
Coco memasuki gerbang mansion Silvio. Akan tetapi, ia tak mendapati siapa pun di sana. Para pengawal yang biasa berjaga di tiap sisi gerbang pun kini tak terlihat.
Coco terus melangkah dan memasuki ruang tamu dengan pistol di tangannya. Tampak beberapa mayat bergelimpangan di sana. Pandangan Coco kini tertuju pada sekumpulan gadis. Mereka bergerak ke dekat kolam renang yang terletak di dalam ruang tamu luas itu. Gadis-gadis itu tampaknya sangat ketakutan. Apalagi karena posisi Coco yang saat itu tengah mengacungkan pistolnya.
Coco menghampiri mereka yang sama sekali tak berani bergerak. Dilihatnya satu persatu wajah-wajah pucat itu. “Di mana Valecia?” tanyanya. Namun, tak ada satu pun dari gadis-gadis itu yang berani menjawab. Hal itu membuat Coco mengeluh pelan. Ia pun merubah mimik mukanya menjadi Coco yang biasa, yang pandai memikat lawan jenisnya. Barulah ada salah seorang dari mereka yang berani menjawab meskipun dengan ragu.
“Valecia mengikuti tuan Slivio,” ujar gadis itu.
“Ke mana?” selidik Coco.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan membuat Coco mendengus kesal. Pria itupun melanjutkan pencariannya seorang diri.
Coco kembali berjalan keluar rumah dan memutar menuju halaman samping, ke arah di mana ia memandu Matteo untuk pertama kali saat akan memasuki balkon kamar Silvio. Akan tetapi, ia hanya menemukan beberapa mayat lagi di sana. "Wow, sahabatku memang luar biasa!" gumam Coco seraya mengela napas dalam-dalam.
Coco lalu berjalan memasuki pintu yang menghubungkan halaman samping menuju ruang tengah. Lagi-lagi, mayat anak buah Silvio bergelimpangan di mana-mana. Sempat terbersit rasa heran bercampur ngeri dalam hatinya. Ia tidak menyangka jika Matteo dapat melakukan hal sebrutal itu.
Selang beberapa saat, tiba-tiba terdengar sesuatu dari lantai atas. Coco berjalan dengan setengah berlari menaiki tangga. Seorang anak buah Silvio yang tergeletak bersimbah darah, tampak melambaikan tangannya pada Coco. Penuh kewaspadaan, ia menghampiri pria yang tengah sekarat itu.
Pria itu menggumamkan sesuatu yang sama sekali tak bisa ditangkap oleh indra pendengaran Coco. Ia pun mendekatkan telinganya di bibir pria itu.
“Ia akan datang dan menghabisimu,” ucap pria itu dengan terbata-bata.
Coco menjauhkan wajahnya dengan penuh amarah. Ia lalu menembak pria itu tepat di dadanya. Kali ini, Coco menjadi lebih waspada karena ia sudah berada dekat sekali dengan kamar Silvio.
Ditendangnya pintu kamar yang penuh ukiran mewah itu hingga terbuka lebar. Perlahan, Coco memasukinya dan memeriksa setiap sudut ruangan, termasuk ruang rahasia. Namun, ia harus kecewa karena ternyata Matteo tak berada di sana.
__ADS_1
Dengan terburu-buru, Coco melangkah turun. Ia kembali ke lantai bawah dan lurus melintasi ruang tamu. Pandangan matanya kembali tertuju pada gadis-gadis yang masih berkumpul di sana. “Apa lagi yang kalian tunggu? Cepatlah pergi dari sini!" suruhnya.
Gadis-gadis itu menggeleng serempak dan menolak. “Kami menunggu Fabio,” ucap salah satu dari mereka.
“Fabio tidak akan datang! Pergilah! Selamatkan nyawa kalian!” titah Coco. Tanpa menunggu reaksi gadis-gadis itu. Coco memilih keluar menuju pintu depan dan kembali memutari bangunan mansion.
Di sana ia melihat pemandangan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tampak Lenatta berdiri sambil bersiap menembakkan pistolnya. Awalnya, Coco mengira bahwa Lenatta sedang membidik Silvio. Namun, ternyata sasaran gadis itu adalah kepala Matteo. Sebuah peluru telah ditembakkan oleh Lenatta. Namun, untungnya meleset. Tembakan itu hanya mengenai tanah berkerikil yang berjarak beberapa sentimeter di samping lengan Matteo, yang saat itu masih berjuang menahan gerakan kaki Silvio di lehernya.
“Apa yang kau lakukan? Letakkan pistolnya, Lena!” hardik Coco dengan tegas.
Lenatta tersentak dan membalikkan badannya pada pria berambut coklat itu. Ia menggeleng pelan dengan bibir bergetar. “A-aku tidak bisa! A-aku tidak mau melihat Silvio mati!” serunya sembari mengangkat senjata dan mengarahkannya tepat ke tubuh Coco.
“Letakkan senjatamu, Lena!” suruh Coco sekali lagi.
Lenatta terus saja menolak. Ia bahkan berani menarik pelatuk pistolnya. Sementara itu, Coco memejamkan mata. Keputusan yang berat harus ia ambil detik itu juga. Segala perasaan dan kenangan tentang gadis yang tanpa ia sadari telah memberi arti spesial baginya, harus ia korbankan demi keselamatan nyawanya sendiri dan juga Matteo.
Coco menembak Lenatta tepat di bagian dada kiri, bersamaan dengan gadis itu yang juga berusaha menyarangkan peluru di tubuh Coco. Peluru milik Lenatta menembus perut Coco. Baik Coco maupun Lenatta, roboh bersimbah darah.
Lenatta tewas seketika, sedangkan Coco masih dalam keadaan sadar ketika ia merasakan hawa panas seakan membakar perutnya. Pandangan matanya berkunang-kunang. Ia sempat mengamati telapak tangannya yang sudah basah oleh darah sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
“Amico!” Matteo berteriak lantang, sampai mengalihkan konsentrasi Silvio. Pria keji itu sempat menoleh dan melihat gadis kesayangannya sudah tak bernyawa dengan dada berlubang.
“Brengsek kau, Theo!” Silvio meraih sesuatu dari balik pinggangnya. Sebuah pistol semi otomatis berukuran kecil kini sudah terarah dengan pongahnya kepada Matteo. “Nyawa dibalas nyawa!” desisnya sambil mengangkat kakinya dari atas leher Matteo.
__ADS_1
Sebelum Silvio menembakkan senjatanya, Matteo lebih dulu menggenggam pasir dan kerikil. Ia lalu melemparkannya ke arah muka Silvio. Pria itu mundur beberapa langkah sambil terbatuk-batuk. Beberapa butir kerikil masuk ke matanya dan menimbulkan rasa perih.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Matteo bangkit dan menerjang Silvio yang lengah. Ia menendang tangan Silvio yang tengah memegang pistol hingga senjata itu terlempar. Ia juga melesakkan pukulan ke rahang kokoh lawannya.
Akan tetapi, Silvio berhasil mengelak ke samping.
Silvio menepis tangan Matteo dan memelintirnya kencang.
Matteo sempat memiringkan badannya sebelum kembali memukul dengan menggunakan tangan yang lain. Namun, Silvio berhasil menahan pukulan itu dan berbalik mencengkeram tangan Matteo yang terkepal. Kedua tangan Matteo kini berada dalam genggaman Silvio sehingga membuat kepercayaan dirinya semakin naik. Segera saja ia menendang perut Matteo sekencang-kencangnya sehingga Matteo kembali terjatuh.
Silvio hendak menginjak badan Matteo yang telentang. Namun, Matteo sigap menghindar dan berdiri. Ia kembali menyerang Silvio. Sebuah pukulan mematikan telak menghantam ulu hati Silvio, sehingga pria itu kesulitan bernapas untuk beberapa saat.
Matteo menghambur dan menerjang Silvio. Ia menarik kepala Silvio, mengapitnya di ketiak, lalu memukul tengkuk kepala pria itu berkali-kali menggunakan siku. Matteo kemudian menendang ulu hati Silvio menggunakan lututnya beberapa kali, sebelum akhirnya ia mendorong tubuh Silvio yang mulai limbung.
Silvio jatuh terjengkang. Susah payah ia berusaha untuk berdiri ketika melihat Matteo berjalan ke arahnya. Dalam keadaan terdesak, Silvio mengeluarkan senjata terakhirnya. Sebuah rantai besi yang ia gunakan sebagai sabuk. Ia melepaskan benda itu dari pinggangnya, kemudian memutarnya cepat dan berhasil mengenai pelipis Matteo. Silvio mengulanginya lagi. Kini, benda itu mengenai pucuk kepala Matteo. Darah kembali menetes dari kulit kepala pria itu.
Sekali lagi Silvio mengayunkan rantai itu, tapi kali ini Matteo berhasil menangkapnya. Ia mencengkeram rantai itu dan menariknya sekuat tenaga, hingga Silvio terhuyung ke depan. Posisi kepala Silvio kini begitu dekat dengan dada Matteo.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Matteo menarik rantai itu lebih kencang sampai terlepas dari genggaman Silvio. Tak berhenti sampai di situ, Matteo mengalungkan rantai besi itu di leher Silvio, lalu mengikatnya dengan kencang.
Silvio terbelalak. Lehernya seakan terlepas dari badan. Panik, ia memukul-mukul lengan Matteo. Namun, Matteo tak terganggu sedikitpun. Ia semakin memperkuat lilitan rantai besi di leher Silvio, hingga terdengar bunyi gemeretak yang menandakan bahwa tulang leher Silvio mulai patah.
"Aku tidak akan pernah berkompromi dengan seorang pengkhianat!" Matteo tampak puas melihat kematian Silvio yang begitu tragis.
__ADS_1