Pesona Tuan De Luca

Pesona Tuan De Luca
Danau Iseo


__ADS_3

Coco tersenyum penuh arti kepada Matteo. Tanpa perlu dijelaskan, ia sudah memahami apa yang harus ia lakukan. Ditepuk-tepuknya pundak Matteo sebagai jawaban atas permintaan sahabatnya itu. Ia lalu mengajak Matteo untuk masuk. “Jangan cemaskan hal itu. Sekarang kau obati dulu lukamu. Tampan-mu akan hilang dengan wajah babak belur seperti itu,” ujar Coco dengan tenangnya. Pria itu masih selalu menyempatkan dirinya untuk bercanda, meskipun dalam suasana yang tidak mengenakkan sekalipun.


Mereka berdua berjalan masuk. Coco segera memanggil pelayan dan memintanya untuk mengambilkan kotak obat. Setelah itu, ia menyodorkannya kepada Matteo. “Aku tidak ingin kelihatan terlalu romantis denganmu. Oleh karena itu, kau obati sendiri luka di wajahmu,” ujar Coco lagi. Ia kemudian duduk di sebelah Matteo yang saat itu tampak tengah merenung. Coco dapat memahami apa yang sedang dirasakan sahabatnya. Pasti berat untuk mengambil keputusan seperti itu.


“Seberapa istimewa gadis itu untukmu?” tanya Coco pelan.


Matteo mengempaskan napas berat seraya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ia mengangkat wajahnya dan menatap langit-langit ruangan itu. Masih terngiang di telinganya kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Mia. Harus Matteo akui, semenjak kejadian malam itu ia justru merasa semakin terikat dengan dirinya. Niat hati untuk menjauh dan menghapus bayangan Mia dari ingatannya justru semakin sulit ia lakukan. “Aku tidak dapat menjabarkannya dengan jelas, Kawan. Semuanya terasa begitu berbeda. Namun, situasinya tidak memungkinkan. Aku tidak ingin membahayakan orang-orang yang kucintai,” jelas Matteo lemas.


Coco mengela napas panjang dan mengempaskannya perlahan. “Sudahlah. Aku rasa sebaiknya saat ini kau fokus pada organisasi. Tuan de Luca sudah tiada. Jangan sampai ada kekosongongan dalam kursi kepemimpinan Klan de Luca. Siap atau tidak, kau harus mengurus organisasi ini dengan baik.”


“Coco benar, Nak,” terdengar suara Damiano yang muncul dari bagian lain rumah itu. Ia menghampiri Coco dan Matteo seraya duduk tidak jauh dari mereka berdua. Damiano tampaknya baru kembali dari perkebunan. Pria itu terlihat lelah.


“Kau memiliki banyak keistimewaan, Anakku. Keberanianmu juga tidak diragukan lagi. Coco sudah menceritakannya semuanya padaku. Itu sesuatu yang luar biasa. Kau hanya perlu belajar untuk mengendalikan emosi-mu,” ucap Damiano seraya melepas topi yang dikenakannya. Ia juga menerima minuman yang disodorkan oleh Coco kepadanya. “Terima kasih, Coco. Kau sangat perhatian,” Damiano tersenyum kepada pria berambut coklat itu.


Coco balas tersenyum. “Kau sudah seperti ayahku, Damiano,” sahut pria muda itu dengan gaya bicaranya yang khas. Ia pun meneguk minumannya.


“Jangan biarkan kursi kepemimpinan Klan de Luca berada dalam kekosongan terlalu lama. Jika hal itu sampai terjadi, maka situasinya tidak akan bagus untuk organisasi kita. Aku rasa, sebaiknya kau segera berbicara dengan Tuan Antonio untuk membahas masalah ini. Minta pendapat kepadanya. Sebagai paman-mu, aku yakin beliau pasti memiliki saran yang baik untukmu," tutur Damiano. Sesekali ia meneguk minumannya.

__ADS_1


Matteo menatap Damiano untuk sejenak. Apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu memang benar adanya. Organisasi de Luca harus tetap pada posisinya. Sebagai seorang pewaris tahta, Matteo harus bertindak dengan cepat. Klan de Luca adalah warisan dari sang ayah. Ia harus memertahankan organisasi itu agar tetap berada pada kejayaannya. Sebuah anggukan pelan terlihat dari pria dua puluh enam tahun itu. Ia setuju dengan usul dari sang pengasuh setianya.


“Jangan lupa untuk memantau keadaan perkebunan juga. Hasil anggur bulan ini sedang melimpah. Permintaan pasar juga meningkat. Itu berita bagus untuk kita. Aku harap, meskipun tidak lagi berada di bawah tangan dingin Tuan Roberto, tapi bisnis Klan de Luca tidak mengalami perubahan yang terlalu signifikan. Aku yakin kau dan mendiang ayahmu pasti memiliki gaya yang berbeda dalam mengambil keputusan. Sekarang mulailah untuk memantapkan hatimu, Anakku! Tugas besar menunggumu,” tutur Damiano. Ia terus memberi semangat kepada Matteo.


Roberto tidak keliru karena telah menjadikannya sebagai pengasuh dari Matteo. Pria itu memang memiliki kebijaksanaan yang luar biasa.


Sementara itu di tempat lain. Valentino mengajak Mia untuk mengunjungi Danau Iseo. Ia ingin menghibur gadis itu agar tidak murung lagi, meskipun Valentino yakin itu akan sulit untuk ia lakukan. Ia tahu jika Mia begitu terpukul dengan sikap dan kata-kata Matteo terhadapnya.


Valentino mengajak Mia untuk duduk pada kursi taman yang berjejer di bawah pohon, yang telah di atur jaraknya dengan sedemikian rupa. Cuaca siang itu tidak terlalu terik. Valentino, kemudian membuka ransel yang sejak tadi ia bawa di punggungnya.


Namun, ternyata apa yang Mia pikirkan itu tidaklah benar. Valentino justru mengeluarkan sebungkus camilan kesukaan dirinya. Camilan yang biasa menemani mereka, jika sedang mengerjakan tugas perkuliahan bersama-sama.


“Aku sengaja membawa camilan ini dari Venice. Aku takut di Brescia tidak ada camilan seperti ini,” celoteh Valentino seraya tersenyum geli. Ia mencoba untuk menghibur Mia yang masih tampak murung. “Ayolah, Mia! Berhentilah bersikap seperti itu! Aku sudah memukul pria kurang ajar itu untukmu. Apakah itu masih kurang?” Valentino terlihat gusar atas sikap yang ditunjukkan Mia saat itu.


Mia menggeleng pelan. Seberapa pun banyaknya pukulan yang diterima oleh Matteo, tetapi itu tidaklah sepadan dengan rasa sakit yang ia rasakan kini, karena sikap dan kata-kata yang ditujukan pria itu terhadap dirinya terasa begitu keterlaluan. Mia begitu kecewa. Ia berjanji untuk tidak mengharapkan Matteo lagi.


“Lupakan pria itu, Mia! Kembalilah pada hidupmu, sama seperti saat sebelum kau mengenal Matteo! Aku merindukan Mia yang dulu, yang selalu tersenyum manis dan penuh semangat. Aku tidak menyukai sikapmu yang sekarang. Kau terlihat sangat menyedihkan!” protes Valentino dengan cukup tegas. "Maaf jika kata-kataku terdengar kasar, tapi kau memang sangat menyedihkan. Kenapa kau hanya terfokus pada pria itu, Mia?" lanjut Valentino.

__ADS_1


“Aku akan mencobanya meskipun aku tidak yakin apakah bisa melakukannya atau tidak. Ikatan itu terlalu kuat, Vale. Ada sesuatu yang membuatku tak bisa lepas dengan begitu mudahnya dari bayangan Matteo. Kau tidak akan memahami hal itu,” bantah Mia dengan lirihnya.


“Aku memang tidak memahami hubungan seperti apa yang terjalin di antara kalian berdua. Namun, kau sudah melihat sendiri sikap Matteo terhadapmu! Aku tidak bisa memaafkan semua yang dilakukannya tadi. Penolakannya, kata-katanya, kau tidak pantas menerima itu!” tegas Valentino lagi.


“Dengarkan aku, Mia! Aku mohon, lupakan pria itu dan kembalilah ke Venice sebagai Mia yang dulu! Jika perlu, aku rela kau jadikan sebagai pelarianmu. Tak apa kau tidak mencintaiku saat ini, tapi aku yakin seiring berjalannya waktu, kau akan dapat menerimaku. Aku akan setia menantikan saat-saat itu tiba dalam hidupku. Tak masalah bagiku jika harus menunggumu lagi, Mia. Kau tahu kenapa? Karena perasaanku begitu tulus padamu. Cukuplah aku yang mencintaimu, kau tidak perlu terlalu memaksakan dirimu untuk dapat memiliki perasaan seperti yang aku rasakan, tapi izinkan aku untuk mengobati semua luka hatimu,” tutur Valentino dengan setengah memohon kepada Mia. Pemuda itu begitu berharap kepadanya.


Mia menatap Valentino dengan lekat. Terenyuh hatinya mendengar semua penuturan dari pemuda itu. Mia sadar jika selama ini ia telah bersikap sangat egois. Namun, ia tidak dapat mengingkari perasaannya yang terlalu besar untuk Matteo, pria yang telah menolaknya mentah-mentah.


Kebimbangan mulai menyelimuti hati Mia. Haruskah ia berlari ke dalam pelukan Valentino? Terlebih saat itu Valentino meraih jemari Mia dan menggenggamnya dengan erat. Tanpa diduga, Valentino menyematkan cincin di jari manis Mia. Sebuah cincin yang bahkan tidak dapat masuk seluruhnya, karena ukuran cincin itu yang terlalu kecil.


Mia tersentak melihat cincin itu. Seutas senyuman terbit di bibir mungilnya, meskipun tidak terlalu lebar. Mia ingat betul dengan cincin tersebut. “Apa ini, Vale? Kau masih menyimpannya?” tanya Mia dengan rona tidak percaya.


Valentino tertawa pelan. “Ya, Mia. Aku masih menyimpan cincin mainan ini. Aku senang kau masih mengingatnya. Apa kau juga masih ingat dengan yang aku ucapkan saat itu?” tanya Valentino.


Mia tampak berpikir. Ia mencoba untuk mengingat-ingat. Sesaat kemudian, gadis itu menggeleng pelan.


“Aku pernah mengatakan, jika aku akan menyematkan cincin yang asli di jari manismu, saat nanti kau berdiri di hadapanku dengan memakai gaun putih yang cantik.”

__ADS_1


__ADS_2