
"Akhhhhh.. Kia aku tidak akan membiarkan mu hamil, sebelum aku puas menyiksa mu," ucap Fahri yang mengeluarkan nya di luar.
ππΎπ
Beberapa minggu telah berlalu rumah tangga Fahri dan Kia masih saja belum ada titik terang. Fahri terus menerus berbuat kasar pada Kia dalam hal apapun termasuk ranjang.
Jika bisa di katakan Kia benar-benar sudah tidak tahan, ia ingin mengadu pada orang tua nya tetapi ia takut Fahri membalikkan semua nya seakan-akan ia yang salah. Apalagi Fahri mempunyai banyak foto diri nya saat bertemu dengan Rian.
"Fahri," ucap Kia.
"Rawat suami dengan benar, dia sedang sakit," kata Widya.
"Kenapa bisa bersama mu," tanya Kia.
"Ya karena dia pacar ku, jangan harap aku melepaskan nya untuk mu," jawab Widya.
Kia mengambil Fahri dari Widya, malam tadi Fahri memang tidak pulang ke rumah ternyata ia bersama Widya. Kia tetap berusaha percaya jika Fahri tidak melakukan apapun dengan Widya. Karena Fahri sudah berjanji akan hal itu pada diri nya.
"Tubuh mu panas sekali," ucap Kia sambil mengomprses dahi Fahri.
"Sayang aku akan mati," tanya Fahri dengan suara yang tidak jelas.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jawab Kia.
"Fahri," teriak Iqbaal.
"Kakak," ucap Kia dan langsung berlari untuk membuka pintu.
"Ada apa kak," tanya Kia.
"Dimana suami mu, aku melihat nya bersama wanita lain," ucap Iqbaal.
"Di kamar kak sedang sakit," jawab Kia.
Iqbaal mengunci kamar itu sebelum Kia masuk ke dalam. Ia menarik Fahri dan langsung memukuli dan menendang Fahri yang sedang tidak berdaya.
"Akhhhhh ampun bal," ucap Fahri dengan tubuh yang sudah babak belur.
"Aku tau kau habis bertemu dengan wanita lain, kau tau siapa aku, kau tau bagaimana aku marah, ini hanya sebagian kecil hukuman yang kau Terima jika aku sampai tau kau bertemu lagi dengan wanita itu." Iqbaal melayangkan tendangan yang kuat sampai Fahri terlempar menabrak dinding.
"Fahri aku tidak akan memberi tau ayah ku tentang masalah ini, tapi jangan harap kau akan tenang karena mulai saat ini kau menjadi Pengawasan ku." Iqbaal pergi meninggalkan Fahri.
Kia langsung memeluk Iqbaal saat Iqbaal keluar dari kamar nya, saat ini ia benar-benar merasa terlindungi.
__ADS_1
"Kia katakan pada ku, apa dia berbuat kasar pada mu," tanya Iqbaal.
"Tidak kak, tidak," jawab Kia berbohong.
Iqbaal memicing kan mata nya saat melihat tangan kia yang membiru, Iqbaal menyentuh tangan Kia sampai Kia meringis kesakitan.
"Bajingan," Teriak Iqbaal.
Iqbaal kembali masuk ke dalam kamar itu, ia langsung kembali memukuli Fahri karena sudah berani berbuat kasar pada Kia. Ia tidak peduli tubuh dan wajah Fahri yang sudah babak belur.
Seharusnya Kia senang melihat hal ini, karena Fahri memang berbuat kasar pada nya, tetapi ntah kenapa ia sangat tidak tega.
"Kak sudah kak, sudah." Kia memeluk Iqbaal agar Iqbaal tidak memukuli Fahri lagi.
"Cih." Iqbaal meludahi tubuh Fahri.
"Kia putuskan sekarang, kau ikut dengan ku, atau kau tetap di sini dengan pria ini," tanya Iqbaal.
"Aku tetap di sini kak, dia suami ku," jawab Kia.
"Kalau begitu dengar Fahri aku tidak akan melepaskan mu jika ada sedikit air mata yang jatuh dari mata adik ku karena ulah mu, jika sampai itu terjadi aku akan mempermasalahkan hal itu dengan ayah dan paman.
__ADS_1