
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Baik Matteo maupun Mia sangat menikmati peran baru mereka sebagai orang tua baru, meskipun keduanya harus beradaptasi dengan susah payah dengan segala sesuatu yang belum terbiasa bagi mereka. Tanpa terasa, usia bayi cantik itu sudah menginjak tujuh bulan. Matteo tak pernah melewatkan sehari pun tanpa bersyukur kepada Tuhan atas kebahagiaan dari keluarga kecilnya. Ia merayakan kebahagiaan itu dengan sebuah pesta besar-besaran. Selain untuk merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh sembilan, Matteo juga ingin mengadakan upacara penyambutan bagi putri pertamanya dalam keluarga besar de Luca.
Tampak suasana di kediaman Casa de Luca jauh lebih ramai dari biasanya. Semua orang tengah mempersiapkan keberangkatan keluarga kecil Matteo menuju pulau Elba, bersama pasangan Marco dan Daniela serta Coco dan Francesca. Sementara Damiano sudah lebih dulu berada di sana untuk mempersiapkan jalannya acara serta menyambut tamu yang sudah mulai berdatangan dan menginap di kastil Corradeo.
Rombongan Matteo terbang menggunakan helikopter pribadinya dan tiba menjelang sore di pulau Elba. Beberapa pelayan telah siap menyambut kedatangan mereka. Matteo dengan sigap dan hati-hati membantu menurunkan Mia dan putri mereka yang terlelap di gendongan sang ibu. “Mari, saya antar ke kamar Anda, Nyonya,” ucap seorang pelayan yang masih belia kepada Mia. Ia menunduk hormat dengan sikap santun yang terlihat alami, tanpa dibuat-buat sama sekali.
“Masuklah dulu ke kamar, Cara mia. Aku akan menyambut tamu kita,” suruh Matteo sebelum berjalan ke sisi landasan yang berbeda, saat terlihat sebuah helikopter lain hendak mendarat. Sementara Daniella dan Francesca memilih untuk mengikuti Mia. Lain halnya dengan Marco yang berinisiatif untuk menyusul Damiano dan membantunya menyiapkan acara.
“Apakah itu helikopter milik Adriano D'Angelo, Amico?” tanya Coco yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Matteo. Pandangannya intens tertuju pada helicopter dengan gambar seekor macan hitam pada body sampingnya.
“Ya,” jawab Matteo singkat. Ia setengah menengadah dengan telapak tangan menempel di dahi untuk menutupi pandangan matanya dari silau matahari sore itu. Helikopter itu makin lama semakin terbang rendah.
“Siapa yang mengundangnya kemari?” tanya Coco lagi dengan raut dan nada bicara yang terdengar kurang menyukai kehadiran Adriano di sana.
“Tentu saja aku. Apa masalahnya, Coco? Kenapa kau terlihat tak suka?” Matteo menoleh sejenak pada sahabatnya itu. Akan tetapi, Coco tak segera menjawab, ia malah menatap dalam-dalam kepada Matteo sebelum akhirnya ikut mengamati helikopter Adriano yang mulai mendarat. Tampak Adriano turun dari sana dengan gagahnya, sesaat setelah baling-baling berhenti berputar. Pria itu terlihat sangat tampan saat mengenakan blazer berwarna putih yang dipadu dengan celana berwarna senada dan kemeja biru laut yang serasi dengan warna matanya.
“Di mana ia akan menginap?” bisik Coco tepat di telinga Matteo.
“Di mana lagi kalau bukan di salah satu kamar tamu. Astaga, ada apa denganmu, Amico?” Matteo menggeleng keheranan.
“Tidak. Tidak ada apa-apa,” jawab Coco setengah gugup ketika Adriano sudah berdiri di hadapan mereka. "Apa kabar, Tuan de Luca, Tuan Ricci?” sapa Adriano penuh wibawa. Ia mengalihkan pandangannya pada kedua pria tampan bertubuh tegap di hadapannya secara bergantian.
__ADS_1
Coco menanggapinya dengan senyuman sinis, sedangkan Matteo segera menyambut uluran tangan Adriano. “Kabar kami sangatlah baik. Apalagi putriku tumbuh semakin sehat dan cantik. Aku merasa hidupku sangat sempurna,” jawab Matteo dengan wajah berbinar.
“Syukurlah, aku turut senang mendengarnya,” Adriano tersenyum lebar. Sementara Coco terus mengawasi tiap detail dari ekspresi yang ditunjukkan pria menawan di hadapannya, sebelum konsentrasi pria itu pecah oleh kedatangan helikopter lain.
“Ya, ampun. Bagaimana kalau semua orang membawa helikopternya masing-masing? Landasanmu tak akan cukup untuk menampungnya, Amico,” celoteh Coco.
“Itu Camilla,” sahut Matteo dengan tatap matanya yang terus memperhatikan helikopter yang baru saja mendarat sempurna. Seorang pria tampan bersetelan rapi turun dari sana bersama seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Camilla Rosetti.
Dengan gayanya yang masih sama, wanita itu melambaikan tangannya begitu antusias kepada Matteo.
“Apa kabar, Theo?” serunya dengan senyuman lebar sembari menempelkan pipinya pada pipi Matteo. Sesaat kemudian, ia berpindah kepada Coco. Setelah itu, barulah Camilla mengamati Adriano sesaat, lalu menyalaminya. “Kenalkan, ini suamiku. Bruno Alvarez,” ujarnya seraya melingkarkan tangan dengan mesra di lengan sang suami.
“Baguslah, Adriano D’Angelo dan Camilla Rosetti menghadiri pestamu. Semoga berjalan lancar semuanya dan tidak berakhir perang,” celoteh Coco seraya terkekeh sebelum berjalan mendahului Matteo.
“Apa maksudnya itu?” Camilla mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan sindiran halus dari pria berambut ikal tersebut.
“Sudahlah. Tak usah dipikirkan, karena Coco juga tak pernah berpikir atas apapun yang akan ia katakan,” sahut Matteo yang disambut tawa oleh semua orang, kecuali Coco tentunya.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya,” sambut beberapa pelayan berseragam yang sejak tadi sudah siaga di tepi landasan. “Mari kami antar ke kamar anda,” ucap para pelayan itu kepada Adriano dan Camilla.
“Selamat beritirahat, semuanya. Nanti aku mengadakan acara makan malam bersama. Untuk pesta penyambutannya, akan kulangsungkan besok malam,” tutur Matteo.
__ADS_1
Semua orang mengangguk dan berjalan menuju kamarnya masing-masing. Begitu pula dengan Matteo, ia bergegas mendatangi kamarnya dan melihat keadaan Miabella. “Apakah putri kita baik-baik saja, Cara mia? Apa ia tidak kepanasan?” tanyanya dengan raut penuh kekhawatiran bersamaan dengan langkahnya yang memasuki kamar itu. Matteo setengah terkejut ketika ia mendapati Coco sudah berada di dalam kamarnya bersama Francesca.
“Bukankah kau punya kamar sendiri, Amico?” sindir Matteo tanpa memandang Coco. Ia terus berjalan mendekati ranjang, di mana Miabella aktif merangkak dan memutar-mutar badannya. “Lucu sekali kau, Miabella,” Matteo terlihat sangat antusias melihatnya. Sesekali ia mengusap kaki putrinya yang montok dan berbalut kaus kaki lucu dengan hiasan kepala boneka.
“Aku sudah memberitahu Mia tentang kedatangan Camilla dan Adriano,” ujar Coco dengan penekanan pada nama ‘Camilla’. Ia menyeringai lucu sambil berkedip kepada
Francesca.
“Kakakku tidak akan cemburu. Alasannya, karena selain Camilla telah bersuami, ia sendiri juga sudah memiliki Miabella. Betul kan, Mia?” ujar Francesca percaya diri. Namun, kepercayaan dirinya segera luntur tatkala melihat ekspresi wajah Mia yang cemberut.
“Astaga, Sayangku. Jangan katakan jika kau masih cemburu padanya,” ucap Matteo.
“Kenapa tidak boleh?” sahut Mia sewot seraya berdiri dan melangkah begitu saja ke dalam kamar mandi.
“Ini akan menjadi makan malam yang menyenangkan,” Coco tertawa puas sambil sesekali bertepuk tangan.
Malam harinya, selain Adriano dan Camilla bersama pasangannya, beberapa tamu undangan lain juga hadir. Salah satunya adalah pimpinan tetua klan, yaitu Giorgio Monti. Di dalam ruang makan berukuran luas dengan interior bergaya klasik itu, semua orang tampak begitu ceria dan bahagia. Mereka saling berbincang hangat sambil menyantap hidangan dari koki ternama yang telah disewa oleh Damiano.
Matteo begitu bangga memperkenalkan Miabella yang saat itu berada di pangkuannya. Berkali-kali ia mengangkat putri kecilnya dan memamerkan pada para tamu. “Siapa yang memberi nama bayimu?” tanya Camilla basa-basi. Tatapannya tak lepas dar wajah tampan Matteo.
“Suamiku!” sahut Mia.
__ADS_1