Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Daniella si Penggoda (Hot Kiss)


__ADS_3

Perasaan Matteo menjadi semakin kacau, ketika ia melihat pria itu melepas sepatu yang Mia kenakan. Tanpa segan, Valentino memeriksa kaki Mia. Pria berwajah kelimis tersebut, meletakan telapak kaki Mia di atas lutut yang ia tekuk, sementara dirinya memeriksa bagian yang terluka. Tampaklah sedikit luka memar di dekat jari kaki Mia. Gadis itu mengaduh dan meringis pelan, ketika tanpa sengaja Valentino memijit bagian kakinya yang sakit dengan terlalu kencang.


“Berhati-hatilah, Vale! Jangan sampai kau menyakiti putriku!” sergah Mr. Gio yang terlalu khawatir dengan keadaan Mia. Ia bicara dengan sangat tegas kepada Valentino.


“Maafkan aku, Mr. Gio,” ujar Valentino seraya memperlihatkan senyuman kepada pria yang ia harapkan dapat menjadi ayah mertuanya. "Anda punya krim untuk luka memar, Mr. Gio?" tanya Valentino seraya kembali melirik pria separuh abad itu. Sementara Mia merasa lucu dengan sikap kedua pria itu yang dirasa terlalu berlebihan.


“Sudahlah, Ayah, Vale. Ini hanya luka kecil. Aku tidak apa-apa,” ucap Mia. Ia merasa risih dengan sikap yang ditunjukan oleh kedua pria tersebut.


“Tidak ada luka kecil atau luka parah, Nak! Namanya luka tetap saja terasa sakit!” bantah Mr. Gio dengan tegas. Pria itu segera berlalu ke meja kasir dan mengambil sebuah krim dari dalam laci. Dengan segera, ia kembali menghampiri anak gadisnya. “Minggir, Vale! Apa yang kau lakukan sejak tadi? Kau hanya mengusap-usap kaki Mia. Sebaiknya kau segera menyingkirkan tanganmu dari kaki putriku!” Mr. Gio menyuruh Valentino untuk menyingkir dan berhenti mencuri-curi kesempatan dari kecelakaan kecil yang dialami oleh Mia.


Valentino tertawa pelan. Ia sudah mengenal watak keras Mr. Gio. Pemuda itu sangat mengetahui jika pria paruh baya tersebut, begitu bertanggung jawab dan akan melakukan apapun untuk melindungi Mia serta anggota keluarganya yang lain.


Valentino segera berdiri dan menggeser tubuhnya ke samping. Kini Mr. Gio lah yang duduk di atas kaki kanan yang ia lipat, dan mulai mengoleskan krim itu pada luka memar di kaki Mia. "Bagaimana kursi itu bisa sampai jatuh, Mia? Kenapa kau tidak berkonsentrasi?" keluh Mr. Gio heran. Sementara itu, Daniella hanya memalingkan muka. Jelas jika ia tidak menyukai semua yang dilihatnya.


“Kau lihat itu, Theo? Hal seperti itulah yang membuatku tidak menyukai Mia yang sok lugu!” bisik Daniella kepada Matteo. Sedangkan Matteo tidak menanggapi ucapan Daniella sama sekali. Lagi pula, yang menjadi perhatiannya saat itu ialah pria yang sejak tadi bersikap sok peduli kepada Mia. Matteo seakan tengah memindai setiap bagian dari pria itu, meneliti ciri-ciri fisiknya yang menonjol dan segera ia rekam di dalam memorinya. Matteo tidak dapat melupakan sosok Valentino, bahkan ketika Daniella mengajaknya keluar.

__ADS_1


Matteo bahkan tidak menyadari jika ada sepasang tatapan tajam dari balik kaca mata hitam, yang tanpa sengaja melihat keberadaannya. Pria itu memperhatikan Matteo yang tengah bersama Daniella. Ia bahkan mengikuti mereka, hingga saat Matteo mengantarkan gadis itu pulang.


“Siapa pria itu?” tanya Matteo kepada Daniella, ketika ia mengantarkannya pulang ke rumah. Daniella kemudian melirik pria yang telah ia anggap sebagai kekasihnya. Sebuah senyuman sinis terlukis di wajah cantiknya yang tampak tidak bersahabat.


“Namanya Valentino Diori. Ia adalah teman kuliah Mia. Setahuku ia merupakan calon jurnalis,” terang Daniella dengan sangat yakin.


Matteo mengernyitkan keningnya. Ia lalu melirik Daniella dan menatapnya dengan lekat. “Kelihatannya kau sangat mengenal pria itu,” ujar Matteo dengan setengah menyindir.


Daniella tergelak mendengarnya. Gadis itu kemudian menghentikan langkahnya. Ia juga membalikan badannya hingga menghadap kepada Matteo. Sementara itu, Matteo meliriknya dengan tajam. "Vale bukan pencium yang hebat,” celoteh Daniella dengan tak acuh. Ia seakan tidak peduli dengan anggapan Matteo atas dirinya.


Daniella kembali tergelak pelan mendengar pertanyaan dari Matteo. Gadis itu merapikan rambut menggunakan jemarinya yang lentik. “Hanya beberapa. Aku hanya melirik pria yang masuk kriteriaku,” jawab Daniella dengan entengnya. Ia seperti tidak merasa bersalah sama sekali.


“Contohnya? Pria seperti apa yang masuk dalam kriteriamu?” tanya Matteo. Ia semakin mendekatkan dirinya kepada Daniella.


Daniella tersenyum menggoda. “Sepertimu, Theo,” jawabnya dengan tatapan nakal dan penuh tantangan bagi Matteo.

__ADS_1


Matteo tersenyum aneh saat mendengar jawaban Daniella. Sebuah senyuman yang terlihat sangat nakal dan jahat. Senyuman yang berakhir pada sebuah rangkulan di pinggang gadis dengan hot pants dan atasan sabrina off shoulders yang mengekspos sebagian besar pundak dan dadanya.


Matteo kemudian melu•mat habis bibir Daniella. Ia seperti seekor hiu yang mencium bau amis darah, terlihat begitu garang dan berbahaya. Sementara Daniella tampaknya sangat menyukai sikap liar Matteo. Ia bahkan terlihat sangat menikmati ketika dirinya merasakan jemari Matteo yang mere•mas pinggulnya dengan cukup kasar.


Sakit, itulah yang dirasakan Mia saat menyaksikan adegan yang tersaji di bawah sana pada malam itu. Mia yang saat itu tengah berdiri di balkon kamarnya, segera memalingkan muka dan memilih untuk masuk. Ia menutup pintu balkon kamarnya rapat-rapat. Dengan tertatih, Mia berjalan menuju ranjang. Ia merebahkan dirinya di sana. Ia ingin sekali menangis dan meneriakan nama Matteo dengan lantang. Ia berharap agar pria itu mau untuk menatap, dan bertanya tentang perasaan dalam hatinya.


Sesaat kemudian, Matteo segera mengakhiri ciumanya dengan Daniella. Ada rona penyesalan yang tampak pada sepasang mata abu-abunya. Ia mengarahkan pandangannya pada balkon di mana tadi Mia berdiri, dan melihat apa yang dilakukannya dengan Daniella. Matteo kemudian mengela napas panjang dan mengempaskannya dengan kasar.


“Ayo, Theo! Kau harus ikut denganku!” ajak Daniella seraya menarik pergelangan tangan yang berhiaskan tato dengan ukuran yang tidak terlalu besar itu. Matteo tidak sempat menolak ataupun bertanya, karena Daniella telah terlebih dahulu membawanya masuk. Ia hanya tertegun. Matteo tidak tahu kenapa Daniella membawanya ke sana. Ditatapnya sekeliling ruangan itu.


Adalah sebuah ruang tamu yang sederhana dengan banyak foto yang terpajang pada dindingnya. Tatapan Matteo terpaku pada sebuah foto seorang gadis manis dengan senyumannya yang indah. Siapa lagi jika bukan Mia.


“Gara-gara insiden yang terjadi kepada Mia tadi siang, ayah jadi mengabaikanku dan juga dirimu. Padahal aku sudah punya rencana bagus untukmu,” ucap Daniella. Ia kemudian tersenyum lebar saat menyambut kehadiran Magdalena di ruangan itu. "Selamat malam, Bu," sapa Daniella dengan hangat.


"Selamat malam, Nak," balas Magdelana yang segera melayangkan tatapannya, pada seraut wajah tampan yang saat itu tengah berdiri di sebelah Daniella.

__ADS_1


Magdalena Ranallo, wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun. Ia masih terlihat cantik, meskipun kini sudah tidak muda lagi. Wanita itu memiliki rambut coklat dengan sepasang mata berwarna hazel yang sangat indah. Magdalena dulu merupakan seorang pemain opera. Namun, karena faktor kesehatan yang mengharuskannya untuk beristirahat total, maka akhirnya wanita itu mengundurkan diri dari panggung hiburan yang telah menjadi mata pencahariannya setelah menjadi janda. Ia harus rela mengubur dalam-dalam semua rasa cintanya terhadap seni peran di atas panggung. Mr. Gio sudah mengambil keputusan. Magdalena tidak boleh lagi terlibat dalam pementasan apapun.


__ADS_2