
"Kamu tidak bilang jika ingin keluar," ucap Dinda.
"Hahaha maaf maaf, ini pertama kali nya untuk mu, aku tidak bisa menahan nya. Bagaimana rasa nya," tanya Aziel.
"Manis, tapi jijik," jawab Dinda.
"Hahaha itu karena aku memakan buah dan sayur."
Aziel menarik Dinda dan memeluk Dinda dengan erat. Seperti nya memang jika sudah tau enak nya, Aziel pasti akan lengket dengan Dinda. Dan Dinda sangat bisa merasakan hal itu.
...☘️☘️☘️...
Keesokan harinya, Aziel dan Dinda sudah berada d rumah sakit. Dinda melewati banyak pemeriksaan sebelum melakukan operasi di mata nya. Memang semuanya sudah sangat baik dan Dinda sudah siap untuk melakukan operasi.
"Jangan takut aku mendampingi mu," ucap Aziel.
"Kamu tak bisa di dalam ruangan operasi," kata Dinda.
"Ya aku menunggu mu di luar, jangan takut ya. Semuanya pasti akan baik baik saja," ucap Aziel.
"Makasih." Dinda memeluk Aziel sebelum masuk ke dalam ruang operasi. Aziel memberikan kecupan manis di wajah Dinda. Ia malah khawatir dengan Dinda karena sebelumnya keluarga nya belum ada yang seperti ini.
"Aku ingin yang terbaik untuk nya," ucap Aziel.
"Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda."
Saat sedang menunggu Dinda operasi tiba tiba Lisa datang mendekati Aziel. Ia tidak akan membiarkan Dinda dan Aziel bersatu. Aziel hanya milik nya seorang.
"Sayang kamu tak memberitahu ku jika di sini" ucap Lisa sambil memeluk Aziel.
"Iya sayang, aku menunggu Dinda operasi. Aku tidak kepikiran untuk memberitahu mu, lagi pula untuk apa aku memberitahu mu, kamu saja tidak suka dengan Dinda."
"Ya aku memang tidak suka dengan nya, tapi aku kan ingin menemani mu sayang."
"Aku membawa kan roti bakar untuk mu, kamu sudah makan?"
"Sudah Dinda membuatkan ku spaghetti tadi pagi."
"Ya jadi kamu tidak makan lagi, percuma aku membuat roti ini dengan bersusah payah," ucap Lisa.
"Kata siapa, sini aku makan."
"Yes aku suapi ya." Dengan cekatan Lisa mengambil roti itu dan mulai menyuapi Aziel.
Aziel tampak tidak nyaman dengan kedatangan Lisa, ia tidak tau dari mana Lisa tau jika ia berada dia sini, ia tidak enak pada Dinda jika Dinda tau kalau Lisa sedang bersama nya di sini.
"Temani aku belanja ya," ucap Lisa.
__ADS_1
"Bisa tapi tidak sekarang, aku masih harus menunggu Dinda," kata Aziel.
"Kamu kok begitu si, kenapa Dinda terus aku nya kapan. Kamu kenapa mendadak pilih kasih seperti ini. Aku yang sudah menemani mu dari nol tapi kamu malah lebih memilih di sini, Dinda sedang tidak membutuhkan mu, sekarang aku yang membutuhkan mu."
Aziel membuang nafa nya dengan kasar. Ia tidak tau kapan operasi itu selesai. Dengan perasaan yang berat Aziel pergi bersama dengan Lisa. Aziel tidak menepati janji nya pada Dinda.
Tanpa di duga Aziel menghabiskan waktu sampai malam dengan Lisa. Ia langsung ke rumah sakit setelah mengantarkan Lisa pulang ke rumah. Aziel yakin Dinda sudah menunggu nya sejak tadi.
"Dinda." Aziel masuk ke ruangan nya. Ia di antar oleh suster. Ia baru mendapatkan kabar jika Dinda sudah menunggu nya sejak tadi.
"Kamu mas, sini."
"Iya, kau sudah baik baik saja kan," tanya Aziel.
"Kamu dari mana saja, aku menunggu kedatangan mu. Aku tak bisa melihat apa apa aku sangat takut."
"Hey bagaimana kau mau melihat, mata mu saja di perban," ucap Aziel.
"Aziel..."
"Hahaha iya iya, aku di sini." Aziel menggenggam tangan Dinda dengan erat.
Ia mengusap bibir Dinda yang membuat nya meledak kemarin, bibir ini benar benar sangat lihai. Ia tidak tau bagaimana Dinda belajar seperti itu.
"Mas, kenapa," tanya Dinda.
"Aku jadi mengingat nya, bibir seksi ini."
"Hahaha iya itu sebagai bayaran nya, aku sudah membiayai operasi mata mu dan menemani mu sepanjang hari, ada harga dari semua ini."
"Berapa lama aku seperti ini," tanya Dinda.
"Satu minggu setengah, sabar ya. Jangan bosan bayangkan saja aku."
"Kenapa aku membayangkan mu," ucap Dinda.
"Ya karena aku suami mu, bagaimana aku tampan kan, seksi bagaimana kau tidak tertarik dengan ku," kata Aziel.
"Apalagi itu mu, kenapa wangi sekali ya, bersih dan ukuran nya membuat ku mual."
"Sssttt jangan membahas nya dia bangun nanti, tidak ada yang menidurkan nya. Ya sudah istirahat dulu. Besok kita bicara lagi ya."
"Peluk," ucap Dinda.
"Tidak ah, nanti aku menyenggol mata atau infus mu," kata Aziel.
"Ya sudah tangan mu saja," ucap Dinda.
__ADS_1
Pagi hari nya, Aziel mengurus semuanya ke pihak administrasi, ia akan menginap satu malam lagi di rumah sakit sebelum besok sore pulang ke rumah. Untuk berjaga-jaga jika diri nya lapar ia tidak lupa mampir ke minimarket di dekat rumah sakit. Ia juga ingin memberi keperluan nya dan juga keperluan Dinda.
"Bangun," ucap Aziel.
"Aku sudah bangun," kata Dinda.
"Oh iya mata mu tidak terlihat lah."
"Lapar," ucap Dinda.
"Ini makanan dari dokter sudah datang, aku suapin ya," kata Aziel.
"Harus lah..."
"Din kami tidak ingin ke toilet," tanya Aziel.
"Aku sudah pipis dari tadi, di ranjang ini."
"Ha kamu ngompol," tanya Aziel.
"Tidak kan di selang mas. Itu aliran nya."
"Oh begitu, aku ingin melihat nya boleh. Bagaimana dia masuk nya..."
"Tidak boleh aku tidak yakin jika itu wangi," ucap Dinda.
"Hahaha ya sudah, mau makan kan..."
"Iya ku lapar. Oh iya besok sore kita pulang. Perawatan selanjutnya di rumah saja, nanti jika mau lepas perban baru kita ke rumah sakit."
"Selama di rumah aku sendirian," tanya Dinda.
"Tidak aku sudah cuti sendiri sampai kau sembuh, ya aku tak mungkin meninggal kan mu di rumah sendiri."
"Oh begitu...
Sambil menyuapi Dinda Aziel menghubungi ayah nya, kemarin ia sudah memberitahu ayah nya kalau Dinda sedang menjalani operasi. Dan sekarang ia belum memberikan kabar lebih lanjut.
"Bagaimana sayang," tanya Iqbaal.
"Semuanya baik yah," jawab Aziel.
"Adik mu masuk rumah sakit," ucap Iqbaal.
"Ha bagaimana bisa? Harry masuk rumah sakit," tanya Aziel,
"Iya kulit nya terbakar. Dan kulitnya semakin sensitif, ayah tak tau bagaimana menyembuhkan nya. Karena dulu saat ayah dewasa semuanya sembuh sendiri. Tapi Harry tidak, dia malah semakin parah."
__ADS_1
"Terus bagaimana yah," tanya Aziel.
"Ya tidak bagaimana bagaimana, dia sedang menjalani perawatan dan akan kembali di kirim ke Jepang. Ayah akan menemani nya. Jika ada waktu kunjungi dia."