
"Dan seperti nya aku sudah mulai jatuh cinta pada mu," kata Raffi.
"Cinta, hahaha jangan membicarakan cinta, kita saja baru kenal. Aku saja masih bingung dengan perasaan ku."
"Kamu tidak memiliki perasaan pada mu, tapi kata ayah mu...
"Hehehe mas aku bukan tidak punya, aku hanya Ragu saja dengan perasaan ku. Bukan nya hal itu sesuatu yang berbeda."
"Oh begitu, ragu adalah hal yang wajar, aku akan meyakinkan mu," kata Raffi.
"Kalau kita menikah, anak kamu bagaimana mas," tanya Vania.
"Hmmm anak ku, ya mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa bertemu dengan nya, lagi pula kalau kita menikah aku akan membuat nya lagi," jawab Raffi.
"Uhuk... uhukk.. uhukkk..." Vania terbatuk saat mendengar hal itu.
Dengan cepat Raffi mengambil air minum untuk Vania. Raffi tau kenapa Vania bisa tersedak seperti itu, gadis 17 masih berusia 17 tahun pasti sangat terkejut saat berbicara soal anak.
"Hahaha kamu kenapa, apa ada yang Salah dengan ucapan ku," tanya Raffi.
"Tidak mas, aku hanya terkejut saja," jawab Vania.
"Karena," tanya Raffi.
"Anak, bagaimana cara membuat anak, aku akan hamil gitu," tanya Vania.
"Ya iya, langsung nikah gas lah," jawab Raffi.
"Gas kemana," tanya Vania.
"Ke surga dunia, jangan mencari hal seperti itu di google, kamu akan takut. Aku pergi dulu, tidak lama kamu tunggu di sini saja," jawab Raffi.
"Iya mas."
Raffi kembali pergi meninggalkan ruangan ini, ia harus menghadiri rapat bersama dengan para guru lainnya.
__ADS_1
"Raffi," ucap Tina.
Raffi menaikan alis nya, ia terkejut seorang Tina memanggilnya.
"Ada apa," tanya Raffi.
"Mau keruangan rapat?"
"Iya aku mau ke sana," kata Raffi.
"Bersama, ada yang ingin aku katakan," ucap Tina.
Raffi kembali berjalan tanpa mengiyakan apa yang di ucapkan Tina.
"Raffi kamu dengan Vania memang berpacaran," tanya Tina.
"Iya begitu lah, aku juga sudah dekat dengan orang tua nya," jawab Raffi.
"Aku ingin mengajak mu pergi bersama teman ku itu, aku butuh penjelasan," kata Vania.
Raffi masuk ke ruang rapat dengan perasaan yang tidak enak. Ia sangat kesal pada Tina yang terus membahas masa lalu, padahal ia sudah enggan berhubungan lagi dengan masa lalu nya itu, hidup dengan tenang bersama Vania adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
"Tapi aku ingin bertemu dengan anak ku, bagaimana pun dia tetap darah daging ku," batin Raffi.
Di kamar mandi, Kayla sedang membantu suami nya bercukur, pertama kali Kayla mencukur rambut halus yang ada di wajah Reynald. Sebenarnya bukan rambut tipis lagi, karena sudah hampir memenuhi sebagai wajah Reynald.
"Kamu terlihat pintar," kata Reynald.
"Bukan hanya terlihat tapi aku memang pintar, aku sudah sangat pintar sayang," ucap Kayla.
"Iya aku tau, kamu sudah biasa kan," kata Reynald.
"Biasa apa, aku tidak pernah mencukur wajah mantan suami ku, dia lebih suka ke salon," ucap Kayla.
"Siapa yang membahas nya, aku berbicara milik mu sendiri."
__ADS_1
"Mas aku malu, kenapa kamu membahas nya," kata Kayla sambil tersenyum.
"Cium."
"Malas kamu habis minum kan," tanya Kayla.
"Hanya sedikit," jawab Reynald.
"Tetap saja, mas kamu tau tidak. Kebiasaan buruk kamu itu bisa berdampak tidak baik untuk mu," kata Kayla.
"Ah kamu ngarang, apa yang tidak baik, aku tahan sampai berjam-jam, hayo apa yang tidak baik. Membuat mu menangis ah muda untuk ku," ucap Reynald.
"Otak mesum, inti nya aku tidak mau mencium mu, kalau kamu masih minum," ancam Kayla.
"Kamu yakin sayang, bukan nya kamu tidak bisa tidur kalau belum aku unyel unyel," kata Reynald.
"Stttt jangan banyak berbicara, nanti terkena ini, ini tajam."
"Pink," ucap Reynald.
"Diam, otak mesum ini ada saja yang kamu katakan," kata Kayla.
"Aku ingin putih seperti mu, agar itu ku tidak gelap,." ucap Reynald.
"Otak kotor, jangan aneh aneh sayang, nanti tidak coklat susu lagi," kata Kayla.
"Tidak papa, agar seperti Vanila Vanila," ucap Reynald.
"Mana mungkin bisa putih, sudah jangan aneh aneh sayang, aku suka yang seperti itu. Sudah siap kamu sangat tampan kalau seperti ini," kata Kayla.
"Dada ku," kata Reynald.
"Jangan ah, aku suka gini, ketiak saja," ucap Kayla.
"Jangan itu aset ku, yang bawa saja," kata Reynald.
__ADS_1