Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Back To You


__ADS_3


Berbeda dengan Daniella yang ceria menyambut pagi, Francesca tampak begitu murung saat itu. Sejak keluar dari kamarnya, ia langsung mencari-cari sosok Coco. Akan tetapi, apa yang dilakukannya itu harus berakhir kecewa. Dengan langkah gontai, Francesca berjalan menuju ruang makan. Ia mengikuti Mia yang terlihat begitu bersemangat hendak karena hendak mencoba menu baru yang baru saja ia dapatkan dari internet.


“Biar kubantu, Mia,” tawar Francesca ketika Mia terlihat sibuk menyiapkan bahan dan peralatan memasak. Francesca mencoba untuk bersikap biasa saja. Akan tetapi, ia tetap tak dapat menyembunyikan wajah murungnya dari Mia.


Mia tak serta merta menyahut. Wanita muda itu malah memperhatikan wajah manis sang adik dengan heran. “Kenapa lagi, Francy?” tanyanya lembut dan penuh perhatian. Kini, giliran Francesca yang tak segera menjawab. Ia melirik Daniella yang berjalan mendekat dengan wajah segar. Gadis berambut pirang itu segera menarik salah satu kursi makan yang ada di dekatnya sambil tersenyum ceria.


“Selamat pagi, semuanya,” sapa Daniella. “Di mana semua pria di rumah ini?” tanyanya seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


“Theo masih tidur. Sepertinya ia kelelahan. Sedangkan, Ricci .…” Mia tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku melihatnya keluar dari Casa de Luca, pagi-pagi sekali. Aku rasa tak lama setelah Daniella dan Marco pulang,” tuturnya.


Francesca menelan ludahnya setelah mendengar penjelasan Mia. “Pergi ke mana ia?” tanyanya lirih.


“Aku rasa ia mungkin pulang ke bengkel,” jawab Mia. "Ricci memang sudah berniat pulang ke bengkelnya dari semenjak aku berangkat ke Roma. Namun, karena ia tahu aku dan Theo akan ke sana, maka ia memaksa untuk ikut dan mengurungkan niatnya. Padahal ia sudah lama meninggalkan pekerjaannya di bengkel," terang Mia lagi. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


“Ah, biarkan saja. Para pria memang selalu berbuat semaunya, Mia. Omong-omong, aku sudah kelaparan,” sela Daniella sembari menyisir rambut pirangnya menggunakan jemari tangan kanan.


Sementara Francesca hanya bisa terdiam. Tatapannya terasa kosong dan menerawang. Ia bahkan hampir mengiris jari telunjuknya sendiri saat membantu Mia memotong sayuran. Gadis itu meringis pelan. Francesca sama sekali tak bisa berkonsentrasi untuk memasak, sehingga ia memutuskan untuk meletakkan pisau itu begitu saja.

__ADS_1


“Maafkan aku, Mia. Aku tak bisa membantumu saat ini,” ujarnya seraya membalikkan badan.


“Kau akan pergi ke mana? Setidaknya kau harus sarapan dulu,” cegah Daniella.


“Kalian sarapan saja duluan. Aku belum lapar!” seru Francesca yang kini sudah menaiki tangga menuju kamarnya. Terlalu banyak memikirkan Coco membuatnya kehilangan nafsu makan. Apapun yang ia lakukan, maka selalu berakhir pada bayangan wajah tampan pria itu.


Francesca merasa bahwa ia harus menghentikan kegalauannya sesegera mungkin. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berganti pakaian dan memoleskan make up tipis. Setelah itu, ia meraih sling bagnya. Setelah siap, Francesca kemudian berlari keluar kamar dan kembali melewati meja makan dengan tergesa-gesa.


Mia dan juga Daniela melihat itu semua dengan tatapan penuh tanda tanya. “Mau ke mana kau, Francy?” tanya Daniella nyaring.


“Menjemput mimpiku!” seru Francesca tanpa berhenti berlari. Langkahnya terus bergerak menuju gerbang terluar Casa de Luca. Ia berkali-kali melambaikan tangan saat kendaraan melewati jalan raya di depannya. Pada akhirnya, sebuah taksi berhasil Francesca hentikan. Tanpa membuang banyak waktu, Francesca memasuki kendaraan dan menyebutkan alamat yang hendak ia tuju.


Tak lebih dari lima belas menit, taksi yang ditumpangi Francesca berhenti tepat di depan bengkel yang terletak tak jauh dari tepian jalan raya. Bengkel dengan halaman yang luas itu tampak lengang. Hanya beberapa mobil yang terparkir di sana. Gadis itu pun memberanikan diri untuk mendatangi tempat tersebut.


Kotoran dan jelaga tampak di pipi pria itu, yang malah semakin menambah kadar ketampanannya. Pikirannya mendadak kosong. Segalanya gelap gulita. Akan tetapi, Francesca tak boleh mundur lagi. Ia sudah sampai sejauh ini dan akan sia-sia jika ia langsung kembali pulang.


Francesca menarik napasnya perlahan sambil mengumpulkan keberanian. Mulutnya sudah mulai terbuka. Ia hendak menyapa Coco ketika terlihat seorang gadis yang sepertinya berusia seumuran dengan Coco, keluar dari dalam bengkel itu sembari menepuk bahu pria tampan tersebut dengan lembut. “Sarapan sudah siap,” ucapnya merdu.


Seketika dunia Francesca seakan runtuh. Apa yang ia harapkan untuk berakhir indah hari ini, ternyata tak lebih dari angan-angan semu belaka. Gadis itu mulai mengusap air mata yang mulai menetes di pipinya. Pemandangan di depannya sungguh teramat menyakitkn, sehingga ia akhirnya memutuskan untuk berbalik arah.

__ADS_1


Kekalutan yang dirasakan Francesca saat itu membuatnya tidak berhati-hati. Ia menyeberang jalan begitu saja, sampai-sampai tak menyadari bahwa ada mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Gadis itu hanya bisa terpaku di tempatnya tanpa bisa berbuat apa-apa, bahkan tak sepatah kata pun bisa keluar dari mulutnya.


Bunyi decitan rem mobil melengking demikian nyaring, hingga membuat Coco mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya. Di tengah jalan itu, seorang pengemudi turun dari mobilnya sambil mengumpat seorang gadis semampai yang sangat ia kenali. “Francy!” teriaknya seraya berlari menghampiri gadis itu.


“Ada apa ini?” Coco memandang garang ke arah pengemudi mobil yang baru saja mencaci maki Francesca.


“Nasihati saja kekasihmu! Jangan kira jalan ini adalah milik kakeknya, sehingga ia menyeberang seenaknya!” omel pengemudi itu. Ia lalu kembali ke dalam mobilnya dan pergi.


Dengan lembut, Coco menarik mundur tubuh Francesca dan mengajaknya memasuki bengkel. Di sana, seorang gadis cantik berambut gelap menatap Francesca dengan tatapan tak suka. “Siapa gadis itu, Ricci?” tanya gadis berambut gelap tersebut.


Rasa cemburu dan emosi kembali menguasai Francesca, sehingga ia langsung saja memutuskan untuk kembali meninggalkan Coco. “Aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk mendatangimu,” gumam Francesca. Sorotnya wajahnya yang sedih, tampak jelas di mata Coco.


“Untuk apa kau mendatangiku?” Coco bertanya dengan nada dingin. Sedangkan Francesca hanya tersenyum sinis menanggapinya. “Untuk mengatakan padamu, kalau aku lebih baik mengorbankan karier, cita-cita dan mimpiku, hanya untuk memilih hidup bersama denganmu. Akan tetapi, sepertinya aku telah terlambat,” jawabnya getir. Setelah itu, Francesca membalikan badannya dan bermaksud untuk keluar dari bengkel. Namun, dengan segera Coco mengikutinya. Ia meraih pergelangan Francesca dan menahan langkah gadis itu.


Francesca tertegun. Terdengar sebuah isakan pelan yang keluar dari bibirnya. Sesaat kemudian, Francesca membalikan badannya dan segera menghambur ke dalam pelukan Coco. Gadis itu pun menangis di sana. Sementara gadis yang tiada lain adalah Lucia, terus memperhatikan mereka berdua. Tanpa diberitahu oleh Coco, ia sudah dapat menebak jika gadis yang kini tengah menangis dalam pelukan pria rupawan itu pastilah Francesca. Coco kerap bercerita tentangnya kepada Lucia.


Sementara Francesca mulai melepaskan diri dari pelukan Coco. Ia menatap wajah pria yang telah menjadi cinta pertamanya itu dengan lekat. Francesca kemudian mengusap noda hitam yang menempel di bawah mata pria tersebut. "Inilah hidupku, Francy," ucap Coco pelan.


"Kau tidak benar-benar ingin meninggalkanku, kan?" tanya Francesca. Ia terlihat begitu resah saat itu.

__ADS_1


"Tergantung dirimu," jawab Coco tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik dengan mata hazel Francesca. Wajah yang teramat manis dan sangat sulit untuk ia lupakan meskipun telah bertahun-tahun berpisah.


Francesca segera memukul dada Coco dengan jengkel. "Dasar bodoh! Kau pikir aku akan menerimanya begitu saja?" protesnya. "Aku sudah terlepas dari jeratan Filippo. Mana mungkin aku akan rela untuk meninggalkanmu lagi," Francesca kembali memukuli dada Coco, sementara pria itu hanya tertawa pelan, membuat Lucia ingin menangis.


__ADS_2