
Tanpa banyak bicara, Matteo menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Untung saja saat itu Mia tidak mengunci pintunya, jadi ia dapat masuk dengan mudah. Di dalam sana, Matteo mendapati Mia tengah menghadapi wastafel dengan wajah sedikit pucat. "Cara mia!" seru Matteo pelan. Ia mendekati Mia dan menyentuh serta mengusap-usap punggung sang istri dengan lembut. "Kau tak apa-apa, Sayang?" Matteo terlihat begitu khawatir.
"Ada apa dengan pasta gigi ini, Theo? Kenapa rasanya aneh sekali? Rasanya aku ingin muntah berkali-kali karenanya," ujar Mia setelah membasuh mulut dan wajahnya. Ia kemudian menatap dirinya lewat pantulan cermin di atas meja wastafel seraya meringis kecil.
"Aku rasa sebaiknya kita segera memeriksakan dirimu ke dokter. Ayo kubantu atau mungkin kau ingin kugendong, Sayang?" tawar Matteo dengan ekspresi yang benar-benar khawatir.
"Sudahlah, Theo. Jangan berlebihan! Aku hanya mual, bukan pingsan," tolak Mia seraya berlalu dari sana. Ia kembali ke ruangan utama kamarnya dan lagi-lagi bersembunyi di bawah selimut. Hal itu membuat Matteo hanya dapat menggaruk-garuk keningnya.
"Sayang, bukankah kita harus segera bersiap-siap?" ucap Matteo lagi seraya duduk di dekat Mia yang sedang menggulung tubuhnya tanpa ada celah sedikitpun.
“Aku lemas sekali, Theo,” ucap Mia lirih. Suatu alasan yang terdengar sangat aneh di telinga Matteo. Pria itu hanya dapat mengempaskan napasnya dalam-dalam, kemudian berdiri. Ia menuju ke ruang ganti. “Kalau kau lemas, aku akan menggendongmu,” paksanya sambil memilih dress yang nyaman dan longgar untuk dipakai Mia.
“Duduklah sebentar, Cara mia. Aku akan memakaikanmu baju,” perlahan Matteo menyingkap selimut dan membalikkan tubuh Mia yang meringkuk dan membelakanginya. Wajah cemberut istrinya membuat Matteo harus menahan tawa. “Ayolah, Sayang,” bujuknya lagi. "Kau terlihat sangat kacau," ujar pria itu seraya mengulum bibirnya.
Pada akhirnya Mia harus pasrah ketika Matteo memaksanya mengangkat tangan, lalu melepas kaus putih tanpa lengan yang ia pakai dan menggantinya dengan dress bermotif bunga-bunga. Matteo juga telaten mengambil sisir dan mulai merapikan rambut Mia yang sedikit kusut. “Rambutmu sudah semakin panjang,” Matteo menempelkan ujung hidungnya di kepala Mia, kemudian menciumnya.
“Theo, aku takut,” gumam Mia tiba-tiba.
“Takut kenapa?” tanya Matteo heran.
“Aku takut jika kebahagiaan ini tak berlangsung lama,” Mia menunduk dalam-dalam sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Cara mia,” Matteo melemparkan sisirnya begitu saja lalu berpindah posisi sehingga berhadapan dengan istrinya. “Selama ada aku di sisimu, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu membuatmu agar selalu bahagia,” ujarnya sambil memegang kedua lengan istrinya dengan lembut.
“Lalu, bagaimana jika ternyata kau menghilang dari sisiku? Itu artinya tak akan ada lagi yang membantuku untuk selalu bahagia,” Mia menurunkan telapak tangannya dari wajah dan menatap Matteo lekat-lekat. Sorot matanya begitu sendu saat itu. Kehamilannya kali ini, telah membuat Mia menjadi begitu sensitif.
“Aku tak akan menghilang dari sisimu dengan begitu saja kecuali jika aku mati,” jawab Matteo tenang dan datar.
__ADS_1
Dengan segera, Mia memeluk tubuh suaminya erat-erat. “Jangan bicara seperti itu lagi, Theo! Aku tak suka!” isaknya penuh haru. Tangis Mia pun pecah di dada sang suami, saat bayang-bayang kelam di masa lalu mulai hadir kembali dan menghantui dirinya.
“Kalau begitu, kau harus menurut padaku. Berdirilah dan kita akan pergi ke dokter kandungan bersama-sama,” tegas Matteo tapi tetap terdengar lembut bagi Mia.
“Bene, bene (baiklah)! Akan tetapi, kau harus menggendongku!” balas Mia manja sembari merentangkan tangan.
Matteo kemudian mengusap sisa-sisa air mata yang jatuh di pipi Mia. “Jika ratuku berkehendak demikian, maka tak ada alasan bagiku untuk menolaknya,” Matteo mengembangkan senyuman lebar-lebar, kemudian meraih tubuh ramping Mia. Dibopongnya wanita yang tiba-tiba saja berubah menjadi sangat manja itu. “Aku harus menggendongmu sampai ke mana?” tanya Matteo sesaat setelah mereka keluar dari kamar dan berjalan menyusuri lorong menuju halaman samping Casa de Luca.
“Sampai ke dalam mobil, Sayang,” jawab Mia genit. Jemarinya tak berhenti menyusuri dagu dan dada bidang suaminya. Matteo terkekeh dengan muka memerah. Namun, tawanya harus berhenti ketika ia berpapasan dengan Coco yang memasang wajah tegang.
“Kenapa mukamu? Jelek sekali,” ejek Matteo.
“Kalian berdua juga aneh. Untuk apa kau membopong istrimu seperti itu?” Coco balik meledek.
“Jangan banyak bicara! Mia sedang hamil. Ia tidak boleh lelah sedikitpun,” jawab Matteo sembari kembali berjalan melewati Coco. Posisinya kini berada di depan dan membelakangi sahabatnya itu. Kepala Mia menyembul dari balik bahu lebar Matteo. Ia menatap sengit pada Coco, membuat pria berambut ikal itu terheran-heran. Mia bahkan menjulurkan lidahnya untuk meledek Coco.
“Mia?” bulu kuduk Coco seketika merinding, karena ia tak pernah melihat Mia seaneh dan sekonyol itu. “Apa istrimu kesurupan, Amico?” celetuknya.
“Kalian hendak ke mana? Aku harus menceritakan sesuatu padamu!” cegah Coco.
“Tunggu sampai aku mendudukkan istriku ke dalam mobil,” jawab Matteo. Mereka kini tiba di garasi luas yang terletak di tengah halaman samping. “Tolong buka rolling doornya, Cara mia,” pinta Matteo lembut.
Mia pun menurut dan mengulurkan tangannya pada tombol berwarna perak yang menempel di dinding samping rolling door, dan terletak tak jauh dari dirinya. Telunjuk Mia dapat menjangkau itu dengan mudah.
Matteo segera memasuki ruang garasi sesaat setelah rolling door terbuka sempurna. Sedangkan Coco masih terus setia mengikuti mereka di belakang.
Matteo kemudian memencet remote alarm mobil kesayangannya. Jeep Wrangler itu terlihat sangat gagah saat pintunya terbuka.
__ADS_1
Lagi-lagi Coco dibuat terheran-heran saat Matteo mendudukkan Mia di kursi samping pengemudi dengan sangat hati-hati. “Astaga, tidakkah kalian sadar kalau sikap kalian ini terlalu berlebihan?” protesnya.
“Kenapa kau yang keberatan? Theo saja tidak masalah,” Mia kembali menjulurkan lidahnya sampai-sampai Coco terhenyak dan mundur selangkah ke belakang. “Aku akan berdoa pada Tuhan, jika suatu saat kau dan Francy menikah lalu Francy hamil, semoga ia jauh lebih rewel dariku. Rasakan itu!” Mia mengakhiri kalimatnya dengan tawa geli, kemudian menutup pintu mobil begitu saja.
“Amico, istrimu sungguh aneh,” bisik Coco. Ia menarik kerah kemeja Matteo dan memaksanya mendekat.
Matteo malah melotot kepada Coco sembari menempelkan telunjuk di bibir. “Sst, biarkan saja, atau ia akan merajuk lagi,” sahut Matteo dengan setengah berbisik. “Sekarang katakan apa masalahmu? Kenapa kau terlihat aneh tadi?”
“Ini tentang Lucia. Sudah beberapa hari ini ia tinggal di tempatku. Lucia memaksaku untuk mencari Stefano,” ujar Coco. Rautnya kini berubah gusar.
“Usir saja jika gadis merepotkan itu,” sahut Matteo santai sambil berjalan memutari jeep, kemudian membuka pintu mobilnya.
“Aku juga tidak berniat memberitahukan padanya bahwa aku sedang memberi tugas penting pada Stefano,” Coco terus mengikuti Matteo dari belakang. Ia baru berhenti ketika Matteo memasuki mobil dan menutup pintunya.
“Lalu, apa masalahnya?” Matteo mulai tak sabar.
Coco tak segera menjawab. Ia mengusap dagunya. Coco tampak seperti berpikir untuk beberapa saat. “Sewaktu aku bangun tadi pagi, Stefano sudah berdiri di depan pintu kamarku,” jawabnya kemudian.
“Apa ia hendak melukaimu?” tersirat kekhawatiran di wajah tampan Matteo.
“Tidak. Ia tak akan berani. Steffano datang hanya untuk menyampaikan informasi yang sudah berhasil ia dapat,” jawab Coco lagi.
“Stefano berhasil menyusup ke dalam klan Tigre Nero?” Matteo semakin antusias.
Mia yang sedari tadi bersikap tak peduli, sekarang ikut memperhatikan percakapan dua sahabat itu.
“Tidak sampai ke anggota elite, tapi ia berhasil mendapat satu informasi penting yang akan membuatmu tercengang, Amico,” terang Coco berapi-api.
__ADS_1
“Apa itu?” sela Mia cepat, membuat Matteo menoleh ke arahnya sebelum kembali memusatkan perhatian kepada Coco.
“Salah satu pabrik narkoba bawah tanah yang dikuasai Adriano di Slovenia, merupakan milik Vincenzo,” ungkap Coco.