Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Bel Viso


__ADS_3

Setelah forum tersebut berakhir, maka saat itulah Marco memulai tugas-tugasnya. Dalam bimbingan Matteo dan juga Damiano, ia mempelajari segala selul-beluk dunia organisasi. Setiap hari selagi ada kesempatan, Matteo terus menggembleng sepupunya tersebut. Hingga pada akhirnya, Marco pun dapat memahami apa yang menjadi tugas dan kewajiban sebagai ketua. Ia juga mulai membiasakan diri dengan mengikuti pertemuan-pertemuan. Matteo membiarkannya untuk belajar mengambil keputusan, meski tak jarang ia tetap turun tangan, ketika Marco membutuhkan bantuan.


Beruntungnya, karena Mia sudah dapat menjalani kehamilan dengan nyaman dan lancar. Setiap hari ia memandangi dirinya pada pantulan cermin. Terkadang Mia meraa lucu ketika melihat perutnya yang sudah membesar. Ia juga kerap kali merasakan gerakan-gerakan calon bayi yang begitu aktif.


Siang itu, adalah jadwal rutin Mia untuk memeriksakan kandungan ke dokter. Seperti biasanya, Matteo menjadi suami siaga di sela-sela kesibukannya dalam mengurus perkebunan. Sementara, segala proses pemindahan pusat organisasi ke Palermo telah sepenuhnya dirampungkan.


"Rasanya seperti mimpi, Cara mia. Kurang dari satu bulan lagi aku akan menjadi seorang ayah. Hidupku benar-benar sudah sempurna, dan kau yang menjadikannya seperti itu," Matteo menggenggam tangan Mia dan menciumnya dengan dalam, ketika mereka telah keluar dari ruang periksa.


"Kau juga membuatku merasa begitu sempurna, Theo. Apa lagi yang aku butuhkan sekarang? Aku sudah memilikimu dan seseorang di dalam perutku. Kita akan menjadi keluarga kecil yang harmonis," balas Mia dengan senyuman manisnya yang begitu khas. Tiada seorang pun yang dapat menyangkal bahwa Mia memiliki senyum terindah. Ada ketulusan dalam senyuman itu, yang membuat siapa pun menjadi begitu terkesan dan jatuh cinta.


"Setelah anak kita lahir nanti, aku akan mengajak kalian untuk keliling Eropa. Katakan negara mana yang ingin kau kunjungi terlebih dahulu?"


Binar indah seketika muncul di kedua mata cokelat Mia. Wanita yang tak lama lagi akan segera melahirkan itu, tampak sangat bahagia. Ia terus berjalan keluar dari klinik sambil menempelkan kepalanya di lengan Matteo. "Aku akan merasa bahagia ke manapun kau mengajakku, Theo. Namun, jika memang kau memberiku sebuah pilihan, maka aku ingin sekali pergi ke Yunani. Selama ini, aku hanya melihat keindahannya dari media saja. Aku ingin merasakan sensasinya secara langsung, seperti apa Santorini yang terkenal itu," Mia terus tersenyum. Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Matteo heran.

__ADS_1


"Ada apa, Sayangku?" tanya Matteo yang juga ikut berhenti. Ia melirik Mia yang terlihat tidak nyaman. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.


"Aku lapar, Theo. Bagaimana jika kita berjalan-jalan sebentar untuk mencari tempat makan yang bagus?" cetus Mia.


"Oh, apapun yang kau inginkan, Ratuku," sambut Matteo dengan hangat. Setelah itu, mereka segera menuju ke mobil dan meninggalkan klinik tersebut. Matteo mengendarai mobil jeep kesayangannya dengan tenang. Sesekali, ia melirik Mia dari balik kacamata hitamnya. Sementara Mia sibuk melihat ke luar dan mencari kedai atau restoran yang menurutnya cocok untuk menjadi tempat tujuan mereka siang itu.


Tak berselang lama, Mia meminta Matteo menghentikan mobilnya di seberang sebuah kedai yang tidak terlalu besar, bahkan terbilang sederhana. Ia mengajak sang suami turun. Dengan raut penuh keheranan, Matteo mengikuti semua keinginan sang istri tercinta. "Kau yakin ingin makan di sini, Sayang?" tanya Matteo saat mereka baru menyebrang jalan.


Matteo segera menggenggam erat jemari lentik Mia. Pria itu tersenyum kalem kepadanya. "Venice akan menjadi tempat pertama yang kita kunjungi nanti. Sudah lama aku tidak merasakan sensasi naik gondola," ucapnya.


"Oh, Theo. Aku akan sangat menantikan hal itu. Venice kota yang sangat indah dan penuh dengan sejarah untuk kita. Aku bersyukur, karena kau memilih kota itu sebagai tempat persembunyianmu dulu. Kalau boleh tahu, bagaimana kau bisa memutuskan untuk pergi ke sana?" tatap Mia lembut tertuju kepada Matteo yang duduk di hadapannya.


Matteo kembali tersenyum kalem. Paras rupawannya tak pernah membuat Mia bosan untuk selalu ia kagumi. Dari waktu ke waktu, ketampanan Matteo semakin terlihat, seiring dengan kedewasaan dan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh mantan ketua dari Kaln de Luca tersebut. Matteo pun kini terlihat jauh lebih menikmati hari-harinya sebagai seorang pengusaha minuman anggur.

__ADS_1


"Takdir, Sayangku. Kau percaya dengan itu, bukan? Seperti yang selalu Damiano katakan padaku, manusia hidup dengan takdir yang telah digariskannya sejak lahir. Tak ada yang tahu ke mana takdir itu akan membawanya. Aku juga tak pernah mengira jika akan bertemu denganmu, dan menjalani hari-hariku seperti ini. Tuhan telah menunjukkan makna hidup yang sebenarnya padaku, melalui dirimu. Karena itu, aku tak akan pernah pergi. Satu hal yang bisa memisahkanku darimu, Sayangku. Kematian," nada bicara Matteo terdengar begitu dalam. Sementara Mia menatap Matteo dengan intens.


"Kau tak perlu khawatir, Cara mia. Aku tak akan mati dalam waktu dekat, karena masih banyak hal yang ingin kulakukan denganmu, dengan anak kita," Matteo kembali mencium jemari lentik Mia.


"Tuhan menyayangimu, Theo. Karena itulah kau selalu lolos dari kematian seburuk apapun," ujar Mia dengan nada bicaranya yang lembut.


"Aku rasa, Tuhan memberiku waktu untuk menebus segala dosa-dosa yang telah kuperbuat selama ini. Aku ingin pergi saat nanti jiwaku sudah benar-benar bersih, sehingga aku tidak membawa sedikitpun beban yang akan menyiksa," balas Matteo. Ia menghentikan sejenak perbincangan itu, ketika seorang pelayan datang dan menyuguhkan menu yang telah mereka pesan sebelumnya. Beberapa menu khas Italia tersaji di atas meja.


Mia memesan banyak makanan siang itu. Kehamilannya kali ini, telah membuat selera makan wanita cantik tersebut meningkat berkali lipat. Bobot tubuhnya pun naik drastis. Akan tetapi, hal itu tak membuat Matteo melakukan protes. Pria itu justru terlihat bahagia karena itu jauh lebih baik, daripada saat Mia menjalani masa ngidamnya yang lebih sering hanya mengkonsumsi buah-buahan.


Seusai makan siang di kedai itu, keduanya memutuskan untuk mencari beberapa perlengkapan bayi yang belum sempat dibeli. Mereka kemudian berjalan menuju pintu keluar kedai tersebut. Akan tetapi, sebelum benar-benar keluar, Mia meminta izin untuk pergi ke toilet. Matteo pun menunggunya di depan pintu. Sesekali, pria dengan t shirt panjang itu mengedarkan pandangannya pada sekeliling tempat itu.


Tanpa Matteo ketahui, dari dalam sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan, sepasang mata tengah memperhatikan gerak-geriknya dengan tajam. Seorang pria telah siap dengan pistol yang dilengkapi peredam di ujung moncongnya. Ia mengarahkan pistol itu kepada Matteo yang tidak menyadari ancaman tersebut. Namun, Mia muncul tepat di saat pria itu hendak menarik pelatuknya.

__ADS_1


__ADS_2