
Wanita muda berambut panjang itu tertegun. Perlahan ia membalikan badan sehingga kini menghadap kepada Matteo. Raut yang pucat dan tegang, terlihat dengan begitu jelas di paras cantiknya. Ia juga tampak begitu ketakutan, hingga ponsel yang sedang dipegangnya pun terlepas dan jatuh. Namun, sepasang mata berwarna coklat terang miliknya menatap tajam ke arah Matteo.
Perkiraan Matteo tidaklah meleset. Nalurinya tidak salah. Ia berterima kasih pada satu koin yang dilemparkannya ke dalam kolam, karena ternyata kini ia benar-benar dipertemukan kembali dengan wanita muda itu setelah sekian lama. Ini seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Matteo. Pria itu hanya dapat berdiri terpaku untuk beberapa saat. Ia tidak mampu berkata apa-apa, karena merasa terlalu bahagia.
Perlahan, Matteo melangkah maju. Ia berusaha untuk mendekat ke arah Mia. Namun, wanita muda tersebut terus bergerak mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. “Theo ....” terucap nama itu dari bibir dengan polesan lipstick nude yang menghiasinya. Bibir itu tampak bergetar saat menyebutkan nama Matteo. Sementara kedua bola matanya menyiratkan sebuah keresahan yang besar.
“Ya, Mia. Ini aku, Matteo,” sahut pria dengan mantel hitam tersebut. Ia mencoba untuk terus mendekat ke arah Mia.
“Jangan mendekat!” serga Mia. Ia merentangkan tangannya ke depan, demi mencegah pria itu untuk terus maju. “Menjauh dariku! Menjauhlah!” Mia tampak semain gelisah. Tiga tahun berpisah dengan Matteo, ternyata tak membuatnya lupa akan kenangan buruk yang telah membuat hidupnya terasa benar-benar hancur. Mia masih merasa takut terhadap pria bermata abu-abu tersebut.
“Tenanglah, Mia. Aku tidak akan menyakitimu,” ucap Matteo pelan. Akan tetapi, Mia tidak ingin mendengar apa yang Matteo ucapkan. Dengan segera, ia memungut ponselnya yang terjatuh dan berlari masuk. Mia bahkan berusaha untuk menutup pintu agar Matteo tak dapat mengejarnya. Namun, apalah dayanya jika dibandingkan dengan tenaga seorang Matteo yang luar biasa. Pria itu dapat membuka pintu tersebut dengan begitu mudahnya.
Mia kembali bergerak mundur. Ia masih terlihat begitu ketakutan. Wanita muda itu segera membalikan badannya. Ia kembali bermaksud untuk melarikan diri dari hadapan Matteo. Namun, gerakan Matteo jauh lebih gesit. Secepat kilat ia meraih pergelangan tangan Mia dan memeganginya dengan erat. Ia tidak melepaskan genggamannya, meskipun Mia terus berontak dan berusaha untuk melepaskan tangan kekar itu dari pergelangannya.
“Lepaskan aku!” tolak Mia dengan tegas. Akan tetapi, bukannya menurut pada permintaan Mia, Matteo justru menarik wanita muda tersebut hingga masuk ke dalam pelukannya.
Didekapnya tubuh ramping Mia. Ia terlihat makin dewasa dengan sheath dress hitam yang ketat, yang memerlihatkan setiap lekuk indah tubuhnya. Matteo tak dapat menahan dirinya untuk tidak menyentuh keindahan itu. Ia tidak melepaskan pelukannya sedikitpun, meski saat itu Mia terus berontak.
Wanita berambut panjang tersebut memukul-mukul dada Matteo. Ia seakan ingin menunjukkan semua kemarahan dalam dirinya. Sementara Matteo hanya membiarkan hal itu. Pria itu tidak mencegah Mia melakukan apapun yang ia inginkan, demi melampisakan semua amarahnya.
__ADS_1
“Teruskan, Mia! Pukul aku sepuas hatimu! Aku tidak akan melawan,” ucap Matteo pelan tanpa melepaskan dekapannya. Ia terus menahan tubuh Mia yang tak henti-hentinya memberontak dengan kuat.
“Lampiaskan semuanya, Mia! Habiskan seluruh kemarahanmu saat ini juga! Aku akan menerimanya dengan senang hati, tapi biarkan aku memelukmu ....” Matteo tak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya. Tak ada hal lain yang ingin ia lakukan saat itu, selain memeluk Mia dengan sangat erat.
Pada akhirnya, Mia menyerah. Ia berhenti memukuli dada Matteo. Kini, wanita muda itu justru menangis histeris dalam dekapan pria tersebut. Mia terus menangis sejadi-jadinya. Keadaannya kembali seperti dulu, sama seperti saat ia tengah menjalani perawatan dengan seorang psikiater. Sedangkan Matteo terus mendekap tubuh Mia. Ia membiarkan wanita muda itu meluruhkan segala perasaannya.
Dibelainya dengan lembut rambut panjang yang dulu selalu terikat rapi. Kini, rambut berwarna coklat keemasan itu terurai dengan indah menutupi punggung Mia. Akan tetapi, aromanya masih sama seperti tiga tahun yang lalu, saat pertama kali Matteo menghirupnya.
“Aroma rambutmu masih sama seperti dulu,” bisik Matteo seraya terus membelainya dengan penuh perasaan. Sementara Mia tidak menjawab. Ia masih menangis dalam pelukan Matteo. “Kau masih secantik dulu, Mia. Kau bahkan terlihat jauh lebih cantik,” bisik Matteo lagi yang tetap tak berbalas apapun dari Mia.
Matteo kemudian memberanikan diri untuk mencium pucuk kepala wanita yang sangat ia rindukan. Ia bahkan melakukannya hingga berkali-kali, seakan ingin membayar semua kerinduannya selama ini. “Kenapa kau menghindariku, Mia? Kenapa kau pergi menjauh?” tanya Matteo lirih. Namun, Mia masih tetap tak menjawab. Ia hanya terus menangis, seolah ingin menghabiskan seluruh air matanya saat itu juga. “Mia ... apa kau mendengarku?” Matteo kembali berbisik. Namun, Mia masih terisak. Wanita muda itu hanya menundukkan wajahnya.
“Bicaralah, Mia! Katakan sesuatu padaku,” pinta Matteo lagi seraya menangkup wajah cantik itu dengan lembut. Sorot matanya yang biasa terlihat tajam dan dingin, seketika berubah ketika ia berhadapan langsung dengan Mia.
Mia terdiam. Ia menatap Matteo dengan tajam. Tangisnya perlahan sirna, meskipun sesekali masih terdengar isakan dari bibirnya. Perlahan, Mia memegangi kedua tangan Matteo yang berada di wajahnya. Setelah itu, ia kemudian menyingkirkan tangan kekar tersebut dengan pelan. “Aku membencimu, Theo! Aku sangat membencimu!” tajam dan begitu tegas kata-kata yang dilontarkan oleh Mia saat itu, meskipun ia tidak lagi histeris seperti tadi.
“Kenapa kau harus kembali muncul di hadapanku? Kenapa?” Mia kembali mundur dan membalikan badannya hingga ia kini membelakangi Matteo.
“Karena Tuhan ingin kita bertemu lagi ....”
__ADS_1
“Berani sekali kau menyebut nama Tuhan di hadapanku, setelah semua kebiadaban yang telah kau lakukan!” tunjuk Mia tegas seraya membalikan badannya. “Kau seorang pendosa, Mateo de Luca! Aku yakin bahkan dosamu tidak akan pernah terhapus meskipun kau mencucinya dengan darah kedua orang tuamu!” sentak Mia lagi. Kali ini ia melampiaskan semua unek-uneknya dengan sebuah cacian untuk Matteo.
Sementara Matteo hanya berdiri mematung tanpa mengalihkan tatapannya dari Mia. Ucapan Mia terasa begitu menusuk jantungnya. Sakit? Tentu saja. Namun, Matteo tak ingin memperdebatkan hal itu. Ia mencoba untuk mengerti dan menahan semua emosinya yang ingin segera meledak. Matteo ingin segera menjelaskan yang sebenarnya kepada Mia.
“Kau benar, Mia,” ucap Matteo pelan. “Aku memang seorang pendosa yang tak termaafkan. Akan tetapi, aku tidak sekeji itu. Aku memang seorang pembunuh. Tanganku berlumuran darah dari musuh-musuhku. Namun, aku tidak akan pernah mengotori tanganku dengan darah orang-orang baik yang tak bersalah padaku,” jelas Matteo dengan nada bicaranya yang datar dan dingin. “Aku yakin kau tidak akan memercayai apapun yang kujelaskan padamu. Namun, kau harus tahu satu hal, Mia ....” Matteo terdiam untuk sejenak. Ia masih menatap wanita muda itu dengan tatapannya yang dingin. Matteo mencoba untuk menenangkan diri. Ia mulai mengatur pernapasannya.
“Kau harus tahu bahwa aku ... aku sangat mencintaimu,” ungkap Matteo. Seusai melakukan pengakuan tersebut, Matteo memilih untuk keluar dari dalam restoran itu dan berjalan menuju mobilnya. Ia meninggalkan Mia yang saat itu masih berdiri mematung. Setelah tiga tahun lamanya, barulah ia dapat mendengar pernyataan tersebut dari Matteo.
Mia mengempaskan napas pelan. Namun, seketika ia terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya, sehingga Mia harus membalikan badan. Sebuah ciuman pun mendarat di bibirnya.
🍒
🍒
🍒
Hai, ceuceu datang kembali untuk merekomendasikan satu lagi novel keren nih, temanya mafia juga. Yuk, kita serbu sekarang juga. Grazie 🤗
__ADS_1