Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Tragedi Mengerikan


__ADS_3

Adriano sama sekali tak menyangka bahwa ia akan mendapatkan pukulan dari Matteo. Dirinya tak sempat menghindar karena gerakan Matteo yang terlalu cepat, membuat pria itu terhuyung beberapa langkah ke belakang. “Apa-apaan ini?” serunya beberapa saat setelah rasa terkejutnya hilang.


“Searusnya aku yang bertanya seperti itu, Adriano!” teriakan Matteo sangat memekakkan telinga. Ia tak lagi memanggil nama pria bermata biru itu dengan sebutan tuan.


Matteo kembali menerjang ke arah Adriano secepat kilat dan tanpa aba-aba. Namun, kali ini, lawannya lebih sigap sehingga mampu menghindar. Adriano bergerak ke samping sembari meraih lengan Matteo, lalu mencengkeram dan mendorongnya sekuat tenaga.


Matteo tersentak dan hampir saja terjatuh karena perlawanan Adriano. Akan tetapi, ia dengan cepat dapat menyeimbangkan diri.


“Aku butuh penjelasan, Tuan de Luca!” tegas Adriano sambil berusaha untuk tetap tidak terpancing. Ia malah berdiri tegak dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


membuat mata abu-abu Matteo berkilat karena amarah. “Kau tidak akan mendapatkan penjelasan apapun! Aku akan tetap menghajarmu, meskipun kau tak suka! Sama halnya ketika kau mencium paksa Mia-ku, meskipun dia tak menyukainya!” bentak Matteo yang sudah dikuasai emosi tinggi.


Adriano tertegun untuk beberapa saat. Akan tetapi, dengan begitu mudahnya ia berhasil mengendalikan emosi dan mimik wajah. “Jadi, kau sudah tahu rupanya? Baguslah kalau begitu,” seringainya.


“Jangan pernah bermimpi kau akan merebut Mia dariku!” geram Matteo. Tangannya kembali terkepal dan siap melancarkan serangan.


“Aku tidak berniat merebutnya. Sudah jelas terlihat bahwa matanya hanya memandang ke arahmu. Mia mungkin baru bisa berpaling jika kau telah mati,” kelakar pedas Adriano semakin membuat Matteo meledak.


Ia mengangkat kaki dan melayangkan tendangan ke arah perut pria bermata biru itu. Tak disangka, Adriano mampu menahan kaki Matteo dan memelintirnya, sehingga Matteo terpaksa ikut memutar tubuh agar kakinya tak patah. Dalam kesempatan itu, kakinya yang lain berhasil menendang pangkal paha Adriano, walaupun pada akhirnya Matteo jatuh terjerembab ke tanah.


Adriano sempat membungkuk dan meringis kesakitan. Sesaat kemudian, ia kembali berdiri tegak dan mengepalkan kedua tangannya. “Baiklah jika itu yang kau inginkan, maka akan kulayani!” tatap matanya tajam mengawasi tiap gerak-gerik Matteo sekecil apapun itu.


Matteo sendiri tak menyangka bahwa Adriano memiliki kemampuan bela diri yang setara dengan dirinya. Selama ini, kekuatan musuh-musuhnya selalu berada jauh di bawah level mantan ketua Klan de Luca tersebut. Berbeda dengan Adriano yang seperti mempunyai kekuatan tersembunyi, bahkan mungkin kekuatan pria itu lebih besar dari Matteo.


Pada akhirnya, Matteo memilih untuk tak peduli akan hal itu. Ia kembali melancarkan serangan pada Adriano. Tangannya bergerak cepat menyasar wajah, dada dan perut sang lawan. Pukulan-pukulan itu telak dan tepat sasaran.

__ADS_1


Adriano mundur dan terbatuk. Tidak lama kemudian, ia membalas perlakuan Matteo. Tangan kanannya mendarat di rahang, sedangkan tangan kirinya menghujam ulu hati Matteo, hingga pria bermata abu-abu itu jatuh tersungkur.


Tak berhenti sampai di situ. Adriano lalu memegangi dan menarik bahu Matteo, kemudian menendang hidungnya menggunakan lutut.


Darah segar membasahi wajah tampan Matteo. Akan tetapi, bukannya berhenti. Matteo malah semakin menggila. Ia yang masih dalam posisi bersimpuh, kemudian menyeruduk Adriano menggunakan kepala.


Adriano terjengkang dan jatuh dalam posisi telentang. Pistol yang selalu tersembunyi di balik pinggang terlempar beberapa meter darinya. Segera saja Matteo melompat dan menduduki perutnya. Ia berniat memukul wajah Adriano, tetapi pria itu segera menghindar sehingga pukulan Matteo hanya mengenai aspal landasan.


Tangan Adriano yang bergerak bebas, terulur ke leher Matteo dan mencekiknya sekuat tenaga.


“Apa-apaan ini? Apa yang kalian lakukan!” seruan Coco yang berhasil menyusul Matteo, tak membuat kedua pria itu menghentikan perkelahian sengit itu.


“Jangan ikut campur!” sentak Adriano dan Matteo secara bersamaan. Tangan Matteo kini pun juga berpindah ke leher Adriano. Mereka berdua kini saling mencekik.


Melihat hal itu, spontan Coco berbalik arah dan berlari menuju kamar Mia. Ia harus secepatnya memberitahukan kepada wanita itu atas apa yang terjadi pada suaminya dan Adriano.


Kesempatan emas yang tak Adriano sia-siakan. Keadaan mulai berbalik, sekarang Adriano lah yang berada di atas tubuh Matteo. Ia menduduki perut Matteo dan mencengkeram kerah kemejanya. Satu tangan lainnya terkepal dan siap dilesakkan ke wajah rupawan Matteo. “Bagaimana jika begini, Tuan de Luca? Kau sudah terdesak,” tersungging senyuman sinis dari bibir Adriano.


Matteo balas menyeringai. “Kuakui kau hebat, Adriano. Baru kau yang bisa melawanku secara seimbang, tapi tentu saja aku tak akan kalah semudah itu,” selesai berucap demikian, Matteo mencengkeram pergelangan tangan Adriano erat dan memiringkan tubuhnya sekuat tenaga hingga Adriano terguling. Satu tangan lainnya memukul Adriano dan mengenai bibir pria itu sampai robek. Kedua pria itu akhirnya sama-sama mengeluarkan darah.


Tak berhenti sampai di situ, Matteo terus memukul Adriano. Sementara, Adriano tak memiliki kesempatan untuk balik menyerang. Ia hanya bisa mundur dan bertahan.


Tanpa mereka berdua sadari, tubuh keduanya kini berada di sisi landasan yang mengarah langsung ke tebing. Di bawah tebing, ombak lautan Mediterania yang tinggi terlihat mengerikan.


Tak ingin terjatuh, Adriano menghalau pukulan Matteo. Ia cengkeram kepalan tangan Matteo dan mendorongnya sekuat tenaga. Adriano berhasil memelintir tangan Matteo, lalu menumbuk wajah pria itu menggunakan dahi.

__ADS_1


Matteo kembali terhuyung ke belakang. Lagi-lagi, kesempatan terbuka di depan mata Adriano. Pria itu segera menerjang Matteo dan kembali menguasainya.


Matteo telentang di bawah Adriano yang sekarang di atas angin. Dengan membabi-buta, ia memukuli wajah Matteo.


“Kalau begini, bagaimana, Tuan de Luca? Apa yang akan kau lakukan?” Adriano terus


memukuli Matteo tanpa jeda.


Akan tetapi, Matteo tak mau kalah. Dengan sisa kekuatan, ia menahan serangan Adriano, lalu mengunci satu tangannya. Tangan yang lain ia pergunakan untuk menarik kerah Adriano. “Aku tak pernah dikalahkan dengan mudah,” geram Matteo.


“Seharusnya, sudah sejak dulu aku membunuhmu. Namun, aku selalu gagal. Itu semua karena Mia, aku tak sanggup melihatnya tersiksa jika harus kehilanganmu,” ungkap Adriano pada akhirnya. Mereka masih bertahan pada posisi yang sama.


“Rasanya menjijikkan mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu,” ejek Matteo tanpa takut sedikitpun, padahal ia kini dalam posisi terdesak. Satu tangan Adriano masih kuat mencengkeram lehernya.


“Perbuatanmu jauh lebih menjijikkan! Kau membunuh Vincenzo!” air mata Adriano selalu saja menetes setiap ia teringat akan kakak angkatnya itu. “Hanya paman dan Vincenzo yang menyayangiku di dunia ini,” getir suara Adriano. Ragu, ia menceritakan masa lalunya kepada Matteo.


“Aku hanyalah anak yang lahir dari rahim seorang wanita simpanan bernama Domenica D’Angelo dengan Emiliano Moriarty. Saat aku masih balita, ibuku mulai sakit-sakitan, sehingga dengan terpaksa ia menyerahkanku kepada Emilio. Akan tetapi, istri sah ayahku, jelas tak menyukai keadaan itu. Ia sangat membenciku. Tiada hari tanpa menyiksaku, sementara Emilio Moriarty hanya diam, tak pernah membelaku. Aku masih ingat, di ulang tahunku yang kelima, aku harus tidur di kandang anjing,” Adriano tertawa pilu.


“Puncaknya adalah saat aku berusia tiga belas tahun. Wanita itu mengusirku. Namun, kali ini ayahku diam-diam menghubungi paman Alessandro dan meminta tolong pada kakak kandungnya itu untuk merawatku, tentu saja tanpa sepengetahuan istrinya.


Sejak saat itu, kehidupanku berubah. Aku dirawat penuh kasih oleh paman Alessandro dan juga Vincenzo. Tak terkira betapa besarnya utang budi yang kupunya pada ayah dan kakak sepupuku,” sambung Adriano.


“Sudah kukatakan, aku tidak membunuh kakakmu. Antonio yang menjebaknya,” tegas Matteo. “Lagi pula, kau tak seharusnya merasa berutang budi dengan cara membalas dendam. Orang-orang yang menyayangimu dengan tulus, tak akan pernah menuntut imbalan apapun padamu,” lembut tutur kata Matteo membuat Adriano tercenung. Ia mulai mengurai cengkeraman tangannya dari leher Matteo.


Setetes air mata jatuh, membasahi dada Matteo. Adriano yang masih pada posisi duduk di atas tubuh Matteo, sudah berniat untuk bangkit. Akan tetapi, niat itu harus terhenti tatkala terdengar bunyi letusan pistol menyalak beberapa kali.

__ADS_1


Keduanya sama-sama terkejut, terlebih saat Matteo melihat perut Adriano telah berlubang. Darah membasahi kemeja pria rupawan itu. "Mia ...." Adriano sempat menoleh sebelum akhirnya ambruk di atas tubuh Matteo.


Saat itulah, Matteo melihat Mia berdiri memegang senjata dengan mata nyalang dan moncong pistol yang berasap


__ADS_2