkan kuliah setelah menikah,” desak Coco.
Francesca terkikik geli. “Kau ini kenapa, Ricci?”
“Entahlah. Rasanya aku sudah tak sabar ingin memilikimu,” jawab Coco lugas.
__ADS_1