
"Dulu ayah juga seperti mu, tapi ayah sembuh kok, jangan takut ya. Tetap semangat," ucap Aziel.
"Aku ingin menikah bang," kata Harry.
"Menikah bagaimana? kau masih 14 tahun, jangan aneh aneh lah."
"Aku ingin memberikan ayah keturunan, nanti kalau aku keburu sudah tak ada, ayah tak mempunyai cucu dari ku," ucap Harry.
Ucapan Harry membuat Aziel tertegun sejenak, ntah dari mana Harry mendapatkan pikiran itu. Ini benar-benar sangat gila.
"Kau jangan berkata seperti itu, kalau mau nikah ya sudah menikah lah. Tapi jangan berkata seperti itu sayang, jangan membuat abang takut," ucap Aziel.
"Aku...
"Harry sudah berhenti mengatakan apa-apa lagi, ketika dengan abang jangan berkata seperti itu abang tak suka," ucap Aziel.
Harry kembali istirahat karena memang sudah waktunya. Aziel mencium kening Harry dan pergi keluar dari sana, ada hal yang mengganjal di hati nya. Harry tidak seperti sakit biasa, ia yakin ada hal yang lebih dari sekedar sakit bawaan lahir nya.
"Ayah," ucap Aziel.
"Iya ada apa," tanya Iqbaal.
"Anak mu meminta permintaan aneh," jawab Aziel.
"Apa??"
"Sekarang aku tanya dulu, ayah sebenarnya Harry sakit apa? aku tak yakin dia hanya sakit itu, pasti ada sakit lain kan?"
"Ayah baru ingin menjelaskan semua dengan abang mu juga, tetapi kau sudah bertanya sekarang ayah akan menjelaskan semuanya sekarang. Selain penyakit kulit nya itu, Harry juga terkena penyakit langka yang menyerang daya tahan tubuh nya, dokter belum tau seberapa bahaya penyakit itu, mereka memerlukan penelitian lebih lanjut lagi, semoga saja tidak berbahaya dan obat ya segera di temukan. Satu lagi kita tak boleh membuatnya banyak berpikir, jangan sampai dia stress. Itu sebabnya kita harus menuruti apa yang dia minta," jelas Iqbaal
"Ayah, kenapa tidak memberitahu ku sejak lama, jangan sampai menanggung beban sendiri yah, ada aku di sini, aku akan membantu mu untuk menyelesaikan masalah ini."
"Dan permintaan Harry adalah menikah, dia ingin menikah," ucap Aziel.
"Ha menikah, usia nya masih 14 tahun, kenapa malam minta untuk menikah," tanya Iqbaal.
__ADS_1
"Dia takut kalau dia tidak memiliki usia yang panjang, nah karena itu dia ingin memberikan keturunan untuk ayah."
"Hahaha anak itu ada ada saja, pemikiran nya terlalu dewasa, aku tak tau kenapa dia sampai berpikir seperti itu Tapi jika dia mau ya sudah kita carikan calon istri. Aku rasa pun burung nya belum berkembang dengan sempurna, mau memberikan lu cucu," ucap Iqbaal.
"Kata siapa, aku pernah memandikan nya saat di rumah ku. Sudah bisa si aku kata, sudah mulai di berhutan tipis. Ya aku belum mengizinkan nya lah, aki yakin ini hanya ketakutan nya dia. Hanya sementara waktu, aku tak mau dia menikah dengan cepat, mana ada seseorang menikah di usia muda," kata Aziel.
"Nikah secara sirih bisa, tetapi kalau hukum tak akan bisa sampai mereka 20 tahun. Jangan mengekang nya Ziel, turuti saja apa yang dia mau. Anak anak nya Bima juga banyak, bisa kita comot satu," ucap Iqbaal.
"Jangan asal ayah, main comot comot saja, ini bukan makanan. Kita bicarakan dengan yang lainnya."
"Harry kalau sudah istirahat kapan bangun yah," tanya Aziel.
"Nanti jam 9 malam, kau bisa pulang dulu. Ayah yang akan menjaga nya," jawab Iqbaal.
"Ayah menjaga di dalam, aku saja lah kalau begitu," ucap Aziel.
"Sudah kau istirahat di hotel, nanti malam ke sini lagi, kita gantian ya. Ayah juga bukan hanya menunggu nya. Ayah mengerjakan tugas kantor di dalam. Ayah tak akan bosan."
"Ya sudah jam 8 aku akan kembali," ucap Aziel.
"Gila dari belakang saja kakak ipar sangat seksi. Bagaimana Aziel tak klepek-klepek. Aku pun akan sama seperti Aziel jika memiliki istri yang seksi seperti itu, setiap malam tanpa henti," batin Zikri.
"Halo tan, selamat sore," ucap Zikri.
"Hey Zikri, apa kabar," tanya Alya.
"Kabar baik tan, oh iya Aziel masih di sana," tanya Zikri.
"Mungkin akan segera pulang, ini jam istirahat nya Harry. Tunggu saja," jawab Alya.
"Oh begitu tan, ya sudah aku tunggu dia di ruang tamu saja," ucap Zikri dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Sayang, kamu dan Aziel sudah sejauh mana, dia menerima mu dengan baik kan," tanya Alya.
"Sejauh mana ya mah. Memang awal nya kami tak begitu nyaman bersama, kami tak langsung bisa bermesraan, tetapi sekarang sudah seperti suami istri pada umumnya kok, sudah saling menerima satu sama lain. Mas Ziel aku katakan malah tuman."
__ADS_1
"Dalam hal itu ya sayang, memang sama seperti ayah nya, ya nama nya juga satu keturunan. Kamu harus menjaga stamina kamu, banyak minum vitamin dam makan makanan yang bergizi. Mamah yakin kamu akan segera hamil, ayah nya sangat tokcer, Ziel pasti begitu juga."
"Maaf mah, apa bisa di katakan mas Ziel hiper ya mah," tanya Dinda.
"Menurut mu sayang bagaimana? kalau belum berlebihan ya tidak lah. Hanya hangat hangat pengantin baru," jawab Alya.
"Mungkin apa yang mamah katakan benar. Hangat hangat pengantin baru."
Orang yang sedang mereka berdua bicarakan juga sampai di hotel. Aziel masuk ke dalam hotel dan melihat Zikri sedang bermain game sendiri.
"Dimana istri ku," tanya Aziel.
"Sedang masak dengan tante, oh iya katakan pada istri mu jangan memakai pakaian terlalu terbuka Ada aku di sini, aku takut khilaf."
"Hahaha begitu, dia sangat seksi kan," tanya Aziel.
"Ya begitu lah, pantas saja kau sangat betah di kamar dengan nya. Berapa minggu sekali Ziel???"
"Setiap hari dong, selagi ada kesempatan kenapa tidak. Ya sudah nanti aku katakan, kalau aku di kamar berdua dengannya aku malah suka dia memakai pakaian seksi," ucap Aziel.
Aziel mendekati Dinda dan mamah nya. Sebenarnya Dingin tak memakai pakaian yang terlalu seksi, karena bentuk tubuh nya seperti gitar Spanyol, pakaian yang ia pakai pasti akai membentuk bodinya.
"Sial melihat nya seperti ini saja sudah membuat nya bangun," batin Aziel.
"Masak apa mah," tanya Aziel.
"Sudah selesai Ziet, masak masakan kesukaan mu," jawab Alya.
"Aku boleh pinjam Dinda mah," tanya Aziel.
"Hahaha ya sudah, dia kan istri mu," jawab Alya.
"Ayo sayang." Aziel membawa Dinda masuk ke dalam kamar.
"Ada apa mas," tanya Dinda.
__ADS_1