Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Trinity Knot


__ADS_3

“Hai, Mia!” seru Valentino. Dari kejauhan pria itu sudah memasang senyum menawan, yang ia tujukan untuk gadis manis yang saat itu tengah melayani seorang pengunjung kedai. Mia menoleh dan balas tersenyum. “Hai, Vale. Dari mana?” Mia juga membalas sapaan pemuda itu.


“Aku sengaja datang kemari,” jawab Valentino masih dengan raut bahagianya. Ia berdiri di sebelah Mia dan mengiringi gadis itu masuk ke dalam kedai. Valentino melihat ke sekeliling ruangan yang tidak terlalu luas itu. “Di mana Mr. Gio? Apa ia tidak ke kedai hari ini?” tanyanya. Entah ia benar-benar perhatian kepada pria paruh baya itu, atau ia hanya sekadar basa-basi terhadap Mia.


“Ayahku sedang ke toko untuk membeli persediaan bahan. Kenapa? Jangan katakan jika sebenarnya kau takut pada ayahku,” goda Mia. Ia mencoba untuk bersikap biasa saja meskipun hatinya kini tengah dilanda keresahan yang sangat besar.


Valentino tergelak. Pemuda itu terlihat sangat menawan saat tertawa. Ia memiliki tawa yang sangat indah dan terlihat begitu bersahabat. Berbanding terbalik dengan Matteo.


Matteo? Lagi-lagi nama itu yang ada di dalam pikiran Mia. Entah sampai kapan Mia akan terus merasa terikat pada pria misterius yang kini telah mencampakan dirinya. Mia menatap gelang yang Matteo tinggalkan untuknya. Gadis itu mengeluh pelan. Apalah artinya sebuah gelang, karena yang Mia inginkan adalah si pemberi gelang itu.


“Mia, bisakah kau membantuku?” Suara Valentino kembali menyadarkan Mia. Gadis itu kembali melamun seperti beberapa hari sebelumnya. Mia tersenyum kecil. Ia menatap Valentino untuk sesaat.


“Ada apa, Vale? Apa yang bisa kubantu?” tanya Mia. Ia memerhatikan Valentino yang saat itu memilih untuk duduk di salah satu meja yang kosong. Valentino kemudian meletakan tasnya di atas meja. Mia pun segera menghampirinya dan duduk di hadapan pemuda itu.


“Kau masih ingat dengan pembahasan kita beberapa waktu yang lalu?” tanya Valentino dengan wajahnya yang tampak sangat bersemangat. Sementara Mia hanya mengernyitkan keningnya. Ada terlalu banyak pembahasan antara dirinya dan juga Valentino. Ia tidak dapat mengingat semuanya.


“Pembahasan yang mana, Vale?” tanya Mia seraya menggerakan bola matanya ke kiri dan ke kanan. Sedangkan Valentino tertawa pelan saat melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Mia. Pemuda itu merasa gemas.


“Oh, Mia! Andai saja kau adalah kekasihku, aku pasti sudah menggigit pipimu sejak tadi!” celotehnya. Sesaat kemudian, Valentino menghentikan tawanya. Ia menegakan posisi duduknya dan terlihat serius. “Katakan padaku, kapan kira-kira kau ada waktu luang?” tanyanya.


“Untuk apa?” Mia balik bertanya.

__ADS_1


“Membantuku,” jawab Valentino dengan entengnya.


Mia mengeluh pelan. Ia kemudian menopang dagu dan menatap pemuda di hadapannya. “Kenapa kau sangat berbelit-belit, Vale? Kau membuang waktuku saja.”


Valentino kembali tertawa mendengar ucapan Mia. Beberapa saat kemudian, pemuda itupun mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal dari dalam tasnya. “Ini yang kita bahas kemarin. Dunia gelap alias dunia hitam tentang mafia,” ucapnya seraya memerlihatkan buku yang baru ia keluarkan.


Mia menatap Valentino. Ia juga melihat buku yang diperlihatkan pemuda itu. Buku yang memang ia rekomendasikan untuk Valentino, ketika mereka mengunjungi perpustakaan beberapa waktu yang lalu. Mia tersenyum kecil. Itulah yang ia sukai dari karakter seorang Valentino Diori. Pemuda itu sangat gigih dan bahkan terkadang nekat.


“Buku ini sangat membantuku, Mia. Rekomendasi yang bagus darimu. Kau memang selalu dapat kuandalkan,” sanjung Valentino seraya memainkan kedua alisnya. Sementara Mia masih menunggu apa yang akan dikatakan pemuda itu selanjutnya.


“Aku sudah merangkum beberapa poin penting dari buku yang kubaca ini. Selain itu aku juga membuat pembanding dengan mencari sumber dari buku lainnya, dan ternyata hasilnya memang sama,” terang Valentino dengan antusias.


Mia tersenyum lembut. Sebenarnya ia tidak begitu tertarik untuk membahas hal seperti itu. Namun, ia harus menghargai perasaan Valentino, terlebih saat itu Valentino memerlihatkan hasil tulisannya.


Mia menoleh dan tersenyum. “Kau yakin ingin meminta pendapatku?” tanyanya dengan ragu. Sedangkan Valentino terlihat sangat yakin. Mia kembali tersenyum. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada layar laptop di hadapannya. Mia pun mulai membaca artikel yang sudah Valentino tulis dengan saksama.


Gadis itu terlihat sangat serius. Ia terus membaca sampai ke bawah, hingga artikel itu berakhir pada sebuah gambar yang terasa tidak asing baginya. Mia memerhatikan gambar yang tertera di layar. Ia juga mulai mengingat-ingat di mana dirinya melihat simbol seperti itu.


Pada akhirnya, Mia mengingat sesuatu. Ya, itu adalah gambar yang sama seperti tato yang ada di dada sebelah kiri Matteo.


“Vale, apakah kau yakin jika ini merupakan simbol dari organisasi de Luca?” tanya Mia dengan nada ragu.

__ADS_1


“Ya, Mia. Aku bahkan bisa menjelaskannya kepadamu,” jawab Valentino dengan yakin.


Beberapa saat kemudian, Valentino mulai memberikan penjelasannya kepada Mia. “Jadi, ini merupakan simbol dari Klan de Luca, sejak awal terbentuknya organisasi itu. Mereka tidak pernah mengubahnya sama sekali. Namun, ada satu hal yang menarik. Mereka yang masuk dan menjadi anggota dari organisasi, maka harus membuat simbol itu di pergelangan tangan kiri bagian bawah, berdekatan dengat urat nadi. Itu bisa diartikan sebagai sumpah mereka yang akan terus mangabdi seumur hidup kepada organisasinya. Sedangkan, yang merupakan keturunan langsung dari de Luca, maka mereka akan menggambar simbol itu di dada sebelah kiri, berdekatan dengan jantung. Mungkin maknanya sama saja,” jelas Valentino dengan panjang lebar.


Sementara Mia hanya dapat menelan ludahnya berkali-kali. Ia tidak peduli dengan makna dari simbol itu, karena yang ada di pikirannya saat ini adalah tentang jati diri Matteo yang sebenarnya.


Sekarang ia dapat memahami mengapa pria itu terlihat sangat misterius. Mia juga harus menerima kenyataan bahwa selama ini ternyata Matteo telah membohonginya. Pria itu bukanlah Matteo Bellucci seperti yang ia katakan. Namun, ia adalah Matteo de Luca.


Mungkinkah pria itu memang seorang putra yang terlahir dalam organisasi hitam Klan de Luca?


Mia tak ingin terus dihantui rasa penasaran. Ia harus melakukan sesuatu. Bagaimanapun juga, ia sudah merasa terikat dengan Matteo. Setidaknya Mia dapat mengetahui sedikit saja tentang jati diri dari pria yang telah meninggalkan setitik harapan cinta yang selama ini tidak pernah ia rasakan.


Matteo pergi dengan membawa rasa ketertarikan yang dalam di hati Mia. Ia telah membuat Mia begitu penasaran dibuatnya. Akan tetapi, di sisi lain Matteo telah menghadirkan sebuah tanda tanya dan juga rasa kecewa yang membuat Mia merasa semakin ragu kepada dirinya.


Konsentrasi Mia seketika buyar. Ia tidak lagi berpikir untuk membantu mengoreksi artikel milik Valentino. Dalam hatinya kini hanya ada satu niat, yaitu mencari kebenaran tentang Matteo.


Ya, Mia harus melakukannya. Sudah saatnya bagi Mia untuk bergerak, bukan hanya duduk dan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Ia harus membuktikan jika dirinya tidak seperti yang Daniella katakan. Mia tidak ingin lagi terlihat lemah.


“Bagaimana, Mia? Bagaimana menurutmu?” suara Valentino terdengar jelas di pendengaran Mia. Akan tetapi, pikiran gadis itu belum sepenuhnya fokus terhadap pemuda di dekatnya.


Valentino mengernyitkan keningnya. Ia menatap Mia dengan keheranan. “Apa yang tengah kau pikirkan, Mia? Katakanlah padaku. Jika ada sesuatu yang memang mengganggmu, maka sebisa mungkin aku pasti akan membantu,” ucap Valentino yang terdengar begitu meyakinkan bagi Mia.

__ADS_1


Mia yang saat itu masih termenung, seketika menoleh. Ada rona penuh harap yang ia tunjukan kepada pemuda itu. “Maukah kau mengntarkan aku ke Brescia!” tanya Mia tanpa ragu sedikitpun.


Valentino kembali mengernyitkan keningnya. Ia merasa heran karena Mia tiba-tiba mengajaknya pergi ke sana. "Untuk apa kita ke Brescia?" tanyanya.


__ADS_2