
Pelukan Annisa membuat Reno merasa nyaman untuk sesaat, tetapi tak lama karena terlalu gengsi Reno melepaskan pelukan Annisa. Yang membuat Annisa cukup terkejut.
"Sudah jangan lebai," ucap Reno.
Untuk menghilangkan rasa gugup di antara mereka berdua, mereka memutuskan untuk langsung memakan makanan yang ada di atas meja.
"Mas kapan kita akan kembali pulang," tanya Annisa.
"Hmmm aku tidak tau, bisa besok pagi atau lusa. Besok kan weekend aku malas di rumah," jawab Reno.
"Bagaimana kalau kita ke pantai," tanya Annisa.
"Pantai, di sini jauh dengan pantai," jawab Reno.
"Ya aku ingin melihat laut, pasti seru bermain di pasir pantai," ucap Annisa.
"Nanti aku akan mencari informasi pantai terdekat di sini," kata Reno.
"Kalau tidak ada tidak papa mas, kamu pasti juga lelah belum ada istirahat dari tadi pagi," ucap Annisa.
"Tu kau tau, hmmm setelah ini pijatin aku. Tubuh ku terasa tidak enak," kata Reno berbohong, padahal ia hanya ingin mendapatkan sentuhan enak dari tangan lembut Annisa.
"Kenikmatan mana yang kau dustakan Annisa, lihat suami mu sangat sempurna, setiap hari melihat roti sobek yang belum tentu semua orang bisa melihat nya."
Setelah selesai makan Reno kembali merebahkan diri nya di atas ranjang, sedangkan Annisa harus membereskan semua makanan dari atas meja.
"Mas sikat gigi dulu," kata Annisa.
"Oh iya aku hampir lupa," ucap Reno.
Reno dan Annisa sikat gigi kamar mandi yang sama. Reno melirik ke arah Annisa yang memakai baju tidur yang sedikit kebesaran. Terlihat sangat lucu tetapi ada hal juga yang mengganjal di mata nya.
"Kancing baju mu," ucap Reno.
"Eh maaf mas," kata Annisa sambil mengancingkan dua kancing baju nya.
"Annisa aku ingin bertanya," ucap Reno.
"Apa itu mas," tanya Annisa.
"Nanti saja cepat selesai kan sikat gigi mu, aku tunggu di atas ranjang," jawab Reno.
"Di atas ranjang, apa maksudnya, apa dia akan melakukan hal itu. Tapi aku belum siap, bagaimana ini," ucap Annisa.
Dengan perasaan yang tidak menentu Annisa berjalan mendekati Reno yang sedang berbaring di atas kasur dengan posisi tengkurap.
"Mas aku belum siap untuk melakukan lagi," ucap Annisa.
__ADS_1
"Apa maksud mu, kau lupa jika kau mau memijat punggung ku," kata Reno.
"Oh jadi ini, Annisa apa yang kau pikirkan, kau membuat diri mu malu," batin Annisa.
"Apa yang kau pikirkan," tanya Reno.
"Tidak ada mas," jawab Annisa sambil memijat punggung Reno.
"Tenaga wanita ini cukup kuat, terasa pas di punggung ku," batin Reno.
"Apa yang ingin kamu tanya kan mas," tanya Annisa.
"Itu kita sudah pernah melakukan nya pada malam itu, apa mungkin kau akan hamil," tanya Reno.
"Kalau itu aku tidak tau mas, bisa jadi iya, bisa juga tidak. Apalagi saat itu aku bukan sedang masa subur ku," jawab Annisa.
"Oh begitu, hanya itu yang ingin aku tanyakan. Aku tidur dulu, jika kau lelah langsung tidur lah di atas ranjang, bukan di sofa," ucap Reno.
"Iya mas," kata Annisa.
Satu lagi kemajuan sifat Reno, semenjak dari rumah Annisa, Reno tidak jijik lagi dekat dengan Annisa. Ia malah sudah sangat terbiasa dan menganggap Annisa istri nya.
Tangan Annisa sudah terasa pegal, ia juga sudah beberapa kali menguap pertanda ia harus segera tidur. Annisa bergerak ke arah samping Reno untuk istirahat.
"Dia sudah tidur, padahal pijatan nya enak," batin Reno.
Pagi hari nya, yang awal nya berjauhan kini saling berpelukan. Bahkan saat ini wajah Reno berapa di area terlarang, untuk pertama kali nya Reno mulai membuka mata nya, ia cukup terkejut saat melihat dua benda anen di depan mata nya.
"Reno, kau gila. Kenapa kau bisa ada di sini, kembali ke posisimu Reno," batin nya tetapi Reno masih engga bergerak dari posisi itu.
Annisa mempererat pelukan nya, sampai wajah Reno menabrak dua benda itu. Meskipun tertutup pakaian Reno dapat merasakan betapa empuk nya benda itu.
"Annisa ini masih pagi, dan kau sudah membuat adik ku bangun," ucap Reno.
"Mas," kata Annisa yang baru saja terbangun karena suara Reno.
"Hmmmm," gumam Reno.
"Sedang apa di sana," tanya Annisa.
"Meminum susu," jawab Reno.
"Mas." Annisa langsung bergerak mundur sebelum Reno benar-benar meminum susu.
"Hey kenapa kau mundur," ucap Reno sambil menahan tubuh Annisa.
"Mas jangan kamu mau apa," tanya Annisa.
__ADS_1
"Mau melahap nya, kau menolak ku, kau lupa aku tidak suka penolakan," jawab Reno.
Annisa bingung harus berbuat apa, tubuh Reno sudah merangkak naik ke atas tubuh nya. Saat ini jantung nya hampir terlepas dari tempat nya.
"Kau tau, aku suka wanita yang penurut," ucap Reno.
"Aku harus menuruti mu mas," tanya Annisa.
"Apa harus aku jawab pertanyaan itu," kata Reno.
Saat ingin mendekati bibir Annisa Reno handphone Reno berbunyi, hal itu membuat Reno kesal.
"Ahkkk siapa yang menganggu ku," ucap Reno.
"Halo dad, iya ada apa," tanya Reno.
"Pulang kau akan menikahi Annisa secara resmi," jawab Iqbaal.
"Jam berapa," tanya Reno.
"11 siang, cepat lah," jawab Iqbaal dan langsung mematikan sambungan telepon itu.
"Ada apa mas," tanya Annisa.
"Kita akan menikah secara hukum," jawab Reno.
"Sekarang mas," tanya Annisa.
"Iya sekarang kita harus pulang," jawab Reno sambil menyingkir dari atas tubuh Annisa.
Annisa membantu Reno membereskan barang-barang mereka, setelah itu mereka berdua langsung pergi meninggalkan hotel itu.
"Menikah secara resmi, aku pikir hubungan ku tidak sampai sejauh ini," batin Annisa.
"Apa aku bisa melupakan Kaya dan hidup bahagia bersamamu Annisa, kenapa aku malah sangat bersemangat untuk meresmikan pernikahan ini."
Reno melirik ke arah tangan Annisa yang masih memakai cincin berlian yang ia beli kemarin. Senang satu kata yang ada di dalam hati Reno saat ini. Ia menjadi tidak menyesal sama sekali membeli cincin itu dengan harga yang mahal.
"Kenapa mas, apa tidak cocok jika aku pakai," tanya Annisa.
"Tidak kata siapa tidak cocok, bagus-bagus saja," jawab Reno.
Annisa masih heran dengan Reno, menyetir hanya pakai celana boxer saja sudah terlihat sangat tampan. Tetapi terkadang Annisa geli dan takut ketika melihat adik Reno yang selalu terlihat menonjol.
"Aku memang tampan, jangan sampai copot mata mu melihat ketampanan ku," kata Reno.
"Iya mas kamu sangat tampan," ucap Annisa.
__ADS_1