
Malam kian larut. Suasana di sekitar Casa de Luca sudah mulai sepi, meskipun masih tampak beberapa pengawal yang berjaga di sekitar gerbang masuk, yang menuju ke area kediaman keluarga de Luca tersebut. Seperti biasa, Matteo termenung sendirian di dekat bukaan ruang tamu bangunan megah itu. Matanya menatap nanar pada kegelapan malam.
Untuk sejenak, pria dua puluh enam tahun tersebut memejamkan matanya. Masih terbayang dalam ingatan Matteo tentang kematian semua anak buah kesayangannya yang begitu setia. Mereka selalu membantu dan mengikuti Matteo ke manapun pria itu pergi. Kini, keempat anak buah sekaligus asistennya di bengkel perakitan senjata miliknya telah tiada. Betapa besar rasa berdosa yang mendera relung hati Matteo. Penyesalan dan kesedihan, sudah tiada guna lagi. Hal itu, tidak akan pernah dapat mengembalikan mereka.
Luigi, pria itu masih terlalu muda untuk mati. Masa depannya masih panjang. Matteo bahkan belum sempat mengajarinya tentang banyak hal yang selalu ingin ia ketahui. Namun, ia juga harus tewas mengenaskan. Beberapa hari telah berlalu dari semenjak kematian pemuda itu. Matteo merasakan jika hidupnya semakin hampa.
Damiano marah besar kepadanya, begitu juga dengan Coco yang sudah beberapa hari ini tak ingin bicara apalagi bertemu dengannya. Pria berambut coklat tersebut lebih memilih untuk menyibukan diri di bengkel.
Matteo kemudian beranjak ke kamarnya. Pria itu meraih mantel yang segera ia kenakan. Beberapa saat kemudian, Matteo pergi meninggalkan Casa de Luca dengan mobil jeep hitamnya yang gagah. Entah akan ke mana pria itu, yang pasti Matteo hanya ingin menenangkan diri untuk sejenak.
Tidak berselang lama, mobil yang Matteo kendarai berhenti di depan sebuah apartemen mewah. Ia segera masuk dan menuju ke lantai dua puluh. Matteo lalu mengetuk pintu berwarna putih tersebut. Sesaat kemudian, pintu terbuka dan tampaklah seraut wajah cantik nan anggun dari balik pintu tersebut.
Camilla tersenyum menggoda ketika ia melihat Matteo ada di depan pintu apartemennya. Gadis blasteran Italia-Spanyol itu segera memersilakan Matteo untuk masuk. “Theo? Dari mana?” sapa Camilla dengan begitu ramah. Ia tidak mengira karena Matteo mendatanginya. Camilla juga merasa pangling dengan penampilan baru Matteo. Ya, pria itu telah mencukur rambutnya, sebagai sebuah penghormatan yang ia persembahkan untuk Luigi.
“Boleh aku masuk?” tanya Matteo datar.
“Ya, tentu saja,” sahut Camilla dengan binar indah di kedua bola matanya. Senyum manisnya pun terlukis dengan sempurna. Ia segera memersilakan Matteo untuk masuk.
“Apa kau sudah tidur? Maaf jika kedatanganku mengganggumu,” ucap Matteo datar seraya melepas mantel yang ia kenakan. Matteo kemudian menyodorkan mantel itu kepada Camilla yang segera meletakannya ke dalam lemari khusus.
__ADS_1
“Oh, tidak sama sekali,” jawab Camilla. Ia terlalu bahagia atas kedatangan Matteo ke sana. “Mau minum sesuatu?” tawarnya dengan lembut.
“Boleh” jawab Matteo pelan. “Aku sedang membutuhkan teman bicara,” lanjutnya. Ia pun duduk setelah Camilla memersilakannya. Gadis cantik berambut panjang itu ikut duduk di sebelah Matteo. Ia melipat satu kakinya di atas sofa dan menopang kepalanya dengan tangan kanan yang ia letakan di atas sandaran sofa tersebut.
“Katakan padaku, angin apa yang membawamu kemari?” tanya Camilla tanpa melepas senyumannya.
“Aku hanya sedang suntuk,” jawab Matteo tanpa ekspresi apapun. Akan tetapi, di mata seorang Camilla Rosetti, Matteo de Luca adalah pria paling memesona meskipun ia jarang sekali tersenyum seperti sahabatnya, Coco. Kebetulan, Camilla juga mengenal pria itu dengan baik.
“Tunggu sebentar. Biar kuambilkan minuman untukmu,” ucap Camilla seraya beranjak dari duduknya. Sementara Matteo menunggu dengan tenang di atas sofa. Pikirannya sedang kacau. Ia membutuhkan sedikit hiburan. Karena itulah, Matteo memilih untuk menemui Camilla yang merupakan mantan dari salah satu gadis-nya dulu.
Kekasih? Tentu saja bukan. Matteo tidak pernah menjalin hubungan serius dengan gadis manapun. Ia hanya bersenang-senang dan menikmati masa muda. Apalagi yang ia pikirkan saat itu? Orang tuanya kaya raya dan ia begitu dimanjakan oleh sang ibu, Gabriella.
Sesaat kemudian, Camilla datang dengan sebotol champagne dan dua buah gelas dari kristal. Ia memberikan gelas itu kepada Matteo setelah diisi dengan minuman. Matteo menerimanya dan meneguknya sedikit. Ia melirik ke samping, di mana Camilla duduk sambil menghadap kepadanya. Gadis itu menyilangkan kakinya yang jenjang dan tersenyum. “Apa kau baik-baik saja, Theo?” tanya Camilla. Ia terlihat sangat anggun dan berkelas. Camilla tidak tampak murahan, meskipun penampilannya cukup menantang.
Matteo kembali mengalihkan tatapan pada gadis di sebelahnya. Sorot matanya begitu tajam, tapi terlihat nakal. Ia mengamati Camilla dari atas hingga ke bawah. Pandangannya terhenti pada kimono yang sedikit tersingkap di bagian dada. Matteo kemudian menyunggingkan sebuah senyuman kecil. “Aku tidak baik-baik saja. Ada banyak hal yang terjadi di dalam hidupku saat ini. Kau tidak tahu seberapa kacaunya aku, Camilla,” Matteo tertawa pelan. Sebuah tawa yang terdengar sangat getir.
Melihat hal itu, Camilla segera meletakan gelas yang ia pegang. Ia juga mengambil gelas dari dalam genggaman Matteo. Sedangkan pria itu hanya menatapnya. “Ah, Sayangku ....” Camilla meraih wajah rupawan Matteo dan tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia tak segan untuk mencium bibir pria bermata abu-abu tersebut dengan mesra, sementara Matteo segera menarik tubuh sintal Camilla untuk naik ke atas pangkuannya. Mereka terus berciuman tanpa henti.
Camilla tersenyum manis. Ia membiarkan Matteo melepas tali kimono satin yang dikenakannya malam itu, dan hanya menyisakan lingerie yang sangat minim di dalamnya. De•sah napas memburu mulai terdengar dari keduanya. Camilla terus menyugar rambut pria yang sepertinya sangat membutuhkan hiburan darinya.
__ADS_1
Erangan manja mulai terdengar dari bibir sensual milik gadis itu, ketika ia merasakan tangan Matteo yang bergerak nakal dan terus menelusup masuk ke dalam lingerie yang ia kenakan. Gadis itu melenguh pelan seraya memejamkan matanya. Camilla bahkan sampai mendongakkan wajah ketika Matteo menciumi lehernya. Matteo lalu membenamkan wajahnya di dada yang membusung indah itu. “Hibur aku malam ini,” bisiknya yang bersambut dengan sebuah senyuman nakal dari Camilla, meskipun ia tahu jika Matteo tidak benar-benar menginginkannya. Namun, tak masalah baginya selama ia dapat memuaskan pria yang selama ini selalu membuatnya tergila-gila.
Camilla menurunkan tubuhnya. Gadis bermata biru tersebut bersimpuh di hadapan Matteo, seraya melepas pengait celana jeans yang pria itu kenakan. Hatinya berdebar kencang, ketika ia mendengar helaan napas berat yang dikeluarkan oleh Matteo. “Teruskan!” titah Matteo di sela-sela napasnya yang mulai memburu. Ia memegangi tengkuk kepala, dan mere•mas rambut panjang Camilla dengan lembut. Hingga beberaoa saat lamanya, adegan itu terus berlangsung. Selain cantik, Camilla juga begitu pandai melakukannya.
“Hentikan!” cegah Matteo. Ia membantu gadis itu bangkit. Ditariknya tangan Camilla hingga terduduk di sofa. Gadis itu tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan oleh Matteo terhadapnya. Namun, sebuah senyuman indah kembali terbit di bibirnya, ketika Matteo membalikan tubuh sintal tersebut dan membuat si pemiliknya bagaikan seeokor kucing betina yang tengah menunggu jantannya.
Matteo kemudian menyibakan bagian bawah lingerie satin itu hingga tersingkap. Digeserkannya tali kecil yang melintang di sana. Tanpa banyak bicara, ia memegangi pundak gadis yang sudah menantikannya. Pria itupun meringis pelan ketika dirinya mulai melakukan penyatuan dengan gadis yang telah sekian lama ia abaikan.
Sebuah lenguhan manja terdengar dan mulai menghiasi ruangan itu. Camilla menundukan wajah dan menatap sayu pada sofa biru langit kesayangannya. Rasanya seperti mimpi, ketika Matteo kembali membuatnya mengerang karena menahan nikmat yang luar biasa.
Sudah sekian lama, Camilla merindukan momen indah seperti itu. Saat di mana ia dapat melihat ekspresi menawan dari seorang Matteo ketika sedang bercinta. Pria itu sungguh luar biasa. Ia benar-benar berbeda jika dibandingkan dengan pria manapun yang pernah Camilla kencani. Karena itulah, Camilla merasa tak rela saat Matteo mengabaikan dirinya.
Namun, kini pria itu telah kembali. Camilla dapat merasakan lagi hangat napasnya yang memburu, dengan setiap helaan beratnya yang terdengar begitu seksi. Ia tersenyum puas ketika Matteo mengakhiri semuanya dengan sebuah ciuman mesra nan lembut. Dipeluknya tubuh Matteo dengan erat, meskipun masih memakai pakaian lengkap, tetapi tak membuat pria itu kehilangan pesonanya.
Semenjak kejadian malam itu, hubungan Matteo dan Camilla terjalin dengan semakin intens. Setiap kali Matteo merasa gundah, maka ia akan selalu mendatangi Camilla. Terlebih saat bayangan Mia kembali hadir. Matteo menjadikan Camilla sebagai pelariannya. Hingga tak terasa bulan berganti tahun, Camilla kini bahkan leluasa keluar masuk Casa de Luca dan sering menginap di kamar Matteo. Sampai suatu malam ketika pria rupawan itu baru saja menyelesaikan permainannya dengan gadis cantik tersebut, ia turun dari ranjang dengan begitu saja dan meninggalkan gadis yang terkulai di atas ranjangnya.
Matteo berjalan menuju dapur dan membuka lemari pendingin. Sekaleng bir-lah yang saat itu menarik perhatiannya. Matteo menutup pintu lemari pendingin itu dan mulai meneguk bir dingin sambil berjalan kembali ke kamar. Namun, bukaan tempat biasa ia berdiri menatap kegelapan malam, jauh lebih menarik perhatiannya. Matteo memilih untuk menikmati minumannya di sana.
“Jadi, apakah gadis itu yang akan kau beri bros mawar merah milik mendiang ibumu, Nak?” sapa Damiano yang tiba-tiba saja sudah berdiri di dekatnya.
Matteo menoleh untuk sesaat. Ia tidak merasa kedinginginan, meskipun saat itu berdiri di sana dengan bertelanjang dada. “Aku tidak tahu, Damiano. Mungkin saja,” jawabnya sambil tersenyum simpul.
🍒
🍒
🍒
Sambil nunggu Theo ngabisin minumannya, cek novel keren ini👇
__ADS_1