
''Sayang kamu aku berikan tantangan, kalau kamu mau maan durian ini aku akan memberikan mu jatah malam. Ya walaupun tadi udah."
Aziel menaikan alis nya, bisa bisa nya istri nya memberikan tantangan seperti itu, ya jelas diri nya sangat tertarik, apalagi Aziel memang suka sesuatu yang menantang. Dan hadiah yang di beri kan juga bukan main main, sesuatu hal yang sangat ia sukai.
"Hmmm kamu menantang ku sayang, kau yakin menantang ku dengan hadiah itu, aku kalau main malam tak sebentar loh, jangan kamu pikir aku tak bisa melakukan nya ya."
"Hahaha jangan hanya berbicara saja sayang, aku itu perlu bukti, kalau hanya berbicara saja anak kecil pun bisa. Cepat lakukan lah, harus habis satu daging buah saja," kata Dinda.
Aziel menghirup nafas nya dengan berat lalu membuang nafas nya dengan perlahan, ia tak mungkin menyerah hanya untuk melakukan tantangan seperti itu.
Perlahan Aziel mengambil satu daging buah itu, tekstur di tangan nya sangat lembak tapi sangat menggoda, ia hanya tak suka dengan aroma buah itu. Wajah Aziel memerah menahan mual yang teramat menusuk nya. Tetapi demi hadiah yang di tawarkan Aziel tak akan menyerah begitu saja, ia akan melakukan nya.
"Uwekkkk..." Aziel semakin mual saat daging buah itu di depan wajah nya.
"Gila ini sangat bauk sekali sayang."
"Sayang mana ada durian bauk, ini wangi sayang sangat wangi," ejek Dinda.
"Wangi dari mana. Kentut juga jauh lebih wangi dari buah ini."
"Enak saja, buah kesukaan ku kamu bilang begitu, cepat sayang makan nanti hadiah nya batal."
"Hmmm hadiah nya kamu tambah lah, aku mau kamu memakan es krim ku bagaimana?" Aziel akan lebih semangat jika hadiah yang ia minta dikabulkan Dinda.
''Iya sayang, hadiah nya akan aku tambah jangan takut," kata Dinda.
Aziel memejamkan mata nya dan langsung memakan durian itu memang hanya aroma nya saja yang tak enak, ternyata rasa nya begitu legit dan manis. Kalau tak memiliki aroma seperti itu Aziel pasti aan menghabiskan semua nya.
"Rasa nya sangat manis, tapi aroma nya membuat ku mual."
"Hahaha habiskan, setelah itu masukan ke dalam kulkas aku ingin siap siap untuk melayani suami ku." Dinda pergi meninggalkan Aziel.
Pagi hari nya, Dinda membuatkan kue daging durian untuk Aziel dan Dinda. Hari ini suami nya libur bekerja, itu sebab nya Aziel belum bangun dari tidur nya. Dinda memang tak terlalu pintar membuat kue, ia hanya pintar memasak, tetapi ia tak perlu khawatir arena zaman sekarang sudah sangat canggih, ia bisa melihat cara membuat nya dari vidio di youtube.
"Pagi kakak ipar," ucap Zikri.
"Pagi tumben sekali menyebut kakak ipar, sarapan dulu aku sudah membuat sarapan untuk kalian. Sekarang aku lagi membuat kue daging durian."
"Wah makasih sekali, sering sering lahh, aku jadi tak perlu membeli sarapan di luar," kata Zikri.
Betapa Beruntungnya Aziel mendapatkan istri seperti Dinda,sudah cantik, tak neko neko, pintar memasak dan sangat pengertian. Zikri jadi ingin mendapatkan istri seperti Dinda. Tetapi Aziel nya juga termasuk sempurna, kaya raya, tampan, dan memiliki semua hal yang wanta butuhkan, jika ingin mendapatkan istri seperti Dinda,setidak nya kualitas diri nya sepeti Aziel juga.
Selagi menunggu kue yang Dinda buat masak. Dinda merapihkan buah buah yang Aziel dan Zikri bawa kemarin, ia sangat terkejut banyak buah tropis yang sudah jarang ia makan.
"Buat rujak enak ini," kata Dinda.
"Buat lah, aku juga mau, seperti nya siang siang begini memang enak nya makan rujak, minum nya lemon tea. Wah segar sekali.''
"Kau apa saja yang buat mau saja, nanti siang saja ya. Sekarang aku lagi buat kue. Minum nya milik tea, pasti sangat cocok,'' kata Dinda.
"Hahaha iya, aku akan makan apa saja yang kau buat."
Aziel yang sudah segar bergabung dengan mereka berdua, ia mengambil royi bakar buatan Dinda di piring Zikri.
__ADS_1
"Itu milik ku," kata Zikri.
"Biar saja, ini istri ku yang membuat nya," ucap Aziel.
"Sayang jangan begitu, itu kan masih banyak. Kenapa mengambil yang sudah Zikri makan. Kamu memang ada ada saja lah."
"Hahaha aku hanya mengerjai nya saja, uang nya sudah aku kirim, berhemat lah."
"Makasih kau abang yanag sangat baik," kata Zikri.
"Zikri aku bisa minta tolong," ucap Dinda.
"Apa kak? boleh saja, apa yang tak boleh."
"Jaga abang mu ini sangat baik, aku rasa dia mulai lemah, apa dia ada main di belakang ku."
"Sayang aku kan sudah minta maaf, aku sedang lelah dan stres jadi aku sedikit lemah," kata Aziel.
"Hahaha, aku tau kak, bang Ziel kata nya tertarik dengan seseorang, aku si tak tau siapa ya, tapi seperti nya sifat buaya nya kembali lagi."
"Jangan aneh aneh ya, aku tak ada seperti itu," ucap Aziel.
"Jantan memang tak bisa di percaya ya, begini ya sayang. Bagaimana lah kalau aku sudah hamil anak mu, habis lah aku kamu buat membatin."
"Jangan percaya dengan nya sayang, cinta ku dan rasa sayang ku hanya untuk mu," kata Aziel.
"Gombalan mu bang, membuat aku sangat mual. Sumpah kau sangat tak cocok menggombal seperti itu," ucap Zikri.
Tak lama kue yang Dinda buat sudah matang, Dinda mengambil kue dan menyajikan nya di hadapan Zikri dan juga Aziel. Aroma nya benar benar sangat enak, ntah bagaimana cara nya Dinda membuat aroma durian yang menyengat menjadi harum seperti ini.
"Sabar masih sangat panas, seperti nya si enak, tapi aku juga tak tau lah, aku belum mencoba nya."
Dinda mengambil piring kecil dan mulai membagi nya untuk Aziel dan Zikri. Dengan cepat mereka berdua memakannya walaupun terasa sangat panas. Rasa nya memang sangat enak, aroma durian nya tak terlalu terasa lagi, hanya rasa manis nya daging durian yang sangat terasa.
"Sangat enak, istri u benar benar sangat pintar dalam membuat kue, aku sangat beruntung memiliki istri seperti ini.
Dinda memegang perut nya yang terasa sakit, memang sejak tadi malam perut nya sudah terasa sangat sakit dan panas. Tetapi tidak Dinda ambil rasa, sekarang rasa sakit itu semakin menjadi jadi.
''Ahkkk.'' Dinda sudah tak tahan kaki nya lemas dan terjatuh di lamtai.
"Sayang..''
Aziel bangkit dari tempat dudu nya dan langsung mendekati Dinda. Ia sangat bingung dengan Dinda yang tiba tiba jatuh ke lantai, padahal sebelum nya baik baik saja.
"Sayang, kamu kenapa, perut mu sakit lagi, kita ke dokter sekarang ya...''
''Bang darah," ucap Zikri yang melihat darah mengalir dari kaki Dinda.
"Tidak beres, Zikri siapkan mobil."
Zikri langsung berlari mengambil kunci mobil, sedangkan Aziel langsung menggendong istri nya ke arah mobil, ia yakin semua nya sudah tak beres. Dinda sudah tak bisa apa apa lagi, ia sangat lemas dan hampir pingsan karena merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa ini.
Di dalam perjalanan, Aziel berusaha menjaga agar istri nya tetap sadarkan diri, ia tak mau istri nya pingsan. Sesampai nya di rumah sakit, Dinda langsung di tangani oleh dokter, ia masuk ke ruang unit gawat darurat, sudah jelas Aziel tak tenang melihat istri nya yang seperti itu, karena memang sebelum nya istri nya tak papa, sekarang malah seperti ini.
__ADS_1
Bukan hanya Aziel, Zikri juga ikut panik. Ia malah sangat takut kalau Dinda sakit karena durian yang ia bawa, Zikri memiliki keyakinan jika istri abang nya sedang hamil. Permintaan Dinda dan apa yang Dinda makan seperti layak nya wanita yang sedang ngidam. Kalau dugaan Zikri benar, berarti kandungan Dinda tak baik baik saja. Mengingat Dinda makan daging durian cukup banyak.
''Duduk, jangan seperti ini, kau aan lebih tenang jika duduk,'' kata Zikri.
"Aku sangat takut terjadi apa apa pada istri ku, kalau sampai terjadi sesuatu aku bukan suami yang baik untuk nya, aku tak biasa menjaga istri ku dengan baik," kata Aziel.
"Aziel musibah tak ada yang tau, apalagi istri mu sebelumnya baik baik saja, maaf bukan bermaksud membuat mu semakin khawatir aku rasa memang istri mu sedang hamil. Meskipun kau kata istri mu meminum pil kb, tetap saja nama nya sudah rezeki tak ada yang tau."
''Seperti nya memang kau benar, aku tak peka pada kondisi yang istri ku alami, padahal gejalanya sudah sangat terlihat," kata Aziel yang sangat menyesal.
Untuk menenangkan diri nya Aziel memutuskan menghubungi orang tua nya, ia butuh tempat untuk cerita, untung saja Alya tak membuat nya semakin panik, Alya memberikan penjelasan yang membuat Aziel lebih tenang meskipun rasa takut tetap ada. Alya dan Iqbaal tak bisa menyusul Aziel, hal itu Aziel mengerti karena jarak mereka berdua sangat lah jauh.
Setelah cukup lama menunggu Dinda keluar dari dalam ruangan itu, akhirnya dokter datang memberikan penjelasan pada Aziel menggunakan bahasa Inggris, untung saja bahasa Inggris Aziel benar benar sangat baik. Aziel terpukul bahwa istri nya benar sedang hamil, ia semakin terpukul lagi jika kandungan istri nya benar benar sangat lemah. Itu semua karena hubungan ranjang nya yang sangat kasar dan di lakukan jarak yang sangat dekat berulang kali, pantas saja setelah melakukan hubungan kemarin Dinda merasakan sakit di perut nya. Satu lagi karena durian yang di makan dinda cukup banyak, kalau hanya sedikit saja tak masalah, tetapi Dinda makan durian cukup banyak.
Aziel diberikan dua pilihan penting, mempertahankan janin yang Dinda kandung tetapi dengan resiko yang besar untuk ibu nya atau mengikhlaskan janin yang ada di kandungan Dinda. Jika Aziel memberitahu Dinda pasti Dinda memilih pilihan pertama, ia tak mau istri nya kenapa napa. Jika memang belum waktu nya diberikan anak, Aziel tak mau memaksa dengan berat hati Aziel mengikhlaskan anak nya.
Setelah dokter pergi, Aziel tak bisa menahan air mata nya, beberapa tetes air mata nya jatuh membasahi pipi nya. Ia rasa semua ini kesalahan nya. Zikri tak tega melihat Aziel yang begitu rapuh, ia memeluk abang nya itu agar Aziel bisa lebih tenang.
''Jangan menyalahkan diri mu isni sudah takdir tuhan, kita tak bisa menolaknya, yakin saja semua nya akan lebih baik setelah kejadian ini.
Aziel hanya bisa menangis di pelukan adik nya Rasa menyesal tak bisa ia hilangkan dari dalam diri nya. Memang ia belum menginginkan anak, tetapi kalau sudah begini sayang di sayangkan jika anak nya tak bisa di selamat kan.
Semuanya sudah Dinda lalui. Dinda sudah berada di ruang rawat inap. Di temani oleh Aziel dan Zikri. Mereka berdua sangat kompak menemani Dinda, dalam saat seperti ini tak mungkin Zikri pergi meninggalkan Aziel.
"Zikri aku bisa minta tolong," ucap Aziel.
"Ya ada apa," tanya Zikri.
"Tolong ambilkan perlengkapan ku dan istri ku, mungkin kami akan beberapa hari di sini."
''Oh iya, aku akan mengambilkannya,kau jangan sedih seperti ini terus, ingat di depan istri mu kau harus lebih kuat dari nya, karena yang paling tersakiti saat ini bukan diri mu tapi Dinda, Dinda yang akan merasa bersalah.''
"Iya aku mengerti, makasih untuk semangat nya,'' kata Aziel.
Zikri pergi meninggalkan ruangan itu untuk mengambil perlengkapan Aziel dan istri nya di rumah, tawa dan rasa bahagia yang tadi pagi baru mereka berdua rasakan sudah berubah menjadi kesedian yang sangat mendalam, memang tak ada yang tau musibah akan datang kapan.
Tak lama Dinda sadar di tidur nya. Aziel yang sadar akan hal itu langsung memeluk Dinda dengan erat, ia tak akan membicarakan masalah ini sampai Dinda sembuh atau sama sekali tak akan membicarakan nya, ia tak mau Dinda bersedih akan hal ini, lebih ia pendam untuk selama nya.
"Sayang aku kenapa," tanya Dinda.
"Tak ada, hanya kelelahan dan masalah lambung, satu lagi rahim kamu habis di bersihkan karena ada sesuatu di dalamnya, tapi tak apa apa,'' jawab Aziel.
''Kenapa bisa begitu?"
"Aku tak tau sayang, yang terpenting kamu baik baik saja, aku malas membahas penyakit kamu, karena sangat menyakitkan untuk ku, aku benar benar sangat takut sayang, jangan seperti ini lagi ya.''
"Maafkan aku, aku membuat mu takut, aku tak mengikuti apa saran mu," kata Dinda.
"Sudah bukan waktu nya untuk saling menyalahkan sekarang yang terpenting kesembuhan mu."
Begitu lah Aziel, agar tak membuat istri nya bersedih ia tak mau mengatakan nya, lebih bai menanggung semua nya sendiri saja.
Beberapa hari setelah kejadian itu, akhirnya Dinda sudah di perbolehkan pulang, tak ada yang memberitahu semua nya pada Dinda sampai saat ini, semua nya sepakat untuk merahasiakan semua ini.
__ADS_1
"Sayang, kamu jangan banyak bergerak, jangan khawatir nya, kamu tetap bisa punya anak walaupun rahim mu baru saja di bersihkan."
''Iya sayang, kalau aku tak bisa punya anak lagi, kamu bisa meninggalkan ku."