
Dinda membantu Aziel bekerja, ia sudah biasa dengan pekerjaan yang Aziel kerjakan Selagi suami nya makan, alangkah baik nya yang mengganti kan nya untuk sementara waktu.
"Jika memang kamu merencanakan sesuatu pada ku, aku tau tau bagaimana aku harus bersikap, aku sangat mencintaimu," batin Aziel.
Dinda bingung kenapa Aziel menatapnya seperti itu, ia sangat takut Aziel menyimpan sesuatu hal yang besar dan tak terduga sama sekali. Hubungan nya dengan Aziel sudah sangat jauh, ia tak akan mau Aziel menceraikan nya, cinta nya dari dulu sampai sekarang hanya untuk Aziel seorang.
"Sayang, kalau ini selesai kita jalan jalan yuk," ucap Dinda.
"Sayang aku baru saja mulai bekerja, jangan dulu ya, weekend saja, banyak lagi pekerjaan ku yang menumpuk bukan hanya ini saja."
"Begitu, ya sudah tak papa, aku tak mau memaksakan, kamu baik baik saja kan? Tak ada yang kamu sembunyikan dari ku?"
"Hahaha kamu ini bagaimana si, mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari mu. Yang mungkin menyembunyikan sesuatu itu kamu, aku tak ada rahasia lagi sayang, aku sudah membawa mu ke rumah ku, bertemu dengan keluarga besar ku,'' kata Aziel.
Dinda semakin yakin Aziel menyimpan sesuatu dari nya, hanya saja Aziel belum mau mengatakan nya pada nya, Dinda merasa harus mencari sesuatu itu apa, ia tau Aziel buka orang sembarangan, semua hal bisa ia cari dengan sangat mudah.
''Sudah kamu pulang saja, aku sudah selesai makan," kata Aziel.
''Sayang aku ingin membantu mu, aku di sini saja ya."
"Tak bole aku katakan pulang ya pulang ya, jangan aneh aneh," ucap Aziel.
"Aku tak aneh aneh, aku hanya ingin membantu mu bekerja, apa salah ku sayang."
Aziel membuang nafas nya dengan kasar, lama lama Dinda menjengkelkan juga di mata nya, ia hanya ingin sendiri untuk menyelidiki semua nya. Dinda saja tak mau jujur pada nya, kalau jujur tak mungkin iya seperti ini.
"Dinda!!''
"Iya aku pulang," ucap Dinda.
Jika sudah seperti ini memang sudah seharunya ia pulang, ia tak mau mencari masalah baru dengan Aziel, Aziel memiliki watak yang sangat keras, jika di lawan semua nya bisa semakin kacau.
"Ha!! Langsung pergi, tak lihat di sini ada siapa nya."
__ADS_1
"Maaf aku lupa." Dinda mendekati Aziel dan langsung mencium tangannya, begitu juga dengan Aziel yang mengecup dahi Dinda.
''Langsung pulang, aku tak mau kamu kemana mana, tetap di rumah sampai aku pulang, kamu boleh bebas ngapain aja asalkan di rumah," kata Aziel.
"Iya," Dinda pun pergi meninggalkan ruangan Aziel.
Setelah kepergian Dinda, Aziel langsung mencari informasi tentang musuh musuh nya. Satu orang yang sangat Aziel ingat Dinda dengan musuh nya itu. Musuh terbesar nya dari dulu, persaingan bisnis di antara mereka berdua sudah sejak berbeda tahun lalu, dan sampai sekarang mereka berdua tak akur sama sekali.
"Gian, ada masalah apa dengan Dinda, jangan kau hasut istri ku," ucap Aziel.
Tut.. tut.. tut...
Handphone Aziel berbunyi, panggilan dari Lisa. Ia melupakan Lisa yang ingin memberikan informasi tentang Dinda dengan Gian. Padahal ia sangat memerlukan informasi itu.
"Bagaimana ya," ucap Aziel yang bingung, ia sangat takut apa yang tak inginkan terjadi. Ia sangat takut Dinda berniat busuk pada nya, memang lebih baik ia tak tau semuanya. Tetapi tak mungkin semua nya terus begini, kalau ia tak tau Aziel tak akan tau apa niat Dinda sampai bisa bertemu dengan Gian.
"Halo," ucap Aziel.
"Sayang, kamu sudah di sini," tanya Lisa.
"Sangat merindukan mu sayang, kamu tak ingin tau semua nya. Aku sudah membawa informasi yang sangat penting untuk mu. Kamu tak mau tau busuk nya istri mu," tanya Lisa.
"Malam ini kita bertemu, jelaskan semua nya pada ku, kalau omongan mu hanya omong kosong jangan berharap untuk bertemu dengan ku lagi," kata Aziel.
Malam hari nya, Aziel sudah bersiap siap untuk bertemu dengan Lisa. Ia akan membuat Lisa terpesona dengan nya, bukan untuk menarik perhatian Lisa kembali tetapi ia hanya ingin Lisa memberi semua informasi tentang Dinda dan Gian.
"Sayang kamu belum pulang," tanya Dinda.
"Aku pulang malam sayang, aku akan bertemu dengan seseorang, kamu tak menunggu ku juga tak papa, nanti aku bisa masuk sendiri," ucap Aziel.
''Kamu mau kemana sayang, kenapa kamu pulang malam tak seperti biasa nya?"
"Ada beberapa masalah sayang, sudah ya jangan banyak tanya aku pergi dulu." Aziel mematikan sambungan telepon itu sepihak.
__ADS_1
Tiba tiba perasaan Dinda tak enak, ia benar benar sangat takut jika terjadi sesuatu pada rumah tangga nya, dari teror yang Gian berikan pada nya seperti nya sudah menyangkut suami nya.
Aziel sampai di tempat pertemuan diri nya dengan Lisa, dulu saat sedang pacaran dengan Lisa, ia sangat sering berpacaran di tempat ni, tempat yang cukup gelap memang sangat cocok untuk pasangan melepaskan rasa rindu tak bertemu.
"Bodoh nya dulu aku mau dengannya, padahal dia sudah di pakai oleh siapa saja, Aziel memang kau tak pintar dalam menilai seseorang, jangan sampai kau ke dua kali nya di kecewakan oleh orang yang kau sayangi."
Aziel duduk sambil memesan minuman untuknya, ia menunggu kedatangan Lisa yang belum menampakan batang hidung nya, ia pikir Lisa dulu yang akan sampa, ternyata dia yang ebih semangat, mungkin karena ia sudah tak sabar mendengar semua cerita Lisa.
"Maaf aku sudah membuat mu menunggu,'' kata Lisa sambil berjalan mendekati Aziel.
"Tak papa, tadi aku pikir kau datang lebih cepat dari ku."
"Kau semakin tampan saja Aziel, aku jadi semakin sayang pada mu," kata Lisa.
"Sayang nya aku tak cinta pada mu, ingat pertemuan ita di sini tak membahas apapun selain masalah foto itu, kau tau sendiri kan aku dan Gian bagaimana, persaingan di antara kami berdua sangat besar," kata Aziel.
"Hahaha ya aku tau itu, sangat besar sekali sampai dia dendam pada mu karena kau selalu memenangkan persaingan di antara kalian berdua."
"Terus bagaimana dia bisa mengenal Dinda?"
"Hahaha semua nya sangat mudah Aziel tak ada yang tak mungkin, kita saja terkadang yang buta karena cinta, padahal semua nya sudah sangat jelas. Kau tau ternyata Dinda itu teman di kampus mu dulu, wanta yang kamu sakiti sampai dendam ke pada mu. Kamu juga tau kan bagaimana Gian dendam pada mu, pasti dia mencari informasi pada masa lalu mu, karena ke dua nya dendam pada mu, itu yang membuat mereka berdua kerja sama, kerja sama untuk menghancurkan mu. Dinda di beri tugas agar masu ke dalam hidup mu untuk mengambil semua rahasia penting restoran mu."
Penjelasan dari Lisan memang sangat masuk akal dari apa yang terjadi pada nya, semua data restoran nya memang pernah terbuka secara tiba tiba, ia pikir semua nya ulah dari haker, tetapi tak ada yang hilang apapun dari data itu. Dinda juga masuk hidup nya dari sebuah pekerjaan, sangat pas dengan perkataan Lisa.
"Oh begitu, jadi selama ini dia musuh dalam selimut ku, jangan pikir dia dapat lepas dari ku. Aku tak menyangka dia akan seperti itu."
"Itu lah sayang, yang tulis mencintai mu tu hanya aku jangan pernah percaya dengan siapapun selain dengan ku," kata Lisa.
"Kirimkan foto foto nya, aku akan membuat nya menyesal."
"Baik lah." Tanpa pikir panjang Lisa memberikan semua foto foto itu. Padahal Aziel hanya ingin mendapatkan foto itu.
"Makasih untuk semua nya." Aziel pergi meninggalkan Lisa begitu saja.
__ADS_1
Aziel pulang dengan kemarahan di kepalanya. Ia tak akan menceraikan Dinda. Ia hanya ingin membuat Dinda mengakui semuanya. Ia sangat yakin istri nya sudah tidak melakukan hal buruk lagi. Ia sangat yakin Dinda susah tak ada niat untuk balas dendam padanya lagi. Cinta nya Dinda pada mya sudah sangat besar begitu juga dengan cinta nya Aziel pada Dinda.
Bruakk... Tiba-tiba pintu kamar di tendang dengan kuat dengan Aziel. Hal itu membuat Dinda terkejut bukan main.