
Matteo segera menuju ke kamarnya dengan setengah berlari. Ia juga ditemani oleh beberapa orang pelayan. Dengan terburu-buru dan penuh semangat, ia membuka pintu kamar berwarna tosca itu.
Tampaklah Mia yang sedang bercengkerama bersama Francesca dan Daniella di atas ranjang.
Melihat kedatangan Matteo yang tiba-tiba dan sedikit terengah-engah, kedua saudari tiri Mia segera menuruni ranjang dan beringsut ke samping ruangan.
“Jangan takut, Nona-nona! Aku hanya ingin mengajak kalian berangkat ke pulau Elba sekarang juga. Bersiaplah!” jelad Matteo dengan raut wajah yang tidak biasa, sehingga membuat tiga bersaudara itu terdiam dan saling paling pandang.
Matteo kemudian memberi isyarat kepada para pelayan yang tadi mengikutinya. Ia menyuruh mereka untuk masuk. Kebetulan mereka telah membawa beberapa buah koper kosong dan segera memasuki ruang pakaian. Tugasnya adalah mengemas barang-barang dan segala perlengkapan yang akan Matteo dan Mia bawa.
“Kenapa mendadak sekali, Theo?” tanya Mia keheranan. Sementara Matteo tak menjawab, ia malah mendekat ke arah Mia dan mencium bibirnya penuh gairah, di depan Francesca dan Daniella tentunya, membuat kedua gadis itu langsung memalingkan muka seraya bergumam.
Setelah Matteo melepas ciumannya, barulah ia berkata seraya menoleh pada kedua saudari tiri Mia, ”Kalian juga bersiap-siaplah! Aku akan menyuruh dua orang pelayan untuk membantu kalian.”
“Apa akan diadakan pesta mewah di sana? Bagaimana ini? Aku tidak membawa gaun,” Daniella tampak resah.
“Tenang saja. Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kalian,” sahut Matteo. “Cepatlah! Aku menunggu kalian di landasan helikopter satu jam lagi!” titahnya kemudian. Dengan segera, Francesca dan Daniella berlari keluar kamar. Mereka begitu tergesa-gesa menuju kamarnya diikuti dua orang pelayan yang sudah ditunjuk oleh Matteo.
“Ini bukan lelucon kan, Theo?” Mia masih berdiri di tempatnya dengan sorot kebingungan.
“Tidak, Cara Mia. Kita akan sekalian berbulan madu di sana. Kau pasti akan menyukainya,” Matteo kembali mendekatkan wajahnya kepada Mia dan mencium bibir indah itu lagi. Kali ini ciumannya jauh lebih lembut hingga membuat Mia terlena dan hanya dapat ternganga.
“Sekarang, bersiaplah! Segera ganti bajumu!” suruh Matteo sesaat setelah melepaskan ciumannya.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Mia untuk mempersiapkan dirinya. Sementara Matteo setia menunggu di tepian ranjang sambil memainkan ponsel. Ada satu pesan dari Camilla yang sengaja tidak ia balas.
Camilla mengatakan bahwa ia mendapat undangan dari Antonio untuk menghadiri pesta penyambutan. Matteo mendengus kesal sambil meraup mukanya kasar. Entah apa yang Antonio rencanakan sehingga pamannya harus mengundang gadis itu.
“Theo? Kita pergi sekarang?” tiba-tiba saja Mia sudah berdiri di depannya, membuat Matteo sedikit salah tingkah. Ia khawatir jika istrinya memergoki pesan yang masuk dari Camilla.
Sejurus kemudian, Matteo terpana melihat penampilan Mia yang cantik dan segar dengan dress floral tanpa lengan. Ia menyodorkan lengannya yang tertekuk ke arah Mia.
__ADS_1
Mia pun segera menggandengnya. Mereka lalu berjalan keluar kamar, menaiki tangga hingga ke lantai teratas Casa de Luca.
Dari lantai teratas itu, Matteo menuntun Mia meneruskan langkahnya ke atap melalui sebuah tangga kecil dengan bentuk melingkar. Mia seketika terpana ketika sampai di atap bangunan Casa de Luca yang baru kali ini ia lihat. Ia tak mengira, karena ternyata bagian atas Casa de Luca amat luas.
Di sana terdapat dua buah helikopter yang sudah dalam posisi stand by. Satu helikopter siap beserta pilotnya, sedangkan helikopter lainnya tampak kosong. “Kita akan menaiki yang mana, Theo?” tanya Mia masih dengan rona tidak percaya yang menghiasi wajahnya.
Matteo hanya tersenyum simpul. Ia lalu menuntun Mia ke arah helikopter yang kosong. “Naiklah,” titahnya lembut. Mia menurut dan duduk di kursi depan yang telah ditunjuk oleh Matteo. Pria itu juga membantunya memasang sabuk pengaman dan memakaikan aviation headset untuk Mia.
Seorang pelayan perempuan, memasukkan beberapa koper di bagian belakang helikopter kemudian menutup kedua pintunya. Matteo menunggu sampai pelayan itu menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, barulah ia memutari bagian depan pesawat dan duduk di kursi kemudi.
Mia terbelalak melihat hal itu. “Kau? Apakah kau yang akan mengemudikannya, Theo?” tanyanya terlihat resah.
“Jangan khawatir, Sayang. Aku juga bisa mengemudikan pesawat Cassa,” jawabnya seraya tertawa pelan.
Belum habis keterkejutan yang Mia rasakan, tiba-tiba Coco masuk ke bagian belakang helikopter. “Aku akan mendampingi Francy di sebelah,” ujarnya, lalu melompat turun begitu saja. Hanya beberapa langkah, Coco kembali berbalik, kemudian berseru kepada Matteo, “Damiano berpesan bahwa ia akan berangkat besok bersama Marco dan ayahnya!” Pria berambut ikal itu melambaikan tangan dan berpindah ke helikopter yang terparkir di samping.
Mia lalu mengalihkan pandangannya mengikuti Coco. Tampak pula Francesca dan Daniella yang bersiap memasuki helikopter yang terparkir di sebelahnya. Perhatian Mia lalu kembali pada Matteo yang tengah sibuk menarik tuas di sisi kirinya. Beberapa saat kemudian, baling-baling mulai berputar, tetapi helikopter Matteo masih berada di landasan.
“Seumur hidup, baru kali ini aku menaiki helikopter! Indah sekali pemandangan dari atas sini, Theo” seru Mia antusias.
“Kau menyukainya, Sayang?” tanya Matteo lembut. Ia melirik Mia untuk sesaat.
“Sangat!” jawab Mia membalas lirikan sang suami. Namun, ia kembali mengarahkan pandangannya ke bawah. Daerah Brescia sudah jauh berada di belakangnya.
Helikopter yang Matteo kemudikan terus bergerak ke selatan, hingga mereka tiba di gugusan pulau yang terletak di lepas lautan Italia. “Itu pulaunya, Mia,” tunjuk Matteo ke sebuah pulau yang memiliki ukuran paling besar dibandingkan pulau-pulau sekitarnya. Matteo memperlambat laju helikopternya. Ia memposisikan benda itu tepat di atas tanda putih di tengah-tengah landasan di atas sebuah bangunan besar. Beberapa saat kemudian, ia menurunkannya perlahan. Helikopter hitam yang tampak gagah itu mendarat dengan mulus di atas helipad yang berada pada atap bangunan megah tersebut.
Segera Matteo melepaskan aviation headset dan sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya, dan juga tubuh Mia. Ia turun terlebih dulu dan membukakan pintu di samping untuk Mia. Matteo mengangkat tubuh ramping sang istri, lalu menggendongnya sesaat sebelum menurunkannya di landasan heli.
Beberapa saat kemudian, helikopter lain yang ditumpangi Francesca dan yang lainnya, mendarat tepat di belakang. Mia begitu takjub saat melihat ke sekelilingnya. Hamparan laut biru benar-benar memanjakan matanya. Ia sudah sering mendengar nama Pulau Elba. Namun, baru kali ini Mia dapat mengunjunginya.
Pulau Elba adalah pulau terbesar di Semenanjung Toscana. Pulau ini juga merupakan pulau terbesar ketiga di Italia. Pulau Elba sangat terkenal di dunia. Terlebih karena pulau tersebut telah tercatat dalam sejarah, sebagai pulau yang dijadikan tempat pengasingan bagi seorang kaisar Perancis, yaitu Napoleon Bonaparte.
__ADS_1
Di salah satu sudut terpencil pulau tersebut, Corradeo de Luca membangun sebuah istana megah empat lantai yang berada di tebing dan langsung menghadap ke laut. Keluarga de Luca biasa menyebut istana megah itu dengan nama Kastil Corradeo.
Corradeo merupakan kakek dari Matteo. Ia wafat sekitar beberapa tahun yang lalu dalam usia yang terbilang sangat tua, yaitu sembilan puluh tahun. Sementara Matteo merupakan cucu kesayangannya, karena itu ia juga menghadiahi pria bermata abu-abu tersebut dengan seekor anjing Rottweiler yang telah lama menjadi sahabat bagi Matteo. Anjing yang diberi nama Maximus itu begitu patuh kepada tuannya. Karena itu, saat melihat kedatangan Matteo di sana, Max segera berlari menghampiri sang tuan.
“Hallo, Max? Bagaimana kabarmu?” Matteo memeluk dan mengusap-usap tubuh anjing bertampang sangar tersebut. Ia tampak begitu dekat dan sangat menyayangi peliharaannya. Matteo bahkan terlihat berbeda ketika sedang berada di dekat anjing itu. Sedangkan Mia hanya terpaku. Ada sedikit rasa takut dalam hatinya untuk mendekat.
“Kemarilah, Mia,” ajak Matteo. “Tak apa, Max anjing yang sangat baik,” ucapnya. Matteo tersenyum kecil melihat sikap Mia yang tampak ragu. Ia mengulurkan tangannya untuk Mia. Beberapa saat kemudian, Mia menyambut uluran tangan itu dan bergerak mendekat.
Anjing itu menunjukkan sikapnya yang patuh. Terbukti saat Mia beberapa langkah jaraknya, Maximus langsung berposisi duduk dan menyalak sekali, seolah mengucapkan salam dan sapaan untuk Mia.
“Max mengatakan 'hai' padamu,” Matteo tertawa pelan sambil meraih jemari Mia dan meletakkannya di atas kepala Maximus. Matteo menuntun Mia yang masih terlihat ragu untuk berlutut
Anjing itu pada awalnya menunduk. Lama-kelamaan, lidahnya menjulur dan menjilati telapak Mia. Tidak hanya itu, Maximus bergerak semakin maju dan menjilati seluruh wajah cantiknya, sampai-sampai Mia jatuh terduduk.
Anjing itu kemudian menghambur kepada Mia, seolah berharap untuk mendapat sebuah pelukan. Sementara Mia terkejut. Namun, pada akhirnya wanita cantik itu tertawa dengan sikap Maximus terhadapnya.
“Facile! Facile, Max! (Tenanglah, Max!)” perintah Matteo sembari menampakkan senyum lebar.
“Max tak pernah seantusias ini pada orang yang baru pertama kali ditemuinya. Sepertinya ia juga tergila-gila padamu, Mia. Seperti halnya diriku,” goda Matteo dengan setengah berbisik.
“Cukup, Max! Theo, tolong hentikan, mukaku basah,” protes Mia seraya mengelap wajahnya menggunakan punggung tangan.
Lagi-lagi Matteo tergelak. Ia segera memerintahkan anjing kesayangannya untuk berhenti menggoda Mia. Pria itu kemudian membantu Mia berdiri dan menggandeng tangannya. “Mari, akan kuajak kau berkeliling villa,” ujarnya setelah yang lain datang menghampiri mereka berdua.
Seorang pelayan yang berdiri di depan pintu masuk, segera menyambut kedatangan mereka. Ia mengangguk penuh hormat kepada Matteo. "Apa kabar, Alessio?" sapa Matteo kepada pria yang sepertinya berusia sama dengan Damiano.
"Sangat baik, Tuan Muda. Selamat datang kembali. Kami sudah menyiapkan semuanya."
__ADS_1