Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Inside The Palace


__ADS_3

Coco duduk di depan laptopnya. Entah apa yang tengah ia lakukan, tapi sesaat kemudian ia berkata kepada Matteo, “Aku sudah berhasil meretas sistem keamanan Mansion Moriarty. Aku benar-benar bekerja keras untuk bisa melakukan hal itu," ujar Coco dengan tatapan yang masih mengarah pada layar laptop.


"Mereka memiliki sistem keamanan yang sangat ketat dan juga berlapis. Aku rasa jika bukan seorang profesional sepertiku, pasti akan sangat sulit untuk dapat menembusnya,” tutur Coco. Lagi-lagi, ia menyombongkan dirinya. Sementara Matteo hanya mengela napas dalam-dalam. Ia sudah terbiasa dengan sikap dan kata-kata konyol pria sahabatnya itu.


“Lalu?” tanya Matteo. Ia tidak berniat untuk menanggapi celotehan Coco tentang dirinya sendiri yang terdengar sangat tidak penting.


Coco tampak kembali fokus dengan laptopnya untuk sejenak. Ia lalu menunjukkan sesutu pada layar, sebuah data file yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang paham dengan IT.


Matteo mengernyitkan keningnya. Ia menoleh kepada Coco. “Bisakah untuk tidak bertele-tele? Kita tidak memiliki banyak waktu. Jangan sampai Silvio kembali ke mansionnya sebelum aku berhasil menyelinap ke sana!” protes Matteo hingga membuat Coco tergelak.


“Baiklah,” sahut Coco seraya mengakhiri tawanya. “Intinya, aku sudah berhasil mengacaukan sistem keamanan mereka, dengan begitu kau bisa melewati tahap keamanan pertama. Kau dapat masuk ke halaman mansion dengan leluasa. Kemarin aku sempat mengamati suasana di sana meskipun hanya sekilas," jelas Coco.


"Ada beberap titik yang menjadi tempat berkumpulnya para penjaga. Di bagian luar mansion, aku hanya melihat sedikit penjaga. Aku rasa hanya ada beberapa dan aku yakin kau dapat melumpuhkan mereka dengan mudah."


"Di sana terdapat beberapa pintu, tapi hanya ada satu pintu utama yang ditandai dengan dua pilar berukir. Pintu itu terlihat paling mencolok jika dibandingkan dengan pintu yang lain. Aku juga tidak tahu pintu-pintu lainnya menuju ke ruangan apa,” jelas Coco dengan panjang lebar.


“Selain itu, aku juga melihat ada beberapa balkon di sana. Mungkin salah satunya adalah kamar Silvio. Namun, semuanya terlihat sama,” jelas Coco lagi seraya mengernyitkan keningnya.


“Maksudmu?” tanya Matteo tidak mengerti.

__ADS_1


“Jika salah satunya merupakan kamar Silvio, maka seharusnya ada sedikit pembeda. Tunggu sebentar!” Coco tampak berpikir. Ia seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Sesaat kemudian, Coco lalu tersenyum.


“Ya, aku tahu!” seru Coco pelan. “Ada satu balkon dengan bentuk yang berbeda. Jauh lebih besar jika dibndingkan dengan balkon lainnya. Aku rasa itu pasti kamar Silvio,” gumam Coco. “Kau pasti sudah tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” Coco melirik sahabatnya yang kini terlihat jauh lebih segar setelah meminum kopi.


Sekitar tengah hari, Matteo baru selesai memersiapkan dirinya di dalam van. Tak lupa, Coco membekali Matteo dengan sebuah pistol yang ia dapatkan dari seorang kenalannya di sana. Matteo juga memasang earpiece agar ia dapat berkomunikasi dengan Coco yang bertugas memantau dari luar.


Setelah merasa benar-benar siap, Matteo lalu keluar dari dalam van dan berjalan menuju pintu gerbang mansion. Dengan sangat hati-hati, pria itu memanjat tembok tinggi di dekat pintu gerbang yang berdiri kokoh tersebut. Matteo berjalan sambil mengendap-endap saat masuk ke halaman mansion, agar kedatangannya di sana tidak diketahui oleh para pengawal Silvio.


Untungnya saat itu penjagaan di halaman depan pun tidak terlalu ketat. Cuaca yang cukup terik, menyebabkan anak buah Silvio lebih memilih untuk berkumpul di sebuah gazebo yang berada di sisi lain halaman mansion tersebut. Gazebo yang cukup besar, yang sepertinya memang dibangun khusus untuk mereka.


Suara gelak tawa diiringi alunan musik yang cukup keras, mengiringi beberapa pria berpakaian hitam yang tengah asyik berkumpul sambil bermain kartu. Berhubung saat itu Silvio sedang tidak ada di sana, maka mereka pun memanfaatkan waktu yang jarang terjadi, untuk sekadar bersantai. Namun, mereka tidak menyadari jika mereka telah bersikap lengah hingga tidak menyadari jika ada penyusup masuk ke area mansion.


Coco memang benar. Pada bangunan megah itu terdapat banyak balkon. Matteo melihatnya satu persatu, hingga pandangannya terkunci pada sebuah balkon dengan bentuk melengkung dan berukuran jauh lebih luas jika dibandingkan dengan balkon yang lainnya. Balkon itulah yang akan menjadi target Matteo saat ini. Namun, baru saja Matteo berdiri, ia harus tertegun karena merasakan moncong senjata di pinggang bagian belakangnya.


“Letakan tanganmu di belakang kepala, Penyusup!” hardik seorang pria dari arah belakang Matteo. Meski pria itu berkata dengan cukup lantang, tetapi teman-temannya yang lain seakan tidak mendengar karena suara musik di dalam gazebo itu jauh lebih keras.


Matteo menurut. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala kemudian berbalik dan menghadap kepada si penodong. Matteo tersenyum samar. Tidak tampak sama sekali raut ketakutan dari wajahnya.


Sementara si penodong merasa di atas angin, dengan pongahnya ia menarik pelatuk dan menempelkan moncongnya tepat di kening Matteo. Ia berharap musuh besar dari bosnya itu akan mati di tangannya. Dengan begitu ia akan mendapatkan sanjung puji dan juga hadiah yang besar dari Silvio.

__ADS_1


Akan tetapi, angan-angan semunya harus berakhir saat itu juga, ketika tangan Matteo bergerak secepat kilat menghunuskan belati yang tersembunyi di dalam lengan jaketnya, tepat di pergelangan tangan pria itu.


Si penodong memekik dan terpaksa menjatuhkan pistolnya akibat rasa perih yang tak tertahankan. Nadinya kini sobek, luka sedalam dua sentimeter telah mengoyak uratnya. Pria itu bahkan tak dapat mengambil pistol yang tergeletak di bawah kakinya. Darah mengalir deras dari bawah telapak tangannya.


Pandangan si penodong berkunang-kunang dan hampir limbung. Ini adalah kesempatan emas bagi Matteo. Segera ia menarik tubuh pria itu dan menghujamkan belatinya beberapa kali ke ulu hati si penodong, hingga akhirnya tubuh itu ambruk dan tak berdaya tanpa perlawanan yang berarti.


Matteo mengambil pistol yang tergeletak di atas tanah berkerikil itu. Namun, sayang sekali karena begitu Matteo berbalik, ia harus kembali berhadapan dengan moncong senjata yang sudah mengarah langsung ke kepalanya. Ia kini bahkan telah dikelilingi oleh beberapa orang pengawal yang juga dalam keadaan bersiap untuk menembaknya.


Matteo semakin waspada. Ia mengedarkan pandangannya kepada wajah-wajah beringas itu satu persatu. Salah seorang dari mereka mengokang senjata dan memuntahkan sebutir peluru ke arah dirinya. Matteo sigap menghindar dengan gerakan menyamping, menabrak salah seorang anak buah Silvio yang juga menodongkan senjata ke arahnya.


Pemuda itu terhuyung. Dengan segera tangan Matteo memeganginya, kemudian menarik pemuda itu agar berdiri tepat di depannya. Matteo menjadikan tubuh pemuda itu sebagai tameng, sehingga ketika salah seorang pengawal Silvio mencoba untuk menembaknya secara membabi buta, tembakan itu hanya bersarang di tubuh si pemuda.


Matteo berjalan mundur sambil memegangi tubuh pemuda yang kini sudah tak lagi bernyawa. Sedangkan tembakan demi tembakan masih terus menghujaninya. Ada satu pintu yang berada di belakang Matteo. Ia merasa jika hanya itulah jalan keluar satu-satunya untuk menghindar dari serangan bertubi-tubi yang mengarah kepada dirinya.


Matteo terpaksa membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Ia lalu membuang tubuh pemuda yang sudah tak lagi berguna itu dengan begitu saja.


Matteo beralih pada satu pot tanaman keramik berukuran besar yang terletak di sisi pintu. Ia menyeret dan meletakkan pot itu di depan pintu, maksudnya untuk menahan agar pintu tak dapat dibuka dengan dari luar.


Matteo mundur beberapa langkah. Pria itu kemudian berbalik dan mencoba untuk memutar otak. Namun, ternyata pintu itu malah mengarah tepat pada salah satu ruangan yang ada di dalam istana Moriarty dengan lebih banyak manusia bersenjata di dalamnya.

__ADS_1


 


__ADS_2